
Saat ini Mika dan Tasya berada di minimarket untuk membeli keperluan perempuan saat datang bulan. Mereka datang ke Minimarket bertujuan hanya ingin membeli pembalut namun mereka malah membeli banyak makanan ringan dan minuman yang ia masukkan kedalam ranjang belanja.
Mika mengambil sesuatu yang membuatnya tertarik. Benda kontak kecil berwarna merah muda. Ketika ingin menaruh benda itu kedalam keranjang belanja, Tasya langsung merampasnya.
Tasya melihat-lihat benda itu lalu matanya membulat seketika, ditatapnya Mika yang hanya menaikkan kedua alisnya. "Kenapa kamu mau membeli ini?" tanya Tasya menaikkan benda kotak berwarna merah muda itu didepan wajah Mika.
Mika menatap Tasya tidak mengerti. "Emangnya kenapa? Itu keliatannya lucu," jawab Mika dengan polosnya.
Tasya menatap Mika tidak percaya. "Kamu membeli ini emangnya mau melakukan itu dengan tuan muda?"
Mika menggaruk-garuk kepalanya tidak mengerti apa yang dibicarakan Tasya. "Melakukan itu apa?" ambigunya.
Tasya menghebus nafasnya gusar. "Ini itu pengaman, Mika. Pengaman untuk melakukan hubungan intim." kata Tasya menjelaskan benda kotak itu pada Mika. Untung saja tidak ada orang yang mendengar ucapan Tasya itu.
"Hah? Tapi aku kira ini permen."
Tasya mengembalikan benda kotak itu ditempat semula. "Mangkanya baca dulu kegunaannya buat apa."
Mika menyengir kuda. Dia memeluk lengan Tasya manja. "Maafkan aku ya, hmm.." Mika membuat wajahnya selucu mungkin.
"Udahlah, kita pulang sekarang. Kalo tuan muda tahu malam-malam seperti ini kamu berkeliaran nanti dia akan memarahimu, loh!" Tasya mengingatkan Mika.
Mika berdecak. Dia melambai-lambaikan tangannya tidak peduli. "Emangnya aku takut kalo dia marah."
Tasya tersenyum mengejek. "Mau aku laporkan pada tuan muda?" ancam Tasya dan Mika langsung menggeleng-gelengkan kepala sambil mencebikkan bibirnya.
"Jangan,"
"Iya-iya."
Setelah membayar semua isi keranjang belanja, mereka berdua langsung berjalan pulang ke Mension yang jaraknya agak jauh dari minimarket itu.
Mika terus bercerita-cerita pada Tasya sambil membawa tentengan plastik kresek putih. Sama halnya dengan Mika yang terus berceloteh saat diperjalanan, Tasya juga terus bercerita-cerita pada Mika bahkan mereka berdua saling bergurau dan tertawa diperjalanan pulang.
Mereka berdua terlalu asik dengan cengkarama mereka sampai tidak menyadari bahwa mobil sedan hitam mulai berjalan mendekati mereka berdua lalu sedan hitam itu terberhenti di sebelah mereka berdua membuat Tasya dan Mika memberhentikan perjalanannya dan menatap sedan hitam itu bingung.
Kemudian salah satu kaca mobil terbuka menampakkan seorang Pria berwajah dingin yang menatap Mika tajam. Pria itu adalah Raga, dia baru saja pulang dari kantor dan dalam peralatan pulang ke Mension Dion dan dirinya melihat Mika dan Tasya sedang berjalan ditepi jalan dengan membawa tentengan ditangannya.
"Darimana kamu?" tanya Raga, datar pada Mika.
Mika mengangkat kedua tangannya yang menenteng plastik berwarna putih. "Belanja dong,"
Raga menghebus nafasnya. "Dion taruh tentengan mereka berdua kedalam bagasi." perintah Raga dan langsung dituruti Dion.
Dion gurun dari mobil, dia langsung mengambil tentengan dari tangan Tasya dan Mika dan manaruhnya kebelakang mobil. Setelah itu Dion mendekati Tasya yang masih terdiam tidak bisa berbicara apa-apa.
Barusan saat dia mengambil tentengan dari tangan Tasya, Dion menatap Tasya dekat dan tangannya menyentuh tangan Tasya. Dan itu membuat Tasya terdiam seperti itu.
"Ayo kita pulang, nona, Tasya," kata Dion pada Tasya dan Mika. Tasya menjawabnya dengan anggukan kaku.
Dia langsung mengikuti Mika yang sudah dulu masuk kedalam mobil di kursi pengemudi disebelah Raga. Dia masuk kedalam mobil disebelah pengemudi tepatnya di sebelah Dion.