
Matahari memancarkan sinarnya dari pintu kaca balkon kamar membuat Raga terbangun karna merasa terganggu. Raga membangunkan dirinya, dia memejamkan matanya kemudian membukanya lagi agar penglihatannya jelas.
Ketika penglihatannya sudah jelas, Raga menoleh kearah dimana Istrinya masih tertidur dengan nyenyak disebelahnya. Senyuman tipis tercetak dibibirnya mengingat kejadian tadi malam.
Raga mendekatkan tubuhnya pada Mika yang masih tertidur lelap itu, dia menyingkirkan rambut pendek Mika yang sedikit menutupi wajahnya lalu Raga menatap wajah polos Mika. Dia tersenyum gemas melihat Istrinya.
"Kenapa kamu bisa segemas ini, hmm?" ucap Raga namun itu tidak membangunkan Mika. Kemudian Raga mengecup beberapa kali bibir Mika yang sedikit terbuka.
Setelah puas mengecup bibir Mika, Raga menjauhkan tubuhnya. Dia akan membangunkan Gadis itu.
Raga membangunkan Mika dengan cara mengucang-gucang tubuh Mika kencang membuat Mika tidak lama kemudian terbangun. Mika menatap sayu Raga, dia terbangun terduduk tidak menyadari selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya kini melorot dan itu membuat tubuh bagian atas Mika terpampang jelas.
Mata Raga membulat seketika melihat itu, dia meneguk slivarnya. Apa dia sengaja?
Mika mengucek-gucek matanya. "Apa udah siang sekarang, Ga?" tanya Mika pada Raga.
"Menurutmu?" suara Raga terdengar biasa saja padahal dia sangat berdebar sekarang.
"Tidak tahu, saya kan tidak melihat jam, hehehe," Mika menyengir kuda.
"Kamu sengaja?"
Mika menyengitkan dahinya bingung. "Sengaja apanya?" tanya Mika kebingungan.
Mata Raga tertuju pada dada polos Mika. Mika mengikuti arah pandangan Raga dan dia melotot seketika dengan cepat dia menutupi kembali dadanya lagi dengan selimut. Wajahnya memerah sekarang menahan malu.
"Anda udah melihatnya lama?" tanya Mika malu.
"Kenapa malu begitu? Aku udah melihat lekukan tubuhmu tadi malam!" ketus Raga sekaligus godaan.
Wajah Mika makin memerah, dia langsung mengingat kejadian tadi malam.
Raga terkekeh kecil. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh Mika membuat Mika terpekik. "Ehhh, jangan!" teriak Mika.
"Pergi mandi sana!"
"Tidak mau! Anda duluan aja!"
"Aku juga tidak mau, kamu aja yang duluan."
"Ahhh Anda sengaja ya!" desah Mika kesal.
"Tidak, sana mandi duluan!"
"Tidak mau, saya kan lagi telanjang bulat nanti anda melihat tubuh saya!"
"Hei, aku udah melihat semuanya jadi tidak perlu malu."
"Tetap tidak mau!"
"Oke aku juga tidak akan mandi!"
Akhirnya setelah berdebat, Mika memutuskan mandi duluan. Namun saat dia ingin berdiri sesuatu dibawah sana terasa sangat perih dan nyeri membuat Mika kembali terduduk diatas king size.
Raga yang merasa khawatir langsung mendekati Mika. "Kamu kenapa?" tanya Raga.
"I--itu saya terasa nyeri, Ga," gugup Mika.
Raga menatap Mika kasihan. Itu pasti karna dia terlalu kencang melakukannya tadi malam.
"Yaudah, kalo begitu aku akan membawa mu kedalam kamar mandi." kata Raga menggendong tubuh polos Mika.
Mika tersentak. "Ehhhhhh!" pekik Mika saat dirinya digendong Raga.
"Kita mandi bersama." ucap Raga berjalan kearah kamar mandi menggendong tubuh polos Mika tanpa sehelai benang pun.
Mika merasa sangat malu sekarang. Dia digendong Raga dengan tubuh polos begini. Mika menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar sangat malu.
Saat dikamar mandi, Raga menurunkan Mika didalam bak mandi.
Setelah Raga menurunkannya, Mika langsung meringkuk didalam bak mandi, menyembunyikan tubuh bagian depannya dari Raga.
Raga yang melihat itu tersenyum gemas. Ayolah! Tanpa Mika menutupinya Raga sudah melihat semua lekuk-lekukan tubuh Mika.
"Jangan melihat saya, Ga!" ucap Mika.
"Kenapa emangnya?" tanya Raga, menggoda Mika.
"Jangan lihat pokoknya! Anda mandinya madep ketembok aja, jangan lihat ke saya!"
"Untuk apa? Aku akan memandikanmu," Wajah Mika kembali memerah.
Mika menyilangkan kedua tangannya didepan Raga dan dia lupa menutupi kembali tubuhnya. "Tidaakkkk! Saya tidak mauuuuu!" tolak Mika.
"Aku ini suamimu, jadi kamu harus nurut padaku mengerti?!" ucap Raga. "Kamu mau durhaka padaku?"
Mika menggelengkan kepala.
"Turuti apa kata-kata ku sekarang! Jangan membantah, mengerti!"
Mika menggeleng lagi.
Raga memutar bola matanya malas. "Kamu mau aku beri hukuman, heh!" ancam Raga.
"Tidak."
"Baiklah, bersiaplah aku akan melakukannya lagi!"
Mika melongo, dia menutupi tubuhnya dengan cepat. Tidak, tidak lagi!