
"Kurang Ajar..!!"
Umpat Andreas saat dirinya baru saja masuk kedalam mobil
"Rumah Rara cepat..!!!!!"
Perintahnya kepada supir pribadi orang tuanya.
"Maaf Mas saya tidak tahu dimana rumah Neng Rara"
Ucap supir itu dengan wajah takut.
"Gobl*k..!!!"
Maki Andreas lalu ia keluar dari mobil dan menarik supirnya keluar, lalu ia duduk di balik kemudi dan meninggalkan supirnya begitu saja.
Dengan kecepatan tinggi Andreas melaju kerumah Rara. Mami dan Daddynya berkali-kali mengingatkan agar anaknya itu untuk menurunkan kecepatan. Tetapi Andreas mengabaikan ucapan orangtuanya. Ia sudah terlalu dikuasai emosi.
Tidak sampai tiga puluh menit, Andreas sudah sampai di kediaman orangtua Rara. Ia langsung turun dan mencoba masuk pekarangan rumah Rara. Tetapi ia di cegah oleh satpam rumah Rara.
"Loh, Mas Andreas kok kesini? bukannya Mas mau nikah sama mbak Rara?"
"Mana Rara..!!!"
Tanya Andreas dengan penuh emosi sambil menarik kerah seragam satpam tersebut.
"Ma... maaf Mas, Mbak Rara dan keluarga sudah pergi ke lokasi pernikahan"
Andreas melepas cengkramannya dari kerah seragam satpam tersebut.
"Kamu tahu dimana Rara..!"
Desaknya.
"Kan Mas Andreas yang mau nikah, masa tidak tahu?"
Sahut satpam itu sambil menatap takut kepada Andreas.
BUGGGGG...!!!!
"Jangan main-main sama gue..!!! kalau gue tahu gak akan gue nanya sama lu..!!!"
Andreas mendaratkan tinjunya ke pipi satpam itu, hingga membuat satpam rumah Rara sempoyongan.
"Jawab...!!! dimana..!!"
Amuk Andreas lagi.
"Sa... saya ti...tidak tahu pasti Mas.., Tetapi sa... saya mendengar dari su...supir, mereka akan pergi ke Garden VH"
Jawab satpam itu. Tanpa berpikir panjang Andreas langsung menuju ke lokasi.
Baru saja Andreas pergi meninggalkan kediaman rumah Rara, sebuah mobil berwarna gelap berhenti di depan gerbang rumah Rara. Satpam rumah memperhatikan mobil tersebut lalu menghampirinya.
Alin membuka jendela mobilnya lalu tersenyum kepada satpam rumah Rara.
"Mas...!!!"
Panggilnya, lalu satpam tersebut melihat kedalam mobil Alin.
"Oh, Mbak Alin.. Gak ke pernikahannya Mbak Rara?"
Tanya satpam itu dengan polos.
"Undangan saya hilang, nomor ponsel Rara tidak bisa di hubungi. Kalau boleh tau, lokasi pernikahan Rara dimana ya Mas?"
Tanya Raline.
"Saya kurang paham Mbak, tetapi saya dengar dari supir pernikahannya di Garden VH"
Alin tersenyum penuh arti, lalu langsung menutup jendela mobilnya dan pergi begitu saja. Satpam itu mengeryitkan dahinya.
"Gak ngucapin terimakasih gitu?"
Ucap satpam itu dengan kesal.
...
Alin berdandan secantik mungkin, lalu ia ke dapur dan mengambil sebilah pisau dari laci dapurnya. Ia menatap pisau tersebut lalu ia tersenyum sendiri.
"Kalau kamu mencampakan aku, lebih baik kamu mati Andreas..!!"
Ucapnya dengan nada suara yang parau.
"Tidak ada yang boleh menikah denganmu, kecuali aku"
Alin tertawa terbahak-bahak lalu menaruh pisau itu kedalam tasnya.
....
Akad nikah akan segera dimulai, Rara melangkah menuju meja akad. ia terlihat grogi saat semua orang melihat ke arahnya, terlebih saat Fathur menatap dirinya dengan kagum.
Seluruh keluarga dan teman-teman terdekat sudah bersiap-siap untuk mengabadikan momen sekali seumur hidup Rara.
"Sudah siap?"
Tanya Bapak penghulu kepada Fathur, lelaki itu mengangguk dengan pasti.
Fathur langsung menjawab ijab yang di ucapkan oleh Papanya Rara dengan mantap dan tanpa kendala sedikitpun.
"Saya terima Nikah dan kawinnya Rara Aulia Willy binti Dandy Willy dengan mas kawin tersebut dibayar tunai..!!
Ucap Fathur dengan sekali tarikan napas.
"Sahhhhhhh....!" Seru semua orang yang menyaksikan prosesi Ijab Kabul tersebut.
...
Andreas menghentikan mobilnya di depan lokasi pernikahan Rara dan Fathur. Ia langsung menerobos masuk kedalam gedung tersebut. Tetapi dengan cepat ia di cegah oleh dua orang yang berjaga di depan pintu masuk.
"Maaf Mas, punya undangannya?"
Tanya seorang petugas keamanan saat Andreas akan masuk kedalam gedung.
"Gue mempelai pria nya..!!!!"
Bentak Andreas, kedua petugas keamanan itu pun saling berpandangan.
Andreas tak menghiraukan mereka lagi, ia kembali mencoba menerobos masuk.
Lagi-lagi petugas keamanan mencegahnya.
"Maaf mas, jangan mengada-ada. Akad nikah sudah selesai, jadi mas tidak mungkin mempelai prianya"
DUARRRRR.....!!!
Jantung Andreas seperti akan meledak, ia terperangah melihat kedua petugas keamanan tersebut. Lalu ia melihat kedua orangtuanya yang tak kalah terkejutnya.
"Apa-apaan ini..!!! kami ini keluarga mempelai pria..!!"
Maminya Andreas mulai kehilangan kesabaran.
"Maaf Bu, tetapi ijab kabul baru saja selesai. dan kedua keluarga sedang ada di dalam"
"Kalian jangan main-main kepada saya dan keluarga..!! atau saya suruh pimpinan kalian memecat kalian berdua..!!"
Andreas seperti kesetanan, dengan sekuat tenaga ia menerobos masuk kedalam gedung tersebut.
Andreas berlari memasuki gedung itu, ia memasuki salah satu Hall yang berada disana, tetapi ia kosong. Ia kembali mencari di sisi barat gedung tersebut, dan hasilnya pun nihil. Lalu ia berlari menuju kebun di belakang gedung tersebut, dan langkah kakinya pun terhenti.
Andreas melihat Rara sedang tersenyum bahagia di pelukan Fathur. Ia juga melihat Fathur mencium dan memeluk Rara dengan mesra. Saat itu juga hati Andreas hancur berkeping-keping. Begitupun dengan keluarga Andreas, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Raraaaaa....!!!!!!!!!!"
Suara teriakan Andreas membuat hiruk pikuk pesta itu seketika hening.
Dengan mata yang memerah, napas yang sesak, dan emosi yang membara, Andreas berjalan menghampiri Rara.
Dengan sigap bodyguard yang Rara sewa langsung memegang kedua tangan Andreas dengan erat yang membuat lelaki itu tak berdaya.
Mami dan Dady Andreas sontak saja tidak terima dengan perlakuan bodyguard-bodyguard itu terhadap anak mereka.
"Apa-apaan ini Rara..!!"
Tanya Maminya Andreas dengan murka.
Rara tersenyum sinis lalu berjalan menghampiri Andreas dan keluarganya.
"Hai Andreas, aku tidak pernah membatalkan pernikahan ku. Dan aku, juga tidak mengatakan akan menikahi mu. Jadi, kamu ngapain disini?"
Tanya Rara dengan lembut di depan wajah Andreas yang menatap Rara penuh emosi.
"Maksudmu apa ini? sengaja mempermainkan anak saya? mempermalukan kami iya..!!!!!"
Daddynya Andreas menatap Rara dan mantan calon besannya dengan air muka yang begitu marah.
"Maaf sebelumnya, apa anak anda tidak mengatakan kepada anda bahwa dirinya sudah berselingkuh dari Rara, dan telah menghamili salah satu Selingkuhannya?"
Dengan sangat tenang Papanya Rara menghampiri Daddynya Andreas.
Sontak saja kedua orangtua Andreas langsung menatap Anaknya.
"Benar itu Andreas?"
Tanya Maminya Andreas dengan suara yang bergetar, tak percaya.
"Ti...ti..tidak...!!!"
Sahut Andreas dengan terbata.
"Tidak? wow...!"
Rara menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Tiba-tiba saja rekaman yang diam-diam Nia ambil saat memergoki Andreas, Alin dan Naya di putar di layar yang terpampang di sekitar lokasi.
"DENGAN DUA ORANG SAHABAT SAYA..!!!!!"
Ucap Rara dengan emosi.
"Apakah ada alasan saya untuk melanjutkan pernikahan dengan anak Bapak?"
Sambung Rara lagi. Kedua orangtua Andreas menatap anaknya dengan tak percaya.
Lalu Rara menunjuk foto-foto bukti Andreas berselingkuh darinya.
"Itu... itu saya sendiri yang memfotonya..!! Saya simpan semua bukti-bukti itu sebelum saya tahu siapa selingkuhan anak Bapak yang terhormat ini..!!!"
Andreas terdiam mendengar ucapan Rara. Ia tidak menyangka bahwa Rara sebenarnya sudah tahu perselingkuhannya jauh sebelum Rara memergoki dirinya dan Naya di apartemen.
"Bapak dan Ibu bisa dengar sendiri, apa yang dikatakan Andreas dalam video tersebut..?"
Ujar Rara lagi, Kedua orang tua Andreas melihat video tersebut dan mendengarkan semua pengakuan Andreas.
"Apa saya salah mencampakan anak Bapak dan Ibu? dia juga tidak memperlakukan saya dengan baik..! EGOIS..!!"
Hardik Rara dengan kesal.