H -

H -
ch 23. Perasaan apa ini?



"Hmmm, Ra"


Fathur berdiri dari duduk nya. Ia kini berdiri hanya dua jengkal di depan Rara, jantung Rara tidak bisa ia kendalikan detak nya. Napas Rara kini mulai terasa sesak, pipi nya pun mulai bersemu merah. Ia menjadi salah tingkah saat Fathur dihadapan nya.


"I... iya Fat"


Jawab gadis itu dengan terbata-bata.


"Mama kamu nyariin kamu tuh"


Rara langsung menghela napas dengan lega.


"O...ooh.. iya, aa...aku sudah memberi tahu Ma..ma"


Rara memicingkan mata nya. Ia tidak sanggup melihat wajah Fathur yang begitu dekat dengan nya. Sedangkan Fathur hanya mengangkat kedua alis nya, kebingungan melihat sikap Rara.


"A..aku ambil minum dulu ya"


Rara langsung melepaskan tangan Fathur dari tangan nya, lalu ia setengah berlari menuju tangga untuk turun ke dapur yang berada di lantai bawah.


"Rara kok aneh ya...? Aku? Kamu? kok aneh?"


Gumam Fathur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tidak berapa lama kemudian, Rara kembali lagi dengan dua gelas teh hangat di atas baki yang ia bawa.


Dengan hati-hati Rara meletakan nya di atas meja. Ia kembali duduk di bangku nya. Ia sama sekali tidak berani melihat wajah Fathur.


Gadis itu terus membuang pandangan nya melihat pepohonan yang tumbuh di kaki bukit yang berbaris jauh disana.


"Gue gak di tawarin minum?"


Tanya Fathur kepada Rara yang langsung melirik nya dengan salah tingkah.


"Ih.. tinggal minum aja sih, pakai di tawarin segala"


Timpal Rara.


Fathur tersenyum geli, lalu meraih gelas teh yang berwarna putih itu. Lalu dengan perlahan ia meniup teh itu lalu menyeruput nya berkali-kali.


Fathur melirik gadis yang terlihat tidak peduli dengan dirinya.


"Hmmm.. Ra, gue mau nunjukin sesuatu nih"


Fathur mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan kepada Rara sebuah rekaman video yang ia rekam.


Rara meraih ponsel Fathur dan mencoba memperhatikan isi video tersebut. Ia melihat Andreas datang ke kantor Naya, lalu mereka makan bersama dan Naya mencium kedua pipi Andreas.


Rara hanya menghela napas nya dengan perlahan.


"Oh jadi Naya orang nya?"


Tanya Rara kepada Fathur.


"Menurut lu wajar gak begini ya? gue juga belum tau urusan Naya apa pada Andreas"


Jawab Fathur dengan hati-hati.


"Ya sudah lah, aku juga udah gak peduli, aku sudah merencanakan sesuatu untuk Andreas"


Ucap Rara sambil tersenyum, lalu meletakan ponsel Fathur di atas meja.


Fathur pun mengangkat kedua alisnya.


"Oh ya?"


Tanya nya lalu di sambut anggukan pelan dari Rara.


"Rencana apa?"


Tanya Fathur penasaran.


Rara menatap Fathur lalu tersenyum kepada lelaki itu.


"Kalau dia bisa bermain game, aku juga bisa bermain game. Setiap awalan pasti ada akhiran. let's we see together lah"


Ucap Rara dengan pasti.


"Wait, kok lu aneh ya hari ini?"


"Aneh apa nya?"


Tanya Rara tak mengerti.


"Aneh aja"


Fathur menjadi grogi lalu menggaruk kepalanya, canggung.


"Apa nya?"


Tanya Rara penasaran.


"Itu.. hmmm.. kok lu hari ini, aku, kamu, aku, kamu, sih? tumben, biasanya gue, elu, gue, elu?"


Fathur menatap Rara dengan polos, menunggu jawaban dari gadis itu.


Rara terdiam, wajah nya memerah. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya tidak sadar mengapa kini ia begitu formal kepada Fathur. Selayak nya seseorang yang baru saja kenal dan bukan lagi sahabat yang sudah sebelas tahun bersamanya.


"Hmmm... kita jalan-jalan yuk"


Rara berdiri dari duduk nya, lalu menarik tangan Fathur untuk segera mengikutinya. Fathur berdiri dari duduk nya lalu menahan tangan Rara.


"Kok gak di jawab?"


Tanya Fathur sambil menatap Rara dengan wajah penasaran nya.


Rara kembali menarik tangan Fathur. Tetapi, lelaki itu kembali menahan nya hingga Rara hampir saja terjatuh.


Dengan sigap Fathur memeluk tubuh Rara yang sudah mulai condong kebelakang.


Kini, posisi tubuh Rara sudah berada di pelukan Fathur. Rara mendongak melihat wajah tampan yang Fathur miliki. Fathur pun segera membantu Rara untuk berdiri. Kini tidak ada jarak sesenti pun di antara mereka, keduanya pun mulai menjadi salah tingkah.


Fathur menempelkan kening nya ke kening Rara. Lalu ia melingkarkan tangan nya di tubuh ramping Rara. Dengan ragu, Rara menatap bibir lelaki itu. Persekian detik mereka saling diam hingga akhirnya, Fathur memberanikan diri mengecup bibir Rara. Gadis itu dengan pasrah menyambut kecupan dari Fathur.


Rara tidak tahu apa yang bergejolak di hatinya kini. Mereka berciuman dengan lembut, Fathur melampiaskan perasaan nya selama ini lewat ciuman yang hangat itu.


Begitu pun Rara yang tidak tahu mengapa ia tidak ingin melepaskan ciuman itu. Jantung nya terus berdegup dengan kencang. Rara memeluk Fathur dengan erat, lelaki itu pun membalas pelukan itu dengan hangat.


"Maaf non... eh.. maaf mengganggu"


Rara dan Fathur langsung melepaskan pelukan dan ciuman mereka.


"I...iya Mang Ujang"


Jawab Rara dengan panik.


"Ini nyonya menelpon, mau di jawab tidak?"


Tanya Mang Ujang sambil menahan senyum nya saat melihat ekspresi Fathur dan Rara.


"O...o..oh.. i..i...iya"


Rara langsung menerima gagang telepon yang di bawa oleh Mang Ujang, lalu menyapa Mamanya yang begitu khawatir akan diri Rara.


"Iya Ma.."


Rara meninggalkan Fathur dan mang Ujang begitu saja, menuju lantai bawah.


Fathur tersenyum kecil kepada Mang Ujang yang tersenyum-senyum menatap nya. Fathur menjadi salah tingkah lalu ia duduk dan meminum teh nya sampai habis.


....


Tiga jam sudah Nia duduk menunggu Alin di depan gedung apartemen tempat dimana Andreas tinggal.


Ia menggaruk-garuk kepalanya karena bosan.


"Arghhhh...lama amat sih.., sebenarnya Alin ngapain sih disana. Pake acara bohong lagi, jadi penasaran gue kan"


Ucap nya gusar.


Lalu ia melihat mobil Andreas keluar dari gedung tersebut.


"Gue ngikutin Alin apa Andreas dulu nih ya"


Gumam Nia sambil mengusap-usap wajahnya galau.


"Ah.. Andreas dulu aja deh. Laki-laki b*j*t ini gak boleh lepas"


Lalu Nia menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti lelaki itu dengan hati-hati.


Satu jam kemudian mobil Andreas berhenti di salah satu mall yang cukup jauh jarak nya dari kediaman Andreas.


"Untuk apa dia ke mall yang jarak nya satu jam dari apartemen nya ya?


Padahal di sekitar apartemen nya banyak mall yang bagus"


Insting detektif Nia mencoba menganalisa.


Nia mencoba mengikuti Andreas yang menuju basement mall tersebut.


Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Andreas.


Saat Andreas turun, Andreas memutar ke sisi kiri mobilnya, dan membukakan pintu itu untuk seorang gadis.


Nia pun terbelalak saat melihat apa yang sedang ia lihat.


"HAH...!"


Seru nya tak percaya.


Tangan Nia gemetar menahan emosi. Ia sama sekali tidak menduga sebelumnya apa yang akan ia lihat di depan nya.


Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi Alin.


Alin yang sedang berjalan bersama Andreas menuju pintu masuk mall pun menghentikan langkahnya, lalu ia mengangkat telepon dari Nia.


"Ya Nia"


Sapa Alin dengan malas.


"Lu.. dimana?"


Tanya Nia mencoba mengetes kejujuran Alin sekali lagi.


"Masih di rumah tante gue"


Ucap Alin dengan datar.


"Oh.. ya sudah. gue gak jadi ke cafe, gue pulang aja deh"


Jawab Nia menahan emosinya.


"Ok.."


klikkkk...!


Dengan tak peduli Alin mematikan terlebih dahulu panggilan dari Nia.


Dengan perasaan kesal Nia merekam apa yang saat ini ia lihat dengan kamera ponselnya.