
Pagi ini Fathur sudah bergegas untuk berangkat ke rumah Nia.
"Beughhh.., sampai kapan jadi detektif begini"
Gumam nya sambil menyalakan mesin mobilnya. Sebelum ia menjalankan mobilnya ia mengecek ponselnya.
Ia terkejut saat melihat Rara membalas pesan darinya.
"Hai.. aku ada di villa mama. Kamu tidak usah khawatir ya"
Bunyi pesan dari Rara, dengan cepat Fathur menghubungi Nia untuk memberitahukan kepada gadis itu bahwa ia akan menyusul Rara ke villa milik Mamanya Rara.
"Halo Nia, gue gak jadi ke rumah lu ya. Gue mau nyusul Rara di puncak"
"Haizzzzz.... terus? gue udah izin nih gak masuk kerja. Kelakuan lu itu ya Fathur.. gemes gue jadi nya..!'
Nia mengomel kesal karena Fathur tidak jadi menjemput nya.
"Ya sudah, bagi tugas yak.. yak... gue samperin Rara, untuk menghibur nya. Dan elu mengawasi si b*j*ng*n Andreas, gimana?"
"Alah... ya udah deh. Giliran Rara aja lu semangat banget. Jangan-jangan lu suka lagi sama Rara ya? Ngaku lu..!"
Ucapan Nia membuat jantung Fathur berdetak kencang.
"Lo ngomong apaan sih Nia.. udah ah.. gue otw puncak dulu..!"
Fathur langsung mematikan mengakhiri panggilan telpon nya.
"Ya elah.. main matiin aja ni orang ya"
Gumam Nia dengan kesal.
"Makkkkkkkk... Nia berangkat dulu ya..!"
"Iyaaaaaaakkkkk... hati-hati yaaaaa.."
Sahut emak nya Nia dari dapur.
Nia langsung menuju mobilnya dan berangkat menuju apartemen Andreas.
Di tengah jalan ia melihat mobil Alin beberapa meter di depan nya. Ia melihat Alin begitu tergesa-gesa.
Jiwa keingintahuan Nia langsung bergejolak, ia lupa tujuan awalnya ingin ke apartemen Andreas. Nia langsung mengikuti mobil Alin dengan mengimbangi kecepatan laju mobil Alin dari belakang.
Tanpa di sadari oleh Nia, ternyata Alin masuk ke dalam kawasan Apartemen mewah milik Andreas.
Nia menghentikan laju mobil nya di bahu jalan tidak jauh dari pintu keluar dan masuk parkiran apartemen itu.
Nia mengernyitkan dahinya. Hatinya bertanya-tanya mengapa Alin sepagi ini ke apartemen itu.
Apakah Alin mempunyai kerabat atau teman tinggal di apartemen mewah itu.
Dengan penasaran, Nia pun bergegas menghubungi Alin.
"Halo Al, lu lagi dimana?"
Tanya Nia sambil memperhatikan gedung apartemen itu.
"Gue lagi di jalan Ni.. ada apa ya?"
"Lu mau kemana pagi-pagi gini Al?"
Tanya Nia, hanya ingin mengetahui kejujuran Alin.
"Mau kerumah Tante gue di Tebet, ini udah mau sampe. Gue matiin dulu ya, nanti gue kabarin kalau udah di cafe"
"Oh, Ok"
Nia mengakhiri panggilan nya.
Jelas-jelas Nia melihat Alin masuk kedalam gedung apartemen Andreas, mengapa Alin berbohong mengatakan bahwa dirinya berada di daerah Tebet. Padahal saat ini Alin berada di daerah yang berbeda.
Nia menelan saliva nya sendiri, dirinya semakin tidak mengerti dengan teka teki ini.
"Apa selingkuhan Andreas ternyata Alin?"
Nia menggigit sudut bibir nya dengan pelan. Dirinya terus berpikir sampai ia sendiri tidak mengerti dengan semua ini.
Akhir nya Nia bertekad akan terus mengawasi apartemen itu. Ia ingin segera mendapatkan jawaban dari rasa penasaran nya.
*
Fathur menghentikan kendaraan nya di halaman villa milik keluarga Rara. Ia melihat villa itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia menginap di villa itu saat sehari setelah dirinya dan teman-teman nya di wisuda.
Fathur begitu hafal jalan ke villa itu, dahulu ia cukup sering ke villa itu bersama ke lima sahabat nya. villa itu cukup besar, mempunyai sepuluh kamar di dalam bangunan itu. Halaman nya juga luas dan asri. Banyak pepohonan dan tanaman bunga warna-warni di depan villa itu. Serta bonsai-bonsai koleksi Mamanya Rara.
Villa itu di urus oleh keluarga Mang Ujang yang sudah puluhan tahun menempati rumah bagian belakang villa itu.
"Ada Rara nya mang?"
Tanya Fathur kepada Mang Ujang yang baru saja menutup gerbang villa tersebut.
"Ada den di atas, gak tau tuh non Rara dari kemaren diemmm aja. Mamang sampe bingung"
Ucap Mang Ujang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah, makasih ya Mang"
Ucap Fathur sambil tersenyum kepada Mang Ujang. Sedangkan Mang Ujang hanya mengangguk hormat.
Fathur membuka pintu villa besar itu. Lalu langsung menuju lantai atas untuk menemui Rara.
Satu persatu kamar, Fathur datangi untuk mengecek keberadaan Rara. Tetapi ia tidak menemukan Rara disana.
Gadis itu terlihat cantik dengan dress putih nya, dan segelas teh hangat di tangan nya.
"Ra.."
Sapa Fathur dengan lembut.
Rara menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya. Ia mengangkat kedua alis nya saat melihat Fathur di depan nya.
"Fathur?"
Fathur tersenyum saat gadis itu memanggil namanya.
"Ngapain kesini?"
Rara masih tak percaya Fathur menyusul dirinya ke villa.
"Gak ada, cuma ingin ketemu kamu aja"
Ucap Fathur lalu duduk di samping Rara.
"Kapan mau pulang?"
Sambung Fathur lagi.
Rara tersenyum tipis, lalu menyeruput teh nya yang sudah hampir dingin.
"Kamu mau minum apa?"
Tanya Rara, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nanti saja.. sekarang jawab dulu pertanyaan gue ya"
Fathur tersenyum melihat Rara yang menjadi salah tingkah karena Fathur tidak ingin pembicaraan nya di alihkan.
"Gak tahu kapan, liat nanti aja"
Ucap Rara sambil meletakan gelas teh nya ke atas meja yang memisahkan diri nya dan Fathur.
"Hmmm..."
Fathur hanya mengangguk-angguk pelan.
"Gimana kabar kamu?"
Tanya Rara kepada Fathur.
"Kamu?"
Fathur menatap Rara dengan wajah bingung dan penuh tanda tanya.
"Iya kamu"
Jawab Rara yang ikut memandang lelaki itu dengan bingung.
Fathur tertawa geli, lalu menatap gadis itu yang semakin bingung melihat nya.
"Kenapa sih?"
Tanya Rara penasaran.
"Kamu?"
Tanya Fathur lagi.
"Iya kamu.. kamu Fathur.."
Jawab Rara sambil menunjuk Fathur.
Fathur menjadi senyum-senyum salah tingkah.
"Kenapa sih..!"
Rara merasa aneh melihat gelagat Fathur yang membuat nya kesal.
"Enggak, kok tumben gitu"
Jawab Fathur masih dengan tersenyum-senyum.
"Tumben apa nya?"
Rara semakin sebal melihat Fathur yang tidak bisa berhenti tersenyum.
"Kok tumben panggil gue dengan sebutan kamu gitu?"
Rara terdiam saat mendengar alasan Fathur tertawa.
Rara menjadi salah tingkah, dirinya mulai gelisah saat wajah nya terus menerus di pandang oleh Fathur.
"Hmm.. gue ambilkan minum dulu ya"
Gadis itu pun beranjak dari duduk nya. saat ia lewat di depan Fathur, lelaki itu langsung menahan tangan Rara hingga membuat Rara menghentikan langkahnya.
Jantung Rara berdegup kencang, entah mengapa Rara merasa pandangan nya tentang Fathur kini mulai berbeda.
Ia tidak lagi melihat Fathur sebagai sosok lelaki konyol dan cuek seperti Fathur yang dulu. Tetapi kini, Fathur menjelma menjadi lelaki dewasa yang cukup manis. Hingga dirinya tidak bisa mengontrol detak jantung nya saat berada di samping lelaki itu.
"Please lepasin gue, jantung gue mau copot ini"
Gumam Rara di dalam hati.