H -

H -
ch 28. Adu Domba



Andreas yang sedang menyetir, melirik Rara yang sedang asik dengan ponselnya. Gadis itu tampak cuek sekali dan agak sedikit aneh hari ini.


"Sayang, are you ok?"


Andreas membelai lembut rambut Rara.


Gadis itu menatap Andreas dengan tenang.


"Yes... aku belum pernah merasa sebaik ini di dalam hidup ku"


Ucap nya sambil tersenyum manis. Dengan ragu, Andreas membalas senyuman Rara.


"Oh good"


Ucap nya sambil kembali memperhatikan jalan.


"Jadi kita mau jalan-jalan kemana?"


"Terserah"


Jawab Rara dengan cepat sambil tersenyum kembali.


Andreas hanya mengangkat kedua alis nya mencoba untuk mencari tempat yang cocok untuk gadis seperti Rara.


....


"Si Naya kenapa sih?"


Tanya Nia kepada Alin yang masih duduk di samping nya.


"Kenapa?"


Tanya Alin dengan datar.


"Kayak cemburu gitu gak sih liat Rara sama Andreas?"


Nia melancarkan aksinya.


Alin menatap Nia dengan seksama, kali ini wajah datar nya berubah menjadi antusias mendengarkan ucapan Nia.


"Tau gak lu, gue pernah lihat Naya sama Andreas gitu. Ya ampun., kayak gak wajar gitu sikap nya sama Andreas"


Ucap Nia dengan gaya tukang gosip nya.


"Hah..? Dimana? Serius lu?"


Tanya Alin penuh dengan ke ingin tahuan nya.


"Seriussss...., pertama gue lihat dia sama Andreas tuh lagi makan berdua. Kayak mesra gitu. Ih... aneh kan? Terus yang ke dua...... hmmmmmmm"


"Yang kedua apaaa?"


Tanya Alin tak sabar.


Tiba-tiba ponsel Nia berdering. Nia sengaja membuat alarm agar berdering di waktu yang tepat.


"Mereka ngapainn..! Buruan cerita jangan bikin gue penasaran..!"


"Bentar ya, ada panggilan masuk"


Jawab Nia langsung beranjak dari duduk nya dan pergi ke depan cafe. Nia pura-pura berbicara dengan seseorang. Sedangkan Alin mulai gelisah tak menentu.


Tak lama kemudian, Nia datang lalu berpamitan kepada Alin bahwa dirinya ada urusan mendadak.


"Cerita dulu Nia... gue penasaran!"


Alin mencoba memaksa Nia untuk bercerita kepadanya.


"Duh sorry, kapan-kapan ya. Gue ada urusan nih, gue tinggal dulu ok. Nanti kapan-kapan gue cerita. Lu masa gak tau sih gelagat Naya tuh beda sama Andreas. Harus nya lu tau kalo Naya sama Andreas perlu di CURIGAI"


Nia sengaja memberikan tekanan pada kata "curigai". Karena ia ingin membuat Alin menjadi tidak tenang dan mencurigai Naya dan Andreas.


Alin pun terdiam.


"Ya sudah gue cabut dulu, ada kerjaan"


Nia pergi tanpa memeluk dan mencium kedua pipi sahabat nya itu.


Nia masuk ke dalam mobilnya lalu menghubungi Rara,


"Misi berjalan mulus"


Ucap nya, dan menutup panggilan nya. Lalu Nia menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan cafe Alin.


....


Rara tersenyum setelah menerima telepon dari Nia. Sampai membuat Andreas penasaran karena senyum nya yang misterius.


"Siapa sayang?"


Tanya Andreas sambil membayar semua belanjaan yang di pilih oleh Rara di salah satu gerai parfume di mall.


"Fathur"


Ucap gadis itu dengan cuek.


"Fathur? ngapain dia telepon?"


Cecar Andreas.


"Kan dia sahabat aku, wajar dong telepon aku"


Jawab Rara sambil mengambil salah satu produk yang di dekat meja kasir untuk sekalian di bayar oleh Andreas.


"Kamu gak ada hubungan apa-apa kan dengan Fathur?"


"Loh, kok curiga gitu sih sayang? Jangan curiga gitu deh ah, aku kan gak mungkin khianati kamu. Hanya kamu satu-satunya sayang"


Rara ingat betul saat Andreas mengatakan hal yang sama kepadanya waktu dirinya curiga Andreas berselingkuh. Maka, ia mengatakan hal yang sama juga kepada lelaki itu.


Andreas hanya mengangkat kedua alis nya dan mengangguk-angguk mencoba mempercayai ucapan Rara.


"Sembilan juta tiga ratus ribu pak"


Ucap wanita di balik meja kasir. Lalu Andreas menyerahkan kartu debit nya kepada kasir wanita itu.


Rara tersenyum puas saat menerima kantung belanja dari wanita di balik meja kasir, lalu ia berjalan sambil menggandeng Andreas. Lelaki itu terlihat senang saat Rara tersenyum puas.


Selama ini Rara tidak pernah meminta apa pun dari Andreas, walaupun Rara tahu Andreas akan mampu membelikan apa saja untuk dirinya.


"Terimakasih ya sayang, yuk kita nonton di bioskop. Aku sudah lama tidak pernah nonton di bioskop"


Kata Rara dengan manja.


"Ok sayang ku, apa sih yang enggak untuk kamu"


Sahut Andreas sambil mengecup kening Rara dengan lembut.


Mereka melangkah menuju ke Bioskop di gedung mall tersebut. Tanpa mereka sadari bahwa ada yang memperhatikan mereka dengan tatapan cemburu,


wanita itu adalah Naya.


.....


"Nih, parfume buat elu"


Rara menyerahkan sebotol parfume bermerek dan mahal kepada Nia yang sedang terdampar di atas ranjang kamar Rara.


"Ih... ini parfume limited edition..! buat gue?"


Tanya Nia dengan mata yang berbinar.


"Iya dong, anggap aja itu bayaran dari kerja keras lu"


Ucap Rara sambil tersenyum puas.


"Mahal kan ini..! jutaan gil*"


Nia membuka segel dari dus parfume mahal itu. Lalu menyemprotkan nya ke atas punggung tangan nya.


"Ampunnnn... wanginya... thank you yaaa..! Lu emang baik banget sama gue"


Ucap Nia dengan sumringah.


Rara hanya tersenyum melihat ekpresi sahabatnya itu.


"By the way, minggu depan Farah mau ketemu sama lu, lu udah di hubungin Farah?"


Tanya Nia sambil memasukkan kembali parfumnya kedalam dus.


"Belum, kenapa?"


"Iya dia mau ngomongin masalah bayinya"


Rara tertegun saat mendengar kata Bayi yang di ucapkan Nia.


Ia tiba-tiba merasa bersalah telah memperlakukan Farah seperti terakhir ia bertemu dengan gadis itu.


"Sekarang Farah dimana?"


Tanya Rara penasaran.


"Kurang tau gue, gue nanya gak di jawab sama Farah. Dia kayak nya terpukul banget saat ini. Sambil menunggu hasil test DNA bayinya beberapa hari lagi. Itu menentukan nasib dia deh. Soalnya Boss nya lu tau sendiri pejabat booo..., gimana sama istrinya dan jabatan nya coba. Jadi ya Farah pasrah jadi simpenan mungkin"


Terang Nia.


Rara menghela napas nya dengan berat. Ia khawatir dan juga sangat merasa bersalah dengan gadis itu.


Lalu ia mencoba menghubungi Farah bertujuan untuk meminta maaf kepada gadis itu.


Berkali-kali Rara mencoba menghubungi Farah. Tetapi, Farah tidak mau mengangkat telepon dari Rara.


Tak lama kemudian, pesan dari Farah masuk.


Farah


"Kita jumpa minggu depan, waktu dan tempat menyusul"


Rara tersenyum tipis, lalu ia membalas pesan tersebut,


"Ok"


Dan kembali mengunci layar ponselnya.


.....


Farah sebenarnya tidak marah kepada Rara. Dirinya hanya mencoba menghindari Rara, karena ia takut kata-kata Rara yang sedang cemburu membuat nya sakit hati.


Jadi, Farah hanya ingin bertemu dengan Rara bila hasil test DNA calon bayinya keluar. Agar Rara tidak lagi mengatakan hal-hal yang membuat nya terpancing emosi.


Ia juga ingin membuktikan kepada Rara bahwa dirinya bukan lah penghianat seperti yang Rara katakan kepadanya.


Farah mengusap lembut perut nya yang terlihat masih rata.


"Nak.. bagaimana pun Bunda akan mempertahankan kamu, tidak ada yang boleh merendahkan dan menghina kamu nak"


Ucap nya dengan bercucuran air mata.