H -

H -
ch 16. H-34



"Sayang bangun, ada Fathur tuh di depan"


Rara tersentak dari tidur nya saat mendengar nama Fathur disebut oleh Ibunya.


"Hah...? dimana Ma?"


"Itu di depan, buruan mandi"


Rara sekejap duduk terdiam di atas ranjang nya. Nyawanya belum seratus persen kembali dari alam mimpi. Ia masih merasa dirinya bermimpi saat mendengar nama lelaki yang telah ia curi surat-surat rahasianya itu.


Rara menggelengkan kepalanya. Lalu turun dari ranjang dan langsung menuju ke lantai bawah untuk melihat Fathur.


"Fa.. Fathur?"


Sapa Rara dengan wajah tak percaya.


Lelaki itu hanya tersenyum melihat wajah Rara yang baru saja bangun tidur.


"Kok kesini? pagi-pagi?" Tanya Rara.


"Katanya mau jadi detektif"


Fathur menahan tawanya saat melihat wajah bingung Rara.


"Oh iya.. hmmm gue mandi dulu ya"


Rara tersipu malu kepada Fathur. Lelaki itu hanya mengangguk sambil tersenyum mempesona.


Baru kali ini Rara memperhatikan Fathur. Senyum Fathur memang sangat mempesona, wajah nya sangat jantan dengan tulang rahang yang sangat indah. Hidung nya mancung dan matanya terlihat tenang saat menatap lawan bicaranya. Tubuh nya yang atletis terbalut kemeja flanel dan kaos di dalam nya, di lengkapi celana jeans yang semakin membuat penampilan lelaki itu begitu jantan.


Rara tersadar saat bahwa ia mulai memperhatikan Fathur, ia pun memalingkan wajah nya dan pergi ke kamar mandi.


Saat Rara sudah siap mandi dan berdandan, ia turun untuk menemui Fathur. Rara melihat Fathur duduk di meja makan dengan Ibunya. Terlihat Fathur dan ibunya berbincang dengan sangat akrab sambil sesekali tertawa bersama.


Fathur adalah lelaki yang sangat ramah, santun dan mau menemani orang tua berbincang-bincang. Sejak ia bersahabat dengan Fathur, Ibunya pun mulai mengenal Fathur dengan baik.


Pernah sekali Ibunya bertanya apakah ia mempunyai hubungan dengan Fathur atau tidak, karena Ibunya Rara sangat memperhatikan gelagat lelaki itu yang lebih dari sekedar teman saat memperlakukan Rara.


"Ayo sarapan dulu"


Rara mengangguk lalu duduk di samping Ibunya. Sesekali ia melirik Fathur yang terlihat sangat senang menyambut nasi goreng yang di sendokan oleh Ibunya Rara.


Lelaki itu menyantap dengan lahap nasi goreng masakan Ibunya Rara. Sesekali ia melontarkan pujian-pujian yang membuat Ibunya Rara tersipu malu. Rara tersenyum tipis saat melihat lelaki itu memuji-muji Ibunya.


"Padahal kalian ini dari dulu kenal nya ya, Mama kira kalian akan berjodoh, eh ternyata jodoh nya Rara sama yang lain. Kalau kamu Fathur, sudah ada rencana menikah?"


Fathur dan Rara hampir saja tersedak saat Ibunya membicarakan dirinya dan Fathur.


"Oh.. saya sudah ada rencana menikah Tante"


Rara dan Ibunya menatap Fathur dengan tak percaya.


"Sama siapa?"


Tanya Rara penasaran.


"Belum tau sama siapa, cuma udah ada rencana menikah"


Ucap Fathur dengan wajah konyolnya.


"Ealahhhhh...tante kira sudah ada calon"


Ibunya Rara pun tertawa terbahak-bahak.


"Belum tante, tetapi bila ada yang mau saya siap"


Ucap Fathur sambil tersenyum melirik Rara. Entah mengapa Rara merasa pipinya mulai memerah saat Fathur melirik dirinya.


Setelah sarapan, Fathur dan Rara bergegas untuk berangkat menjalankan misinya.


"Hati-hati mengemudinya ya nak Fathur"


Pesan ibu Rara kepada Fathur saat melepas mereka pergi di halaman rumah Rara.


"Siap tante...selalu itu"


Sahut Fathur dengan santai. Ibunya Rara hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua.


"Mau kemana?"


Tanya Fathur saat mengemudikan mobilnya menuju jalan utama keluar dari perumahan rumah Rara.


"Ke boutique dulu kali ya, ada yang mau aku ambil"


Ucap Rara tanpa berani melihat wajah Fathur.


"Wokeeeee"


Sahut lelaki itu, lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di dalam ruangan yang lumayan luas itu, Rara mengambil laptop nya yang berada di atas meja. Lalu memasukan nya kedalam tas. Ada beberapa gambar contoh gaun yang harus ia selesaikan segera. Jadi, Rara membawa laptop nya yang kemarin tidak sempat ia bawa pulang.


Fathur terpana melihat kebaya dan gaun pengantin yang melekat di patung manekin di samping meja kerja Rara.


"Ini pesanan orang? Cakep banget ya..!"


Ucap Fathur menatap kebaya dan gaun itu, terpesona. Sejenak Rara terdiam lalu mencoba tersenyum.


"Ini pesanan orang?"


Tanya Fathur sekali lagi, sambil menunjuk gaun dan kebaya rancangan Rara itu.


"Itu punya gue Fat"


Rara menatap Fathur dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


Fathur pun terdiam merasa bersalah karena pertanyaan nya.


"Belum pernah gue coba juga sih. Tetapi ya sudahlah, nanti gue jual aja itu semua"


Ucap Rara dengan wajah pasrah nya.


"Jangan..!"


"Kenapa jangan?"


Tanya Rara, menatap lelaki itu dengan seksama.


"Ya jangan saja, ini kan rancangan lu sendiri untuk diri lu sendiri, ya simpan saja. Mana tau lu nikah nanti dengan seseorang yang benar-benar serius sama lu, lu bisa pakai gaun ini. Belum nyobain kan..? gak kepengen nyobain?"


Rara terdiam cukup lama saat mendengar ucapan-ucapan Fathur.


"Ra... boleh gak gue minta sesuatu?"


Ucap Fathur sambil menatap Rara dengan seksama.


"Apa?"


Tanya Rara, sambil mengerutkan keningnya.


"Lu mau kan cobain gaun nya, gue kepengen melihat lu pake gaun ini"


Pinta Fathur dengan sungguh-sungguh.


Rara pun menatap wajah lelaki itu dengan canggung.


"Hmmm.. harus nya sih calon suami yang lihat, ini malah elu"


Ucap Rara ketus.


"Ya tidak apa-apa kan? cobain ya...ya... ya.. please..... anggap aja gue calon suami lu"


Rara terdiam mendengar ucapan Fathur. Lelaki itu terlihat sangat excited melihat gaun pengantin itu.


"Hmmm... baik lah"


Ucap Rara pasrah, lalu Rara meminta asistennya untuk membantu dirinya menggunakan gaun pengantin itu di kamar ganti. Sedangkan Fathur duduk di sofa tepat di depan ruang ganti yang hanya di tutupi oleh gordin tebal.


Fathur menunggu Rara dengan tidak sabar. Sesekali ia menggeser duduknya dengan gelisah. Seakan-akan dirinya sedang menunggu calon istrinya yang sedang mencoba gaun pernikahan mereka.


Setelah beberapa menit kemudian, gordin penyekat di buka oleh asisten Rara. Di atas panggung kecil yang hanya setinggi tiga puluh senti, kini berdirilah gadis cantik bak bidadari yang menggunakan gaun pengantin rancangan dirinya sendiri.


Fathur terpana melihat Rara menggunakan gaun tersebut. Ia tidak bisa berkata-kata, terlebih saat Rara tersenyum kepadanya memamerkan deretan giginya yang putih dan bibir nya yang merekah indah seperti kelopak bunga mawar merah.


Fathur hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, asisten Rara dengan pengertian nya bergegas meninggalkan mereka berdua di sana setelah Rara mengucapkan "terimakasih" kepadanya.


Rara tersenyum canggung kepada Fathur. Lelaki itu lalu berdiri dari duduk nya dan dengan perlahan menghampiri Rara tanpa sedetik pun ia memalingkan pandangannya.


Rara semakin grogi saat Fathur semakin mendekati dirinya. Ada perasaan aneh yang bergetar jauh di dalam lubuk hatinya.


Fathur menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Rara. Lelaki itu terus memandang Rara dengan tatapan nya yang kagum.


"Lu cantik"


Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Fathur. Rara semakin grogi saat lelaki itu mengatakan pendapat nya tentang Rara.


"Te..te.. Terimakasih"


Ucap Rara dengan terbata.


Fathur menggenggam tangan Rara, ia terus memandangi gadis impian nya itu.


Rara pun membalas tatapan Fathur dengan tatapan yang sangat susah di artikan oleh Fathur.


Dengan perlahan Fathur mendekatkan bibir nya ke bibir Rara. Rara seperti tersihir oleh lelaki itu. Kali ini sosok Fathur, sahabat nya yang cuek dan konyol berubah menjadi sosok lelaki dewasa yang sangat tampan dan gentle.


Tak sadar Rara menyambut bibir hangat lelaki itu. Untuk persekian detik mereka berciuman dengan lembut. Rara bisa merasakan ciuman itu penuh dengan cinta dari Fathur dan ia pun menikmatinya dengan memejamkan mata.