
Pagi ini Andreas sudah terlihat rapi dengan setelan tuxedo yang ia pesan dari perancangan ternama. Ia terlihat sangat tampan dengan setelan tersebut. Seorang fotografer yang ia sewa mengambil setiap momen saat dirinya bersiap-siap untuk menuju lokasi pernikahannya. Ia juga mengambil momen saat dirinya bersama Mami dan Daddy nya. Andreas melihat kearah cermin, lalu ia tersenyum melihat dirinya sendiri.
"Akhirnya... Rara menjadi milikku seutuhnya"
Gumamnya.
Maminya Andreas memeluk erat anaknya yang akan melepas masa lajang.
"Semoga kamu bahagia nak"
Ujar Maminya Andreas. Ia tersenyum kepada Mami dan Daddy nya yang terlihat sudah siap untuk mengantarnya.
Sudah dua hari Andreas menginap di rumah orangtuanya. Beberapa keluarga besarnya juga sudah tampak siap untuk mengiringi lelaki itu untuk melepas masa lajangnya. Andreas naik kedalam mobil mewah milik orangtuanya, lalu rombongan itu meninggalkan kediaman orangtua Andreas menuju lokasi pernikahan.
*
Rara terlihat cantik dengan riasan di wajahnya. Ia terlihat sangat grogi saat melihat dirinya di cermin. Setelah di rias, Rara mengganti piyamanya dengan kebaya pernikahan yang ia rancang sendiri untuk akad nikahnya.
Rara keluar dari kamarnya setelah ia sudah siap. Keluarga, teman dan Sahabatnya terlihat terkagum-kagum melihat Rara yang sangat cantik di hari terakhir dirinya single.
Rara melirik Naya, Nia dan Farah. terlihat ketiga sahabatnya itu memberikan ia semangat. Rara tersenyum lalu mengangguk dengan pasti. Seluruh keluarga Rara sudah siap, mereka pun bergerak menuju lokasi pernikahan Rara.
*
Fathur menepuk pipinya beberapa kali saat ia bercermin. Ia tidak pernah membayangkan dialah orang yang akan menikahi gadis impiannya itu. Ia kembali menepuk pipinya beberapa kali.
"Ternyata bukan mimpi"
Gumam Fathur, lalu ia tersenyum malu-malu melihat bayangan dirinya sendiri di depan cermin. Keluarganya pun sudah berkumpul untuk mengiringi Fathur melepas masa lajangnya.
Flashback on
"Mengapa begitu mendadak?"
Tanya orangtua Fathur kepadanya.
"Iya, soalnya kita sudah yakin ingin menikah. Bisakah ibu dan bapak melamar Rara secara resmi untukku?"
Kedua orangtua Fathur saling berpandangan.
Secara terbuka Fathur menceritakan bila Rara telah gagal dengan lelaki sebelumnya. Fathur secara gamblang menceritakan semua kejadian demi kejadian yang Rara lalui hingga akhirnya Rara tersadar bahwa yang selama ini ia cintai adalah Fathur.
Orangtua Fathur awalnya merasa anak mereka hanya pelarian saja. Tetapi setelah Fathur memberi pengertian, akhirnya orangtuanya memahami bahwa Fathur dan Rara memang sudah berjodoh dan memang sudah rencana Tuhan lah yang membuat hati mereka bersatu.
"Baiklah, bila memang dirimu sudah yakin, Ibu dan Bapak percaya kalau pilihanmu adalah yang terbaik. Lagi pula Ibu dan Bapak sudah kenal baik dengan calonmu"
Fatur tersenyum sumringah.
Esok harinya Fathur dan keluarganya mendatangi kediaman orangtua Rara. Mereka di sambut dengan baik oleh keluarga Rara. Secara resmi Fathur melamar Rara di depan kedua orangtua mereka.
flashback off
Ibu Fathur merapikan kemeja putranya lalu tersenyum menatap Fathur.
"Kamu yakin?"
Tanyanya sekali lagi. Fathur pun mengangguk dengan penuh keyakinan.
Ibunya hanya mengguk lalu memeluk anaknya itu.
Mereka sudah siap, dengan mantap rombongan itu menuju ke lokasi pernikahan.
*
Andreas dan keluarganya sudah sampai di lokasi yang sudah di sepakati oleh kedua keluarga. Sejak saat mereka masuk ke lokasi hotel tersebut mereka mulai merasa ada yang aneh dengan suasana disana. Tetapi mereka tetap masuk dan menuju Convention Hall hotel tersebut.
Andreas dan keluarganya terperangah saat melihat lokasi yang tidak ada siapa-siapa. Tidak terlihat EO atau tanda-tanda akan di adakan sebuah acara di sana.
Andreas langsung menghampiri seorang petugas hotel tersebut dan menanyakan tentang Convention Hall yang terlihat sepi.
"Permisi mbak"
Dengan napas sesak Andreas bertanya dengan seorang resepsionis di lobby
"Ya ada yang bisa saya bantu?"
Ucap resepsionis itu dengan ramah.
"Di sini bukannya ada pernikahan? kenapa sepi ya? apa EO nya tidak datang atau bagaimana mbak..!"
Andreas terlihat sangat panik sekali.
Gadis resepsionis langsung melihat data di monitor kamputernya dengan teliti.
Andreas mengelap keringat yang mulai berjatuhan di dahinya.
"Bagaimana mbak?"
Desak Andreas dengan tak sabar.
"Sebentar ya pak, kami masih melakukan pengecekan"
Sahut gadis itu sambil melihat kamputernya setelah itu ia menelpon menager hotel tersebut.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya gadis itu menutup teleponnya.
"Maaf pak, bukannya booking Convention Hall nya sudah bapak batalkan ya sebelumnya?"
"APA..!!! SIAPA YANG MEMBATALKANNYA...!!!"
Andreas langsung menatap kedua orangtua dan keluarganya yang ikut terlihat panik.
"Yang membatalkan bapak Andreas sendiri pak, dan kami sudah mengembalikan dana yang sudah masuk setelah kami potong biaya pembatalannya pak"
Terang gadis resepsionis itu, Andreas langsung memijat dahinya yang mendadak terasa sangat pusing.
"Bisa di cek dananya pengembaliannya di transfer ke rekening siapa!"
Suara Andreas terdengar bergetar, emosi kini memenuhi otaknya.
"Sebentar ya pak"
"Jangan lama-lama!!! kalian tidak profesional kalau begini..!!!! Panggil manager mu sinii...!!!!!"
Andreas menggebrak meja resepsionis dengan emosi yang tak tertahankan.
Gadis itu terlihat terkejut dan mulai merasa ketakutan, lalu ia kembali menelpon managernya untuk menemui Andreas.
Sambil menunggu, Andreas mencoba menghubungi Rara berkali-kali. tetapi Rara tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Andreas tidak putus asa, ia terus menerus menghubungi Rara entah berapa puluh kali.
Sepuluh menit kemudian, manager hotel datang menghampiri Andreas dan keluarganya.
Dengan emosi Andreas langsung menarik kerah kemeja manager tersebut.
"Katakan kepada saya siapa yang membatalkan sewa..!!!!!"
Teriak Andreas di depan wajah manager itu.
"Pak, Bapak bisa tenang dulu? biar saya jelaskan"
Ujar manager muda itu. Andreas langsung melepaskan kerah kemeja manager hotel tersebut saat dirinya di tenangkan oleh kedua orangtuanya.
"Lebih baik kita duduk di sana sambil membicarakan hal ini Pak"
Manager itu merapikan kerah kemejanya dengan kesal lalu melangkah menuju sofa di lobby hotel tersebut. Andreas dan keluarganya pun mengikuti langkah manager tersebut lalu ikut duduk di sofa tunggu.
"Jadi begini Pak,Bu. Booking sudah dibatalkan dua minggu sebelum hari H. Yang membatalkan adalah bapak Andreas sendiri"
Terang manager hotel itu.
"SAYA TIDAK PERNAH MEMBATALKANNYA..!!! SAYA INGIN MENIKAH, TIDAK MUNGKIN SAYA MEMBATALKAN PERNIKAHAN SAYA SENDIRI..!!!!"
Dengan penuh emosi, Andreas membentak manager hotel tersebut.
"Tetapi Bapak sendiri yang menghubungi kami pak"
Deggg...!!!
Orangtua Andreas menatap anaknya dengan tak percaya.
"Saya tidak pernah membatalkannya.. kamu jangan mengada-ada..!!! kalian mentransfer dana ke rekening siapa..!!!!"
Dengan kesal Andreas melepas Jas dan membuka kancing kemejanya.
"Dana di transfer ke rekening Ibu Rara calon istri anda"
DUARRRRRR.....!!!!!!!!
Bagaikan tersambar petir Andreas menatap manager itu dengan wajah tak percaya. Tanpa basa-basi, Andreas serta keluarganya, langsung meninggalkan hotel tersebut dan pergi menuju rumah orangtua Rara.