H -

H -
Ch 49. Keputusan dan sikap mempengaruhi nasib -End-



Rara dan Fathur berlari menyusuri lorong rumah sakit. Mereka mencari ruang rawat inap tempat Farah di rawat.


"Faraaaahhhhh....!!!!!"


Seru Rara saat melihat Farah yang sedang duduk menyusui buah hatinya.


"Sttttt.... berisik aja..! nanti anak gue kaget tau..!"


Ucap Farah, sambil mendaratkan ciuman nya di kedua pipi Rara.


"Uppppsssss... maaf ya dek... Aunty kebiasaan nyablak"


Ucap Rara sambil tersenyum gemas melihat bayi mungil itu.


"Boy or girl?"


Tanya Rara penasaran.


"Girl"


Jawab Farah sambil tersenyum bahagia.


"Selamat ya... wah, bakalan ada yang temanin Mami nya shopping..!"


Ucap Rara, kegirangan.


"Bukan Mami, tapi Bunda"


Ucap Farah sambil tersenyum simpul.


"Kenapa Bunda?"


Rara mengernyitkan dahinya.


"Senang aja, semua panggilan bagus sih, cuma gue kepengen dia panggil gue Bunda"


"Oh, begitu..., Sini biar gue gendong, udah selesai kan nen nya?"


Farah mengangguk lalu menyerahkan bayinya kepada Rara.


Fathur tersenyum melihat Rara menggendong bayi.


"Yank... pengen ya?"


Tanya Rara kepada Fathur. Fathur hanya tersenyum simpul.


"Ih.. di tanyain bukannya jawab, malah senyum-senyum saja"


Ucap Rara sambil cemberut.


"Kepengen sih, cuma ya terserah Tuhan"


Rara tersenyum mendengar jawaban Fathur.


"Eh namanya siapa?"


Tanya Fathur kepada Farah.


"Queen, kepanjangannya belum dapat"


Jawab Farah.


"Ratu? kenapa Queen?"


Tanya Rara penasaran.


"Walaupun dia gak di anggap sama Ayahnya, tetapi dia tetap ratu di hati gue. Dia sudah menemani gue di masa-masa sulit, sendiri dan putus asa. Dia lah yang menguatkan gue"


Jawab Farah dengan air mata yang terbendung di pelupuk matanya. Rara pun langsung memeluk Farah, mencoba menguatkan Farah.


Lelaki itu takut sekali bila istrinya mengetahui hubungannya dengan wanita lain, apa lagi menghasilkan seorang anak. Selain itu ia pun takut sekali bila ia di copot dari jabatannya. Terlebih bila media mengetahui skandalnya.


Tetapi, bersalah bukan berarti membuat ia melakukan kesalahan lainnya. walaupun ribuan kali Ayah dari bayinya mengusulkan untuk menggugurkan kandungan, Farah tetap bersikukuh tidak akan menggugurkan kandungannya.


Sebenarnya bisa saja Farah menjerat lelaki itu, dan membalaskan sakit hatinya. Tetapi Farah tidak sejahat itu.


Ia masih berpikir, bagaimanapun lelaki itu tetaplah Ayah dari bayinya. Bila skandal ini di buka, maka yang malu bukan hanya lelaki itu dan keluarganya, tentunya Farah pun akan malu, bila seantero Negeri akan membicarakan dirinya.


Farah benar-benar masih berpikir waras, demi bayinya, ia akan tetap menjaga nama baik dirinya dan Ayah dari bayinya. Ia tidak siap bila semua orang menandai bayinya kelak dengan sebutan yang negatif. Karena setiap orang berpotensi untuk menghakimi, walaupun dirinya memanglah di pihak yang bersalah.


Queen merengek di pangkuan Rara, bayi mungil itu menggeliat mencari kehangatan ibunya. sepertinya ia mengetahui dan merasakan perasaan ibunya saat ini.


Dengan sigap Farah mengambil Queen dari pangkuan Rara. Bayi mungil itu pun kembali tertidur. Dalam tidurnya, Ia tersenyum, seakan ia ingin memberitahukan kepada Ibundanya bahwa dunia akan memperlakukan dirinya dengan baik dan ia akan tumbuh menjadi wanita yang kuat dan terhebat untuk Bundanya.


Kesalahan mungkin saja terjadi, tetapi apabila kita ingin memperbaiki diri maka semua yang terjadi pasti akan ada hikmahnya.


Begitupun juga dengan Andreas, lelaki itu kini sudah berubah. Walaupun ia masih sendiri, tetapi kini ia tidak pernah bermain-main lagi dengan perempuan.


Pelajaran yang ia dapat dari apa yang terjadi pada dirinya beberapa bulan yang lalu adalah, Komitmen bukanlah main-main dan ketulusan itu mahal harganya.


Ia harus membayar mahal dari apa yang sudah ia perbuat. Nama baiknya dan keluarga hancur karena tingkahnya, keluargaku pun kini selalu menyalahkan dirinya, gagal menikah hingga ia terlambat menyadari ketulusan dan cintanya untuk Naya.


Kini gadis yang ia cintai sudah pergi dan ia tak tahu dimana rimbanya. Ia sudah berusaha mencoba mencari-cari Naya. Bahkan selama enam bulan ini, ia sengaja traveling menjelajahi satu persatu kota di Negeri ini.


Tatapan mata Naya saat melindungi dirinya tidak akan pernah ia lupakan. Kejadian itu selalu menari-nari di pelupuk matanya.


"Halo bidadari Daddy di surga, bantu Daddy ya.. untuk menemui keberadaan Mommy ya"


Gumamnya saat ia berada di salah satu kota untuk mencari keberadaan Naya.


Hati bagaikan sebuah rumah yang memiliki banyak ruang, kita bisa saja jatuh cinta dengan siapa saja saat hati kita sudah ada yang memiliki. Tetapi membiarkan siapa saja untuk menempati setiap ruang di hati kita, itu bukanlah tindakan yang bijak.


...


Alin baru saja selesai mengambil jatah makanannya. Ia pun berjalan menuju meja kosong yang akan ia tempati di tengah-tengah para narapidana yang lainnya.


Saat ia berjalan, seorang narapidana menjegal kaki Alin.


Gompryaaaang...!


Nampan berisi makanan Alin pun terlempar beberapa meter dari dirinya yang juga terjerembab jatuh di lantai.


Semua orang pun tertawa melihat Alin yang terjatuh dan jatah makanannya terbuang sia-sia.


Alin menatap wanita yang sudah menjegalnya. Lalu ia bangkit dari lantai dan memukul wanita itu.


Suasana pun menjadi ricuh, Alin pun di keroyok dengan teman-teman wanita itu. Aksi saling pukul dan jambak pun tidak bisa di hindari.


Beberapa petugas pun datang untuk melerai. Alin pun di amankan dari keroyokan para narapidana yang lainnya.


Ada alasan mengapa para narapidana yang lain tidak menyukai Alin. Sejak dirinya di tahan, Alin memang lebih sensitif dan semakin menjadi. Ia masih merasa dirinya seorang Boss cafe yang setiap orang yang dibawah levelnya akan menghormati dirinya, Dan ia pun sering berkata kasar dengan narapidana yang lainnya. Terlebih dirinya yang tempramen dan mood yang sering berubah, membuat Alin tidak mempunyai satu orang teman pun disana.


Alin di pindahkan kedalam sel khusus untuk dirinya sendiri. Sipir penjara tidak punya pilihan lain. Karena bila ada Alin, tidak bisa dihindari selalu saja ada keributan.


Alin termenung menatap sinar matahari yang masuk dari celah jerjak yang tertanam di dinding atas sel nya.


Ia pun mulai menangis mengenang betapa bodohnya tindakan yang ia pilih untuk membalaskan sakit hatinya kepada Andreas. Ia pun menyesal karena mencintai orang yang salah.


Kini ia masih harus menjalani hukumannya kurang lebih enam tahun lagi. Ia mengulurkan tangannya mencoba merasakan hangatnya sinar mentari dari luar sana.


Ia sangat merindukan dunia luar, ia merasa hancur, merasa terpuruk dan merasa buruk. Penyesalan tidak ada gunanya bila ia sudah terlanjur harus menjalani hukumannya.


...


Your attitude + Your choice \= Your Life.


The end..