H -

H -
ch 8. H-37



Sabtu pagi, Rara sudah bersiap untuk ke apartemen Andreas.


Dirinya ingin sekali menyelidiki tentang Andreas.


Menurut saran Fathur, yang pertama kali diselidiki adalah apartemen Andreas.


Bila ada yang mencurigakan, bisa di ambil untuk di gunakan saat mengintrogasi Andreas. Dan Rara pun menyetujuinya.


Rara sengaja menyiapkan sarapan dari rumah nya untuk alasan dirinya datang ke apartemen Andreas.


Ia juga membawa baju ganti untuk dirinya. Karena ia akan menghabiskan waktu seharian di apartemen Andreas.


Rara memencet bell di samping pintu Andreas. Cukup lama Rara menunggu, tetapi dirinya tidak menyerah, ia tetap berdiri di depan pintu apartemen Andreas.


Rara mencoba menghubungi Andreas, lelaki itu pun langsung mengangkat panggilan dari Rara.


"Ya sayang?"


"Ada dimana?"


"Aku lagi olahraga sayang"


Suara Andreas seperti setengah berbisik dan seperti sedang berada di dalam ruangan.


"Kamu gak bohong kan? aku ada di depan pintu apartemen mu"


Ucap Rara dengan tegas.


"Ngapain bohong.. aku lagi ada di gym. baru saja sampai gym"


Rara pun terdiam.


"Ya sudah kamu tunggu di lobby aja ya. aku pulang sekarang"


"Ok"


Rara kembali menuju lift dan memencet tombol menuju lobby.


.....


Ting tong....!


Bunyi bell membangunkan Andreas dari tidur nya. Ia pun melirik wanita yang sedang menggeliat di sampingnya,


wanita itu pun kembali tertidur pulas.


Andreas langsung beranjak dari ranjang nya, memunguti celananya dari lantai. Lalu mengenakan nya dan langsung beranjak ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang sepagi ini.


Saat dirinya mengintip dari lubang intip yang berada di daun pintunya. Ia pun sangat terkejut, tubuh nya pun gemetar ketakutan. Ia melihat Rara yang sedang berdiri menunggu dirinya untuk membukakan pintu.


Andreas langsung menuju kamar nya, dengan mengendap-endap agar tidak ada suara aktivitas dari dalam apartemen nya. Lalu ia membangun kan gadis yang sedang tidur di atas ranjang nya.


"Beb... bangun.. ada Rara..!"


Mendengar nama Rara disebut, wanita itu langsung tersentak dan duduk di atas ranjang.


"Hah..!"


"Buruan pake baju.. aku cari cara kamu keluar dari sini..!"


Dengan panik Andreas langsung mencari ponselnya. Sedangkan wanita itu langsung mencari bajunya yang tercecer di lantai.


Andreas langsung menyeting mode silent pada ponselnya. Benar saja, tidak lama kemudian Rara menghubunginya. Lalu ia pun segera mengangkat telpon dari Rara. Dengan alasan dirinya sedang di gym, Andreas berhasil meminta Rara untuk menunggunya di lobby.


Setelah situasi aman, Andreas dan wanita itu keluar dari apartemen nya. Lalu mereka berdua menuju ke lift barang dan langsung turun di dekat parkiran. Dengan napas yang tersengal-sengal, wanita itu menuju mobilnya di antar oleh Andreas.


"Maaf ya beb... nanti aku hubungi ya, sekarang kamu pulang dulu ya sayang"


Dengan cepat Andreas mengecup pipi wanita itu lalu meninggalkan wanita itu dengan terburu-buru. Wanita itu masih berdiri mematung di depan mobilnya.


Sedangkan andreas jalan memutari gedung apartemen menuju lobby. Agar ia terkesan memang sedang dari luar.


Andreas melihat Rara yang duduk di lobby apartemen dengan sebuah majalah di tangan nya.


wanita itu sedang asik membaca sebuah artikel dari majalah tersebut.


Andreas mengelap keringat nya, merapikan bajunya lalu ia bergegas menghampiri Rara.


"Hai sayang"


Sapanya mencoba seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya.


"Hai... kok cepat banget?"


Rara tersenyum kepada Andreas.


"Iya aku tidak jadi olahraga demi kamu"


Ucap nya sambil mengecup lembut pipi Rara.


"Hmmpph.. kamu belum mandi ya?"


Rara mengendus aroma tubuh Andreas.


"Iya tadi buru-buru"


Andreas tersenyum dengan ragu.


"Oh begitu, ya sudah...yuk keatas, aku sudah bawakan kamu sarapan loh"


Andreas mengikuti langkah kaki Rara dari belakang.


Setelah sampai di atas, Andreas membuka pintu apartemen nya dan mempersilakan Rara untuk masuk.


Apartemen Andreas begitu berantakan,


beberapa gelas dan piring kotor berserakan di atas meja tamunya.


Andreas sadar bila Rara memperhatikan betapa kacau apartemenya. Ia pun langsung mengangkat piring dan gelas kotor itu ke tempat cuci piring. Dan membereskan semua kekacauan di apartemen nya.


Rara menaruh makanan yang ia bawa untuk Andreas di atas meja dapur.


Lalu ia menuju ruang tamu untuk membantu Andreas membersihkan ruang tamu.


"Maaf ya.. berantakan"


Dengan panik Andreas memunguti semua yang berserakan di lantai,


sedangkan Rara mengambil sapu dan menyapu ruangan tersebut.


"Tidak apa-apa kok"


Rara dengan tulus tersenyum.


"Eh, mau kemana sayang?"


Pertanyaan Andreas membuat Rara menghentikan langkah kakinya yang sedang menuju ke kamar Andreas.


"Mau bersihin kamar kamu juga"


Ucap Rara dengan wajah polos nya.


"Gak usah.. gak apa biar aku aja ya yang bersihkan, kotor sekali soalnya.. kamu tunggu di sini ya, aku saja yang membersihkan nya"


Sikap Andreas yang begitu panik saat Rara ingin masuk ke kamar, membuat Rara menjadi bertanya-tanya.


Selama ini Rara selalu di perbolehkan untuk masuk dan kadang ikut membereskan kamar Andreas, tetapi kali ini Andreas melarang nya.


Rara yang sudah sejak awal curiga dan tujuan nya ke apartemen untuk menyelidiki Andreas, menjadi semakin bertanya-tanya dan semakin curiga kepada Andreas.


"Tidakk apa-apa kok.. biar aku bantu ya.."


Dengan cepat Andreas menghadang Rara, ia menutupi pintu kamar nya dengan badan nya yang tegap.


"Loh.. kenapa sih?"


Rara menatap Andreas dengan tatapan menyelidik.


"Gak ada apa-apa sayang.. cuma banyak baju kotor ku yang berserakan, malu kan sama calon istri"


Kali ini kata-kata Andreas sukses membuat Rara mengurungi niat nya.


"Ya sudah deh"


Ucap gadis manis tersebut.


Lalu mereka sarapan bersama setelah membersihkan semuanya.


Setelah sarapan bersama, Rara membereskan sisa makanan dan piring kotor lalu membawanya ke tempat cuci piring.


Baru saja Rara menaruh piring kotor dan akan mencucinya. Ia melihat gelas kotor yang ada bekas lipstik di pinggir bibir gelas.


Jantung Rara berdegup kencang.


Ia meraih gelas kotor tersebut, lalu memperhatikan polah dan warna lipstik yang menempel disana.


Persis sekali dengan warna lipstik yang pernah ia temukan di lembar tissue bekas yang ia temukan kemarin.


Ingin sekali Rara mengamuk dan langsung mengintrogasi Andreas.


Tetapi Rara mencoba untuk tenang, ia tidak mau gegabah.


Ia ingat kata-kata Fathur, bila menemukan bukti, lebih baik Rara tenang dahulu.


Dengan menyimpan atau memfoto bukti tersebut, sangat berguna untuk di tunjukan bila memang sudah saat nya di buka.


"Mengumpulkan bukti, bukan lah hal bodoh. Berakting lah seakan-akan tidak terjadi apa-apa"


Kata-kata Fathur membuat nya kembali tenang. Rara mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans nya. Lalu ia memfoto bekas lipstik itu dengan cepat.


"Kenapa sayang?"


Tiba-tiba Andreas datang dari belakang nya. Rara buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu ia mencuci gelas yang ada bekas lipstik nya dan membilas nya.


"Tidak apa-apa kok, ini gelas nya bagus"


Dengan gelagapan, Rara menunjuk kan gelas itu kepada Andreas.


"Hah..? gelas begitu bagus?"


Dengan wajah bingung Andreas menatap Rara.


"Iya bagus"


Ucap Rara, lalu ia kembali mencuci piring-piring kotor sambil menahan tangis nya. Sedangkan Andreas yang sedang kebingungan kembali ke ruang tamu, lalu duduk di sofa sambil menonton televisi.