Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Ikut aku keluar!



Mika menatap takut Pria itu. Pria yang amat dia kenal. Pria yang baru-baru ini masuk ke dalam hidupnya. Pria itu adalah Raga, suaminya. Raga menatap tajam Mika yang duduk disebelahnya membuat Mika menciut seketika.


"Ngapain kamu disini, hah!" bentak Raga, tidak terlalu terdengar karna suara bernyanyi Violet menggema di ruangan.


Mika memanyunkan bibirnya. "Maafkan saya tuan," lirih Mika.


"Ckkk, kamu nakal sekali ya! Kamu itu sudah punya suami, kenapa mencari lelaki lain disini!" bentak Raga lagi.


"Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya akan ceritakan nanti tapi tidak disini."


Raga menghebus nafasnya gusar. Dia berdiri, menarik tangan Mika kasar. "Ikut aku keluar!" katanya.


"Hei Raga, apa kamu tidak sabaran sampai membawa Wanita mungil itu ke hotel?" ucap Pria berpakaian santai, tangannya agresif pingang Sekar yang sedang menuangkan minuman ke gelas kecil.


Raga menatap temannya itu sebentar. "Cih!" decih Raga kemudian kembali melangkah keluar dari ruangan VVIP, meninggalkan teman-temannya. Tangannya menarik kasar lengan Mika yang terus meronta minta dilepaskan.


Raga mendorong tubuh Mika ke tembok. Wajahnya benar-benar terlihat marah setelah melihat Mika berada ditempat karaoke seperti ini.


Mika hanya bisa terdiam, merasakan sakit pada punggungnya sekarang. Dia menatap Raga takut. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Raga sekarang padanya. Matanya terpejam, dia tidak mau melihat apa yang akan Raga lakukan padanya.


Tangan Raga mencengkram kedua bahu Mika. Matanya memerah, rahangnya mengeras, Mika tahu Raga benar-benar marah padanya kali ini. Ia tahu ini kesalahannya, dan dia menerima hukuman apapun dari Raga.


Raga mendekatkan wajahnya pada Mika, menghapus jarak diantara mereka. Matanya menatap bibir Mika yang sedikit tebal yang dipolosi lipstick merah itu lalu dia memejamkan matanya juga.


Bapak, Mika takut, hiks. Tuan galak ini pasti akan memukul Mika... Bapak, tolongin Mika...


Cupp!


Mika merasakan benda kenyal menempel dibibirnya dan dia merasa cengkraman Raga dibahunya mulai melonggar.


Raga mencium bibir Mika yang rapat. Dia menciumnya dengan sangat lembut, tidak ada gigitan atau *******. Dia hanya menikmati bibir Mika. 


Ciuman itu tidak berlangsung lama, Raga langsung melepaskan ciuman itu. Dia menatap Mika yang masih menutup matanya. "Buka matamu, bodoh!" bentak Raga membuat Mika membuka matanya.


Raga masih menatap Mika tajam. "Setelah pulang nanti, kamu harus menjelaskannya padaku, mengerti!" ucap Raga.


Mika sontak mengangguk. Dia memengangi bibirnya sendiri. "Tuan, apa barusan Anda mencium bibir saya?"


Raga memutar bola matanya malas. "Aku cuma mau menghapus lipstick mu! Itu sangat mencolok asal kamu tahu!"


"Tapikan Anda menghapusnya dengan bibir Anda! Itu kan namanya ciuman, tuan. Anda mengambil ciuman pertama saya, tuan!" Mika memukul pelan dada bidang milik Raga.


Raga menyeringai. "Segitu senangnya kamu aku cium?"


Mika melotot sambil menggeleng. "Tidak! Siapa yang suka dicium secara tiba-tiba seperti itu!"


"Oh jadi kamu ingin aku cium lagi, ya. Dasar mesum!" cibir Raga, tangannya menoyor kepala Mika.


Mika menatap bibir tipis Raga. Dia melotot seketika. Bibir Raga berwarna merah, itu pasti lipstick yang dia pakai jadi menempel dibibir Raga juga. "Tuan, bibir Anda berwarna merah." kata Mika sambil menunjuk bibirnya sendiri.


"Dimana?" tanyanya.


"Dibibir tuan."


Raga menundukkan sedikit tubuhnya. "Bersihkan." katanya.


Mika membersihkan bibir Raga yang berwarna merah itu dengan telapak tangannya. Dia tidak peduli jika telapak tangannya akan menjadi warna merah.


Setelah membersihkan lipsticknya yang menempel di bibir tipis Raga, Mika menjauhkan telapak tangannya. "Sudah tuan. Sudah bersih." kata Mika, mengacungkan jempolnya di depan wajah Raga.


Raga tersenyum miring. Dia menegakkan tubuhnya lagi. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri.


"Tuan, apa ketiga orang itu teman Anda?" tanya Mika.


"Kenapa emangnya?"


"Wajah mereka seperti Om-om cabul."


"Cih, apa kamu merasa nyaman dengan baju kurang bahan itu?" tanya Raga dengan kedua alis menyatu.


Mika memandang pakaiannya sendiri. Memang cukup terbuka, bahkan pakaiannya panjangnya sampai ke paha saja.


"Saya dikasih baju seperti ini. Mami, mami itu yang memberikannya." jawab Mika.


Raga menghebus nafasnya, dia membuka kancing kemeja birunya membuat Mika yang melihat itu mengangkat kedua alisnya, tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Raga dengan baju kemeja itu.


Setelah semua kancing kemejanya terlepas, Raga melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Sekarang dia hanya memakai kaos berwarna putih polos saja lalu dia mendekati Mika, mengikat kemeja itu pada pingang  ramping milik Mika.


Mika yang diperlakukan itu hanya terdiam, dia menahan nafasnya saat tubuh Raga berjarak hanya satu senti saja bahkan dia bisa merasakan wangi maskulin dari tubuh Pria itu.


Setelah kemeja itu sudah teringkat di pinggang Mika dan paha Mika sekarang sudah tidak terekspos lagi, Raga menjauhkan tubuhnya.


Mika hanya mengikuti langkah Raga dari belakang. Menatap punggung tegak milik Raga. Kemeja Raga sudah melekat di pinggangnya jadi dia tidak akan memamerkan paha mulusnya pada Pria lain.


"Sudah bercumbunya?" tanya Pria berkemeja putih, dia bertanya namun tatapannya tidak teralih dari Violet yang sibuk membelai wajahnya.


Raga memutar bola matanya malas. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!" ketus Raga.


Raga mendudukkan bokongnya disebelah Pria berkemeja putih itu. Dia menarik tangan Mika agar Mika duduk disebelahnya.


"Kamu lihat mereka, mereka sangat menjijikan!" bisik Raga pada Mika.


Mika menatap bingung Raga. "Siapa yang menjijikan?" tanyanya.


"Dasar bodoh!" umpat Raga sambil menyentil dahi Mika. "Lihat Wanita-wanita itu, mereka seperti wanita murahan." katanya.


"Tuan, apa anda ingin diperlakukan seperti itu? Misalnya sekarang yang disebelah Anda bukan saya." tanya Mika.


"Tidak akan!"


"Kenapa tuan? Anda kan juga Pria cabul seperti mereka."


"Hei!" teriak Raga. "Siapa yang kamu sebut cabul, hah?!" bentak Raga.


Mika menyengir kuda. "Hehe, Anda tuan." jawab Mika, tidak berdosa.


Raga menendang kaki Mika. "Hais, kamu menjengkelkan ya!" dengus Raga, kesal.


Mika menatap sekeliling. Matanya melotot melihat Pria berjas hitam yang mencium bibir Tari dengan panas. Tangan kekar Pria itu menyentuh payudara Tari. Seketika Mika langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.


Melihat gelagat Mika seperti itu, Raga juga menatap sekeliling. Dan matanya menangkap salah satu temannya yang bercumbu panas disana. Raga menatap Mika lagi, tentu saja Mika akan menutup matanya karna pemandangan itu sangat kotor dan menjijikan.


Raga membuka paksa tangan Mika yang menutupi matanya. "Kenapa tutup mata? Bukannya itu pemandangan yang sangat romantis?" goda Raga.


Mika memalingkan wajahnya. Dia tidak mau melihat pemandangan senonoh seperti itu. Dia menatap Raga lekat. "Tuan, saya mau pulang. Saya gak nyaman ditempat seperti ini, tuan." rengek Mika pada Raga.


"Kenapa? Bukannya kamu baru bekerja disini?" Raga menggoda Mika lagi.


Mika menggeleng. "Tidak tuan. Saya mau pulang...." rengek Mika.


Raga menghela nafasnya. "Baiklah, ayo kita pulang." Raga bangkit dari duduknya.


"Eh kamu mau kemana?" tanya Pria berpakaian santai itu.


"Pulang!" jawab Raga, singkat.


"Kamu mau membawa Wanita mungil itu pulang?" tanya Pria berkemeja putih itu, ikut menimbrung.


"Bukan urusanmu!" ketus Raga kemudian melengang pergi dari sana. Di ikuti Mika, Mika berjalan sedikit berlari untuk  menyeimbangi langkah Raga.


 


Didalam mobil, Mika memainkan tisu yang ada di mobil Raga. Dia mengeluarkan banyak tisu lalu membuangnya ke sembarang arah.


Raga yang sedang fokus meyentir mulai risih saat tisu itu berterbangan di wajahnya. Dengan kesal tangan kirinya ia layangkan ke kepala Mika membuat Mika terpekik. "Bisa kamu berhenti membuang-buang tisu?!" kesal Raga.


Bukannya berhenti membuang-buang tisu itu, Mika malah sengaja membuang tisu itu didepan wajah Raga membuat Raga kesal setengah mati dengan Gadisnya itu.


"Hentikan itu! Atau aku lempar keluar dari mobilku!" ancam Raga.


Mika menaruh kotak tisu itu dengan cepat. Dia menyengir kuda pada Raga yang masih fokus menyetir.


"Tuan, apa sebelumnya Anda pernah melakukan itu pada wanita lain?" tanya Mika.


"Melakukan itu apa?" Raga berbalik menanya.


"Melakukan seperti Pria berjas hitam itu dengan Kak Tari tadi."


Raga melirik Mika sebentar. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanyanya.


"Ahh, tidak. Saya cuma mau bertanya apa itu nikmat?" pertanyaan ambigu dari mulut Mika.


Raga menyerngitkan dahinya, tidak mengerti. "Apa yang nikmat?"


"Hmm, melakukan seperti teman Anda itu." ucap Mika, pelan.


Raga tersenyum miring. "Mesum sekali pikiranmu ya!"


"Ahh sudahlah, lupakan." ucap Mika. Dia menyenderkan kepalanya pada senderan kursi. Mulutnya menguap, mengantuk. Dia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk tidur. Tidak lama kemudian, Mika sudah berada di alam mimpi.