
Rara berlari menuju parkiran di halaman kantor polisi. Ia mencari Farah dan Nia yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang besuk.
Akhirnya Rara menemukan Nia dan Farah yang sedang duduk di bawah pohon besar yang teduh. Rara menghampiri dua orang sahabatnya itu dengan perlahan.
Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Nia ataupun Farah. Mereka hanya saling diam. Rara pun duduk di samping Nia yang sedang mengusap air matanya.
"Nia.."
Rara menyapa Nia dan menatap gadis itu.
"Sekarang lu udah tau kan Ra kalau gue suka sama Fathur!"
Ucap Nia dengan suara tercekat.
Rara hanya mampu menghela napas dengan berat.
"Gue udah lama suka sama Fathur, saat kita duduk di kelas dua SMA. Tapi gue sadar diri kok, gue tau Fathur suka sama lu Ra. Jadi gue gak bisa memaksakan Fathur untuk suka sama gue"
Ucap Nia lagi.
"Lu pernah bilang sama Fathur kalau lu suka sama dia?" Tanya Rara.
"Gue gak pernah bilang, karena gue tau dia gak akan mau sama gue"
Ujar Nia sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa gitu Nia..?"
Tanya Rara dengan serius.
"Waktu itu saat pertama kali gue ketemu Fathur, gak ada perasaan suka. Tapi semenjak kita duduk di bangku kelas dua SMA, perasaan itu mulai tumbuh.
Gue mulai menyukai Fathur, kedekatan gue sama Fathur yang seperti kucing dan tikus membuat gue lama-lama memikirkan dia.
Gue memang gak cerita sama kalian semua kecuali Alin. Karena menurut gue Alin paling bisa menyimpan rahasia di antara kita, dan gue salah.
Hingga suatu saat, gue sudah tidak bisa memendam rasa ini sendirian. Gue ingin Fathur tau perasaan gue.
Gue menulis surat untuk Fathur, dan gue ke kelas Fathur saat jam istirahat.
Gue berencana menaruh surat ini di dalam tasnya. Tetapi, saat itu juga gue melihat sepucuk surat di dalam tasnya yang bertuliskan nama elu Ra.
Gue memberanikan diri untuk membaca surat itu, ternyata surat itu berisikan ungkapan cinta dari Fathur untuk lu. Dan gue pun mengurungkan niat untuk memberikan surat gue.
Seiring waktu berjalan, gue berharap cinta Fathur akan pudar untuk lu Ra.
Tetapi gue salah, cinta Fathur tidak pernah pudar untuk lu, Dan ternyata kini kalian menikah.
Gue udah coba untuk memadamkan perasaan. tetapi sama seperti Fathur, Rasa ini tidak pernah pudar.
Gue mencoba untuk tetap seperti ini asal gue bisa dekat dengan dia, walaupun dia menganggap gue hanya seorang sahabat sekaligus musuhnya, gue sudah cukup senang Ra.
Tetapi gue tidak menyangka, akhirnya Fathur menikah sama lu"
Nia menceritakan panjang lebar tentang perasaannya dengan Fathur. Farah dan Rara pun hanya bisa terdiam tanpa sepatah katapun.
"Dan sekarang, gue mohon sama kalian semua, Jangan pernah katakan tentang perasaan gue kepada Fathur. Itu masa lalu, gue akan mencoba menerima kenyataan"
Nia menghapus air mata dan beranjak dari duduknya.
"Gue pulang dulu, gue bahagia lu bahagia dengan Fathur Ra. tetapi, gue mohon cintai dia dan jaga dia selalu. Fathur benar-benar lelaki setia Ra, dan gue...........
Nia terdiam sejenak.
"Gue akan memadamkan perasaan ini"
Nia pun melangkah pergi.
Farah dan Rara pun hanya mampu memandang punggung Nia.
Rara menatap Farah dengan seksama. Farah hanya tersenyum ragu kepada Rara, lalu ia merangkul Rara.
..
Naya menyantap masakan Andreas dengan lahap, sedangkan lelaki itu hanya menatap Naya sambil tersenyum karena Naya terlihat begitu menikmati masakannya.
"Enak?"
Tanya Andreas sambil menyingkirkan sisa nasi yang tersisa di bibir Naya.
Naya hanya mengangguk perlahan.
Setelah Naya selesai makan, Andreas pun mencuci piring bekas Naya.
Lalu ia kembali duduk di depan gadis itu.
"Mau buah? aku beli tadi untuk mu"
Tanya Andreas.
Naya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sekarang kamu mau apa?"
"Andreas..."
"Ya..."
"Sekarang kamu pulang aja ya"
Naya menatap lelaki itu dengan seksama.
"Kenapa?"
"Gak enak sama tetangga, ini bukan apartemen. Ini rumah tinggal yang banyak tetangganya, aku gak mau omongan miring akan mengusikku nanti"
Naya mencoba memberikan Andreas pengertian.
"Oh, Ok. Lagian sudah malam, aku pulang ya.., kamu hati-hati dirumah. Jaga kondisi mu.."
Ujar Andreas lalu beranjak dari kursinya dan mendekati Naya hendak mencium kening gadis itu. Dengan cepat Naya menghindar dan menahan tubuh Andreas dengan tangan kanannya.
"Good night.. hati-hati di jalan"
Andreas hanya diam terpaku, lalu menghela napasnya dan pergi menuju pintu keluar rumah Naya.
..
Rara masuk kedalam rumah Fathur dengan gontai. sudah tiga hari dirinya mengikuti Fathur untuk tinggal bersama dirumah Fathur. Ia menutup pintu dengan perlahan, lalu membuka sepatunya dan menaruhnya kedalam rak sepatu di samping pintu.
"Kamu sudah pulang"
Sapa Fathur yang baru saja muncul dari arah dapur dengan segelas kopi di tangannya. Rara menatap Fathur dengan tatapan yang sendu.
"Kamu kenapa sayang?"
Tanya Fathur dengan wajah khawatir lalu ia meletakan gelas kopinya di atas meja, Lalu menghampiri Rara.
Rara masih terus menatap Fathur, kini air matanya mulai menetes di pipinya.
"Kamu kenapa sayang? cerita ya sama aku"
Desak Fathur yang tidak tahu akan berbuat apa, saat melihat istrinya menangis tanpa sebab.
Rara memeluk Fathur dengan erat.
"Maafkan aku... maafkan aku.."
Ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa minta maaf?"
Tanya Fathur kebingungan sambil membalas pelukan Rara.
"Maaf aku baru sadar cintamu begitu dalam kepadaku. Maafkan aku"
Rara terus menangis dan memeluk Fathur semakin erat.
Fathur hanya terdiam lalu mencoba melepaskan pelukan Rara untuk dapat menatap wajah Rara.
"Kamu kenapa?"
Tanya Fathur lagi.
"Aku cinta padamu... aku bahagia.. makanya aku menangis"
Ujar Rara sambil menghapus air matanya.
Fathur tersenyum menatap wajah Rara, ia membelai lembut pipi Rara lalu mencium bibir Rara.
Rara membalas ciuman hangat dari Fathur. Rara melingkarkan tangannya di leher Fathur, lelaki itu pun mengusap lembut punggung Rara.
Sejenak mereka melepaskan ciumannya. Fathur menatap mata Rara yang indah dan tersenyum ragu, lalu kembali mengecup lembut bibir Rara.
Mereka terhanyut dengan sentuhan-sentuhan lembut yang mereka ciptakan. Tanpa harus menunggu lama, Fathur pun menggendong tubuh Rara dan membawanya masuk kedalam kamar.
Malam ini, Rara seutuhnya milik Fathur, begitupun sebaliknya. Pengalaman pertama bagi mereka melakukan hubungan suami istri.
...
Suara burung bernyanyi dari dahan pohon di samping jendela kamar Rara dan Fathur. Rara membuka matanya perlahan lalu ia duduk di atas ranjang.
Fathur sudah tidak ada disana. Rara pun beranjak dari ranjangnya dan keluar mencari Fathur.
"Selamat pagi"
Sapa Fathur, yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Mandi dulu ya, baru sarapan"
Ucap Fathur sambil tersenyum kepada Rara. Rara membalas senyuman Fathur lalu ia pun beranjak ke kamar mandi.
Setelah rapih, Rara menemui Fathur yang sudah menunggunya di ruang makan. Lalu mereka pun sarapan bersama.
Rara menatap Fathur dengan wajah yang memerah.
"Kenapa?"
Tanya Fathur kikuk.
"Hmmmm... semalam.. itu..."
"Itu apa?
Tanya Fathur tak sabar.
"Kamu.. Hmmm... itu yang pertama?"
Tanya Rara sambil tertunduk malu. Wajah Fathur pun memerah saat mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Selama ini aku gak pernah pacaran atau jatuh cinta dengan siapapun kecuali kamu, Jadi itu pengalaman pertama"
Jawab Fathur sambil menundukkan pandangannya.
"Oh..."
Sahut Rara lalu menyeruput tehnya.
"Memang kenapa?"
Tanya Fathur malu-malu.
"Enggak kenapa-kenapa, sama kalau begitu"
Sahut Rara sambil tersenyum kecil.
Fathur pun ikut tersenyum, lama-lama mereka pun tertawa bersama.
"Amatiran ya.."
Ucap Fathur sambil tertawa-tawa terbahak-bahak.
"Marriage is more than finding the right person. It is being the right person.” — Unknown
(Pernikahan lebih dari sekadar menemukan orang yang tepat. Hal itu tentang menjadi orang yang tepat.)