H -

H -
Ch 42. Ricuh



Andreas dan keluarganya hanya bisa terdiam saat melihat semua bukti yang Rara keluarkan.


"Tetapi aku tidak menghamili siapa-siapa..!!! ini tidak Adil bagiku Ra..!"


Andreas tetap berusaha mengelak. Saat itu juga Naya muncul di hadapannya.


"Kamu belum baca surat dariku?"


Tanya Naya kepada Andreas lalu melempar lelaki itu dengan sebuah benda kecil.


Maminya Andreas memungut benda tersebut dengan tangan gemetar, lalu ia terbelalak saat melihat benda tersebut.


"Ka...kamu hamil Anaknya Andreas?"


Tanya wanita paruh baya tersebut dengan suara yang tercekat.


"Iya, dan saya bersedia untuk test DNA bila Andreas menyangkalnya"


Ujar Naya dengan tegas.


Suasana menjadi ricuh saat semua orang mengetahui Fakta siapa sebenarnya Andreas.


"Kamu jangan mengada-ada Naya..!!! Aku tidak mungkin menghamili kamu..!!"


Ucap Andreas dengan sorot mata yang penuh emosi.


"Ok, kita test DNA.. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan dirimu" Ucap Naya lagi.


"Kurang ajarrrrr...!!! Jadi kamu yang menghancurkan rencana pernikahan ku..!!!"


Andreas melepaskan dirinya dari cengkeraman para bodyguard, lalu ia berlari kearah Naya yang sedang membelakanginya. Andreas menarik gadis itu dengan kasar, lalu hendak melayangkan pukulan ke pipi Naya.


Dengan sigap Fathur berlari ke arah Andreas lalu menahan kepalan tangan Andreas dengan kuat.


"B*nc*!!!!!! Jangan pernah memukul perempuan..!!!!"


Hardik Fathur kepada Andreas.


"Lu juga..!!! Lu berani merebut Rara dari gue..!!!"


Andreas mencoba melayangkan pukulannya ke wajah Fathur, tetapi dengan cepat para bodyguard menahan tangan lelaki itu. Rara yang melihat kericuhan itu langsung melemparkan sesuatu ke wajah Andreas.


"ini cek...!!! semua yang kamu keluarkan untuk biaya pernikahan aku kembalikan. Sekarang kamu pulang karena kamu tidak di undang..!!!


Dengan air muka yang emosi, Rara mengusir lelaki yang pernah sangat ia cintai itu.


"Tega kamu Ra...!! tega..!!!"


Andreas berteriak-teriak sambil di seret oleh para bodyguard menuju pintu keluar. Saat Andreas meronta-ronta, ia melihat Alin yang datang menghampirinya.


"Kamu lebih baik mati dari pada kamu tidak jadi milik ku...!!!"


Teriak Alin sambil mengayunkan sebilah pisau kearah tubuh Andreas.


"Jangaaaaaannnnn...!!!!!!"


Seru Naya lalu ia menghalangi tubuh Andreas dengan tubuhnya.


Pisau itu tertancap tepat di perut Naya. melihat dirinya salah sasaran, Alin pun langsung berusaha melarikan diri. Suasana menjadi ricuh, beberapa orang berusaha mengejar Alin. Sedangkan Andreas terpaku melihat tubuh Naya yang mulai ambruk di depannya.


Rara, Nia dan Farah langsung histeris. sedangkan Fatur langsung memangku tubuh Naya yang sudah berada terbaring lemah di atas rumput.


"Tolong bantu...!!!! tolong bantu...!!!"


Seru Fathur sambil berusaha membopong Naya. Sebagian orang langsung membantu Fathur untuk membopong Naya, sedangkan beberapa orang lagi berlarian keluar untuk mempersiapkan mobil yang akan membawa Naya kerumah sakit.


Beskap Fathur mulai di banjiri oleh darah yang keluar dari luka di perut Naya. Gadis itu menarik napasnya dengan perlahan, matanya terus menatap Andreas. Terlihat air mata mulai mengalir di sudut matanya.


"A...anak.. kita.. Aku...ti...ti..tidak...mau kehilangan..."


Lalu Naya tak sadarkan diri.


Andreas terpaku melihat pengorbanan Naya atas dirinya. Terlebih saat ia mendengar Naya tidak ingin kehilangan darah daging mereka. Andreas mulai menangis, entah apa yang sedang ia tangisi. Yang jelas, saat ini Andreas hanya ingin menangis.


Acara bubar seketika gara-gara aksi nekad Alin. Fathur, Rara , Nia dan Farah mengantarkan Naya ke rumah sakit terdekat.


Saat tiba di rumah sakit, Naya langsung di tangani dan masuk keruang operasi.


Fathur memeluk Rara mencoba menenangkan istrinya. Sedangkan raut wajah khawatir juga menghiasi wajah teman-teman mereka.


Nia mondar mandir di depan ruang operasi, sedangkan yang lainnya hanya dapat terduduk lemas di kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi.


"Memang gila itu si Alin..!!!"


Ucap Farah dengan geram.


"Dia tertangkap gak sih?"


Tanya Nia sambil menggigit ujung kukunya tanda dirinya merasa stress.


"Belum tahu, ini teman-teman sudah melaporkan Alin ke polisi"


Sahut Fathur.


Hampir dua jam berlalu, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi. Fathur dan Rara serta teman-temannya langsung menghampiri dokter tersebut.


"Keluarga Naya?"


Tanya dokter yang masih menggunakan baju operasi tersebut.


"Ya dok.."


"Keadaan Ibu Naya sangat keritis, ia kehilangan banyak darah. jenis darah Ibu Naya agak langka, Jadi ia tidak bisa menerima donor dari sembarang golongan darah"


"Golongan darah Naya apa dok?"


Tanya Nia dengan wajah yang khawatir.


"AB negatif, bisa golongan darah apa saja asal darah yang ber-rhesus negatif satu kantung itu tidak cukup kalau bisa berjaga-jaga lebih dari tiga kantung"


Ucap dokter itu. Semua pun saling berpandangan.


"Ok aku cari ke PMI..!"


Seru Fathur langsung bergegas untuk pergi.


"Untuk sementara ambil darah saya dulu dok, Saya O negatif."


Fathur, Rara, Nia dan Farah melihat kebelakang mereka.


"Andreas..!!!!"


Seru mereka.


Tanpa membuang waktu, Andreas mengikuti dokter tersebut.


Beberapa jam berlalu, Naya sudah dipindahkan keruang ICU. Naya belum juga sadarkan diri. Fathur sedang berusaha mencari bantuan darah di PMI. sedangkan Rara berpamitan pulang untuk mengganti baju.


Kini tinggal Farah, Nia dan Andreas.


Nia menatap Andreas yang sejak tadi tertunduk lesu dengan tatapan sinisnya.


Dua wanita itu tidak menyukai Andreas berada disana, tetapi apa daya, berkat Andreas Naya mendapatkan bantuan darah untuk tetap bertahan hidup.


Suasana pun menjadi hening.


Alin tidak mengeluarkan sepatah katapun saat dirinya di interogasi polisi.


Ia seperti tidak mendengar semua pertanyaan-pertanyaan dari penyidik.


Hingga membuat penyidik menjadi kebingungan. Akhirnya Alin di biarkan beristirahat di sel. Sedangkan pihak kepolisian mencoba menghubungi psikiater untuk memeriksa kejiwaan Alin.


Alin mulai tertawa sambil menangis di dalam sel. Yang membuat para penyidik meyakini bahwa Alin mempunyai gangguan kejiwaan. Tak lama kemudian Alin ditangani oleh seorang psikiater.


"Bagaimana keadaannya bu Alin?"


Tanya psikiater dengan suara yang lembut. Alin cuma menatap wajah psikiater tanpa ekpresi. Dengan bersusah payah psikiater itu mencoba melakukan pendekatan kepada Alin. tetapi gadis itu tetap bungkam seribu bahasa. Akhirnya penyelidikan di undur sampai Alin mau berbicara.


Alin meringkuk di selnya, Ia dipisahkan dari tahanan-tahanan lain di polsek itu.


Karena penyidik belum mengetahui keadaan jiwa Alin yang masih misterius.


"Naya mati.. Naya mati.. hahahaha.. Naya mati...!"


Ucap nya berulangkali. Sorot matanya kosong, mulutnya terus meracau.


Bapak Alin pun tiba di polsek untuk menjenguk anaknya. Ia tidak menyangka Anak gadisnya tersangka penusukan terhadap temannya sendiri.


Beberapa wartawan pun sudah memenuhi kantor polisi. Berita tentang Alin pun memenuhi media sosial. Semua orang membicarakan tentang sadisnya gadis itu. Bahkan karyawan dan orang-orang terdekat Alin tidak pernah menyangka Alin akan senekat itu.