H -

H -
Ch 46. Hukuman untuk Alin



Untuk pertama kalinya Alin bertemu dengan Naya di ruang persidangan.


Alin tersenyum sinis melihat Naya. Seperti tidak ada penyesalan bagi dirinya.


Saat itu Naya di temani oleh beberapa saksi lainnya yaitu Fathur, Rara, Andreas, Nia, dan Farah.


Andreas menatap Rara, dan Rara pun mengabaikan Andreas. Sedangkan Fathur terus menerus menggenggam tangan Rara. Nia pun berusaha untuk biasa saja setelah semua rahasianya di ketahui Rara. Hanya saja, Nia kini lebih banyak diam.


Setelah sidang selesai, Alin berteriak-teriak memaki-maki Andreas dan teman-temannya. Semua kata-kata kasar keluar dari mulutnya.


Sedangkan teman-temannya dan Andreas hanya menatap Alin yang bertingkah seperti orang yang sedang kesetanan.


Nia dan Farah langsung pulang saat persidangan selesai. begitupun Rara dan Fathur. Kini tinggal Naya yang tertahan karena harus membicarakan kasusnya dengan team pengacara dari kantornya.


Naya mendapat bantuan dari rekan-rekannya di firma hukum tempatnya bekerja.


Setelah selesai dan satu persatu rekannya membubarkan diri, Naya pun berjalan menuju mobilnya. Ia pun melihat Andreas yang sedang berdiri bersandar di mobil Naya. Lelaki itu sedang menunggunya, lalu tersenyum saat melihat Naya menghampiri mobil milik Naya.


"Apa kabar kamu hari ini?"


Tanya Andreas dengan ramah kepada Naya. Naya hanya menatap Andreas lalu membuka pintu mobilnya dan segera masuk kedalam mobil.


"Nay... nanti aku kerumah mu ya.."


Ucap Andreas dari luar sambil mengetuk kaca jendela mobil Naya.


"Ganggu banget sih"


Gumam Naya sambil menatap Andreas tak suka.


"Nay.. buka dulu kaca mobilnya.. aku mau ngomong sesuatu.."


Naya tidak menghiraukan ucapan Andreas, gadis itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Andreas.


Andreas menghela napas dengan putus asa. Sudah berhari-hari ia mencoba mendekatkan diri dengan Naya. tetapi, respon gadis itu tetap sama, mengabaikan dirinya.


Andreas tidak mau membuang waktu, Ia pun menyusul Naya yang sedang menuju kediamannya.


dari kaca spion, Naya melihat mobil Andreas mengikutinya dari belakang.


Dengan cepat Naya menambahkan kecepatan laju mobilnya.


....


Tiga bulan berlalu, hari ini adalah hari penentuan putusan hukuman untuk Alin.


Diruang persidangan Alin sudah duduk dengan santai sambil memandangi Naya yang sudah menuntut hukuman atas dirinya. Serta teman-temannya yang bersaksi atas perbuatannya.


Tatapan dendam dan benci dari Alin sangat jelas tertangkap oleh teman-temannya.


"Amit-amit jabang bayi liat Wajahnya Alin ih, kalau tidak karena menjadi saksi, males gue liat wajahnya"


Ucap Farah sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Jangan sampai lah.. amit-amit"


Sahut Nia.


Sidangpun di mulai, Hakim pun memutuskan Alin bersalah dan di jatuhi hukuman tujuh tahun kurungan penjara. Alin terperangah saat mendengar hukuman yang diberikan kepadanya.


"Ini tidak adil...!"


Teriak Alin di ruang persidangan. Namun tidak ada satupun orang yang mempedulikannya. Dirinya di pegang oleh dua orang petugas yang akan membawanya pergi dari ruangan itu. Alin terus memberontak, hingga akhirnya ia pingsan saat hendak dimasukan kedalam mobil tahanan.


Fathur, Rara, Nia, Farah, Andreas dan Naya hanya bisa menatap kasihan kepada Alin. Tidak ada yang menyangka nasib Alin akan menjadi seperti itu.


Andreas pergi terlebih dahulu karena dirinya harus menghadiri meeting di perusahaannya.


"Kita makan dulu yuk, laper nih.."


Ajak Farah sambil mengelus-elus perutnya.


"ettt.. dah, bumil kerjaannya makannnn terus"


Celetuk Naya sambil mengelus lembut perut Farah.


"Kalau anak gue masih ada, mungkin perut gue sudah buncit seperti ini ya.."


Naya tertunduk sedih sambil mengelus lembut perutnya yang datar.


Rara, Nia dan Farah pun langsung memeluk Naya, mencoba menguatkan sahabatnya yang merasa sedih.


"Gue tidak apa-apa kok"


Naya tersenyum sambil menatap wajah sahabatnya satu persatu.


"Terimakasih atas dukungan kalian selama ini ya.."


Ucap Naya lagi. Dan teman-temannya pun mengangguk lalu tersenyum.


"Ayuk kita makan..."


"Sorry gue gak bisa ikutan, gue pulang duluan ya.. "


Ucap Nia sambil membalikan badannya hendak meninggalkan teman-temannya.


"Woi.. Nia.. tumben banget di ajak makan nolak..!"


Ucap Fathur, Nia pun membalikan badannya dan menatap Fathur dengan seksama. Sedangkan Rara dan Farah hanya bisa saling pandang. Karena hanya mereka yang tahu perasaan Nia terhadap Fathur.


"Gue lagi males berantem sama lu Fat.. bye..!"


Nia melambaikan tangannya lalu masuk kedalam mobil miliknya dan pergi meninggalkan gedung pengadilan tersebut.


Fathur hanya terdiam merasa aneh dengan sikap Nia belakangan ini.


"Tumben amat ya si Nia"


Ucap Fathur kepada istri dan teman-temannya.


"Mungkin Nia lagi capek Fat"


Sahut Farah sambil melirik Rara yang diam mematung.


"Udahlah.. yuk makan..!"


Merekapun pergi menuju restoran seafood terdekat lalu makan siang bersama.


"Nay, kayaknya Andreas deketin lu lagi ya?"


Tanya Farah kepada Naya. disela-sela santap siang mereka. Naya pun melirik Rara, lalu menundukkan pandangannya.


Bagaimanapun Naya masih merasa bersalah dengan apa yang pernah ia perbuat kepada Rara. Walaupun kini Rara sudah move om dan menikah dengan Fathur, tetap saja perasaan bersalah masih menyelimuti hatinya.


"Dia yang dekatin gue, gue menghindar"


Ucap Naya sambil meraih gelas nya dari atas meja.


"Kenapa begitu? dia nyesel?"


"Far..."


Rara menegur Farah agar gadis itu tidak lagi bertanya-tanya kepada Naya yang membuat suasana menjadi tidak nyaman antara dirinya dan Naya.


"Gue mau bilang sama kalian semua, gue mau pindah ke Manado. Gue harap, jangan bilang siapa-siapa termasuk Andreas tentang keberadaan gue. Cukup kita-kita saja yang tahu"


Ucap Naya sambil berusaha tersenyum kepada teman-temanya.


"Yah... kenapa begitu?"


Ucap Farah sambil cemberut.


"Gue mau buka lembaran baru. Gue mau hidup lebih baik. kebetulan disana ada tawaran kerja, jadi gue gak mau menyia-nyiakan kesempatan"


Terang Naya sambil melanjutkan makannya.


"Yah.. jauh dong kita"


Farah memasang wajah sedih begitupun Rara dan Fathur.


"Sesekali gue pasti mengunjungi kalian kok"


Naya berjanji dengan menyodorkan jari kelingkingnya. Disambut Farah, Fathur dan Rara.


"Buat lu Ra dan Fathur, gue minta maaf dengan apa yang terjadi. Gara-gara gue, pernikahan kalian kacau. Dan gara-gara gue persahabatan kita sempat retak. Gue minta maaf tulus dari lubuk hati gue yang paling dalam"


Naya pun kembali tertunduk sedih.


"Sudahlah, gue sudah lama maafin elu Nay, semua ada hikmahnya. Dan karena semua yang terjadi juga gue bisa jadi tahu kalau sebenarnya orang yang gue cintai itu Fathur, bukan Andreas"


Rara menggenggam tangan Naya. Naya pun membalas genggaman tangan Rara dengan menahan air mata yang terbendung di pelupuk matanya.


"Kapan lu berangkat?"


Tanya Fathur.


"Besok, pagi-pagi sekali. Gue udah packing barang-barang gue dan tinggal mengirim nya ke ekspedisi"


"Ya sudah hati-hati ya, maaf kita tidak bisa mengantar ke bandara"


Naya mengangguk pelan dan tersenyum tulus.


Setelah makan siang, merekapun membubarkan diri.


Mereka saling berpelukan dan saling menguatkan. Itulah terakhir kalinya Farah, Fathur dan Rara melihat Naya.


Gadis itu berpamitan dan tidak pernah muncul lagi di hadapan mereka.


Naya menghilang, dan mengganti nomor ponselnya.


Semua itu Naya lakukan demi menghindari Andreas dan teman-temannya. Ia merasa dirinya tidak akan pernah pantas untuk di maafkan oleh Rara. Maka dari itu, Naya lebih memilih untuk menghilangkan jejaknya.