Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Marah?



"Ga," panggil Mika, menatap Raga yang sedang menyantap makan siangnya.


Raga memberhentikan makannya, dia menatap Mika dengan kedua alis terangkat, bertanya tanpa berbicara.


Mika menyengir, matanya melirik makanan dipiring yang tadi ia bawakan untuk Raga. "Lapar saya, hehe," Mika menyengir pada Raga.


"Kamu mau?" tanya Raga, menggoda Mika dengan berpura-pura menyuapini Mika.


Baru ingin menyuap, Raga malah memakan suapannya sendiri kedalam mulutnya. Dia tersenyum licik pada Mika.


Mika menekuk wajahnya. Dia memalingkan pandangannya kesebrangan arah.


Melihat Mika seperti itu membuatnya gemas sendiri. Mengapa tidak habis-habisnya Gadis itu membuatnya gemas seperti ini?


"Kenapa wajahmu seperti itu, hah?!" bentak Raga membuat Mika menatapnya lagi.


"Kenapa emangnya? Gak boleh?" Mika mendekatkan wajahnya pada Raga yang menatapnya tajam.


Raga menjauhkan wajah Mika dengan tangannya, dia mendengus kesal. "Kenapa ucapanmu begitu? Kamu marah?"


Mika mengangkat satu sudut bibirnya. "Saya tidak pernah marah dalam hidup saya, bukan seperti anda yang marah setiap detik, menit dan jam!"


"Apa? Kamu mengatai aku?!" bentak Raga.


"Lihat sekarang anda kumat." Mika menunjuk Raga.


"Hais, benar-benar kamu ya!" dengus Raga kesal.


"Apa mau apa?" Mika menantang Raga dengan mendekatkan wajahnya.


"Berhenti mendekat-dekatkan  wajahmu! Atau aku akan menciummu?!" ancam Raga dan Mika menjauhkan wajahnya.


Mika memelaskan wajahnya seketika. "Saya juga mau makan Ga, saya lapar..." cicit Mika. Raga yang melihat itu ingin sekali tertawa.


"Kalo kamu mau makan ini, ciumlah aku.." kata Raga.


"Hanya cium aja kan?" Mika tersenyum girang.


"Ya, emangnya kamu mau apa selain cium, hmm? Dasar mesum!" cibir Raga, menyentil dahi Mika.


"Jadi, saya cium anda dimana?" tanya Mika.


"Kenapa kamu bersemangat sekali?"


"Tidak," Mika menggeleng.


Raga mengubah posisi duduknya menyamping, dia mendekatkan wajahnya pada Mika, tangannya menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.


Mika menyentuh bibir Raga, meyakinkan Raga hanya bibir yang ia cium. Dan Raga menunjuk kedua pipinya, terakhir dia menunjuk hidung mancungnya.


"Baik, saya lakukan demi makanan!" teriak Mika bersemangat.


Dia menangkup wajah Raga, matanya melotot seperti ingin keluar. Mika mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Raga, mengecupnya sebentar lalu beralih mengecup kedua pipi Raga yang kanan dan kiri lalu mengecup hidung mancung Raga terakhir dia mengecup bibir Raga lagi dua kali.


Raga yang diperlakukan seperti itu hanya diam apalagi mendapat bonus dari Mika. Perlu kalian tahu, jantung Raga sekarang berpacu lebih cepat.


Raga menutup wajah Mika dengan telapak tangannya. Menjauhkan wajah Mika dari wajahnya.


"Apa kamu senang menciumku seperti itu, hah?!"


Mika melepaskan tangan Raga yang menutupi wajahnya. Dia menatap datar Raga.


"Tidak senang juga sih, kan anda yang mau dicium." jawab Mika.


"Maksudmu aku sangat mau diciummu, begitu?"


Mika mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu,"


Raga mendengus kesal. "Makan itu! Aku sudah tidak berselera!"


Mika tersenyum girang. Dia langsung mengambil piring itu, menaruhnya dipahanya. Dan langsung melahap makanan itu dengan hati senang.


Raga berdecak sebal melihat Mika yang asik memakan makanannya. Padahal Gadis itu yang membawakan makanan itu ke kantornya kenapa jadi dia yang memakannya? Sungguh membingungkan Istrinya itu.


Setelah habis makanannya, Mika menaruhnya lagi ke atas meja. Dia menatap Raga dengan cengiran di bibirnya.


Raga mendengus, tangannya terangkat menyeka saos sambal dibibir Mika. Dia menyekanya dengan sengaja menekan bibir Mika membuat kepala Mika ikut kebelakang akibat tekanan itu.


"Dasar anak kecil!" cibir Raga.


"Kita ngapain lagi ya, Ga?" tanya Mika.


"Tidak tahu! Lakukan sesukamu disini! Karna ini kantorku jadi kamu bisa sesukanya!" kata Raga, menyindir Mika.


"Iya sih, ini kan kantor Anda, anda kan suami saya jadi saya bebas melakukan apa saja disini." Mika tersenyum lebar.


"Baru mengakui aku sebagai suami?"


"Tidak tahu," Raga menoyor kepala Mika.


Tok tok tok!


Raga dan Mika sontak langsung menatap kearah pintu.


"Masuk!" teriak Raga.


Dion membuka pintu ruangan Raga, matanya langsung menangkap Mika dan Raga yang sedang duduk disofa. Tangan Raga yang menyender pada senderan sofa membuatnya terlihat memeluk Mika dari samping.


Entah mengapa Dion menyukai pemandangan itu. Diam-diam dia tersenyum tipis melihat Raga yang sudah lebih dekat dengan Mika.


"Ada apa, sekretaris Dion?" tanya Mika, ingin sekali dia menghampiri Dion dan mengajaknya berkeliling kantor ini namun tangan Raga lebih dahulu menahannya.


"Maaf tuan menganggu, saya kemari hanya ingin menyampaikan bahwa meeting hari ini tidak ada jadwal meeting." ucap Dion.


Oh ya Tuhan! Dion aku tahu kamu kesini hanya ingin menggodaku, jangan beralasan seperti itu!


Mika menatap Raga. "Jadi sekarang anda tidak sibuk ya?" tanya Mika.


"Kenapa emangnya?" tanya balik Raga. Mika menggeleng.