
Nia sedang meneguk air mineral yang baru saja ia beli di Minimarket di samping apartemen Andreas. Setelah ia menerima kembalian dari kasir, ia pun keluar dari minimarket tersebut.
Nia duduk di kursi depan minimarket. Sudah seharian ia mengikuti Andreas dan Alin. Rasa pegal di badan nya mulai menjalar di ke kedua kakinya.
"Haizzzz, begini ini jadi detektif dadakan"
Keluh nya sambil mengusap-usap kedua kakinya. Saat itu juga, sekilas ia melihat mobil Andreas melaju lewat di depan minimarket. Nia sempat terdiam sejenak.
"Mau kemana lagi itu si b*st*rd?"
Gumam nya.
Dengan cepat ia berlari masuk kedalam mobilnya dan mengejar mobil Andreas yang sudah terlihat sangat jauh di depan nya.
Nia tidak mau menyerah. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga ia kini sudah beberapa meter dari mobil Andreas yang melaju dengan kecepatan sedang.
Nia terus mengikuti lelaki yang telah mengkhianati sahabat nya, Rara.
Setelah beberapa kali Nia hampir kehilangan jejak Andreas, akhir nya Nia berhasil juga mengikuti Andreas ke tujuan nya.
"Diskotik?"
Gumam Nia sambil mengerutkan kening nya.
Dengan cepat Nia mengikuti Andreas yang masuk ke dalam basement parkir gedung tersebut.
Nia cukup pintar, ia langsung mengganti baju gombrong milik adik sepupu nya dengan baju yang tadi pagi ia pakai. Sambil terus memperhatikan Andreas yang sudah bersiap-siap meninggalkan parkiran.
Nia pun menyambar tas nya lalu ikut turun dan membuntuti Andreas dari belakang, setelah ia memastikan Andreas masuk ke dalam salah satu diskotik di gedung tersebut, ia pun menuju toilet umum untuk berdandan, agar dirinya bisa masuk kedalam diskotik tersebut.
Nia yang sudah memakai high heels merasa dirinya kurang sexy, lalu ia membuka sweater milik nya. Kini ia hanya menggunakan kemben dan ripped jeans. Setelah ia memastikan dirinya layak untuk masuk ke dalam diskotik, Nia melangkah keluar dari toilet umum. Lalu ia menuju pintu masuk diskotik tersebut.
Ini bukan kali pertama Nia pergi ke diskotik, dirinya sudah beberapa kali masuk kedalam diskotik bersama teman-teman nya dulu waktu jaman masih labil. Jadi, Nia cukup percaya diri untuk masuk kedalam club malam tersebut.
"Untuk berapa orang?"
Tanya bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk.
"Sendiri"
Jawab Nia dengan santai.
"Di cap dulu mbak"
Bodyguard menunjuk ke salah satu meja dimana setiap tamu wajib membayar untuk masuk, dan di beri cap di tangan nya tanda tamu tersebut sudah di perbolehkan untuk masuk.
Nia mengeluarkan kartu debit nya. Setelah selesai membayar, lalu tangan Nia di cap oleh alat cap yang bertinta transparan. Hanya senter infra red lah yang bisa melihat cap tersebut. Lalu Nia menitipkan tas nya di loker di balik kasir.
Nia melangkah masuk hanya membawa ponsel dan dompet nya saja.
Lampu kelap kelip dan suara yang memekakkan telinga mulai terdengar, teriakan para penikmat dunia malam terdengar riuh mengiringi musik yang di mainkan oleh DJ terkenal di kota itu.
Layak nya detektif, Nia langsung menyapukan pandangannya ke segala penjuru. Hingga ia melihat target nya sedang asik duduk di meja Bar.
Nia mulai menyiapkan ponselnya dengan mode video, lalu ia mencari tempat yang aman untuk mengambil Video target nya. Nia menyenderkan tubuh nya tepat di samping speaker besar yang tertumpuk di antara meja Bar yang melengkung memanjang.
Ia juga berlindung di antara sepasang kekasih yang sedang asik berciuman di depan nya.
Tidak lama kemudian, Nia melihat seorang yang sangat ia kenal dengan baik, yaitu Naya. Naya yang menggunakan baju sexy dan berdandan dengan cantik datang menghampiri Andreas. Tanpa ragu Naya merangkul leher Andreas. Beberapa sloki minuman keras mereka minum bersama. Lalu tanpa tahu malu mereka berciuman dengan nafsu di depan banyak orang.
Nia hanya bisa membuka mulut nya dengan lebar, dirinya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Nia terus merekap semua adegan yang ia lihat disana.
Andreas dan Naya pun turun ke lantai dansa. Mereka pun saling berpelukan dan sesekali berciuman kembali. Naya tidak tahan lagi, ia pergi meninggalkan diskotik itu. Lalu masuk kedalam mobilnya.
Nia menangis melihat dua orang Sabahat nya yang tanpa di duga mampu berbuat seperti itu kepada Rara. Dan lelaki itu, Andreas, ia sangat keterlaluan. Nia pun langsung menghubungi Fathur.
"Masih di villa?"
Tanya Nia dengan suara yang bergetar.
"Masih.. kenapa Nia?"
"Gue mau nyusul"
Ucap Nia, lalu melempar ponselnya ke jok sebelah nya. Lalu ia mengendarai mobilnya dengan cepat menuju Villa Rara.
*
"Ada apa?"
Tanya Rara yang sedang duduk di sebelah Fathur.
"Nia, dia katanya mau kesini. Kayak ada yang serius deh"
Ucap Fathur dengan wajah yang cemas.
"Oh.. ya sudah kita makan dulu yuk...hmmmm sayang"
Fathur terpana saat Rara memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kenapa?"
Tanya Rara dengan wajah malu-malu.
"Gak apa-apa"
Ucap Fathur sambil tersipu malu.
"Hmm Ra, masalah pernikahan mu.."
"Gak usah di pikirkan"
Potong Rara dengan cepat.
"Jadi kamu..?"
"Aku sudah menyusun rencana, kamu tenang saja"
Potong Rara lagi.
"Rencana apa?"
Tanya Fathur penasaran.
Gadis itu hanya tersenyum kepada Fathur penuh arti dan kembali melanjutkan makan nya.
Hampir tiga jam kemudian, Nia sampai di villa Rara. Dengan emosi, Nia membanting pintu mobilnya dan beranjak masuk kedalam villa Rara.
"Bikininnnn gue kopiiiii...!!!!!!!"
Teriak Nia dengan kesal.
"Gue capekkkk lu senang-senang disini ya Fathur...!!"
Nia berusaha mengejar Fathur dan memukuli tubuh Fathur dengan kepalan tangan mungilnya.
Fathur hanya tertawa geli sambil menghindari setiap pukulan yang akan mendarat di tubuh nya.
Sedangkan Rara, hanya tertawa sambil beranjak menuju dapur untuk membuatkan Nia segelas kopi.
Setelah tenang, Nia duduk sambil menyeruput kopi panas buatan Rara.
"Gimana? gimana? lu dapat apa?"
Tanya Fathur dengan antusias.
"Stopppp...! gue gak mau ngomong sama lu..! gue mau ngomong sama Rara aja..!"
Fathur hanya bisa bersungut-sungut sambil menatap Nia dengan sebal.
"Hmmm Ra, lu yang kuat ya... lu yang sabar"
Nia menggeser duduk nya mendekati Rara lalu memeluk sahabat nya itu dengan erat.
"Kenapa Nia?"
Tanya Rara dengan kebingungan.
"Gue sudah dapat penghianat nya, nih lu liat sendiri"
Nia menyodorkan ponselnya kehadapan Rara.
Fathur otomatis langsung pindah ke samping Rara untuk ikut melihat bukti yang di bawa oleh Nia.
Rara melihat video-video yang berhasil di rekam oleh Nia. Aneh nya Rara tidak merasa cemburu. Ia hanya merasa kesal melihat kedua sahabatnya yang tega menusuk nya dari belakang. Kalau hanya menikung pacar teman, mungkin itu tidak begitu berat kasus nya. Ini adalah menikung calon suami yang pernikahan mereka akan terlaksana tinggal hitungan hari saja. Mengapa kedua teman nya begitu tega terhadap Rara.
Yang membuat Rara semakin muak adalah Andreas. Lelaki ini memang benar-benar keterlaluan. Tidak hanya satu sahabat nya saja yang ia jadikan selingkuhannya, tetapi dua sahabat nya sekaligus!
Darah Rara mendidih saat melihat Andreas mencium Naya dengan penuh nafsu. Rara sangat yakin bila jejak yang di tinggalkan Andreas di atas ranjang itu adalah hasil dari Andreas bersenang-senang dengan Naya.
Rara tidak menyangka sama sekali bila Alin dan Naya begitu m*r*h*n nya sehingga mereka bisa terpedaya dengan Andreas yang tidak punya akhlak sama sekali.
Ingin rasanya Rara mencakar wajah tampan Andreas. Dan menjambak rambut indah kedua sahabat nya yang diam-diam bersifat busuk dibelakang nya.
Rara menghela napas nya dengan perlahan. Lalu menyerahkan ponsel itu kepada Nia.
"Lu kok gak marah? ngomel kek? uring-uringan kek?"
Nia menatap Rara dengan kesal.
"Untuk apa? memang nya menyelesaikan masalah?"
Tanya Rara kepada Nia.
"Ya... Terus gimana? lu tetap Nikah sama Andreas?"
Tanya Nia penasaran.
Rara beranjak dari duduk nya. lalu tersenyum dan mengusap lembut bahu Nia.
"Terimakasih ya, sudah bantuin gue mendapatkan fakta-fakta ini. Tolong kirim itu ke ponsel gue ya. Dan kita lihat kelanjutan nya, lu semua pasti puas pada ending nya. Sekarang gue mau istirahat dulu"
Rara pun meninggalkan ruang tamu menuju kamar nya dengan tenang.
Sikap Rara yang seperti itu membuat Nia dan Fathur hanya dapat saling berpandangan.
"Apa lu..! bikinin gue Mie rebusss buruaaannnn..!"
Ucap Nia yang kesal melihat Rara yang hanya bereaksi seperti itu setelah ia bekerja keras selama seharian.
"Iyaaaa.. ih... galak amat sih"
Ucap Fathur lalu beranjak ke dapur untuk membuatkan mie untuk Nia.