H -

H -
ch 17. Kehamilan Farah



Fathur melepaskan bibirnya dari bibir Rara. Lalu lelaki itu menempelkan dahinya ke dahi Rara.


"Maaf, aku tidak bermaksud....


Fathur tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia beranjak menjauhi Rara dan keluar dari ruangan itu. Rara pun hanya terdiam, dirinya mulai merasa bodoh karena menyambut ciuman dari Fathur. Sekarang ia menjadi bingung bagaimana akan bersikap kepada Fathur sahabat nya.


Setelah ia mengganti gaun nya dengan baju yang sebelumnya, ia pun keluar menemui Fathur yang sudah menunggu dirinya di dalam mobil. Rara menghampiri mobil Fathur lalu masuk ke dalam mobil lelaki itu.


"Sekarang mau kemana?"


Seperti biasa, lelaki itu selalu bertanya sebelum ia menjalankan mobilnya.


"Hmmmm.. teman-teman katanya lagi di cafe Alin, makan siang. Kita nyusul saja kesana"


Ucap Rara tanpa berani melihat Fathur.


"Ok"


Sahut Fathur, lalu ia menjalan kan mobilnya menuju cafe Alin.


Tiga puluh menit kemudian, mereka pun sudah tiba di cafe Alin dan masuk menemui teman-temannya.


"Berduaan mulu lu berdua, jangan-jangan....


Nia tidak melanjutkan ucapannya, tetapi ia langsung menatap Rara dan Fathur secara bergantian dengan curiga.


Rara dan Fathur tidak mau menanggapi ucapan Nia. Mereka sengaja duduk berjauhan, agar Nia tidak lagi memandang mereka dengan curiga.


Setelah memesan beberapa makanan yang tertera di dalam buku menu, mereka pun berbincang-bincang seperti biasanya.


Tiba-tiba Farah mual mencium bau omlet yang di pesan oleh Fathur.


"Hoekkk... Hoekkk...!"


Farah menutupi mulutnya dengan selembar tissue lalu ia berlari menuju toilet cafe.


Alin, Naya, Fathur, Rara dan Nia hanya bisa saling bertatapan.


"Itu anak kenapa?"


Nia bertanya dengan teman-teman nya dengan khawatir.


Alin hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Farah. sedangkan teman-temannya yang lain nya hanya bisa terdiam.


Tanpa menunggu lama, Rara langsung menyusul Farah ke toilet.


"Far... are you ok?"


Tanya Rara dengan khawatir.


"I... iya.. Ra"


Jawab gadis itu dari balik bilik toilet.


"Lu yakin?"


Rara mencoba memastikan keadaan Farah.


Farah keluar dari bilik toilet dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Gue yakin lu lagi tidak baik-baik saja Far, kita ke dokter ya"


Rara langsung memapah Farah. Tetapi gadis itu langsung melepaskan tangan Rara dari bahunya.


"Gue bilang gue gak apa-apa Ra..!"


Rara terdiam melihat reaksi Farah.


"Gue mau pulang..!"


Farah keluar dari toilet dan langsung menuju ke meja. Lalu ia membawa tas nya dan bergegas meninggalkan teman-teman nya yang memandang dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Far... tunggu Far..!"


Fathur menghadang gadis itu dengan cepat.


"Gue mau pulang, gue gak enak badan!"


Ucap Farah dengan wajah pucat nya.


"Gue anterin ya, lu gak bisa nyetir sendirian kalau begini keadaan nya"


Fathur menawarkan diri untuk mengantar Farah pulang.


Tetapi Farah hanya diam saja sambil memegangi kepalanya.


Lalu tubuh Farah terlihat limbung dan hampir saja terjatuh di lantai. Dengan sigap Fathur menangkap tubuh Farah yang lemah. Gadis itu pingsan di pelukan Fathur.


"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit ...!"


Pinta Fathur kepada siapa saja yang berada di sana.


Dengan sigap Alin langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di luar cafe nya.


Sedangkan Fathur membopong tubuh Farah ke dalam mobil Alin, lalu Fathur meletakan kepala Farah di atas pangkuan Rara. Setelah itu, Fathur bergegas duduk di kursi kemudi. Sedangkan Alin duduk di sebelah Fathur. Dengan cepat, Fathur mengemudikan mobil Alin menuju rumah sakit terdekat


Farah di bawa ke Unit Gawat Darurat di Rumah sakit terdekat. Sesampai disana,


Farah langsung di tangani dan di beri infus untuk membantu pemulihan dirinya.


Setelah setengah jam Farah di tangani, akhir nya Dokter yang menangani Farah keluar dari dalam ruang Unit Gawat Darurat.


"Keluarga nona Farah Kruger!"


Rara dan teman-teman nya langsung menghampiri dokter yang menangani Farah.


"Kita dok... ada apa dengan Farah?"


Tanya mereka bersamaan.


"Apakah ada suaminya disini? Anda?"


Tanya Dokter itu sambil menunjuk Fathur.


"Bu... bukan saya dok, saya teman nya"


Fathur menjadi salah tingkah.


"Sebenar nya Farah sakit apa dok?"


Tanya Rara tak sabar.


"Ibu Farah tidak apa-apa, ia cuma kurang asupan karena bawaan kehamilan nya yang masih sangat muda. Maka dari itu, Ibu Farah sangat butuh asupan-asupan yang bergizi. Mohon di perhatikan makan nya ya, setelah ini biar dokter Obgyn yang menangani Ibu Farah"


Bagaikan tersambar petir, mereka semua terbelalak dan saling berpandangan. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan dokter itu.


"Saya permisi dulu"


Mereka hanya bisa mengangguk saat dokter itu kembali masuk kedalam ruangan Unit Gawat Darurat.


Setelah satu jam kemudian, Farah di pindahkan ke ruang perawatan.


Gadis itu sudah sadarkan diri, ia tidak mau melihat wajah teman-teman nya. ia memalingkan wajah nya ke arah jendela, dan menatap kosong keluar jendela.


Mereka berlima tidak ada yang berani membuka pembicaraan kepada Farah. Semua terus saling berpandangan dan terlihat gelisah.


"Apa itu anak Andreas?"


Rara berbisik kepada Fathur. Lelaki itu pun menatap mata Rara yang terlihat khawatir. Ia langsung mengusap punggung Rara mencoba menenangkan gadis itu.


"Bila memang itu anak Andreas aku siap membuka semuanya sekarang"


Bisik Rara lagi.


"Sudahlah, biar kita tunggu Farah berbicara ya"


Fathur kembali mencoba menenangkan Rara.


Rara terlihat sangat gelisah, hingga akhir nya ia tak tahan lagi.


"Gue mau keluar dulu cari angin"


Ucap Rara lalu beranjak dari duduk nya dan menuju pintu keluar ruangan itu.


"Ra..."


Farah memanggil gadis itu dengan suaranya yang lemah. Rara menoleh ke arah Farah yang sedang terbaring dengan selang infus nya.


"Ya"


Jawab Rara singkat.


"Gue mau minta maaf sama lu Ra dan teman-teman semua."


Jantung Rara berdegup kencang. pikiran nya mulai di bayangi hal-hal yang selama ini ia curigai tentang Farah.


"Minta maaf karena apa?"


Tanya Rara dengan nada suara yang dingin karena menahan emosinya.


"Gue sudah mengecewakan kalian semua, karena gue hamil dengan lelaki milik orang lain."


Farah menangis tersedu-sedu.


Rara menahan tangis nya sambil melirik Fathur. Fathur hanya bisa menunduk kan Wajahnya karena ia bingung akan bersikap seperti apa.


"Siapa Ayah dari bayi yang lu kandung itu Far"


Tanya Rara dengan bibir yang bergetar.


Farah terdiam, mulut nya terkunci rapat. Gadis itu terus menangis hingga harus di tenang kan oleh Alin,Naya dan Nia.


Sedangkan Rara hanya berdiri mematung tidak jauh dari ranjang Farah. Satu sisi ia tidak tega melihat keadaan Farah saat ini, satu sisi lagi ia sangat emosi dengan pikiran-pikiran nya sendiri.


Fathur menghampiri Rara yang terlihat mulai menangis. Ia langsung menuntun Rara untuk duduk di sofa ruang perawatan tersebut.


Semua terdiam, hanya terdengar tangisan penyesalan Farah yang begitu pilu.