H -

H -
ch 19. Tertuduh



Fathur membuka pintu kamar Farah, ia membawa tas Farah di jinjingan nya. Lalu ia menutup kembali pintu kamar itu. Fathur pun menghampiri Farah yang sedang duduk di ranjang nya.


"Ini tas lu Far.."


Tanpa kata, Farah menyambut tas milik nya dari tangan Fathur. Matanya terus menatap sinis kepada Rara.


Farah membongkar tas nya dan mencari gelang tersebut. Tetapi sial bagi nya, gelang itu tidak ada disana.


"Gelang gue mana? Tadi gue simpan disini..! Kok gak ada..!"


Farah menatap Fathur dan Rara. Dirinya terlihat sangat panik.


"Serius gue simpan disini tadi, gue buru-buru makanya gak gue pakai"


Ucap nya kepada Rara dengan panik.


"Gak usah acting Far... kalau memang gak ada ya bilang gak ada..!"


Farah menatap Rara dengan muak, saat mendengar Rara mengatakan hal itu kepadanya.


"TERSERAH..!"


Farah berteriak kepada Rara, yang membuat gadis itu terdiam.


"Lu boleh anggap gue rendah karena gue hamil Ra...! Tapi gue gak serendah pikiran lu yang kotor itu!"


Hardik Farah kepada Rara.


"Gue akan buktikan kalau anak ini bukan anak Andreas..! Dan harus nya lu malu bila ini memang bukan anak Andreas. Dan kenapa lu gak tanya langsung aja sama tunangan lu yang b*j*ng*n itu..!


Lu takut? Lu pengecut..! Kenapa lu menuduh orang sembarangan sesuka asumsi lu sendiri. Sadar hey Raaa....! Lu pengecut..! Lu takut gagal kan..!


Sekarang terserah kalau lu nuduh gue..!


Dan itu gak ada pengaruh nya sama gue, toh lu sendiri yang bakal sakit hati memikirkan otak kotor lu sendiri kan?"


Farah cukup sakit hati, dari tadi ia mencoba menahan ucapan nya kepada Rara. Tetapi kali ini ia tidak bisa membendung nya lagi. Ia merasa terpojok dan tidak ada dukungan disaat dirinya terpuruk.


Rara menatap Farah dengan tajam. Lalu mengambil tas nya yang ia taruh di atas sofa. Lalu pergi dari ruangan Farah dengan air mata yang mengalir deras di pipi nya.


"Gue tega banget.. Gue bodoh..! Maaf Far..!"


gumam nya sambil berlari ke luar rumah sakit dan menghentikan sebuah taxi. Lalu Rara pergi tanpa tujuan yang jelas.


"Lu juga Fat...! Lu mau nuduh gue...? Tuduh Fat..!"


Dengan emosi, Farah menatap Fathur yang berdiri di depan nya. Fathur lalu menghampiri Farah, dan duduk di samping ranjang Farah. Fathur meraih tangan Farah dengan lembut lalu menggenggam tangan sahabat nya itu.


"Gue percaya sama lu, lu maafin Rara ya, dia hanya sedang bingung dan emosi. Kalau kita berada di posisi Rara juga pasti akan seperti itu. Hari pernikahan nya sebentar lagi. Tetapi, di detik-detik terakhir impian nya, ia harus menerima kenyataan kalau tunangan nya berselingkuh.


Gue ngomong begini bukan karena gue gak simpati dengan apa yang menimpa lu Far. Gue paham lu pun akan sakit hati di perlakukan seperti ini saat lu butuh dukungan"


Fathur mencoba menenangkan Farah.


Gadis itu menatap Fathur dengan seksama, lalu menghapus air mata nya.


"Kira-kira siapa ya yang jadi selingkuhan nya Andreas?"


Tanya Farah dengan suaranya yang serak, karena dari tadi ia berteriak-teriak kepada Rara.


"Entah lah, yang jelas gadis ini dan Andreas cukup bermain aman"


Jawab Fathur sambil melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Farah.


"Gue juga menyesal sih mengatakan hal seperti itu kepada Rara. Tapi Rara keterlaluan Fat..!"


"Iya gue paham"


Ucap Fathur sambil mengusap punggung Farah.


"By the way, Ayah dari bayi lu udah tau lu hamil?"


Tanya Andreas penasaran.


"Sudah, beberapa hari yang lalu dia mengajak gue untuk Tes DNA mungkin hasil nya akan keluar minggu depan.


Dia pejabat Fat, jadi.. ada kemungkinan gue gak akan di nikahi nya. Tetapi dia berjanji, bila anak ini lahir, ia akan membiayainya. Dan untuk saat ini gue harus keluar dari pekerjaan gue"


Ucap Farah, tertunduk lesu.


"Yang sabar ya Far, yang sudah terjadi biar lah terjadi. Yang penting kedepan nya kita semua lebih baik dan nanti kalau tes nya keluar. Lu bisa membela diri di depan Rara, tanpa ada gelang itu juga lu bisa mengembalikan kepercayaan Rara kepada lu"


Fathur mencoba menenangkan Farah.


Farah menghela napas nya dengan berat.


"Apa itu penting? Rara sudah menuduh gue, dan gue gak butuh pembelaan. Ya sudah biarkan saja dia tersiksa dengan pikiran nya sendiri..!"


Ucap Farah yang kembali emosi.


"Sttttt... sudah.. sabar, itu semua penting Far, dengan lu buktikan itu semua, kita bisa menemukan siapa selingkuhan nya Andreas"


Farah terdiam mendengar kata-kata Fathur.


Farah menatap Fathur dengan matanya yang sembab.


"Ok.. gue sebenarnya sayang banget sama Rara, gue akan bantu semua nya terungkap"


Tekad Farah.


"Eh... kenapa lu gak curiga kepada Naya?"


Sambung nya lagi.


"Kenapa?


Fathur menatap Farah dengan serius.


"Gue inget nih, Naya pernah bilang, dia jealous lihat Rara dan Andreas. Menurut nya, Rara beruntung dapat Andreas yang tampan dan kaya raya. Ia sebenarnya suka dengan Andreas, tetapi dia sadar dia gak mungkin melanjutkan perasaan nya kepada Andreas"


"Kapan dia bilang begitu?"


Tanya Fathur penasaran.


"Sudah lama banget kali Fat.. Mungkin sebelum Rara dan Andreas bertunangan. Ya gue bukan menuduh ya, cuma apa salah nya kita curiga kepada Naya?"


Fathur terdiam mendengar kata-kata Farah.


"Kemarin kan Naya juga tidak punya gelang nya"


Sambung gadis itu lagi.


Fathur mengangguk-angguk kan kepalanya mencoba mencerna kata-kata Farah.


"Lagian kenapa gak langsung aja sih buka masalah ini kepada Andreas? Kan bisa cepat selesai. Ribet si Rara memang"


Dengan kesal Farah menatap Fathur yang sedang duduk mematung di samping nya.


"Bukan begitu Far, ini menyangkut kedua keluarga besar. Membatalkan pernikahan dengan tuduhan perselingkuhan itu harus hati-hati. Kalau belum ada bukti dan Andreas mengelak bagaimana? Akan membuat keluarga Rara malu Far. Bila kita menangkap maling, kita harus ada bukti nya dulu. Kira-kira begitu"


Terang Fathur.


"Saat ini ada bukti apa saja?"


Tanya Farah penasaran.


"Nih.. lihat"


Fathur membuka galery ponselnya lalu menunjukan foto-foto yang Rara temui di apartemen Andreas.


"Dapat foto ini dari mana?"


Tanya Farah sambil menatap foto-foto itu satu persatu.


"Rara yang kirim. Dia yang memfotonya sendiri di apartemen Andreas, dan ini foto gelang tersebut"


Ucap Fathur sambil memperlihatkan gambar sebuah gelang kepada Farah.


Farah memperhatikan foto gelang yang tergeletak di atas ranjang yang di tutupi seprai putih itu.


"Oh iya.. bener.. wah, pantas saja Rara ngamuk. Parah sih kalau melakukan hal seperti ini sama sahabat sendiri. Gak habis pikir gue Fat dan sekarang gue yang tertuduh, b*st*rd memang..!"


Ucap Farah dengan emosi.


"Ya sudah, semua pasti terbuka. Lu sabar ya.. kita cari siapa orang nya..!"


Ucap Fathur.


........


Malam itu di salah satu sudut ruangan SPA.


"Mbak, gelang nya bisa di lepas?"


Tanya gadis pelayan SPA kepada gadis selingkuhan Andreas.


"Oh iya, tolong taruh di dalam tas saya ya"


Ucap nya sambil tersenyum kepada gadis pelayan SPA itu.


"Baik mbak"


Gadis pelayan SPA itu meletakkan gelang berwarna hitam itu di dalam tas milik pelanggan nya di atas meja samping bed pijat.


Gadis itu tersenyum sendiri saat melepaskan gelang itu dari pergelangan tangan nya.


"Untung gue ketemu gelang ini di tas nya Farah"


Gumam nya sambil terus tersenyum di saat dirinya menerima pijatan-pijatan dari terapis.


"Setidak nya gue bisa aman. Terserah kalau Farah, perempuan m*r*h*n itu pasti sedang di curigai dan di musuhi oleh Rara"


Lalu ia memejamkan matanya sambil merasakan tubuh nya yang semakin relax.