
Didalam mobil. Mika melirik Raga yang terlihat marah. Padahal Mika tidak tahu dimana kesalahan kenapa Raga semarah itu padanya?
Menyadari di lirik-lirik Mika, Raga langsung melempar tatapan tajam pada Mika dan Mika membuang pandangannya ke kaca mobil, menghindari tatapan tajam Raga.
"Kamu melirik ku, hmm?" tanya Raga.
"Tidak, saya cuma melirik Sekretaris Dion, bukan anda." jawab Mika berbohong tanpa menatap Raga.
Raga menghebus nafasnya gusar. Kenapa dia bisa semarah itu pada Mika yang hanya bertemu yang katanya hanya temannya karna Raga melihat semua perlakuan Mika pada Pria yang bernama Gemma itu. Dia melihat saat Gemma keluar dari mobilnya dan Mika langsung meloncat memeluknya, suami mana coba yang tidak cemburu dan marah melihatnya?
Bahkan perlakuan itu tidak pernah Mika berikan padanya. Dan lagi Mika berbicara dengan Gemma tidak baku seperti bicara padanya. Dia benar-benar cemburu pada Gemma.
Mika melirik Raga lagi, dia memberanikan diri mendekati Raga lalu dia menarik ujung lengan jas Raga membuat Raga menatapnya lagi.
"Apa?!" galak Raga.
"Kenapa anda tiba-tiba marah pada saya?" tanya Mika. "Dari kemarin anda tiba-tiba marah tidak jelas seperti ini."
Lihatlah, dia dengan tidak bersalahnya menanyakan itu.
"Kamu mau tahu kesalahan mu?" Mika mengangguk kencang. Raga menunjuk dahi Mika kencang. "Kamu pikir sendiri!" ketus Raga.
Mika menyentuh dahinya. Dia memanyunkan bibirnya.
"Aku akan melakukan itu malam ini, persiapkan dirimu!" kata Raga membuat Mika tidak mengerti.
Mika mendekati kursi pengemudi dimana Dion mengemudikan mobil ini. "Melakukan itu apa?" tanya Mika pada Dion.
"Nanti anda tahu sendiri nona," jawab Dion dengan senyam-senyum.
Kemudian Mika menatap Raga lagi yang sekarang menatap keluar kaca. Mika menarik jas Raga pelan dan Raga menepis tangan Mika tanpa menoleh padanya.
Mika berdecak sebal. Dia menatap ke kursi pengemudi, Dion sepertinya sedang fokus mengemudi.
Sesampainya di Mension, Raga langsung turun dari mobil tanpa menunggu Mika. Dia memasuki Mension dengan wajah seram.
Dion turun dari mobil, dia membukakan pintu untuk Mika walau Mika tidak menyukai perlakuan itu tetap saja Dion melakukannya.
Dengan kikuk Mika keluar dari mobil, dia menatap punggung tegak Raga yang masuk kedalam Mension. Biasanya Raga menunggunya tapi kenapa hari ini tidak? Sebenarnya ada apa sih dengan Raga?
"Nona, sebaiknya anda harus bersiap-siap untuk malam ini. Saya akan menyuruh para pelayan membantu anda." kata Dion diakhiri dengan senyuman tipis.
Mika menggaruk kepalanya tidak mengerti. Tadi Raga bilang nanti malam dia akan melakukan itu dan sekarang Dion malah menyuruhnya bersiap-siap, sebenernya ada apa sih?!
"Nona, jangan terlalu dipikirkan, anda pasti akan mengetahui apa yang akan dilakukan tuan muda," Dion menyadari kebingungan Mika.
Mika mengangguk kaku. Dia berjalan memasuki Mension dengan otak yang penuh dengan pertanyaan.
Tunggu. Mika menoleh lagi pada Dion yang berjalan menghampirinya. "Sekretaris Dion, apa boleh hanya Tasya dan Mbak Vera yang membantu saya?" pinta Mika.
Dion menyengitkan dahinya. "Kenapa anda bertanya pada saya, nona? Tentu saja boleh," jawab Dion membuat Mika senang.
Mika kembali berjalan memasuki Mension. Wajahnya masih sama, terlihat kebingungan. Dia masih memikirkannya.
Dion menggeleng-gelengkan kepala, memang unik Istri tuan muda itu.