H -

H -
ch 43. Maafkan aku



Naya membuka kedua matanya dengan perlahan. Matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya terang di ruangan tempatnya dirawat. Tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat masuk untuk mengecek kondisi Naya.


"Ibu Naya.. apa bisa mendengar saya..?"


Tanya dokter yang menangani Naya, tetapi Naya tidak mampu berkata-kata. Ia begitu lemah, seorang perawat membetulkan letak selang oksigen di lubang hidung Naya. Efek anestesi masih mempengaruhi kesadarannya, ia hanya mampu membuka mata sebentar lalu menutupnya kembali.


Tetapi tidak ada yang serius, dokter pun memperbolehkan Naya untuk segera dipindahkan keruang rawat inap.


Andreas yang sejak kemarin duduk di depan ruang ICU, ikut panik saat dokter masuk ke ruangan Naya. Tetapi setelah ia tahu Naya akan dipindahkan keruang perawatan, membuat dirinya merasa lega.


Dua jam kemudian, Naya sudah berada di ruang rawat inap. Kini Naya sudah sepenuhnya sadar dari pengaruh anastesi. ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sehingga ia tidak mampu untuk bergerak dengan bebas.


Pintu ruangan Naya terbuka dengan perlahan, Andreas masuk keruangan Naya dengan membawa sebuket bunga untuk Naya.


Naya terperangah saat melihat Andreas berjalan mendekati ranjangnya. Andreas tersenyum kepada Naya.


"Ngapain kamu kesini?"


Tanya Naya dengan sorot mata penuh benci. Andreas hanya bisa terdiam, lalu duduk di samping ranjang.


"Nay, gimana keadaanmu?"


Lelaki itu terlihat memendam kesedihan saat menatap mata Naya.


"Kamu ngapain kesini?"


Tanya Naya lagi.


"Nay, anak kita...,


Kata-kata Andreas terhenti begitu saja, lalu lelaki itu tertunduk sambil mengusap air matanya.


"Kenapa anak ku?"


Dengan napas sesak dan firasat yang tak enak, Naya menatap Andreas.


"Anak kita, tidak bisa di selamatkan"


Andreas menangis tersedu-sedu, menyilang tangannya di atas ranjang dan membenamkan kepalanya di antara tangannya.


Naya tidak percaya dengan apa yang baru saja Andreas katakan, ia langsung meraba luka di perutnya. Luka itu tepat sekali di sekitar rahimnya, Ia pun mulai menangis pilu.


"Keluarrr...!!!!!!!!"


Naya berteriak kepada Andreas.


"Keluarrrr...!!!!! Aku tidak mau melihat kamu lagi..!!!!! keluarrrr...!!!!


Perintah Naya dengan menangis tersedu-sedu.


"Nay....."


"Keluar....!!!!!"


Naya tidak mau memberikan kesempatan untuk Andreas berbicara.


Andreas berdiri dari duduknya, lalu ia keluar dengan langkah yang gontai.


Saat Andreas keluar dari ruangan itu, Nia dan Farah pun langsung masuk keruangan Naya. Mereka memberikan simpati kepada Naya yang baru saja kehilangan calon buah hatinya.


Naya tenggelam dalam kesedihannya di pelukan para sahabatnya.


Rara setengah berlari menuju ruangan Naya. saat ia dikabarkan oleh teman-temannya bahwa Naya sudah sadarkan diri, Rara langsung berangkat ke rumah sakit.


Di lorong rumah sakit ia bertemu dengan Andreas. Lelaki itu tampak menangis tersedu-sedu. Rara langsung merasa sesuatu terjadi kepada Naya, ia berlari menuju ruangan Naya.


Brakkk....!!!


Pintu ruangan Naya di buka oleh Rara dengan kasar, lalu ia berlari menuju ranjang Naya. tetapi ia langsung bernapas lega saat melihat Naya yang baik-baik saja.


"Ra.. apa benar anak gue gak ada lagi Ra?"


Tanya Naya yang masih menangis tersedu-sedu. Rara hanya bisa menundukkan pandangan nya. Ia pun turut merasa sedih dan kehilangan seperti yang Naya rasakan.


Mereka semua mencoba menenangkan Naya, dan memanggil dokter untuk menerangkan kepada Naya apa yang terjadi dan mengapa calon bayi Naya harus di angkat.


Mau tidak mau, Naya berusaha ikhlas dan menerima kepergian calon buah hatinya.


.....


Seminggu sudah berlalu, Nia, Farah, Fathur dan Rara bergantian merawat Naya dirumah sakit. Hari ke tujuh ini Naya sudah membaik, ia hanya tinggal menunggu persetujuan dokter untuk pulang kerumahnya. Ia pun merasa tidak enak dengan teman-temannya yang setia menemani dirinya selama seminggu ini, maka Naya meminta dokter untuk mengizinkannya pulang.


Dokter pun mengizinkan gadis itu untuk rawat jalan dan beristirahat di rumah saja. Hal iitu membuat Naya gembira, Ia di jemput oleh teman-temannya untuk pulang kembali kerumah.


"Jadi, gue tranfusi darah kemarin? berapa kantung?"


Tanya Naya kepada teman-temannya.


"Tiga Nay.. sahut Nia yang duduk disebelah Naya"


"Oh"


Sahut Naya tanpa ekpresi.


"Susah dapetin darah buat lu Nay"


Ucap Farah.


"Oh ya? itu dapat dimana?"


Rara, Nia dan Farah hanya bisa saling berpandangan.


"Loh kok gak dijawab? dapat darah dari mana?"


Naya mengulangi pertanyaannya kepada teman-temannya.


"Hmm... dari.... Andreas"


Jawab Rara, lalu hening.


....


Naya merebahkan diri di ranjangnya, di bantu oleh Rara dan Nia. Naya meyakinkan kepada teman-temannya bahwa dia baik-baik saja dan bisa di tinggal. Akhirnya teman-temannya menyerah dan mereka pun pulang kerumah masing-masing.


Naya teringat kata-kata Rara yang membuat dirinya sedikit terganggu, Yaitu tentang Andreas. Ia tidak menyangka bahwa Andreas rela berkorban demi dirinya. Dan ia juga tidak menyangka bila Andreas menangis karena kehilangan calon anak mereka. Air mata Naya kembali mengembang di pelupuk matanya. Kalau bukan karena Andreas, mungkin ia akan pergi bersama calon bayi mereka.


Naya menangis mengingat semua yang menimpanya. Bagaimanapun dirinya masih sangat mencintai Andreas.


..


Rara membersihkan wajahnya di depan meja rias. Sedangkan Fathur sedang duduk bersender di kepala ranjang, ia terus memandang bayangan istrinya dari pantulan cermin yang langsung menghadap ke ranjang.


Rara yang sedang asik mengoleskan cream malamnya melirik Fathur yang tersenyum memandang dirinya.


Rara bertanya kepada Fathur lewat pantulan cermin.


"Gak ada apa-apa"


Sahut Fathur sambil tersenyum malu.


"Kalo gak ada apa-apa kenapa lihatin aku terus?"


Tanya Rara sambil melanjutkan aktivitasnya mengoles cream dan menyisir rambutnya.


"Hmmm..aku.. bukan... kita kan.. hmmm"


Fathur berbicara tidak jelas sambil tertunduk malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa sih? aneh kamu tuh"


Rara beranjak dari depan meja rias menuju ranjang, lalu ia merebahkan dirinya di sebelah Fathur.


"Ra... kita...kita kan..."


"Kenapa Fathur...?"


Tanya Rara sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa heran melihat Fathur yang dari tadi berbicara tidak jelas.


"Kita kan sudah suami istri..."


"Ya terus?"


"Kita kan sudah seminggu menikah tapi kita kan belum..."


"Belum apa Fat..?"


"Kita belum...."


"Apa sih.. yang jelas dong Fathur.. aku tuh gak ngerti..!"


Ucap Rara dengan kesal.


"Gak jadi deh, kamunya udah kesal duluan. Ya sudah tidur, aku juga mau tidur"


Ujar Fathur sambil menyelimuti tubuh Rara dengan selimut tebal di atas ranjang.


"Ih.. ngambekan.. aku kan bingung kamu anu anu anu anu... gak jelas deh"


Omel Rara sambil memunggungi Fathur.


"Aku gak ngambek sayang... aku cuma mau kamu sekarang tidur, besok kan kita kerja"


Sahut Fathur sambil membelai lembut rambut Rara.


"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih Fat..!"


Dengan kesal Rara bangun dan duduk di atas ranjang menatap Fathur yang sedang menghela napas nya.


"Sayang... aku tuh cuma mau bilang, kita sudah seminggu menikah, tapi kita belum malam pertama"


Ucap Fathur sambil tersenyum geli.


"Hah...astagaaaa..."


Seru Rara sambil menutup wajah nya dengan bantal.


"Kenapa sayang?"


"Maaf ya sayang... aku ingat nya kamu masih sahabatku.."


Ucap Rara sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun tega banget bini gue, sabarrr...sabarrrr"


Ujar Fathur sambil mengelus dadanya.


"Iya, soal nya seminggu ini kita fokus sama Naya. Pulang dari rumah sakit juga sudah capek, langsung ketiduran. Maaf ya suami ku"


Kata Rara sambil masih tertawa terbahak-bahak.


"Gak apa-apa sayang.. aku sabar kok, sebelas tahun saja aku sabar, apa lagi cuma seminggu.. kecil itu mah"


Sahut Fathur sambil mengusap lembut pipi Rara.


"Jadi, malam ini?"


Tanya Fathur sambil menatap Rara dengan mata yang berbinar-binar.


"Fat, aneh rasanya ya"


"Aneh kenapa?"


"Aneh aja Fat.. pikiranku kamu masih sahabatku dan kita masih baru pacaran gitu, terus sekarang kita sudah menikah dan sekamar. Rasanya gimana gitu"


Ucap Rara sambil menundukkan kepalanya.


Fathur mengangkat dagu Rara dengan jari telunjuknya, lalu lelaki itu mengecup bibir Rara.


Mereka pun saling berpandangan, jantung Rara kini berdegup kencang.


"Apa aku masih sahabatmu?"


Tanya Fathur sambil tersenyum manis. Rara melihat wajah Fathur kini menjadi serius, tatapan sendu lelaki itu dan senyum manisnya mulai menghipnotis Rara dan Degup jantungnya pun tak beraturan.


"Masih"


Ucap Rara dengan wajah serius.


Fathur langsung tertawa sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ya sudah, tidur yuk"


Fathur menepuk-nepuk bantal disebelahnya, mengisyaratkan Rara untuk segera tidur di sampingnya.


"Sahabat rasa suami"


Celetuk Rara sambil tersenyum kepada Fathur. Lalu Rara mencium bibir Fathur dengan mesra, yang membuat Fathur mulai grogi dan tak percaya.


"Malam ini?"


Tanya Fathur sambil menatap Rara dengan tak percaya.


"Mens.. sampai jumpa minggu depan..!"


Rara tertawa terbahak-bahak, lalu menghambur ke pelukan Fathur yang merasa pupus harapan.