
Rara keluar dari ruangan itu. Sikap nya yang seperti itu menjadi tanda tanya bagi Naya, Alin dan Nia. Sedangkan Fathur mengikut Rara keluar dari ruangan itu.
"Ra... tunggu..!"
Fathur menarik tangan Rara yang membuat gadis itu terjatuh di dalam pelukan nya.
"Wanita itu Farah, Fat..!"
Teriak Rara dengan histeris.
"Tapi dia belum mengatakan apa-apa Ra..!"
"Itu sudah pasti...! itu anak nya Andreas Fat...! anak Andreas..!"
Semua orang yang sedang berada di lorong rumah sakit itu menatap mereka seakan sedang menonton drama sinetron.
"Ra.. dia belum bilang siapa Bapak anak nya Ra.., kalau gue pikir itu tidak mungkin anak nya Andreas..!"
Rara terdiam mendengar ucapan Fathur.
"Maksud lu?"
Tanya Rara dengan penuh emosi.
"Logika Ra... lu nemuin alat kontrasepsi di tempat sampah toilet Andreas kan? Berarti, Andreas main aman Ra..! gue yakin Andreas tidak sebodoh itu..!"
Kali ini Rara terdiam.
ia terduduk lemas di kursi tunggu di lorong rumah sakit itu.
"Berarti maksud lu perempuan itu bukan Farah?"
Tanya Rara sambil menghapus air matanya.
"Ada kemungkinan Ra.., kita tidak bisa menuduh kan Ra..?"
Rara pun tertunduk lesu.
"Sekarang lebih baik kita tanya pelan-pelan kepada Farah, biar semua nya jelas"
Bujuk Fathur.
"Gue butuh minum dulu biar otak gue adem"
Rara beranjak dari duduk nya dan menuju kantin rumah sakit.
ia memesan air minum dingin kemasan, lalu menenggak habis air itu dengan seketika.
"Bila itu anak Andreas bagaimana?"
Rara membuang botol air kemasan nya kedalam tempat sampah yang sudah di sediakan di samping lemari pendingin di kantin tersebut.
"Bila itu anak nya Andreas, mau tidak mau Andreas harus bertanggung jawab Ra"
"Terus? pernikahan gue batal? dan Farah sukses menghancurkan hidup gue?"
Fathur terdiam.
"Gue akan menghajar Andreas bila itu benar anak nya dia..!"
Sambung Rara lagi.
"Ya sudah. Kita kembali lagi ke kamar Farah ya, biar kita tanya langsung kepada dia"
Fathur menuntun tangan Rara untuk mengikutinya kembali ke kamar Farah.
Baru saja mereka tiba di lorong bangsal di mana ruangan Farah berada, mereka melihat Alin, Naya dan Nia sudah berdiri di depan pintu kamar rawat inap Farah.
"Kalian kenapa pada di luar?"
Tanya Fathur sambil memandangi teman-teman nya satu persatu.
"Farah tidak mau di ganggu Fat.."
Ucap Nia dengan pelan.
"Biar gue yang ngomong sama dia..!"
Ucap Rara.
Rara pun membuka pintu kamar itu lalu menutup nya dengan kasar.
Ia menghampiri Farah yang sedang meringkuk menangisi nasib nya.
"Gue mau bicara..!"
Ucap Rara sambil menatap Farah dengan tajam. Farah menoleh kepada Rara lalu kembali memalingkan wajah nya.
"Gue harap lu mau menjawab dengan jujur"
Sambung Rara lagi.
"Apa?"
Tanya Farah dengan suara lemah nya.
"Gelang lu dimana?"
Tanya Rara dengan napas nya yang sesak.
"Gelang?"
Farah menatap Rara dengan ekspresi bingung.
"Gue heran dari kemaren lu nanya gelang melulu? Kenapa sih?"
Tanya Farah dengan kesal.
"Gue cuma nanya, tolong di jawab..!"
"Lu kenapa sih? Aneh tau gak lu, gue udah bilang gelang gue kemaren lupa gue taruh di mana..!"
Dengan kesal Farah kembali menjawab dengan jawaban yang sama saat di cafe Alin.
"Jadi ada kemungkinan itu anak Andreas..!"
Ucap Rara to the point.
Farah terperangah menatap Rara. Ia tidak percaya bila Rara mengatakan hal itu kepadanya.
"Hoekkk Hoekkk... !"
Farah memuntahkan isi perut nya ke lantai.
Setelah lega, Farah menyeka bibir nya dengan tissue. Dengan lemah ia meraih air minum di samping ranjangnya, lalu meminum nya dengan perlahan.
Sedangkan Rara hanya melihat gadis itu dengan tatapan dingin tanpa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya itu.
"Jadi, lu mencurigai gue tidur dengan Andreas?"
Farah menantang tatapan mata Rara.
"Tega lu Ra..!"
Sambung nya lagi.
"Lu bilang gue tega..? lu yang tega Far..!"
Bentak Rara dengan penuh emosi.
"Setega itu lu nuduh gue..? lu yang tega..!"
Ucap Farah dengan lemah, lalu gadis itu menangis.
Rara menatap langit-langit kamar tersebut, dan memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Kalau memang elu tidak berselingkuh dengan Andreas tolong tunjukin gue gelang yang lu punya..!"
ucap Rara dengan tegas.
"Tolong ambil tas gue"
"Tas lu ada di mobil Alin"
Jawab Rara dengan ketus.
"Gelang nya ada di dalam tas gue, gue baru ketemu tadi pagi saat gue lagi beres-beres kamar"
Rara langsung keluar dari kamar Farah, lalu menghampiri Fathur yang duduk sendirian di bangku depan ruang rawat inap.
"Mana kunci mobil Alin?"
Tanya Rara dengan wajah datar.
"Sudah di bawa sama Alin.."
Jawab Fathur dengan wajah bingung.
"Mana Alin?"
"Di kantin, sama yang lain nya"
"Tolong ambilkan tas Farah di dalam mobil Alin"
Perintah Rara. Fathur menghela napas nya lalu mengangguk dan berjalan ke arah kantin untuk menemui Alin.
Sedangkan Rara kembali ke kamar Farah.
"Sebenarnya ada apa sih? Coba lu jujur sama gue? Kenapa lu bisa menyangka gue selingkuh dengan Andreas?! Gue gak ngerti..!"
Tanya Farah mulai emosi.
Rara pun tersenyum dengan sinis.
"Cuma gelang itu yang bisa buktikan"
Ucap Rara dengan kesal.
"Ra.. lu gak bisa nuduh gue begini. Gue tau siapa Ayah dari bayi ini dan itu bukan Andreas..!"
"Lalu siapa Ayah bayi ini..!"
"Boss gue..! puas lu..! seenak nya lu nuduh gue tidur sama tunangan lu sendiri. Segila-gila nya gue gue gak akan pernah khianati teman sendiri..!"
Rara terdiam dan menatap Farah dengan seksama. Ia mencari kesungguhan disorot mata Farah yang menatap nya dengan tajam.
"Gue ingin mempercayai lu. Cuma satu yang gue mau, lu tunjukkan gelang itu dan gue percaya..!"
"Ra.. gue memang M*r*han, tetapi gue gak akan tega tidur sama kekasih sahabat gue sendiri. Gue sayang sama lu Ra, cuma gue kecewa lu tuduh seperti ini. Dan gue bingung apa hubungannya dengan gelang persahabatan Ra?"
Suara Farah bergetar, lalu ia menghapus setiap air mata yang jatuh di pipinya.
"Ra, gue memang jadi selingkuhan, tetapi gue bukan selingkuhan Andreas. Gue cuma khilaf dengan Boss gue. Gue sekretaris Ra..! Gue selalu bersama Boss gue kemana pun dia pergi, dan gue khilaf dengan dia walaupun gue tau dia sudah ada istri. Dan sekarang gue menyesal karena gue hamil. Gue gak tau lagi gimana menjalani hidup Ra..! Dan lu menekan gue dengan tuduhan seperti itu? Gue gak bisa ngomong apa-apa lagi Ra..!"
Rara mengigit sudut bibir nya. Ia menatap jauh ke dalam mata Farah, ia bisa melihat Farah bersungguh-sungguh. Tetapi ia tetap belum yakin sebelum Farah menunjukkan gelang persahabatan itu.
"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, gue mendapatkan bukti-bukti perselingkuhan Andreas. Tetapi gue masih mengira Andreas selingkuh dengan orang lain saat itu. Tetapi, setelah gue temui gelang persahabatan di atas ranjang Andreas, gue mulai mencurigai kalian semua..!
Nia memiliki gelang itu, sedangkan lu, Alin dan Naya tidak memakai gelang persahabatan kita, wajar kan kalau gue curiga dengan kalian bertiga? Terlebih lu sekarang hamil. Gue takut lu hamil dengan Andreas. Mungkin selamanya persahabatan kita tidak akan bisa di lanjutkan Far..!"
Farah terkejut mendengar apa yang baru saja Rara ceritakan.
"Lu gak bercanda kan? Gelang? Salah satu di antara kami?"
"apa lu liat gue sedang bercanda Far..!"
Farah terdiam saat melihat bulir air mata mulai membanjiri pipi Rara.