Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Kak Sekar



Mika menghantarkan nampan berisi pesanan ke pelanggan yang duduk di meja tengah. Tidak lupa, dia menampilkan senyuman manisnya pada pelanggan


Mika mengambil piring diatas nampan lalu menaruhnya di meja pelanggan itu. "Silahkan dinikmati, ya." ucapnya, sedikit berteriak.


Pelanggan Pria itu tersenyum-senyum sendiri melihat Wanita yang mungkin lebih pantas disebut seorang Gadis manis seperti Mika yang baru saja mengantarkan pesanannya. Apalagi senyum manis yang tercetak dibibirnya itu.


Melihat Pria itu tersenyum-senyum padanya, Mika mengangkat kedua alisnya. "Apa ada yang aneh dengan saya, Pak?" tanya Mika, dia merasa ada yang aneh darinya sampai membuat Pria itu yang ada dihadapannya itu tersenyum-senyum tidak jelas.


"Ah, tidak-tidak. Bisa kamu duduk disini? Saya butuh teman duduk." kata Pria itu sambil menepuk-nepuk bangku disebelahnya.


Mika menggaruk-garuk tekuknya. "Tapi pak. Saya harus mengantarkan banyak pesanan ke meja lain." tolak Mika.


"Ahh iya juga, ya. Kalo begitu, bisa saya tau nama kamu?" tanya Pria itu dengan senyuman dibibirnya.


Mika menjadi kikuk. Baru kali ini dia ditanyai nama oleh Pria tampan seperti pria dihadapannya ini. "Nama saya Mika, Pak." jawab Mika.


"Oh Mika, nama yang bagus." pujinya.


"Ahh kalo begitu, saya permisi dulu mau menghantar pesanan ke meja lain dulu." kata Mika lalu beranjak pergi.


"Aneh, perasaan apa ini." gumam Pria itu seraya tersenyum menatapi punggung mungil Mika itu.


Huffttt. Mika menghela nafas. Dia mengambil pesanan dari dapur dimana Bapaknya yang memasak. Dia menaruh pesanan itu ke nampan. Sebelum pergi dari dapur, Mika mencium pipi Pak Rusdi membuat Pak Rusdi terkejut.


"Semangat Bapak!" Mika memberi semangat pada Pak Rusdi dan Pak Rusdi hanya tersenyum lebar.


Mika keluar dari dapur, berjalan menuju meja orang yang memesan makanan. Namun saat dia berjalan kesana, seseorang langsung melingkarkan tangannya di bahu Mika membuat Mika terkejut hampir saja nampan ditangannya terjatuh.


Mika menatap orang yang memeluk bahunya. Mika terkejut melihat siapa yang melingkarkan tangannya dibahunya. Dia adalah Sekar, Kakak tirinya. Sekar menaik-turunkan alisnya menatap Mika.


"Kak Sekar ada apa kesini?" tanya Mika, masih terkejut dengan kedatangan Sekar.


Sekar melepaskan pelukannya pada bahu Mika. Dia tersenyum devil, seperti biasa bertemu dengan Mika. "Aduh, adikku ini baru menikah sama tuan muda tampan itu jadi sombong ya. Kakak kan cuma mau menyapa kamu." ucap Sekar, dengan nada dibuat-buat.


Mika menyerngitkan dahinya. "Sombong gimana? Mika kan gak pernah nyombongin apa-apa ke Kakak." sahutnya.


Sekar berdecak sebal. "Lupain itu. Oiya nanti malem gimana kalo kita main bareng ke tempat yang seru. Abisnya Kakak kangen banget sih sama kamu." Sekar memalingkan wajahnya, ber ekpresi seperti ingin mutah. Dia jijik dengan ucapannya sendiri.


"Kemana kak?" tanya Mika. Tidak ada yang mencurigakan dari Kak Sekar bagi Mika.


"Hmm, nanti aja liat. Aku bakal bikin kamu seneng deh."


Mika manggut-manggut. "Yaudah kak. Aku mau ke meja sana dulu, mau ngantar pesanan." kata Mika.


"Yaudah, tapi jangan lupa ya. Nanti malam jam 8." Sekar mengingatkan.


Mika mengangguk. "Iya kak."


"Oke, kalo gitu Kakak pergi dulu, ya. Dahh Mika, adik ku tersayang." Sekar melenggang pergi ketika mengatakan ucapan itu.


Mika melanjutkan langkahnya lagi ke pelanggan di meja kedua. Dia menghantarkan pesanan itu dengan senyuman dibibirnya.


 


"Kak, kenapa kita ke sini?" tanya Mika ketika melihat tempat yang menurut Sekar bagus namun tempat itu adalah tempat karaoke.


Sekar dan kedua temannya tertawa renyah melihat kepolosan Mika itu. Ya, memang tujuan mereka sengaja membawa Mika kesini untuk menjadi penghibur malam ini. Dan uang yang dihasilkan Mika nantinya, tentu untuk mereka bertiga.


Sekar memberhentikan tawanya. Dia mengelus-elus rambut pendek Mika. "Aduh, kamu ini polos banget ya. Kita kesini karna emang mau senang-senang. Masa gak tau sih!" jawab Sekar dengan tawaan kecil.


"Tapi kak, ini kan tempat karaoke. Dimana kita bisa senang-senang Disini? Kita kan pastinya cuma bernyanyi-nyanyi didalam sana." tanya Mika lagi.


"Ya kamu bisa senang-senang dengan pemuda-pemuda kaya raya disana." jawab teman Sekar yang bernama Violet itu. Mika hanya menyengitkan dahinya tidak mengerti ucapan dari Violet itu.


"Disana juga ada om-om yang ganteng dan kaya raya, loh. Jadi kamu bisa morotin dia." timbal Tari, teman Sekar yang kedua.


Aghh, Mika makin tidak mengerti dengan ucapan mereka.


"Tapi kak---" mulut Mika langsung dibekap oleh Sekar. Sekar mulai jengah mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari Adik tirinya itu.


Sekar membawa paksa Mika kedalam karaoke, Walaupun Mika sempat meronta minta dilepaskan namun Sekar dan kedua temannya tetap menarik Mika kedalam tempat karaoke itu.


 


Mika berdiri di hadapan Wanita paruh baya yang disebut Mami oleh Sekar dan kedua temannya. Mika mengigit bibir bawahnya, takut melihat mami itu yang menatap dengan wajah seram.


Namun tidak dengan Sekar dan kedua temannya, mereka terlihat biasa saja berhadapan dengan Mami ber alis sulam itu. Sekar tampak seperti sudah mengenal lama Mami itu, bahkan dia sering membalas perkataan Mami itu tanpa rasa takut.


Sekarang Mika sudah berganti baju dengan baju yang sangat amat terbuka. Bahkan baju itu memperlihatkan pahanya yang mulus. Dia tidak tahu pekerjaan apa yang dimaksud Sekar dengan berpakaian seperti ini.


"Ayo, sekarang kalian ber empat pergi ke ruang VVIP. Sudah ditunggu sekarang." ucap Mami itu.


Sekar dan kedua temannya tanpa berucap lagi langsung beranjak pergi. Tapi tidak dengan Mika, dia masih terdiam di tempat. Bingung harus melakukan apa.


Sekar memberhentikan langkahnya sebentar, dia menoleh ke belakang dimana Mika masih berdiri disana. "Eh! Ayo ikutin kami!" teriaknya dan Mika mengikuti mereka.


Wajah Mika saat ini sangat ketakutan. Bagaimana nanti ada Om-om yang akan menyakitinya dan bersikap kurang ajar padanya? Aghh dia ingin pergi sekarang juga!


Sekar membuka pintu ruangan VVIP itu dan langsung menampakan empat Pria yang masih muda disana. Mereka duduk sambil menatap kehadiran Mika, Sekar dan kedua temannya.


Dengan senyuman dibibirnya Sekar dan kedua temannya masuk kedalam ruangan itu. Begitu juga Mika, dia langsung ditarik tangannya oleh Violet.


Cahaya di ruangan itu tidak terlalu jelas. Cahaya berwarna merah remang-remang, dan ada alat karaoke disana. Mika hanya menundukkan kepalanya, tangannya bergemetar hebat.


"Perkenalkan nama kalian." ucap Pria yang memakai baju santai itu.


"Nama aku Sekar, tuan." ucap Sekar dengan senyuman manis dibibirnya.


"Aku Violet." Violet juga memperkenalkan diri.


"Aku Tari."


Mika tidak ikut memperkenalkan dirinya. Dia hanya terdiam menunduk menatap sepatu putih dikakinya.


Pria yang memakai jas hitam memiringkan kepalanya. "Siapa nama si kecil itu?" tanya Pria itu.


Dia bilang aku anak kecil? Aghhh, aku ini sudah berusia 23 tahun tahu! Dasar Om-om mesum!


Tari menyenggol tangan Mika, menyuruhnya memperkenalkan diri. Namun Mika menggeleng. Dia tidak mau, dia mau pulang!


"Hei kecil? Apa kamu bisu?" tanya Pria yang hanya memakai berkemeja putih itu, mulai penasaran dengan Mika yang hanya menunduk saja dari tadi.


"Maaf tuan. Dia baru saja bekerja. Dia sangat pemalu orangnya." jawab Violet.


Pria berkemeja putih itu mengangguk-angguk. "Jangan malu. Kita disini hanya bersenang-senang." kata Pria itu, menyeringai.


Sekar menjambak rambut pendek Mika, membuatnya mendonggakan kepala.


Dan Pria yang memakai kemeja berwarna biru dengan lengan yang dilipat sampai saku yang duduk di sofa sebelah Pria berkemeja putih itu melototkan matanya melihat siapa yang ada dihadapannya itu.


"Nama saya Mika, tuan!" teriak Mika, lantang.


Ketiga Pria itu tersenyum melihat Wanita mungil itu. Sangat berbeda dengan yang lainnya, pikirnya.


"Oke, kamu!" ucap Pria yang berpakaian santai itu, menunjuk ke Sekar. Wanita seksi nan cantik itu. "Kamu temani aku." lanjutnya dan Sekar tersenyum senang, segera dia mendekati Pria itu.


"Mika, duduk disebelahku!" kata Pria berkemeja biru, suara bariton itu terasa tidak asing di telinga Mika.


"Ayolah, aku yang memilih dia!" kata Pria berkemeja putih, tidak terima jika Mika dipilih oleh temannya.


"Tidak! Aku yang memilihnya duluan!" tukas Pria berkemeja biru.


Mika bingung. Tangannya bergemetar. Dengan langkah pelan dia mendekati Pria itu.


Setelah sudah saling memilih Wanita yang akan menemani mereka berkaraoke, mereka mulai bernyanyi-nyanyi. Ada dari mereka mulai bercumbu disana tanpa mempedulikan Orang-orang yang ada di ruangan itu.