
Hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi Raga, tadi dia harus mengurusi kantor cabang lain yang sudah berani menyenggol Antareja Groups.
Jadi, dia harus mengurusi masalah itu dan tidak akan membiarkan perusahaan lain berani mengecoh dan menyenggol Antareja Groups kalau mereka tidak mau jatuh dan sengsara.
Raga terkenal sangat kejam dengan lawannya, dia bisa menjatuhkan perusahaan lain dengan hebusan nafas. Jika ada yang membuat masalah padanya atau menyenggolnya, dia tidak segan-segan membuat hidup orang itu sengsara.
Raga memasuki kamarnya yang kebetulan pintunya tidak ditutup. Dia berjalan kearah sofa, mendudukkan bokongnya disana. Matanya mencari keberadaan Gadis bodohnya.
"Hallo, Ga!" teriak Mika yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Raga melototi Mika yang mulai mendekatinya. Apalagi melihat pakaian yang dipakai Mika, hanya memakai kaos polos berwarna putih dan celana hotpants.
Melihat Raga melototinya, Mika mengerucutkan bibirnya. "Ada apa?" tanya Mika bingung.
Raga mendesah pelan, ditendangnya kaki Mika. "Apa kamu mencoba menggoda ku dengan pakaian begitu, hah?!" bentak Raga.
Mika menyerngitkan dahinya bingung. "Emangnya kenapa? Saya juga keluar kamar pakai pakaian seperti ini,"
"Hais, kamu keluar dengan pakaian seperti itu?!" Mika mengangguk. "Apa kamu memamerkan pahamu itu kepada orang lain, hah?!"
"Tidak pamer sih, kan cuma Dion dan pelayan laki-laki disini. Emangnya itu disebut pamer ya? Tapi saya tidak berniat pamer, emangnya saya salah, ya?" celoteh Mika.
"Benar-benar kamu, ya!" dengus Raga kesal.
"Benar-benar apa sih?"
Raga menarik tangan Mika agar duduk disebelahnya, dia menampar paha Mika yang terekspos jelas itu.
Mika meringis saat tamparan Raga mendarat di pahanya. Bahkan tangannya dengan cepat menutupi pahanya sendiri.
"Jangan berpakaian seperti itu lagi! Apalagi didepan lelaki lain, ingat hanya suamimu yang boleh melihatnya!" ketus Raga.
Mika mencemberutkan bibirnya, dia menatap kesal Raga yang memalingkan wajahnya. "Emangnya siapa suami saya?" tanya Mika membuat Raga menatapnya lagi.
"Pikir sendiri! Siapa suamimu sekarang!" Raga menunjuk-nunjuk dahi Mika berulang kali.
"Jadi saya cuma boleh pakai celana pendek didepan anda aja?" tanya Mika, Raga mengangguk. "Yaudah deh, nanti saya ganti suami aja biar dibolehin pake celana pendek keluar," ucap asal Mika.
"Apa?!" teriak Raga. "Kamu mau ganti suami? Baiklah, jangan harap kamu bisa bahagia dengan suamimu kelak!" ancam Raga.
"Wah, Anda mainnya ancaman ya, Ga, nanti saya aduin Dion, loh!"
"Apa urusannya sama Dion?"
Raga tersenyum. bukan, dia tertawa kecil melihat wajah Mika. Dia benar-benar gemas dengan Istrinya setiap detik, menit, dan jam.
"Hei, jangan berbicara seperti itu lagi jika kamu tidak mau mati!" ancam Raga, sudah memberhentikan tawanya.
"Anda udah dua kali mengancam saya, loh!"
"Mana ponselmu," kata Raga dan Mika mengambil ponselnya dari saku celana hotpantsnya lalu memberikannya pada Raga.
Raga menerima ponsel itu, dia langsung menyalahkan ponsel tersebut untuk melihat-lihat isi dalam ponsel Mika yang baru ia belikan tiga hari lalu.
Raga tersenyum tipis saat melihat Mika berfoto dengan pose yang menurutnya sangat menggemaskan. Tangannya terus menggeser galeri ponsel Mika.
Mika mendekatkan kepalanya ke kepala Raga untuk melihat jelas apa yang dilihat Raga di ponselnya. "Apa wajah saya sangat imut dan lucu, Ga difoto itu?" tanya Mika menunjuk layar ponselnya.
Raga menatap datar Mika. "Percaya diri sekali kamu, ya. Kamu itu tidak akan pernah berubah, jelek!" Raga menekan kata-kata terakhirnya. Mika mencemberutkan bibirnya.
Setelah sudah melihat-lihat isi dari ponsel Mika, Raga membalikkannya lagi pada Mika yang sepertinya merajuk padanya. Mika memasang wajah masam dan bibir cemberut.
"Kenapa kamu akhir-akhir ini sering merajuk padaku? apa kamu kira aku akan luluh dengan wajah kusut mu itu?" kata Raga.
"Tidak, saya cuma lagi mau memasang wajah seperti ini aja." jawab Mika dengan lesuh.
Melihat bibir Mika yang terus cemberut seperti itu membuat Raga tergoda. Dengan tiba-tiba Raga mencium bibir Mika membuat Mika terkejut dengan perlakukan Raga itu.
Raga mencium bibir Mika, tangannya menarik tekuk Mika agar bisa lebih memperdalam ciumannya itu.
Mika yang merasa tidak bernafas karena ciuman Raga itu, akhirnya memukul-mukul dada bidang Raga meminta Raga melepaskan ciumannya.
Menyadari kalau Mika belum berpengalaman dalam berciuman, Raga melepaskan ciumannya. "Bernafas bodoh!" ucap Raga.
Mika menghirup nafas banyak-banyak. Nafasnya tersengal-sengal karna ciuman Raga itu.
Tangan Raga terangkat membersihkan bibir Mika yang basah karna ulahnya. "Apa kamu tidak bisa berciuman?" tanya Raga.
"Kan waktu itu saya bilang kalo saya tidak bisa berciuman, Ga." jawab Mika dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Raga menjauhkan tangannya dari bibir Mika, dia berdiri. Melangkah ke kamar mandi dengan pipi yang memerah. Meninggalkan Mika disana yang masih mengatur nafasnya.
Didalam kamar mandi Raga menatap dirinya di cermin. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Kenapa dia bisa tergoda dengan bibir Mika yang sedikit tebal itu?
Pipi Raga masih memerah mengingat kejadian tadi. Pasti dia sudah gila mencium Mika seperti itu tadi. Senyum tipis tercetak dibibirnya mengingat bagaimana Mika tidak bisa bernafas dengan benar saat ciuman itu berlangsung. Dan itu membuktikan kalau Mika sebelumnya belum pernah berciuman dengan Pria lain.