Hakai

Hakai
[chapter 8-perasaan yang terungkap dan bersatu]



Dua Minggu setelah aoda-san pindah ke sekolah ku,atau lebih tepatnya kelas ku?


Hari-hari biasa ku berubah sedikit demi sedikit,kapan terakhir kali aku merasakan perusahaan bahagia bersama orang lain?


Orang-orang yang menggangu ku dulu, sekarang mendekati ku,kenapa?


Karena aoda-san dekat dengan ku,dan dampak yang dihasilkan dari ini sangat besar, aoda-san berpengaruh di daerah kinki,pengaruh dia juga tersebar hampir seluruh Jepang,karena itu daripada memusuhi orang yang dekat dengan aoda-san, lebih baik dekati dan jadikan sekutu.


Terdengar seperti akan ada perang,tapi memang kehidupan tidak akan berubah dari jaman dulu,hingga sekarang,perang tidak lagi berupa fisik,tapi mental, pengaruh, kekayaan,dll.


Saat ini jam pulang sekolah,2 menit lalu bel berbunyi,tapi aku masih sibuk mencatat dan merangkum pelajaran hari ini,dan yang seperti kalian duga,aoda-san menunggu disampingku dengan wajah cemberut nya.


"Nee-nee~ kiyo-kun ayo kita ke caffe sekali-kali kan? Kita juga bisa sekalian membeli makanan untuk yada-san"


Yada-san yang dibicarakan aoda-san adalah nama adikku,ya tentu saja. Nama lengkapnya adalah ayada kiyoki,dia adikku yang masih kelas 6 sekolah dasar, meskipun begitu dia cukup besar untuk bisa dibilang bahwa dia adalah kakak ku,bukan adikku.


Tingginya sekitar yah kurang lebih 167 cm, sedangkan aku hanya 163 cm. Dan ayada juga cukup kecil jika dibandingkan aoda-san yang tinggi nya hampir 171 cm,di muka umum saat aku berjalan dengan mereka bertiga,aku mungkin tampak seperti adik yang sedang berjalan bersama kakaknya.


"Hahhh, baiklah ayo pergi aku akan melanjutkan nya dirumah"


Aku menutup buku ku, merapikan alat tulis dan menaruhnya kedalam tas.


Kenapa aku menjelaskan hal dasar seperti ini?


"Yeay~ baiklah ayo!!!!"


"Tungg--"


Dia langsung menarikku dengan kecepatan yang sangat cepat dan kuat,aku melihat dia seperti lelaki atlet gulat yang tenaganya tak terbatas,Ingat kiyoki dia perempuan.


Aku berjalan menyusuri jalan setapak bersama aoda-san,yap, dia sedang memegang tangan ku.


Setelah 20 menit,kita sampai di caffe,karena hari ini libur,aku bisa menikmati minum bersama aoda-san.


"Ahh~ aku membenci belajar,kenapa sangat rumit sekaliii"


Dia mengeluh,'salahkan saja orang yang membuat semua ini'


Aku ingin berbicara seperti itu,tapi tidak sopan mengingat mereka menciptakan sekolah dan pembelajaran ini untuk kemajuan umat manusia.


Sebagai gantinya aku tersenyum kepada aoda-san yang sedang cemberut itu.


"Aku akan ajarkan tentang itu kepadamu,jadi jangan khawatir tentang nilaimu,dan yang lebih penting itu mudah"


"Kyahh~ kau memang yang terbaik"


Menit-menit itu berlalu, setelah selesai,kami berjalan menuju ke restoran cepat saji untuk membeli makan malam.


"Wahh rasanya enak sekali mencium bau makanan"


"Hah dasar otak makanan"


"Tehee~"


Huh.


Setelah beberapa menit makanan jadi, setelah membayar kami berjalan keluar dan pulang menuju rumah.


Tapi... Entah kenapa rasanya suasana disini agak berat.


Langit senja berwarna oranye mulai digantikan dengan warna hitam.


"Anu,kiyo-kun?"


"Hmm ada apa?"


Rasanya ada hawa dingin yang menusuk punggung ku.


"Bolehkah kita berbicara sebentar?"


Apa ini?


"Baiklah,ada memang nya?"


"Aku......"


Kata-katanya berhenti sesaat dan...


'menyukaimu'


Hmm?


"Aku menyukaimu, tapi aku tidak mengharap kamu menerima perasaan ku ini,lagian siapa yang mau dengan perempuan preman seperti aku? Tapi perasaan ku berat,sangat berat saat bersama mu,jadi aku mengukapkan nya"


Aaaa


"Maaf.."


"Ah tidak papa,aku..."


Ah sial kata-kata ku tidak mau keluar, sialan sialan itu akan membuat salah paham.


Air mata menetes dari mata aoda-san,dia menunjukkan wajah yang sangat sedih dan kecewa,sialannn.


"Maaf,akuu, meskipun aku mengatakan bahwa tidak mengapa kau tidak merasakan perasaan yang sama dengan ku,tapi tetap saja menyakitkan...."


Aoda-san berlari setelah mengatakan itu,aku adalah pria bangsat yang membuat wanita secantik aoda-san seperti itu.


Punggung aoda-san menjauh,dan makin lama tidak kelihatan.


Sialan.


Aku berlari mengejar aoda-san,aku harap dia tidak jauh.


Itu dia.


Aku berlari dan menangkap aoda-san.


"Kenapa!!"


"........"


"Kenapa kau masih mengejar ku,sudah cukup aku sudah----"


"Dengarkan aku aoda-san"


Aoda-san diam tak bergeming mendengar perkataan ku tadi.


"Aku.. aku minta maaf bukan karena aku tidak suka dengan mu,aku.. aku sangat suka kepada mu,sangat cinta kepada mu, tapi aku tidak berani mengungkapkan nya,aku seperti pria sampah,dan saat kamu mengungkapkan bahwa kamu mencintai ku,aku sangat senang,tapi aku tidak bisa menjawabnya,aku sampah karena membuat mu menangis--"


Aoda-san terkejut dan diam.


Aku melanjutkan kata-kataku yang selalu ingin aku ungkapkan.


"Aku... Aku tidak berharap kamu mau menerima perasaan ku,aku.. aku bahkan membuat mu menangis,aku seakan tidak layak untuk menjadi pacar atau bahkan kekasih mu"


Aku tertunduk pucat,aku memang pria sampah.


Air mata?


Saat aku melihat keatas, aoda-san menangis deras.


"A--aku tidak mengharap orang yang aku sukai menyukai ku,kamu adalah orang yang pertama yang membuat ku jatuh cinta,t--tapi orang orang selalu berbicara bahwa aku adalah perempuan yang tidak akan mendapatkan pasangan,a--aku tidak peduli akan pasangan atau cinta saat itu,t--tapi sekarang aku jatuh cinta kepada seseorang,dan itu kamu,tapi aku tidak berharap kamu akan menerima nya"


Ahh,aku ingin melindungi nya.


"Terimakasih sudah mencintai pria sampah seperti ku"


Aku mencium bibir aoda-- tidak shiki--san?


Itu adalah saat dimana aku berpacaran dengan orang yang sangat cantik dan kuat, seperti mimpi dia mencintai seorang pria sampah seperti ku.


---------