
"Siapa Pria yang menghantarmu pulang tadi?" tanya Raga, saat ini mereka berdua tengah menikmati makan malam di meja makan.
Mika yang baru ingin menyuap nasi kedalam mulutnya langsung menatap Raga. Dia menaruh lagi sendok di piringnya lalu dia mendekatkan kursinya ke kursi Raga.
"Anda mau tahu, Ga? Tadi itu teman baru saya. Dia orang pertama yang bilang kalo aku ini manis." cerita Mika pada Raga dengan wajah bersinar.
Raga mengalihkan pandangannya dari makanannya, dia menatap Mika datar. "Apa segitu senangnya kamu dibilang manis dengan seseorang?" dingin Raga.
Mika mengangguk. "Tentu saja, karna dalam hidup saya, saya baru dibilang manis."
"Hais, apa kamu tahu, orang itu tidak benar-benar bilang seperti itu." dengus Raga kesal.
"Maksud Anda dia berbohong begitu?" Mika tidak terima.
"Iya! Jangan berteman dengannya, dia orang pembohong besar. Baru bertemu saja dia sudah berbohong bagaimana nantinya."
Mika menjauhkan lagi kursinya dari kursi Raga. Dia meraih sendok dari piring lagi lalu memasukkan nasi kedalam mulutnya. "Bilang aja kalo anda iri karena saya punya dua teman sedangkan Anda tidak punya." cibir Mika.
Raga melototi Mika. "Wahh, berani sekali kamu ya! Kata siapa aku tidak punya teman? Aku ini sangat famous jadi aku lebih punya banyak teman dari pada kamu!" protes Raga, tidak terima.
"Benarkah? Kenapa saya tidak pernah melihat Anda bersama teman-teman Anda?"
"Karna aku malas aja bergaul." singkat Raga.
"Kalo gitu ajak semua teman-teman Anda biar saya punya teman banyak juga." antusias Mika.
"Cih, malas. Nanti kamu ngegajenan sama mereka. Mereka itu sangat berwibawa kalo ketemu kamu pasti mereka langsung tidak suka. Apalagi Gadis sepercaya diri seperti kamu." kata Raga dengan cibiran.
Mika yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya. Dia memalingkan wajahnya lalu kembali menikmati makanan malamnya.
Raga mendengus, dia menatap kembali makanannya dan langsung melahapnya.
Raga melirik-lirik Mika yang juga melirik-lirik kearahnya. "Apa melirik-lirik, hah?!" bentak Raga menyadari Mika meliriknya juga.
Mika membuang pandangannya ke sembarangan arah lalu dia kembali menikmati nasi gorengnya.
"Tuan muda, apa ada yang Anda inginkan lagi?" tanya Mbak Vera pada Raga yang sedang menikmati makan malamnya.
Raga menjentikkan jarinya bertanda dia tidak menginginkan apa-apa lagi dan mau Mbak Vera menjauh dari meja makan.
Mbak Vera langsung mengerti, dia langsung melengang pergi setelah menundukkan kepalanya dahulu pada Raga.
"Mbak Vera!" panggil Mika ketika Mbak Vera melewati kursi duduknya.
Mbak Vera memberhentikan langkahnya. Dia menoleh pada Mika yang baru saja memanggilnya. "Iya, apa apa nona?" tanya Mbak Vera sopan.
"Mbak Vera jangan panggil saya begitu dong. Panggil saya Mika aja, ya. Sekarang kita berteman, apa Mbak Vera mau?" kata Mika dengan senyuman antusias.
Mbak Vera tersenyum pada Mika. Dia pikir jika tuan muda menikah dia akan mendapat nona muda yang galak dan sombong, ternyata dia salah. Istri Raga itu sangat ramah dan mudah berbaur dengan pelayan sepertinya. Sungguh, baginya tuan muda sangat hebat dalam memilih pasangan. Walaupun Mika terlihat sangat mungil dan ekspresinya sedikit menyebalkan, tetapi Mika sangat harmonis dan sangat percaya diri.
Raga menendang kursi yang diduduki Mika. "Hei! Vera tidak akan mau berteman denganmu!" tegur Raga pada Mika yang masih tersenyum lebar pada Mbak Vera.
Pandangan Mika teralih ke Raga. Dia melewekkan lidahnya didepan Raga lalu membuang pandangannya lagi.
----------------
Setelah makan malam, Mika langsung kembali ke kamarnya bersama Raga. Sedari tadi dia terus mengerucutkan bibir nya, entahlah apa yang terjadi padanya namun melihat Mika seperti itu Raga benar-benar membuatnya gemas.
Mika mendudukkan bokongnya disofa, diikuti Raga yang duduk disebelahnya. Mika langsung memalingkan wajahnya dari Raga ketika Raga menatapnya lalu Mika menyenderkan kepalanya di senderan sofa.
"Hei! Apa kamu merajuk padaku?" tanya Raga sedikit berteriak. Mika langsung menatap kearah Raga. Dia menjawab pertanyaan Raga dengan anggukan kecil.
Ya Tuhan! Dia merajuk dan dia jujur padanya? Spesies apa sebenarnya Gadis ini?
"Kenapa kamu merajuk padaku? Apa salah ku?" tanya Raga lagi.
"Abisnya Anda tidak memperbolehkan saya berteman dengan teman-teman berwibawa Anda. Saya kan mau punya teman yang berwibawa, Ga." sahut Mika, dia berbicara dengan memonyong-monyongkan bibirnya.
Raga mengangkat kedua alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu, hm?"
Mika berdecak. "Saya mau berteman dengan teman Gaga. Apa salah?" decaknya.
"Memangnya kalo kamu aku kenali dengan teman-temanku, kamu mau apa?"
"Cuma mau berteman."
"Hanya itu?" Mika mengangguk kencang.
Raga menghela nafasnya. Raga menyenderkan kepala disenderan sofa. "Apa hadiahnya?" Raga bertanya untuk seberapa kalinya.
"Hadiah?" beo Mika.
Raga menatap Mika. "Emangnya mengenali kamu dengan teman-teman ku tidak ada bayarannya? Enak sekali kamu!"
Mika memutar-mutari bola matanya lalu kembali menatap Raga yang berada disebelahnya. "Emangnya Anda mau apa, Ga?" tanya Mika dengan senyuman.
Raga mendengus. Dia berpura-pura berfikir padahal dia sudah tahu apa yang mau dari Mika. "Apa ya?" gumam Raga.
"Hmm, aku mau kamu menciumku, sekarang!" tekan Raga membuat Mika membulatkan matanya.
"Hah? Hanya itu?"
"Emangnya kamu mengharapkan apa, hah?"
Mika menyengir kuda sambil menggeleng. "Tidak, hehehe." Mika mulai mendekati Raga. "Sekarang menciumnya?"
"Ya! Sekarang!" tekan Raga.
Mika tersenyum malu-malu. Dia menyelipkan anak rambutnya kebelakang daun telinga. "Apa Anda serius, sekarang?"
"Hais, aku bilang sekarang ya sekarang, bodoh!" dengus Raga kesal.
"Dimana aku menciumnya?"
"Wah wah. Kenapa kamu sangat bersemangat, hmm?"
"Tidak tahu." Mika mengangkat kedua bahunya keatas.
"Cium aku sekarang kalo kamu mau berteman dengan teman-temanku."
Mika mengangguk mengerti. Dia lebih mendekat pada Raga, mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Raga. Menghapus jarak diantara mereka berdua.
Cupp!
Satu kecupan diberikan Mika dipipi sebelah kanan Raga. Mika menjauhkan wajahnya lagi dengan wajah memerah.
Begitupun dengan Raga yang membeku kaku. Pipinya tersembur rona merah muda. Tangannya menyentuh pipinya yang baru saja dikecup oleh Mika.