
"Gimana suamimu? Apa dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Pak Rusdi yang duduk dibawah lantai bersama Mika sambil memetik beberapa sayur-sayuran dan cabai.
Mika menoleh ke Pak Rusdi yang duduk disebelahnya sebentar lalu memetik cabai lagi. "Hmm, gak sih. Tapi bapak tau gak sih, rumah dia itu gede banget. Bapak harus liat deh, pokoknya rumah dia itu gede banget deh." cerita Mika.
"Apa suami kamu sering marah sama kamu?" tanya Pak Rusdi lagi, mengabaikan cerita Mika barusan. Mika menatap kesal Pak Rusdi karna mengabaikan ceritanya.
Mika melempar cabai yang sudah ia petik ke baskom kecil dekat kakinya. "Bapak dari tadi nanya mulu. Julia cepek ngejawabnya." kesal Mika.
Pak Rusdi terkekeh sambil memukul kepala Mika dengan buncis yang belum dipotong. "Kamu ini."
Mika tersenyum mendapatkan pukulan buncis panjang dari Bapaknya. Dia menyenderkan kepalanya dipundak Pak Rusdi. Tangannya terus memetik cabai. "Bapak, apa sekarang hubungan bapak sama Ibu Rini rengang? Gimana perasaan Kak Sekar pas dia tau Julia yang dipilih tuan Dania dari pada dia? Pasti dia makin benci sama Julia kan?" pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Mika.
Pak Rusdi menghela nafasnya panjang. Diraihnya pundak Mika yang bersender pada pundaknya, mengelus pundak putrinya itu dengan lembut. "Maafin bapak, nak." sesal Pak Rusdi.
"Ishhh, Bapak udah berapa kali minta maaf sama Julia. Kalo Bapak minta maaf lagi, Julia bakal jadi kekuatan utama dunia nih." celoteh Mika, ngawur. "Lagian Julia udah seneng kok menikah dengan tuan muda itu, walau wajahnya yang galak dan datar, dia tidak kasar sama Julia seperti berita yang beredar itu." lanjutnya.
Pak Rusdi tertawa mendengar celotehan ngawur dari mulut Mika. "Emang Bapak peduli?"
"Ihhh, Bapak mah!" rengek Mika.
"Tuan muda itu tampan juga ya?" ucap Pak Rusdi membuat Mika melotot.
"Tampan apanya? Dari mananya? Dia itu beli efek ponsel ditaruh ke mukanya jadi orang ngeliat dia itu tampan." ejek Mika. Mungkin kalau saja Raga ada disana, dia pasti akan kesal mendengarnya.
"Bapak aduin kamu." ancam Pak Rusdi.
"Aduin aja. Emangnya Dania peduli." Pak Rusdi tertawa kecil.
"Pak," panggil Mika pelan.
"Kenapa?" sahut Pak Rusdi.
"Bapak, jantung bapak udah gak sakit-sakit lagi kan?" tanya Mika dengan mata penuh kekhawatiran.
"Gak, kan disisi Bapak ada kamu." jawab Pak Rusdi.
Mika tersenyum. "Pak, Julia bagi uang dong buat beli gorengan di depan warung." pinta Mika dengan wajah imutnya pada Pak Rusdi kala menjauhkan kepalanya dari bahu Pak Rusdi.
Pak Rusdi terkekeh gemas. Dia mengambil uang berwarna biru disaku celananya lalu memberikannya pada Mika yang sudah menodongkan tangannya. "Kembali, ya." peringatan Pak Rusdi.
Mika langsung mengambil uang itu dari tangan Bapaknya dengan cengiran dibibirnya. "Hehe, iya."
Sebelum beranjak pergi dari sana, Mika mencium pipi Pak Rusdi dahulu.
Bapaknya hanya tersenyum geli. Betapa lucunya putrinya itu, ketika sudah besar pasti semua Anak akan lebih meluangkan waktunya untuk bermain dengan teman-temannya namun tidak dengan Mika. Dari kecil dia hanya ingin membantu dirinya walau dia menyuruh Mika untuk bermain tapi Mika menolaknya.
Mika terduduk di bangku panjang didepan warung makan milik Bapaknya. Dia memakan gorengan yang ia beli barusan sambil menatap anak-anak yang bermain berlari-larian.
Dia menikmati gorengan itu dengan mengunyah pelan-pelan di mulutnya. Dia ingin merasakan betapa enaknya saat gorengan itu dikunyah lama-lama didalam mulutnya.
Tiba-tiba mobil sedan berhenti di hadapan Mika. Mika mengunyah gorengan itu sambil menatap mobil sedan yang tidak asing baginya itu.
Pintu pengemudi terbuka dan ternyata dia adalah Dion, sekretaris sekaligus tangan kanan dari suaminya. Dion menghampiri Mika, tersenyum manis pada Mika yang masih menatap bingung sambil memakan gorengan ditangannya.
"Selamat sore, nona." ucap Dion pada Mika.
Mika menatap jengkel Dion. "Kan udah aku bilang, jangan panggil aku nona!" geram Mika.
Dion hanya tersenyum. "Nona, Anda harus pulang sekarang karna tuan muda akan pulang cepat hari ini." kata Dion membuat Mika terdiam.
"Apa tuan yang menyuruh saya pulang sekarang?" tanya Mika.
Dion mengangguk. "Iya, nona. Tuan muda yang menyuruhnya."
Mika manggut-manggut. Dia bangun dari duduknya, menyuapi gorengan ditangannya ke mulut Dion membuat Dion melotot. "Makan, saya tahu Anda lelah harus berkerja dengan tuan galak itu." Mika menampilkan gigi-giginya.
Dion mengunyah dengan cepat gorengan itu. "Nona, jangan melakukan itu lagi jika tuan muda melihatnya dia akan marah." ujar Dion.
Mika mengangkat alisnya, sudut bibirnya melengkung kebawah. "Apa peduli dia?"
"Tuan muda adalah suami Anda, nona."
"Hahaha, apa Anda sedang mengingatkan saya siapa tuan Raga dihidup saya?" Mika tertawa renyah.
"Maaf nona, kita harus pulang sekarang. Sebentar lagi tuan muda akan sampai ke Mension." ucap Dion.
Mika mengangguk-angguk. "Saya ngambil tas saya dan ijin ke bapak saya dulu."
"Baik nona, saya akan menunggu."
"Tuan sudah menunggu di kamar, nona." ucap Dion setelah membukakan pintu mobil untuk Mika.
Mika yang diperlakukan layaknya seorang putri hanya menggaruk-garuk kepalanya, canggung. Dia mengangguk pada Dion lalu masuk kedalam Mension dengan berlari kecil.
Mika menaiki tangga dengan nafas ngos-ngosan. Mension ini sangat luas, dia membutuhkan banyak tenaga untuk sampai ke kamar Raga yang berada dilantai dua.
Sesampai di kamar Raga, Mika mengatur nafasnya dahulu di ambang pintu. Dia melihat sekeliling kamar sepertinya Raga belum datang. Mika mengelap dahinya yang tidak berkeringat itu.
Dia segera masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar dari dalam lalu dia berjalan ke arah king size. Merebahkan tubuhnya disana. Ya, lumayanlah pemiliknya belum pulang jadi dia bisa berbaring di king size yang embuk ini.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, disana ada Raga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pingangnya. Dia melihat Mika yang berbaring bebas di king size miliknya. Senyum miring tercetak dibibirnya.
Mika mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, dia menaik turunkan kedua kakinya di lantai. Tangannya mengusap-usap seprai berwarna putih king size itu.
Raga menghampiri Mika. Dia ingin menjahili Gadis itu. "Hei!" teriak Raga membuat Mika terkejut. Sontak dia membalikkan tubuhnya namun kakinya tidak sengaja menarik handuk yang melilit di pinggang Raga membuat Raga telanjang bulat.
Mata Mika melotot kala melihat Raga telanjang. Bukan hanya itu, dia bahkan sempat melihat ************ Raga. Dengan cepat dia menutup matanya. "Aghhhh!" teriak Mika.
Raga mendengus kesal. Teriakan Mika menggema dikamarnya. Ditendangnya kaki Mika, kesal. "Lihat! Kamu membuat badanku ternodai karna kamu melihatnya. Sekarang buka mata mu!" bentak Raga.
Mika menggeleng. "Tidak mau. Nanti burung Anda terbang tuan." kata Mika, enggan membuka matanya.
Raga tersenyum tipis. "Apa maksudmu burung terbang, hah?" tanya Raga berpura-pura tidak tahu.
Mika menunjuk ke selakangan Raga. Walau matanya tertutup, Mika bisa menunjuknya. "Burung Anda tuan!" teriak Mika.
Raga melihat ke selakangannya yang tidak memakai sehelai benang pun. Ayolah, dia ingin lebih menjahili Gadis itu lagi. "Coba buka matamu!" titah Raga.
"Tidak mau." bantah Mika.
"Buka matamu atau aku akan menyuruhmu memegangnya!" ancam Raga.
Alhasil Mika membuka matanya. Dan langsung menatap tubuh telanjang Raga lebih dekat. Mau tak mau dia tidak akan menutup matanya lagi dari pada dia disuruh memengang burung itu. Ihhh, membayangkannya saja membuat Mika merinding.
Raga mengangkat kedua tangannya kepinggang. "Pakaikan lagi handuk itu!" perintah Raga.
"Tuan, memangnya Anda tidak bisa melakukannya sendiri?" kesal Mika.
"Tidak bisa. Kamu sudah melepaskannya kan? Sekarang pakaian lagi!"
Mika mengambil handuk itu dibawah kaki Raga. Tidak sengaja dia melihat burung itu lagi, dia langsung membuang pandangannya ke sembarangan arah.
"Jangan alihkan pandanganmu. Cepat pakaikan!" ketus Raga.
Mika berdiri. Wajahnya benar-benar merah seperti kepiting. Segera dia melilitkan handuk itu di pinggang Raga tanpa menutup matanya.
Raga tersenyum puas. "Sekarang ambil ****** ***** dan celana boxingku di lemari!" suruh Raga.
Mika menurut. Dia melangkah keruang ganti untuk mengambil pakaian Raga yang ada di lemari milik Raga yang berada disana. Wajahnya masih merah. Dia mengambil ****** ***** Raga dilaci lemari. Matanya membulat seketika. Apa tuan muda itu sengaja melakukan ini?
Setelah mengambil ****** ***** dan celana boxing sesuai permintaan Raga, Mika kembali lagi ke hadapan Raga yang masih berdiri tegak disana.
Diberikan ****** ***** dan celana boxing itu pada Raga namun Raga tidak menerimanya. "Ini tuan. Apa anda menyuruh saya untuk memakainya juga?" tanya Mika.
Raga menyeringai. "Wah, otakmu sangat mesum ya." Raga menyentil dahi Mika. "Oke, sesuai keinginan mu. Pakaiankan itu."
"Tuan Anda seperti anak sekolah luar biasa. Memakai bajunya tidak bisa sendiri." cibir Mika.
"Bukannya kamu yang meminta memakaikan itu?"
"Tidak!"
Raga tersenyum smirk. "Kamu yang bilang tadi."
Mika mendengus kesal. Baiklah dia lakukan itu! Walau harus menodai matanya dari tubuh telanjang milik Raga.
Mika berjongkok dihadapan Raga. Dan Raga mengangkat kakinya satu-satu agar Mika bisa memakaikan ****** ******** dengan mudah. Handuk yang ia kenakan, ia lempar ke sembarang arah. Membuatnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
Mika perlahan-lahan bangun, mengangkat ****** ***** itu sampai ke pinggang Raga lalu dia berjongkok lagi, memakaikan celana boxing bergambar kartun pada Raga.
Setelah memakaikan celana pada Raga, Mika berdiri. Wajahnya bertabrakan dengan dada bidang milik Raga. Mika memengangi wajahnya sendiri.
Raga melewati Mika, dia berbaring di king size-nya tanpa mempedulikan Mika yang masih berdiri disana dengan memengangi wajahnya.
Raga memeluk guling. Dia tidak bisa menahan senyumnya.