H -

H -
ch 14. Surat untuk Rara



Setelah selesai makan siang, Andreas langsung membayar pesanan nya dan bergegas pergi meninggalkan cafe Alin.


Rara dan Fathur juga bergegas menuju mobil untuk kembali mengikuti Andreas.


Setelah mengikuti beberapa menit, akhir nya Andreas pun kembali ke kantor nya.


Rara dan Fathur hanya bisa saling berpandangan. karena sudah sedikit lelah, mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah Fathur untuk beristirahat sementara sambil menunggu jam pulang kerja. Lalu mereka berencana akan kembali untuk memata-matai Andreas.


Rara merebahkan tubuh nya yang terasa pegal di atas sofa.


Sedangkan Fathur duduk di sofa sambil memejamkan matanya yang terasa mengantuk. Karena pagi-pagi sekali ia sengaja bangun hanya untuk menepati janjinya kepada Rara.


"Ra, sana tidur di kamar gue aja"


Fathur membangunkan Rara yang hampir saja terlelap karena ke capaian.


"Hah.. iya"


Jawab Rara sambil mengusap-usap matanya yang mengantuk.


"Cepetan sana, biar gue tidur disini. jangan lupa lu pasang alarm, biar gak kebablasan tidurnya"


Rara pun bangun dari tidur nya, lalu memandangi mata Fathur yang memerah karena menahan kantuk.


"Ya sudah deh"


Rara pun beranjak dari duduk nya dan menuju ke kamar Fathur.


Tiba-tiba saja Fathur teringat akan sesuatu, yaitu foto Rara di atas meja di samping ranjang milik nya. Lalu ia mencegah Rara yang hampir saja membuka pintu kamarnya.


"Eh sebentar, gue beresin kamar dulu"


Ucap nya, lalu ia pun masuk kedalam kamar tidur nya dan langsung mengunci pintu.


"Hmmmmppffff, hampir saja ketahuan"


Gumam Fathur.


Lalu ia mengambil foto Rara dari atas meja dan menyembunyikan nya di dalam lemari pakaian nya. Lalu dengan tergesa-gesa ia membereskan ranjang nya yang berantakan karena tadi pagi ia tidak sempat merapihkan nya.


Setelah semuanya beres, ia pun keluar dari kamar nya dengan napas yang tersengal-sengal.


"Lu kenapa sih? hmmmmm... jangan-jangan..."


Rara menatap Fathur penuh dengan curiga.


"Jangan-jangan apa?"


Fathur membalas tatapan gadis cantik itu dengan ekpresi wajah datar nya.


"Lu habis ngapain semalam hayooo.. ada barang bukti lu sama cewek lu ya?"


Rara menunjuk wajah Fathur sambil tersenyum jahil.


"Astaghfirullah, memang gue Andreas"


Kata-kata Fathur membuat Rara terdiam dan menunduk sedih.


"Eh.., sorry Ra, gue gak bermaksud...."


"Tidak apa-apa kok"


Ucap Rara, lalu gadis itu pun masuk kedalam kamar Fathur dan mengunci pintunya dari dalam.


Rara menyenderkan tubuh nya di daun pintu kamar Fathur. Lalu menghela napas nya dalam-dalam.


"Memang tunangan gue begitu kok Fat. Gue sudah salah memilih pasangan, dan kini rencana pernikahan gue terancam bubar"


Gumam Rara dengan lirih.


Rara melihat kesekeliling kamar lelaki yang sudah sebelas tahun bersahabat dengan nya. Kamar itu termasuk kamar yang rapih untuk seorang lelaki.


Disamping ranjang terdapat meja nakas, dan di atas meja terlihat dibiarkan kosong begitu saja. Sedangkan di depan ranjang, tepat nya di tembok bagian tengah berdiri sebuah meja dan sebuah cermin yang menempel ditembok.


Diatas meja tertata rapi berbagai keperluan pribadi milik Fathur. Selama Fathur pindah kerumah barunya ini, Rara tidak pernah sekali pun masuk ke kamar Fathur. Ini adalah kali pertama Rara masuk ke kamar lelaki itu.


Rara menghampiri rak buku dan menyentuh buku-buku yang tertata rapi di dalam nya. Tidak ada debu sedikit pun disana.


"Ternyata Fathur itu orangnya bersih banget ya"


Gumam Rara, ia pun tersenyum sendiri.


Lalu Rara melihat foto dirinya dan kelima sahabat nya yang terpajang di dalam rak buku bagian tengah. Sedangkan di samping foto itu ia melihat foto Fathur wisuda nya.


Rara menatap foto Fathur yang tersenyum dengan baju toga nya.


Rara pun mengingat saat mereka sama-sama lulus di kampus yang sama.


Walaupun beda jurusan, mereka tetap menghabiskan waktu bersama-sama.


Tepat di bagian atas rak tersebut, Rara melihat tumpukan album yang foto yang sudah usang. Rara mencoba meraih nya, tetapi tangan nya tidak sampai untuk meraih tumpukan album foto tersebut.


Rara mencoba menggeser sofa untuk membantu diri nya dapat meraih tumpukan album tersebut.


Tetapi sofa itu sangat berat, lalu Rara mencari cara yang lain.


Rara mencoba kaki kirinya naik ke atas ranjang dan kaki kanan nya bertumpu di palang rak. akhirnya ia dapat meraih tumpukan album foto yang sangat ingin ia lihat.


Ada 5 album disana, Rara membuka Album yang paling atas terlebih dahulu.


Rara melihat foto-foto Fathur semasa kecil. Fathur sudah terlihat tampan saat dirinya baru saja berusia satu tahun.


Foto-foto di dalam album itu seperti menceritakan diri Fathur dari bayi sampai dirinya SMP.


Lalu Rara membuka album yang kedua. Ia melihat foto dirinya dan Fathur di halaman pertama saat ia dan Fathur sama-sama menjalani Masa orientasi siswa. Waktu itu Fathur satu kelompok dengan Rara.


Di foto tersebut, terlihat mereka menggunakan topi dari kertas yang di tempelkan tali rafia. Sedangkan di dada mereka tertulis julukan yang lucu untuk peserta didik baru. Beberapa botol air mineral kosong juga menghiasi pinggang mereka yang di buat semacam sabuk. Rara pun tertawa geli melihat foto tersebut.


Lalu Rara membuka halaman selanjutnya dari album itu. Semua hanya tentang Fathur dan sahabat-sahabatnya.


Lalu Rara melihat album ketiga.


Album itu lebih besar dibandingkan kedua album sebelum nya. Rara melihat foto Fathur dengan Ibu dan Bapak nya, semua di rangkum mulai dari dirinya kecil hingga wisuda menjadi satu album.


Rara pun membuka album yang ke empat.


Di dalam album itu Rara melihat foto yang sudah di gunting sebagian oleh Fathur hingga hanya menyisakan foto diri nya dan Fathur berdua saja di sana.


Rara mengerutkan keningnya saat melihat foto-foto yang sudah tergunting sebagian itu. Ia ingat betul bahwa foto tersebut adalah foto bersama dengan teman-teman yang lain. Tetapi mengapa Fathur mengguntingnya dan hanya menyisakan foto diri nya yang berada di samping Fathur.


Hingga di lembar terakhir pun, Rara hanya melihat guntingan foto dirinya dan Fathur. Rara kembali mengernyitkan dahinya, lalu dengan penasaran Rara membuka album yang ke lima.


Kali ini, Rara lebih terkejut lagi. Disana Rara melihat banyak foto dirinya yang di ambil secara diam-diam oleh Fathur.


Rara terdiam dan tidak habis pikir dengan apa yang ia lihat. Rara mulai berpikir yang aneh-aneh, ia mulai mencurigai Fathur adalah seorang psikopat yang terobsesi dengan dirinya.


Bulu roma Rara mulai meremang. Ia pun begidik ngeri. Membayangkan Fathur yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata sangat terobsesi pada dirinya.


Rara mulai merasa ketakutan, ia tidak mau melihat foto-foto yang berada di album itu lagi. Dengan cepat ia menutup album itu dan mengembalikan album-album itu ke atas rak.


Tidak sengaja Rara menyenggol kotak hitam di samping letak album-album itu dengan album-album yang ia dorong di atas rak. Hingga kotak itu terjatuh, dan isi nya berserakan di atas lantai.


Rara menurun kan kaki nya dari atas ranjang dan rak. Lalu menuju ke kotak yang terjatuh di atas lantai tersebut. Rara melihat banyak sekali sampul-sampul surat berwarna putih yang tergeletak di samping kotak hitam itu. Ia memunguti satu persatu surat yang masih tertutup rapat. Sepertinya Fathur mengurungi niat nya mengirimkan surat-surat itu kepada seseorang yang ia tuju.


Rara membaca satu persatu nama yang tertulis di atas kertas itu.


Rara terkejut saat ia mengetahui surat-surat itu sebenarnya untuk dirinya. Tubuh Rara mulai gemetar, ia mencoba menyobek kertas sampul yang masih utuh itu dan ingin segera membaca apa yang di tulis Fathur untuk diri nya.


Baru saja ia akan menyobek salah satu dari surat-surat tersebut, ia mendengar Fathur mengetuk pintu kamar. Dengan panik Rara langsung mengambil tas nya yang ia taruh di atas ranjang, lalu memasukan surat-surat itu kedalam tas nya untuk ia baca saat dirumah nanti.