Hey, My Cold Husband!

Hey, My Cold Husband!
Gemma



Siang ini Mika berada didepan warung makan Bapaknya. Mika duduk di bangku panjang sambil menikmati gorengan, makanan kesukaannya. Matanya menatap ke jalanan dimana kendaraan-kendaraan melewati warung makan Bapaknya.


Mika mengangkat satu kakinya ke atas bangku, tangannya terus bergerak memasukkan gorengan itu di mulutnya. Mika sangat menikmati gorengan yang ia kunyah didalam mulutnya. Walaupun Mika sudah sering membeli dan memakan gorengan itu tetap saja bagi Mika gorengan itu sangat nikmat dan enak di mulutnya.


Hari ini warung Pak Rusdi tutup jadi dia bisa bersantai-santai menikmati pemandangan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang sambil memakan gorengan.


Mika terus melahap gorengan itu sampai tidak menyadari seseorang tengah memerhatikannya sambil tersenyum. Orang itu bahkan berdiri disebelah bangku panjang.


Orang itu duduk disebelah Mika kemudian Orang itu berdeham agar Mika menyadari kehadirannya. Dan Mika akhirnya menoleh kearahnya dengan gorengan yang masih ada dimulutnya.


Orang itu mengangkat tangannya keudara. "Hay, kita ketemu lagi," sapanya dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Kita pernah ketemu emangnya?" tanya Mika. Jujur saja, dia sangat buruk dalam mengingat sesuatu.


"Aku sering makan disini, loh. Masa lupa?" Orang itu mengingatkan.


Mika memutar-mutar bola matanya, mengingat memori yang ada didalam otaknya. Dan dia langsung tersenyum lebar pada Orang itu. "Ohhh,,,, gak ingat."


"Kamu buruk sekali ya dalam mengingat seseorang. Oke, kita kenalan lagi.." Orang itu menjabat  tangannya pada Mika. "Aku Gemma, pelanggan setia warung bapakmu," Orang itu memperkenalkan diri.


Mika menerima menjabatan tangan Orang yang bernama Gemma yang baru saja memperkenalkan dirinya itu.  "Saya Mika, Mika Juliantika."


"Aku udah tau nama kamu." kata Gemma.


Mika melepaskan jabatan tangan Gemma. Dia menatap Gemma datar. "Kan tadi Anda yang mau berkenalan. Berkenalan kan emang harus seperti itu." ucap Mika.


"Ya ya, oke. Btw, kamu ini anak Pak Rusdi yang keberapa?" tanya Gemma.


"Yang kedua sih. Emangnya kenapa?" jawab Mika.


"Jadi, Sekar itu anak yang pertama?" tanyanya lagi. Mika mengangguk.


"Emangnya kenapa sih? Jangan-jangan kamu mau kepoin kak Sekar ya?" Mika memicingkan matanya.


Gemma menggeleng, tangannya bergerak-gerak. "Gak, aku malah mau tau tentang kamu." frontalnya.


Mika menunjuk dirinya sendiri dengan mulut ternganga. "Hah? Saya? Kenapa kepo sama saya?"


"Karna kamu lucu. Rambutmu itu, aku menyukainya." ujar Gemma tangannya menyentuh rambut pendek Mika.


Mika menyentuh rambutnya sendiri dengan senyum malu-malu. "Ahhh bisa aja." Gemma tersenyum gemas melihat Mika seperti itu.


"Oiya, kamu sepertinya bukan orang sini dan kelihatannya kamu seperti orang berada. Kenapa kamu bisa tahu rumah makan kecil ini?" tanya Mika melihat wajah mulus Gemma dari dekat.


"Aku waktu itu cuma lewat-lewat daerah sini dan aku jadi tertarik karna seorang Gadis yang manis yang ada di warung ini." jelasnya.


"Gadis manis? Perasaan tidak ada Gadis manis disini.. Adanya cuma aku.." Mika tiba-tiba tersenyum malu-malu. "Apa Gadis manis itu aku?"


Gemma tersenyum tipis. Dia senang Mika tidak berbicara formal lagi padanya tanpa dia pinta.


"Tapikan aku tidak manis. Atau kamu berbohong ya! Ishh, kamu ini,," Mika memukul pelan lengan Gemma membuat Gemma terkekeh kecil.


"Kata siapa aku berbohong? Aku serius." jujur Gemma.


Gemma memengangi bahunya sendiri, dia tersenyum tipis. "Oiya, boleh kita bertukar nomer?" ucap Gemma. Dia mengambil ponselnya yang berada di saku celana levis nya.


Mika mengangguk setuju. "Iya, kita harus bertukar nomer. Kan sekarang kita berteman."


Gemma terdiam sejenak. Mendengar Mika menganguinya Sebagai teman entah kenapa membuatnya senang.


Mika mengambil ponselnya yang ia letakan di sebelah kirinya. Dia membuka screen ponselnya dan langsung memberikan pada Gemma. Gemma menerimanya dan dia mulai menulis nomer telpon Mika ke ponselnya.


"Namai aku gadis manis dong," pinta Mika. Dan Gemma menurutnya, dia menulis nama Mika dengan Gadis Manis didalam ponselnya.


Setelah sudah saling menukar nomer telpon, Gemma mengembalikan ponsel Mika lagi pada Mika. "Mika, tuan galak menelponmu," kata Gemma memberitahu Mika bahwa penggilan dari tuan galak itu di ponselnya.


Mika langsung menerimanya, dia langsung segera mengangkat penggilan dari suaminya itu. Ketika Mika menempelkan ponsel itu ditelinganya, dia langsung mendengar teriakan dari Raga disebrang sana yang membuat kupingnya berdenyut saking kencangnya teriakan Raga.


Mika menjauhkan sebentar ponsel itu dari  telinganya, dia mengusap telinganya berkali-kali kemudian dia tempelkan lagi ditelinganya. "Ada apa, tuan?" sahut Mika ikut berteriak.


"Hei! Berani sekali kamu berteriak padaku!" kata Raga bernada tinggi.


"Abisnya tuan sendiri yang mulai berteriak." balas Mika.


"Hais, dimana kamu?" dengus Raga.


"Warung bapaklah tuan, dimana lagi?"


"Pulang, sekarang!" kata Raga penuh penekanan.


"Saya mau senang-senang disini dulu tuan. Saya mendapat teman baru sekarang.."


"Tidak peduli! Pulang sekarang! SEKARANG!" tekan Raga, tidak bisa diganggu gugat.


"Tapi---"


Tutttt!


Raga mematikan sambungan telepon. Mika langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Wajahnya cemberut.


Gemma mengangkat kedua alisnya pada Mika. "Kenapa?" tanya Gemma.


"Aku disuruh pulang..."


"Yaudah pulang aja, aku juga ada urusan penting sekarang."


"Benarkah? Wahh kalo gitu aku boleh dong menumpang di mobilmu," Mika menarik-turunkan alisnya.


Gemma tersenyum. "Iya, boleh," jawabnya. Membuat Mika tersenyum lebar, dengan segera dia bangkit dari duduknya menghampiri Pak Rusdi yang berada didalam warung.


Setelah pamit pada bapaknya, Mika keluar lagi, dia sudah memakai tas ranselnya. Siap untuk pulang sekarang.


"Ayoo!" seru Mika.