
"Kamu tidak sedang bercanda kan?"
Tanya papa Rara dengan serius.
"Tidak Pa, bagaimana pun pernikahan ini harus terjadi. Dan aku akan memberi pelajaran kepada Andreas..!"
Ucapan Rara membuat kedua orangtuanya saling bertatapan.
"Nak... pernikahan itu bukan permainan...!"
Ibunya Rara menatap Rara dengan wajah yang khawatir.
"Dia bisa bermain selama ini di belakang Rara ma...! Rara pun bisa bermain di belakang dia"
"Tetapi menikah itu butuh pikiran yang matang Ra... ini bukan permainan nak..!"
"Rara sudah memikirkan nya matang-matang ma... Rara mencintai dia"
Ucapan Rara tak terbantahkan.
"Jadi bagaimana selanjutnya?"
Tanya Ayahnya Rara yang masih shock mendengar semua yang di ucapkan anak gadis nya itu.
"Rara mau Papa siapkan cek yang pantas untuk ini semua. Nanti Rara akan ganti semua nya Pa. Papa sama Mama jangan khawatir ya"
Rara menatap sendu kedua orangtuanya.
Ayahnya Rara hanya mengangguk pelan, sedangkan Ibunya Rara hanya terdiam menahan tangis nya.
*
Rara membaca pesan dari Andreas yang sudah beberapa hari tidak ia balas.
Andreas
"Sayang.. Are you Ok?"
Rara membaca salah satu pesan Andreas yang membuat nya muak.
"Sayang i'm ok, kita ketemuan yuk di cafe Alin"
Balas Rara yang baru saja selesai mandi di sore hari itu.
"Aku jemput ya"
Balas Andreas dengan cepat.
"Ketemuan disana saja sayang"
Ucap Rara sambil menahan perasaan gemas nya saat membalas pesan-pesan dari Andreas.
"Ok"
Balas Andreas.
Rara menatap pesan itu sambil menggeleng kan kepalanya.
Lelaki yang sangat ia percaya ternyata adalah buaya darat yang tidak perduli korban nya siapa saja, termasuk teman-teman Rara.
Rara bersolek secantik mungkin, lalu ia pergi mengendarai mobilnya menuju cafe Alin.
Di cafe Alin, Rara disambut oleh Alin sendiri. Gadis itu terlihat agak terkejut melihat kedatangan Rara yang tiba-tiba.
"Hai... apa kabar sayang nya akuhhh"
Sapa Alin dengan ramah lalu memeluk tubuh Rara dan mencium kedua pipi Rara.
"Baik"
Jawab Rara mencoba biasa saja.
"Kemana aja sih..? ih kangen gue"
Rara tersenyum tipis saat Alin bersandiwara dengan baik di depan nya.
"Iya nih, liburan tipis-tipis. Grogi gitu mau melepas masa lajang, lagian butuh refreshing lah beb"
Jawab Rara dengan wajah nya yang sumringah.
Tidak lama kemudian Andreas datang dengan mobil sport nya. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja hitam nya dan celana jeans yang ia kenakan.
Alin menatap Andreas dengan tatapan dingin. Alin selalu menatap Andreas dengan tatapan dingin nya saat berada di depan Rara. Seakan ia tidak suka dengan lelaki itu. Sebenarnya, Alin melakukan itu semua karena ia tidak ingin sahabat-sahabat nya tahu bila ia dan Andreas mempunyai hubungan spesial.
"Halo sayang"
Sapa Andreas sambil mencium kedua pipi Rara. Rara pun menyambut Andreas dengan mesra.
"Kangen aku sayang"
Ucap Rara sambil memeluk tubuh atletis Andreas.
"Iya sama"
Lelaki itu tersenyum kepada Rara dan kemudian melirik Alin yang pura-pura sibuk mengecek stok kopi di depan nya.
"Hai Lin.. apa kabar?"
Sapa Andreas penuh dengan drama.
"Eh.. baik"
Jawab Alin dengan singkat.
Rara memperhatikan wajah Alin yang tampak mulai cemburu. Selama ini Rara mengartikan ekpresi Alin seperti itu karena ia tidak suka dengan sosok Andreas. Ternyata Rara salah, Alin bukan tidak suka. Tetapi gadis itu sedang cemburu.
Andreas mengajak Rara untuk duduk di pojok cafe tersebut. Ia terus menggenggam tangan Rara, karena sebenarnya ia betul-betul merindukan gadis itu yang akhir-akhir ini seperti menghindarinya.
"Mau nikah kok kayak cuek gitu ya sama aku sayang"
Ucapan Andreas membuat darah Rara mendidih. Ingin sekali ia menyiram lelaki itu dengan kopi panas di depan nya.
"Aku ada urusan sayang.. maaf ya"
Jawab Rara sambil tersenyum manja.
Tanya Andreas dengan wajah yang cemberut manja. Rara menatap Andreas dengan tak percaya, di dalam hatinya ingin sekali ia tertawa lalu menampar wajah lelaki itu dengan telapak tangan nya yang sudah terasa gatal.
"Selingkuh? mungkin..."
Jawab Rara sambil tertawa kecil.
"Serius ah...! enak saja selingkuh sudah mau menikah sama aku malah selingkuh. Lelaki mana yang jadi selingkuhan kamu...! biar aku hajar dia"
Ucap Andreas dengan penuh drama.
"Fathur selingkuhan ku"
Jawab Rara dengan tatapan nya yang dingin. Andreas tertegun menatap mata Rara. Ia mencari kesungguhan dari sorot mata kekasih nya itu.
"Ka... kamu bercanda kan?"
Andreas mendadak menjadi serius.
"Enggak"
Jawab Rara dengan tenang.
"Ra.. aku sedang tidak bercanda.! Kalau Fathur berani menggodamu akan aku bunuh dia..!"
Andreas mulai emosi.
"Hah..!"
Rara tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dan mendengarkan kata-kata Andreas yang baru saja keluar dari mulut lelaki munafik itu.
"Ya ampun sayang... segitu cintanya ya kamu sama aku.. hahahhahahahaa.... Bercanda sayang... Ya ampun.. Cinta banget ya sama aku!!!!"
Rara sengaja setengah berteriak saat mengatakan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Lalu ia melirik kepada Alin yang sedang berbicara dengan pegawainya.
Alin sedikit terganggu saat mendengar kata-kata Rara yang dapat ia dengar dengan jelas. Lalu ia kembali melanjutkan percakapan dengan pegawainya.
Tidak lama kemudian Nia dan Naya datang menyusul mereka ke cafe Alin.
Kini mereka berlima duduk di meja yang sama.
Nia melirik Alin, Andreas dan Naya. Nia menahan emosinya saat melihat wajah lelaki yang duduk tidak jauh dari dirinya.
Sepertinya Nia sangat malas bersandiwara dan berbasa-basi dengan mereka bertiga. Jadi, Nia memilih banyak diam saat berada di sana.
Sedangkan Rara terus bermanja-manja dengan Andreas. Yang membuat Alin dan Naya merasa gelisah dan menahan cemburu.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk. Aku kepengen ke mall belanja yang banyak dan menonton bioskop bersama kamu"
Tampak nya kata-kata Rara membuat Alin merasa tersindir.
"Dugem aja dugemmm.."
Sahut Nia sambil tertawa geli.
"Ih.. gue mah gak mau dugem-dugem gitu, nanti ngeri di apa-apain sama Andreas"
Sahut Rara sambil tertawa kecil.
Kali ini Naya menatap Andreas dengan kikuk.
Dua gadis itu gelisah menahan gejolak di dadanya. Andreas pun merasa sikap Rara seperti ada yang aneh. Ia cukup merasa takut bila Rara mencoba menyindirnya dan Naya.
"kamu kenapa sih sayang?"
Tanya Andreas dengan serius.
"Ih.. kenapa? kan bener sayang, kita gak pernah dugem. Ngapain sih dugem-dugem gitu. Kayak orang stress. gak bener tau gak..!"
Jawab Rara sambil tersenyum manja.
"Nyindir gue lu?"
Nia mencebik kan bibir nya kepada Rara.
"Loh..lu suka dugem?"
Tanya Rara kepada Nia dengan tatapan tak percaya.
"Iya gue suka dugem sama cowok gue. puas lu..!"
Jawab Nia dengan sewot, namun bernada menyindir.
"Ya maaf..."
Rara terkekeh dan berdiri dari duduk nya.
"Guyss.. gue tinggal dulu ya, gue mau jalan sama calon suami nih. Oh iya, nitip mobil ya Lin "
Rara melambaikan tangan nya kepada Nia, Naya dan Alin. Lalu menggeret lengan Andreas untuk mengikutinya keluar dari cafe.
"Kenapa Rara jadi norak gitu sih"
Ucap Naya kepada Alin dan Nia.
"Norak gimana?"
Nia menatap Naya dengan datar.
"Norakkkk tau gak.. seakan-akan cuma dia aja yang punya cowok..!"
Keluh Naya dengan wajah yang sebal melihat punggung Rara dan Andreas yang sedang berjalan menuju mobil milik Andreas.
"Lah... disini kan memang Rara doang yang punya cowok, emang lu punya cowok Nay? Lin?"
Tanya Nia dengan wajah nya yang meledek.
"Ah.. bete gue.. pergi dulu ah.. percuma aja gue kesini"
Naya menyambar tas nya lalu melangkah keluar dari cafe Alin. Sedangkan Alin cuma duduk sambil melihat kearah mobil Andreas yang sudah mulai beranjak meninggalkan cafe milik nya.