H -

H -
ch 9. Jejak



Setelah mencuci tumpukan piring-piring kotor, Rara kembali ke ruang tamu. Rara pun duduk di samping Andreas yang sejak tadi sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ngapain?"


Rara melirik si arah ponsel yang sedang di genggam Andreas, lelaki itupun langsung mengunci layar ponselnya.


"Tidak ngapa-ngapain kok"


Sahut nya dengan wajah yang serba salah.


"Oh iya, semalam ada tamu disini?"


Rara berusaha memancing Andreas dengan bertanya tentang tamu.


"Tidak ada. kenapa? "


Andreas semakin terlihat gelisah.


"Tidak apa-apa, aku cuma bertanya"


Rara mencoba tersenyum kepada Andreas.


"Aku ke toilet dulu ya"


Rara beranjak dari duduk nya lalu menuju toilet di ujung lorong antara kedua kamar tidur apartemen itu. Rara membuka pintu toilet khusus untuk tamu, lalu masuk ke dalam nya. Dengan hati yang berdebar, Rara memberanikan membuka tempat sampah yang berada di bawah wastafel di dalam toilet tersebut.


Tetapi Rara tidak menemukan satupun sisa sampah di dalam tempat sampah itu. Sepertinya tempat sampah itu baru saja di kosong kan oleh Andreas.


Rara menghela napas nya, dirinya semakin penasaran, Jiwa detektif dadakan ala wanita yang sedang cemburu pun mulai menguasai dirinya.


Dengan pelan ia membuka pintu toilet lalu keluar tanpa suara.


Rara jalan mengendap-endap ke arah ruang tamu, ia melihat Andreas masih asik dengan ponselnya dan sesekali tersenyum.


Melihat Andreas yang selalu asik dengan ponselnya, membuat Rara pun semakin kesal. Lalu ia berjalan pelan menuju kamar Andreas.


klik..!


Suara gagang pintu kamar sedikit membuat Rara merasa cemas bila Andreas mengetahui bahwa Rara sedang membuka pintu kamar nya.


beruntung, suara kencang dari televisi yang tidak di tonton oleh Andreas menutupi suara gagang pintu yang mulai terbuka itu. Dengan cepat Rara menyelinap masuk kedalam kamar Andreas.


Ia melihat kesekeliling, kamar itu cukup berantakan. Ia melihat tumpukan bantal di atas ranjang yang terlihat seperti baru saja di tiduri oleh dua orang di atas nya.


Rara menghela napas nya, jantung nya berdetak tak beraturan. Ia mulai mendekati ranjang tersebut dan menyingkap selimut yang menutupi sebagian badan ranjang. Tetapi tidak ada apa-apa disana, Rara mencoba menyapu pandangan nya ke sekeliling ruangan. Termasuk nakas di setiap sisi ranjang, tetap saja tidak ada satupun yang mencurigakan disana.


Rara bergegas masuk ke toilet di dalam kamar yang lumayan luas tersebut.


Ia menggeser pintu kaca toilet itu, lalu masuk kedalam toilet pribadi Andreas dan sudah pasti hanya Andreas saja yang menggunakan toilet itu.


Rara bergegas membuka tempat sampah kecil yang berada di dalam kamar mandi itu. Saat ia melihat kedalam tempat sampah tersebut, jantung Rara mendadak seperti berhenti berdetak.


Perut nya terasa mual, ia tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.


Dengan gemetar, Rara mengunci pintu toilet itu. Lalu ia menyenderkan tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa tak bertulang di daun pintu bagian dalam toilet pribadi Andreas.


Rara sekali lagi melirik ke dalam tempat sampah, bibir nya gemetar dan air mata mulai menetes di pipinya.


Rara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, lalu membuka fitur camera dan memotret apa yang baru saja ia temukan.


Di dalam tempat sampah tersebut, Rara menemukan beberapa tissue bekas pakai dan alat kontrasepsi bekas pakai. Di dalam alat kontrasepsi itu terlihat jelas sekali ada ceceran sp*rm* milik pemakainya. Tidak hanya satu buah, tetapi ada dua buah yang terlihat di antara tumpukan tissue bekas yang teronggok di dalam tempat sampah itu.


Rara menghapus air matanya, lalu ia menuju ke bilik shower, ia sangat yakin pasti ada sesuatu di sana. Rara memperhatikan setiap detailnya. ia pun menemukan beberapa helai rambut yang rontok dari kepala pemilik nya.


Rambut panjang dan berwarna sedikit kecoklatan itu, membuat Rara sangat yakin bila itu bukan lah milik Andreas.


Hati Rara seperti tertusuk sembilu, ada rasa sakit yang sangat luar biasa disana. Jauh di dalam hatinya yang sedang terasa seperti tercabik-cabik.


"Sayang, kamu di dalam? "


Rara terkejut saat mendengar Andreas mengetuk pintu kaca toilet dan memanggilnya dari luar.


"I ..iya..Tunggu sebentar, aku sedang pipis"


Rara memfoto rambut yang baru saja ia temui itu, setelah itu ia membuangnya begitu saja di lantai. Lalu Rara membasuh tangan nya di wastafel dan meraih beberapa lembar tissue untuk mengeringkan telapak tangan nya. Rara menatap bayangan wajahnya di depan cermin, lalu ia menyeka air matanya.


"Sayang.. ngapain sih?"


Andreas kembali memanggil Rara dari luar toilet.


"Iya sebentar"


Sahut Rara sambil menekan segala emosi yang sedang bergejolak di dadanya.


Lalu Rara keluar dengan senyuman yang mengembang di bibir nya, dan menatap Andreas yang gelisah.


"kok pakai toilet yang ini? di luar kan ada"


Suara Andreas terlihat bergetar, dan napas nya memburu seperti orang yang sedang panik.


"Oh... toilet yang diluar bau, aku nyaman disini. Tidak apa-apa kan?"


Pertanyaan Rara membuat Andreas sedikit gelagapan.


"Tidak apa-apa sih"


Jawab nya sambil sesekali melirik kedalam bilik toilet.


Saat dirinya sedang asik dengan ponselnya, Andreas menyadari bila Rara yang sejak tadi di toilet tidak kunjung kembali. Ia mulai merasa was-was sejak kejadian Rara menemukan tissue bekas dengan noda lipstik di dalam tempat sampah toilet tamu.


Lalu ia langsung mencari tahu apa yang sedang Rara lakukan di dalam toilet. Setelah beberapa kali memanggil dan mengetuk, tidak ada jawaban dari dalam toilet tamu. Lalu ia memberanikan diri untuk membuka pintu toilet itu. Ternyata tidak ada Rara di dalam nya.


Dengan panik, Andreas langsung menuju kamar nya. dan melihat kesekeliling kamarnya, tidak ada Rara. Ia pun mencurigai Rara sedang berada di toilet pribadinya, dan ia pun langsung menuju ke toilet pribadinya dan mengetuk pintu toilet tersebut.


Rara pun menyahut panggilan Andreas dari dalam toilet. Mendadak Andreas panik saat ingatan nya tertuju kepada barang bukti sisa semalam saat ia dan gadis idaman lain nya bersenang-senang di atas ranjang.


Seketika Andreas kalut dan merasa dirinya sangat bodoh. Mengapa sampai ia lupa menyingkirkan sampah yang berada di toilet pribadinya.


Ia tidak berpikir sama sekali bahwa bisa saja Rara menggunakan toilet itu.


Rara langsung berlalu dari hadapan Andreas yang masih terlihat gelisah.


Dengan cepat Andreas langsung masuk kedalam toilet dan mengemasi sampah yang berada di sana. Ia mengikat pelastik sampah tersebut lalu menggantikan nya dengan pelastik yang baru.


Ia pun terburu-buru membawa pelastik sampah tersebut ke arah dapur dan membuangnya kedalam trash chute.


Setelah selesai dan merasa aman,


ia mencuci tangan nya sambil melirik Rara yang duduk di depan televisi.


"Apakah Rara melihat sampah itu?"


"Apakah Rara tidak tahu?"


"Apakah Rara pura-pura tidak tahu?"


"Tetapi melihat ekspresi Rara, sepertinya Rara tidak tahu."


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otak Andreas. Andreas berjalan dengan pelan saat dirinya menghampiri Rara.


"Sayang..!"


Andreas nyaris saja melompat saat mendengar dirinya tiba-tiba di panggil oleh Rara.


"I.. iya"


Sahut nya dengan mencoba membaca mimik wajah Rara.


"Tolong beliin aku pembalut ya..di bawah kan ada swalayan, aku lupa hari ini aku haid. Aku takut tembus"


Andreas langsung bernapas lega saat dirinya yakin Rara tidak melihat jejak dosa nya.


"O.. ok, aku kebawah dulu ya"


Dengan salah tingkah Andreas mengambil dompet nya lalu keluar menuju swalayan di lantai bawah gedung apartemen itu.