Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Takut Sendirian.



Mika membuka sedikit pintu ruangan kerja Raga. Dia mengintip-ngintip Raga yang sedang sibuk dimeja kerjanya.


Namun mengintipnya Mika diketahui oleh Raga. Siapa yang tidak ketahuan kalau orang yang mengintip menunjukkan wajahnya langsung.


Raga memberhentikan pekerjaannya, dia menatap kearah pintu dimana Mika saat ini sedang mengintip dari pintu. "Jangan mengintip-ngintip! Kemari!" teriak Raga.


Mika membuka pintu ruangan Raga lebar, dia berjalan menghampiri Raga yang duduk di meja kerjanya sambil menampilkan gigi-giginya pada Raga. Mka berjalan mendekati Raga dengan menggesek-gesekkan kakinya pada lantai.


Raga menatap Mika yang berdiri disampingnya, mata Mika melihat-lihat laptop yang ada dimeja kerja Raga. "Ada apa?" tanya Raga membuat Mika menatapnya lagi sambil menyengir tidak jelas.


"Saya takut sendirian dikamar, Ga, hehe," Mika cengengesan.


Raga memutar bola matanya malas namun hatinya bahagia. "Berdiri disitu, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku." kata Raga kembali fokus mengetik sesuatu di laptopnya.


Mika menggerak-gerakkan kakinya, menatap ke keliling ruangan dan seketika dia merasa bosan karna hanya berdiri disana menunggu Raga menyelesaikan pekerjaannya.


Raga menatap Mika sebentar. "Kenapa?" tanya Raga bingung dengan sikap Mika itu.


"Saya bosan plus capek terus berdiri, Ga," keluh kesah Mika.


Raga mengangkat kedua alisnya pada Mika. "Yaudah ke kamar sana." usir Raga.


Mika menggeleng cepat. "Tidak mau, saya takut.." lirih Mika.


Raga tersenyum tipis sangat tipis bahkan tidak bisa dilihat. Raga menatap Mika, dia menepuk-nepuk pahanya sendiri.


Mika yang melihat Raga menepuk-nepuk pahanya bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud Raga. Kedua alisnya terangkat. "Apa sih maksudnya?" tanya Mika bingung.


Raga memutar bola matanya, dia menarik Mika ke pangkuannya membuat Mika terkejut dengan perlakuan Raga. Matanya melotot terkejut.


Raga kembali berkutik pada laptopnya. Dagunya ia angkat kebahu Mika.


Mika masih terkejut dan jantungnya sekarang berdebar tidak karuan. Dia hanya terdiam melototi layar laptop Raga.


"Pakai sampoo apa kamu?" tanya Raga sembari menciumi rambut pendek Mika.


Mika tersadar. Dia mencium bau rambutnya sendiri. "Sampoo yang ada di kamar mandi." jawab Mika.


"Kenapa bisa sewangi ini?"


Mika menatap Raga yang berada dibahunya. Dia mencium rambut Raga juga. "Baunya sama kok," kata Mika.


Raga mengetuk-ngetuk jarinya dimeja, berpikir sejenak lalu mengetik sesuatu dilaptopnya.


Mika menatap bingung layar laptop. Tidak mengerti apa yang dikerjakan Raga, yah, maklumlah dia orang bodoh. "Anda mengerjakan apa sih?" tanya Mika.


"Menghitung pengeluaran dan pemasukan perusahaanku di Surabaya." jawab Raga.


"Anda punya perusahaan dimana lagi? Sepertinya banyak sekali perusahaan anda di Indonesia." tanya Mika lagi.


"Kamu mau tau? Perusahaanku ada dimana-mana, bahkan ada diluar negri." Raga menyombongkan diri pada Mika.


"Sombong sekali ya anda.." Mika mengatai Raga. "Berarti kalo begitu, saya kan Istri anda jadi semua perusaan Antareja Groups juga punya saya dong?" girang Mika


"Jadi sekarang kamu senang karna menjadi Istri dari pemilik Antareja Groups, hmm?" Mika mengangguk, dia tersenyum lebar. Raga berdecih.


"Maaf menganggu Tuan muda," kata Dion yang entah dari kapan sudah berdiri didepan pintu.


Raga dan Mika langsung menatap Dion yang berdiri diambang pintu.


"Ada apa, Dion?" tanya Raga.


Dion menghampiri meja kerja Raga, ditangannya terdapat berkas. "Anda sepertinya sudah lelah mengerjakan pekerjaan, sebaiknya anda beristirahat, biar saya yang mengerjakannya." ucap Dion, matanya menatap Mika sambil tersenyum geli.


Melihat kedua suami-istri itu berpangkuan membuatnya sangat bahagia apalagi dagu Raga yang diletakkan dibahu Mika. Sangat romantis baginya.


"Tidak usah. Pulang sana!" kata Raga.


Dion tersenyum hangat. Perhatian yang diberikan Raga padanya memang berbeda dengan yang lainnya.


Melihat Dion tersenyum membuat Mika penasaran. Apa yang membuat Dion tersenyum begitu padahal Raga jelas-jelas mengusirnya tadi.


"Kenapa anda tersenyum seperti itu, Sekretaris Dion?" tanya Mika.


"Tidak apa-apa nona, kalo begitu, saya akan pulang tuan. Selamat malam." pamit Dion, beranjak pergi dari sana.


Raga menutup laptopnya. Dia menatap Mika yang mulai tidak bisa diam. Dia merasa sesuatu membuat burungnya bergerak. "Hei! Sana ke kamar, aku akan menyusul." usir Raga, kalau dia tidak mengusir Mika segera, sesuatu akan berdiri karna gerakan Mika barusan.


Mika segera bangun dari pangkuan Raga, dia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar. "Baik, saya menunggu anda dikamar, Ga," kata Mika lalu beranjak pergi dari ruangan Raga.


Raga yang melihat Mika sudah pergi dari ruangan kerjanya menghela nafasnya lega. Untung saja Mika tidak menyadari kalau dibawah sana sudah mulai berdiri. Dan dia harus menidurkannya lagi sebelum menyusul Mika dikamar.