H -

H -
ch 29. H-30



Pagi-pagi sekali Alin sudah berada di apartemen Andreas. Gadis itu memencet tombol bell di samping pintu Andreas berkali-kali.


Andreas yang baru saja selesai mengenakan bajunya untuk berangkat bekerja, langsung mengecek siapa yang sudah mengganggu pagi nya.


Ia mengintip dari lubang intip di daun pintunya. Ia melihat Alin berdiri dengan wajah yang kesal. Perlahan ia membuka pintu lalu memandang gadis di depan nya dengan bingung.


"Beb.. tumben pagi-pagi kesini"


Sapanya sambil membalikkan badan nya tanpa mempersilahkan Alin untuk masuk.


"Aku dapat kabar kalau kamu jalan sama Naya..! Apa betul itu semua?"


Tanpa basa-basi Alin langsung mengutarakan maksud kedatangan dirinya ke apartemen Andreas.


Lelaki itu membalikan badan nya dan menatap mata Alin yang terlihat sangat marah.


"Kata siapa?"


Tanya Andreas sambil memakai kaos kakinya.


"Tak perlu kamu tahu aku tahu dari mana, kamu tinggal jawab dengan jujur..! Ada hubungan apa kamu dengan Naya?"


Tanya Alin dengan wajah yang bengis.


"Hubungan apa? gak ada hubungan apa-apa"


Jawab Andreas dengan acuh.


"Look at me..!"


Bentak Alin sambil meraih kedua bahu Andreas dengan kasar agar Andreas tidak menghindari tatapan nya.


"Mau mu apa?"


Tanya Andreas dengan angkuh.


"Mau ku? aku mau kamu menjawab dengan jujur beb... Apa kamu punya hubungan dengan Naya!"


Seru Alin dengan suara yang terdengar bergetar.


Andreas menghela napas nya dan memutar kedua bola matanya ke atas.


"Hhhhhhh... beb.. kalau kamu datang kesini cuma untuk menanyakan tentang itu, jawaban nya enggak. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Naya"


Andreas melepaskan kedua tangan Alin dari bahunya. Lalu ia duduk untuk mengenakan sepatu kulit nya yang baru saja ia semir.


"Kamu tidak berbohong kan? kamu tidak ada hubungan dengan perempuan s*al*n itu kan?"


Tanya Alin lagi. Andreas hanya dapat menatap nya dengan tatapan dingin.


"Aku mau kerja, kamu lebih baik pulang, ngerusak mood saja..!"


Andreas yang sudah rapi langsung membawa tas dan kunci mobilnya.


"Aku belum selesai..!"


Teriak Alin dengan kesal.


"Terserah"


Ucap Andreas lalu meninggalkan Alin sendiri di apartemen nya.


Lelaki itu berjalan dengan santai menuju lift. Alin menutup pintu apartemen Andreas, lalu menyusul lelaki itu dengan cepat. Tetapi pintu lift sudah tertutup saat ia tiba di depan lift. Sedangkan Andreas yang sudah berada di dalam lift mengumpat kesal terhadap sikap Alin di pagi itu.


Mendapatkan perlakuan seperti itu Alin menjadi g*la. Ia ingin menyelidiki Andreas dan Naya.


Ia tidak terima bila dirinya di khianati oleh Andreas dan Naya.


"Ini tidak adil bagiku..!"


Gumam nya saat ia menuju ke cafe nya.


Alin membanting pintu mobilnya saat ia baru saja turun dari mobilnya di parkiran cafe.


Dengan kesal ia melangkahkan kakinya menuju pintu cafe, lalu membuka pintu cafe itu dengan kunci yang sudah ia siapkan di tangan nya.


Para pegawai Alin belum datang. Karena cafe milik nya baru akan dibuka pukul sepuluh pagi.


"S*al*n..!"


Umpat nya.


Sosok Alin yang lembut dan pendiam tidak terlihat lagi saat itu. Ia benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Alin mencari ponselnya dari dalam tas, setelah ia menemukan ponselnya ia langsung menghubungi seseorang yang namanya tertera di layar ponsel milik nya.


"Halo, gue butuh bantuan! Nanti uang nya gue transfer. Nanti gue kasih foto target lewat pesan"


Ucap nya dengan kesal. Lalu ia mengangguk angguk mendengarkan ucapan dari seseorang yang ia hubungi. Tidak lama kemudian ia menutup panggilan tersebut lalu mengirim gambar Andreas dan Naya kepada orang yang tadi ia hubungi.


Kini ia mulai tenang, lalu mengambil beberapa butir obat resep dari dokter yang sudah sejak lama ia konsumsi untuk menenangkan dirinya.


.......


Malam itu, Andreas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sesekali melirik ke spion mobilnya. Entah mengapa ia merasa di ikuti oleh seseorang.


Tetapi, ia mencoba untuk tidak peduli karena ia merasa tidak mempunyai musuh.


Andreas menghentikan mobilnya di tepi jalan, tepat di depan wanita cantik yang sudah menunggunya dari tadi.


Wanita itu tersenyum kepada Andreas.


"Lama banget sih?"


Gadis itu merajuk kepada Andreas.


"Maaf ya, ada urusan tadi"


Ucap nya kepada gadis itu.


Gadis itu adalah Bella, sekretaris nya.


Bella langsung bergelayutan manja di lengan Andreas yang akan bersiap untuk mengendarai mobilnya.


"Ada yang lihat kamu disini gak?"


Tanya Andreas.


"Gak ada tuh, aku sengaja jauh-jauh dari kantor biar gak ada yang tahu hubungan kita hubby"


Jawab gadis cantik itu sambil tersenyum manja.


"Good girl"


Ucap Andreas sambil mencium mesra kekasih gelap nya yang entah wanita yang ke berapa bagi nya. Lalu Andreas menjalankan mobilnya kembali.


Mobil di belakang Andreas pun kembali mengikutinya. Karena firasat nya yang tidak enak, Andreas memacu kendaraan nya dengan cepat. Hingga mobil yang mengikutinya tertinggal jauh dan tertahan oleh lampu merah.


Andreas tertawa kecil saat dirinya lolos dari mobil yang ia curigai sedang membututinya.


Andreas membawa gadis itu ke hotel bintang lima. Ia menghabiskan malam bersama Bella sekretaris pribadinya.


Tanpa merasa bersalah, dan tanpa merasa berdosa kepada Rara dan hati wanita-wanita yang ia khianati.


"G*bl*kkkkkk..!"


Maki Alin saat orang suruhan nya mengatakan bahwa dirinya kehilangan jejak Andreas. Tetapi ia masih bisa memaafkan karena orang suruhannya sukses mendapati foto Andreas dengan wanita lain selain Naya.


Ia menatap dendam ke layar ponselnya yang terdapat foto-foto Andreas saat menjemput wanita yang ia tidak kenali itu.


Alin kembali meminum obat-obatan yang diresepkan untuk nya. Lalu ia kini kembali tenang sambil menatap foto-foto Andreas dan gadis itu.


Alin menderita gangguan bipolar saat orang tuanya bercerai. Tentu saja, teman-teman nya tidak mengetahui apa yang di derita Alin. Obat-obatan itu yang membuat Alin menjadi terlihat normal dan tenang saat bersama teman-teman nya.


Penyakit nya lebih parah saat Ibunya meninggal dunia karena tekanan batin saat Ayah nya meninggal kan Ibunya demi wanita lain. Hal itu membuat nya menjadi dendam melihat kebahagiaan orang lain.


Alin tidak ingin orang-orang sekitar nya bahagia. Ia akan sekuat tenaga menghancurkan kebahagiaan orang lain, termasuk Rara.


Ia memang mencintai Andreas saat pandangan pertama di cafe milik nya.


Alin berharap Andreas mau berkenalan dengan nya. Tetapi, lelaki itu sangat acuh.


Hingga akhirnya ia mengetahui Andreas mengajak Rara berkenalan. Hal itu membuat nya geram dan merasa tersaingi.


Terlebih saat ia tahu Andreas dan Rara mempunyai hubungan spesial. Hatinya semakin sakit, hingga ia berusaha semaksimal mungkin untuk menggoda Andreas agar lelaki itu jatuh ke tangan nya. Tanpa ia sadari, teman nya yang lain, Naya juga mencintai lelaki yang sama.