Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Apa aku cantik?



"Sya, apa aku cantik?" tanya Mika, menatap wajahnya dicermin yang saat ini sedang dipoleskan make up oleh Tasya.


Tasya yang fokus mengoleskan lipstick pada bibir Mika langsung menatap wajah Mika intens. "Tentu, kamu cantik kalo sedang tidak banyak bicara!" kesal Tasya karna sedari dia mendadani Mika, Mika selalu terus bertanya-tanya.


Mika menyengir kuda pada Tasya yang menatapnya kesal. "Jangan marah dong, Sya, mmm," ucap Mika dengan wajah lucunya.


Tasya tidak bisa menahan senyumannya kala melihat wajah lucu Mika. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mika itu lalu memfokuskan diri lagi pada polesan make up Mika yang sedikit lagi selesai.


"Sudah." kata Tasya senang karna dia berhasil membuat Mika cantik malam ini.


Mika menatap wajahnya di cermin, dia menyentuh wajahnya lalu tertawa renyah. "Wahaha, kamu jago sekali ya dalam mengukir wajah orang menjadi cantik begini." antusias Mika.


"Siapa dulu dong? Tasya." bangga Tasya dengan tawaan kecil.


Mika bangkit dari duduknya, dia memundurkan langkahnya agar bisa melihat lebih jelas penampilannya di cermin itu. Mika memutar-mutari badannya sampai dress yang ia kenakan mengembang seiring putaran tubuh Mika.


Wajah Mika benar-benar berseri melihat penampilannya malam ini yang menurutnya sangat cantik. Setelah berputar-putar, Mika mendekati Tasya yang berdiri disamping meja rias sambil memperhatikan Mika dari tadi.


"Apa aku sudah terlihat seperti Wanita  feminim nan cantik?" tanya Mika dengan mata berbinar-binar.


Tasya mengangkat jari telunjuk dan jempol nya di dagunya seakan memperhatikan penampilan Mika. "Kalo aku nilai si, malam ini kamu terlihat sedikit cantik."


Mika mengangkat tangannya. "Sedikit?" tanya Mika dan Mika tersenyum riang. "Gak papa, yang penting kan cantik walaupun sedikit, hehe." Mika cengengesan.


Tasya menggeleng kepalanya pelan. "Emangnya tuan muda mau bawa kamu kemana?" tanya Tasya.


"Hmm, katanya sih ke acara pesta tunangab temannya gitu." jawab Mika.


Tasya manggut-manggut kepala. "Apa tuan Dion ikut?" tanyanya lagi.


Mika memicingkan matanya seketika mendengar pertanyaan Tasya barusan. "Kenapa tanyain tangan kanan itu?" picingnya.


Tasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "A--aku cuma mau bertanya aja." elaknya.


Mika makin memicingkan matanya. "Masa?"


"B--benaran Mika, aku cuma nanya kok." elak Tasya lagi. Tasya gugup dengan sengaja dia menempelkan tangannya ditelinga seakan mendengar sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. "Ah, tuan Raga manggil kamu tuh. Dia teriak dari bawah loh." kata Tasya, mengalihkan pembicaraannya.


Tanpa bicara lagi, Mika berjalan keluar dari kamar Tasya. Dia harus  segera menghampiri Raga yang sudah menunggunya dilantai bawah. Ia yakin Raga sangat marah karna lama menunggunya.


Seperginya Mika, Tasya duduk di kursi rias. Dia menghebus nafas lega karna bisa membohongi Mika dengan alasan tuan Raga memanggilnya padahal itu hanya alibinya. Untung saja Mika mudah untuk dibohongi. Jadi dia bisa membuat alibi untuk Mika keluar dari kamarnya.


----------------


Mika turun dari tangga dan benar ucapan Tasya, Raga sudah menunggunya di bawah. Wajahnya terlihat kesal saat melihat Mika baru menyelesaikan acara dandannya.


Namun wajah kesalnya langsung berubah setelah menatap Mika yang turun dari tangga dengan dress berwarna biru telur asin bermodel kedua bahunya yang terekspos jelas.


Make up yang dikenakan Mika tidak terlalu mencolok bahkan wajah mungil Gadis itu hanya terpoles make up tipis. Rambut pendeknya terkuncir asal namun terlihat rapi. Sangat natural.


Raga melengos saat Mika sudah berada dihadapannya. Gadis itu sengaja memperlihatkan penampilannya ke hadapan Raga walau Raga terus membuang pandangannya.


Mika memiringkan kepalanya kala Raga sudah tidak membuang pandangannya. Sekarang Pria itu malah menatapnya jengkel. "Apa hari ini saya terlihat cantik, Gaga?" tanya Mika, menampilkan senyuman manisnya sambil mengedip-ngedipkan matanya dihadapan Raga.


"Jelek!" cibiran yang keluar dari mulut Mika membuat Mika memanyunkan bibirnya.


"Tidak bisakah Anda membuat saya senang, Ga?" kesalnya.


"Senang? Cih, jangan harap!"


"Jahat sekali Anda, setidaknya hargai Tasya yang sudah susah payah mengukir wajah saya."


"Untuk apa?" Raga menyeringai.


"Anda seperti bukan manusia ya."


"Anda seperti bukan manusia. Sebenarnya Anda ini spesies apa sih?"


"Harusnya aku yang bilang begitu!"


Mika mendengus kesal. Dia menatap jengkel Raga kemudian dia tersenyum lagi membuat Raga bingung dengan sikap Gadis itu. "Ga, apa disana banyak makanan enak?" tanyanya tiba-tiba.


Raga mendengus kesal. Tangannya mendorong pelan dahi Mika. "Makanan saja yang ada dipikiran mu itu!"


Mika menyentuh dahinya dengan cengiran dibibirnya.


"Tuan," ucap Dion yang tiba-tiba datang menghampiri kedua suami istri yang berdiri di depan tangga itu.


Raga mengangkat kedua alisnya pada Dion. "Kenapa?" tanyanya.


"Mobil sudah siap, tuan." kata Dion.


Raga mengangguk-angguk.


Dion mengalihkan pandangannya pada Mika yang menatapnya bingung. Istri dari tuan mudanya malam ini sangat cantik baginya.


Apalagi dress biru telur asin yang melekat pada tubuh mungilnya itu, membuatnya sangat cantik malam ini. Walau ekspresi Mika masih sama. Masih menampilkan wajah konyolnya.


"Anda malam ini sangat cantik, nona." puji Dion dengan senyuman tipisnya.


Mendengar pujian dari Dion, Mika tersenyum malu-malu. "Ahhh, Anda bisa saja." Mika menepuk bahu Dion dengan kencang.


Dion memengang bahunya yang habis ditepuk Mika itu. Dia melirik Raga yang menampilkan wajah tidak suka pada Dion.


"Hei! Dion berbohong tentang penampilanmu! Jangan tertipu olehnya, dia penipu profesional." Raga menimbrung.


Sudut bibir Mika tertarik kebawah. "Apa tuan cemburu kalo tangan kanan Anda memuji saya bukannya Anda?" Mika mendekatkan wajahnya pada wajah Raga.


Raga melotot. "Apa? Emangnya aku ini pencinta pria! Enak sekali kamu bicara?!" teriak Raga.


Mika makin mendekatkan wajahnya pada Raga. "Jujur saja tuan, Anda dengan tangan kanan Anda ini punya hubungan spesial kan?"


"Hais, aku ini pria normal tahu!" dengus Raga, kesal.


Mika memicingkan matanya. "Apa itu benar?" tanya Mika.


Raga mendorong wajah Mika dengan jarinya agar menjauh lalu memasukkan tangannya lagi pada saku celana levis yang panjangnya diatas mata kaki itu. "Apa aku harus membuktikannya padamu, heh?!"


Mika menelan slivarnya. "Saya tidak mengerti maksud anda, Ga."


"Cih, sudahlah, lupakan. Otak cetekmu itu tidak akan bisa mengerti kata-kata ku!"


"Ishh."


Raga mendekat pada Dion yang masih bingung dengan pertengkaran Raga dan Mika itu. "Dion, jangan pernah memujinya lagi. Itu membuatnya menjadi sangat percaya diri." bisik Raga dan Dion langsung mengangguk-angguk mengerti.


Melihat Dion dan Raga saling berdekatan membuat Mika memicingkan matanya lagi.


Raga menoleh ke Mika yang memicingkan matanya seperti itu. Shit! Dia ingin tersenyum melihat keimutan wajahnya itu.


"Apa lihat-lihat begitu?!" galak Raga membuat Mika sontak menggelengkan kepalanya polos.


Raga melengos, dia beranjak pergi duluan ke parkiran meninggalkan Dion dan Mika yang masih berdiri disana. Dia berjalan sambil tersenyum geli.


Melihat Raga melangkah pergi dengan cepat Dion membuntutinya dari belakang. Tidak dengan Mika yang masih menatap kedua pungung tegak milik kedua pria itu.


Raga memberhentikan langkahnya, membalik badannya ke arah Mika berdiri. "Hei, cepat bodoh!" teriaknya.


Dan Mika langsung mengangguk pelan, dia berlari pelan untuk berjalan tepat di belakang Dion dan Raga.