Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Cium aku



Mika baru saja keluar dari kamar mandi, dia telah menyelesaikan acara mandinya. Dia berdiri didepan kamar mandi dengan rambut yang masih basah


Mika mengenakan kaos Raga yang kebesaran ditubuhnya yang mungil itu. Akhir-akhir ini Mika lebih suka memakai pakaian Raga daripada Pakaiannya sendiri. Entahlah, dia merasa kurang suka pada pakaian-pakaian wanita.


Padahal Raga sudah menyuruh Dion untuk membelikan banyak baju untuk Mika. Tetap saja Mika lebih sering memakai baju Raga dan Raga membiarkannya.


Raga yang sedang melihat-lihat isi dari ponsel Mika diking size mulai menyadari kehadiran Mika yang baru saja keluad dari kamar mandi, dia langsung menoleh kearah Mika dan dia melihat Mika memakai kaos miliknya yang terlihat gombrong ditubuh mungil Mika.


Kaos itu panjangnya sampai ke lutut Mika membuatnya seperti ondel-ondel sekarang.


Raga menatap Mika yang menghampirinya sambil menahan tawanya melihat betapa lucunya Mika memakai bajunya yang menempel di tubuh Gadis itu.


"Kenapa?" tanya Mika sembari menghampiri Raga dan duduk ditepi king size.


"Kamu terlihat seperti ondel-ondel, sangat jelek!" ejek Raga.


Mika merasa tidak peduli dengan penampilannya. Dia mengangkat kedua bahunya tidak peduli lalu dia menampilkan senyuman lebar pada Raga.


Raga yang melihat itu menyengitkan dahi bingung. "Apa?!" ketus Raga.


"Mana ponsel saya, Ga?" tanya Mika matanya mencari-cari ponselnya disekitar Raga.


Raga memutar bola matanya. "Ponsel itu sangat kuno, kenapa kamu masih menginginkannya?"


"Karna,, saya tidak punya uang untuk membeli yang baru." jawab Mika cengengesan.


"Aku kan sudah memberikan kartu  ATM padamu, kenapa tidak digunakan?"


Mika menautkan jari telunjuknya. "Saya tidak bisa menggunakannya," jawab Mika pelan.


Raga menghela nafas. "Kenapa tidak meminta Tasya memberitahu cara menggunakannya?" tanya Raga.


"Saya tidak mau menyusahkan orang, hehe." Mika cengengesan.


"Oke, nanti aku suruh Dion membelikan ponsel baru untukmu," Mika bersorak senang. Dia bertepuk tangan sekali.


"Waahhhh ponsel baruuuuuu," sorak Mika senang.


Raga menahan senyumannya, sudut bibirnya mengendut. Dengan sengaja dia menendang Mika sampai hampir terjatuh kelantai. Untung saja Mika langsung bisa menahannya.


"Hais, sifat norakmu itu tidak pernah hilang-hilang, ya!" teriak Raga namun tidak terlalu kencang.


Mika menampilkan gigi-giginya pada Raga. "Biarin, yang penting saya punya ponsel baru," girang Mika.


"Bayarannya," ucap Raga membuat Mika langsung menatapnya dengan wajah tidak percaya. Jadi dia tidak benar-benar mau membelikannya ponsel.


"Tadi Anda bilang mau membelikan saya ponsel baru kenapa Anda meminta bayarannya, Ga?" tanya Mika kurang mengerti dengan sikap Raga itu.


"Ya, aku akan membelikannya. Tapi itu tidak gratis!"


"Anda kan banyak uang kenapa masih meminta bayaran dari saya, Ga?" protes Mika.


"Aku tidak minta uang darimu," jawab Raga.


"Lalu?"


"Cium aku,"


"Oh ahahaha, jadi Anda meminta bayaran dengan ciuman? Kenapa Anda tidak menyuruh Wanita-wanita Anda aja?"


"Dari mana kamu tau aku punya Wanita lain?" tanya Raga, memancing Mika.


"Tidak diberitahu siapa-siapa sih. Tapi saya sering mencium parfum wanita di pakaian kotor Anda." jawab Mika.


Raga mengangkat kedua alisnya keatas. "Ya, aku memang punya Wanita lain diluar sana tapi aku mau kamu menciumku sekarang." tekan Raga.


Raga menunjuk-nunjuk bibir tipisnya. Dan Mika langsung melototkan matanya. "Kenapa harus disana?"


"Kenapa? Apa kamu tidak tau juga cara berciuman?" Mika menggeleng polos. "Hais, yaudah lakukan sebisa mu." dengus Raga.


Mika mendekati Raga dengan malu-malu. Dia menangkup wajah Raga dengan tangannya, menatap mata Raga dalam-dalam membuat Raga juga menatapnya dalam lalu tatatapn Mika turun ke bibir tipis merah muda milik Raga.


Ini pertama kalinya dia mencium seorang Pria jadi dia tidak tau cara berciuman seperti apa namun dia akan mencobanya.


Mika mendekatkan bibirnya pada bibir Raga. Dia memejamkan matanya takut kalau reaksi Raga jauh dari apa yang dia pikirkan.


Mika makin mendekatkan bibirnya pada bibir Raga dan sebuah kecupan hangat mendarat dibibir Raga. Itu tidak berlangsung lama karna Mika langsung menjauhkan wajahnya setelah bibirnya menempel pada bibir Raga.


Raga menyentuh bibirnya sendiri. Dia tersenyum miring pada Mika. "Itu kecupan bodoh! Aku maunya ciuman bukan kecupan!" protes Raga namun jantungnya berdetak lebih cepat.


Mika menghebus nafas gusar. Ketika dia membuka matanya, tatapan mereka beradu.


"Kalo saya tidak ahli dalam melakukan itu gimana?" tanya Mika.


"Emangnya aku menyuruhmu ahli dalam berciuman, hah?! Sudahlah cepat lanjutkan itu," perintah Raga.


Mika mengangguk. Dia mendekatkan bibirnya lagi pada bibir Raga. Dengan perlahan dan kaku Mika memainkan bibir Raga dengan bibirnya. Bukan ******* tapi entahlah sulit untuk dijelaskan yang terpenting Mika hanya beradu bibirnya dengan bibirku Raga.


Merasa Mika hanya memainkan bibirnya dengan bibirnya itu, Raga langsung mendorong kepala Mika membuat Mika sontak menjauhkan bibirnya dari bibir Raga.


"Apa-apaan itu? Apa itu yang dinamakan ciuman?" ujar Raga.


Mika menggaruk kepalanya. "Saya tidak mengerti melakukan ciuman, Ga." Mika menyengir kuda.


"Kenapa tidak bertanya pada Tasya bagaimana cara berciuman? Kan kamu selalu bertanya-tanya hal yang tidak masuk akal." ketus Raga.


"Oiya saya lupa menanyakan itu pada Tasya, hehe,,"


"Hais, lanjutkan itu lagi, aku akan mengajarimu." titah Raga dan Mika mengangguk pelan.


Baru ingin berciuman lagi, ketukan pintu terdengar jelas. Dan kedua pasangan suami istri itu langsung menoleh ke arah pintu. Dengan kesal Raga menatap pintu kamarnya yang agak terbuka itu karna dia tidak menutup rapat pintu kamarnya. Berani sekali orang yang mengagalkan ciumannya itu.


"Masuk!" teriak Raga menyuruh orang yang mengetuk pintu masuk kedalam kamarnya.


Orang itu membuka pintu kamar Raga dan betapa terkejutnya dia melihat Mika yang berpangku pada Raga. Dan tangan mungil Mika berada di wajah Raga.


Orang itu adalah Dion, dia mau menemui Raga karna mau menanyakan kondisinya itu namun dia malah melihat pemandangan yang romantis itu.


"Ada apa?" tanya Raga pada Dion yang berdiri diambang pintu itu.


"Tidak apa-apa tuan, saya akan membicarakannya nanti. Maaf sudah menganggu Anda," Dion membukukkan badannya dan langsung keluar dari kamar Raga dengan wajah yang berseri-seri itu. Dia menutup rapat pintu kamar Raga lalu beranjak pergi dari sana.


Seperginya Dion, Mika dan Raga saling tatap-tatapan. "Apa mau  melanjutkannya, Ga?" tanya Mika.


"Tidak perlu. Moodku berubah." jawab Raga.


Mika mengangguk mengerti, dia turun dari pangkuan Raga dan duduk ditempatnya semula.


"Panggil Dion ke ruangan kerjaku, nanti aku akan kesana." ucap Raga, menyuruh Mika memanggil Dion yang mungkin saja ada di lantai bawah.


Mika mengangguk. "Tapi Ga, Anda jadikan membelikan saya ponsel?" tanya Mika dengan wajah penuh semangat.


Raga mengangguk pelan. "Iya!"


Mika menggepalkan tangannya, mengangkatnya diudara,.dia mengangguk pada Raga dengan senyuman lebar lalu dia berdiri. Dia akan memanggil Dion untuk menyuruhnya datang ke ruangan kerja Raga. Dia yakin sekarang Dion sedang berada dilantai bawah.


----------------------


maaf ya baru update lagi, karna 10 hari ini hpku rusak jadi gak bisa update🙏🙏🙏🙏🙏