
Tok...Tok...Tok..!!!
Ketukan terdengar dari pintu depan rumah Naya. Dengan malas gadis itu beranjak dari ranjangnya lalu dengan perlahan ia menuju pintu depan rumahnya.
Naya membuka perlahan pintu rumahnya, dirinya terkejut saat melihat Andreas berdiri mematung menunggu Naya membukakan pintu.
Dengan cepat Naya hendak menutup pintu rumahnya. Ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi. Tetapi dengan cepat Andreas menahan pintu rumah Naya.
"Nay... Nay... dengerin aku dulu.."
Ucap Andreas dari balik pintu rumah Naya.
"Apa lagi..!!!"
Naya menahan pintu dengan sekuat tenaganya. Tetapi apa daya saat tenaganya yang masih lemah tidak sanggup melawan tenaga Andreas.
Pintu kini terbuka lebar, kini Andreas dapat melihat gadis yang pernah bersamanya itu sedang menahan sakit di perutnya. Dengan sigap Andreas langsung memapah Naya untuk duduk di sofa.
"Ngapain lagi...!!"
Tanya Naya dengan air mukanya yang emosi.
"Aku minta maaf Nay.."
Ucap Andreas dengan wajah memelas.
"Maaf?" Naya tersenyum sinis.
"Aku tahu aku salah, aku mohon maaf. Aku akan berubah Nay..!"
Andreas masih berusaha meyakinkan Naya. Gadis itu pun hanya bisa menghela napas kesal.
"Aku baru menyadari, sebenarnya Aku mencintaimu lebih daripada aku mencintai Rara"
Ucap Andreas, Naya pun terdiam mendengar kata-kata Andreas.
"Aku sadari itu saat kamu terlalu banyak berkorban untukku"
"Aku salah selama ini, ternyata kamulah yang paling aku cintai Nay"
Sambung Andreas lagi.
Air mata Naya mulai menghiasi pipinya yang mulus. Ia tak mau sekalipun menatap lelaki di depannya.
"Nay, beri aku kesempatan kedua"
Andreas menggenggam tangan Naya. Dengan cepat Naya menepis tangan Andreas.
"Kamu sekarang keluar.., atau aku akan berteriak...!!!" Ucap Naya dengan penuh emosi.
"Tapi Nay..."
"Keluar..."
"Nay...."
"Keluarrrr.....!" Bentak Naya lalu meringis menahan sakit di perutnya.
"Nay, kamu tidak apa-apa sayang?"
Andreas terlihat sangat khawatir.
"Jangan sentuh aku, sekarang kamu keluar" Suara Naya mulai terdengar serak.
"Kamu sudah makan? sudah minum obat?" Andreas tidak sedang berakting, ia benar-benar khawatir kepada Naya.
"Jangan sok perhatian...! kamu itu buaya..! tukang bohong...! palsu...! laki-laki b*jing*n..!!!"
Hardik Naya sambil bercucuran air mata. Andreas hanya dapat terdiam menerima semua celaan yang Naya ucapkan kepada dirinya.
"Iya.. aku seperti semua apa yang kamu bilang. Tetapi, aku ingin berubah."
Andreas bertekuk lutut di depan Naya. Naya pun hanya bisa diam seribu bahasa.
"Sekarang, izinkan aku merawat kamu Nay. Kamu butuh teman, aku bisa merawat kamu. Kamu bisa menyuruh ku seperti pembantu atau memperlakukan aku seperti orang hina, aku terima"
Ucap Andreas sambil menatap Naya yang masih berurai air mata.
"Aku menyesali semua yang telah terjadi. Kalo ini, bila kamu memaafkan aku, aku akan berubah. Apa pun itu aku akan lakukan untuk mu Nay"
Andreas menggenggam tangan Naya, tetapi kali ini Naya tidak menepis tangan Andreas.
"Sekarang aku bantu kamu ke kamar ya.."
Tanpa basa-basi Andreas langsung membopong tubuh Naya dan membawanya ke kamar. Lalu merebahkan Naya di atas ranjang.
Dengan telaten Andreas menyelimuti Naya dengan selimut tebal yang berada di atas ranjang, Lalu Andreas duduk di tepi ranjang menatap Naya.
"Maaf soal anak kita, aku akan memastikan Alin akan membusuk di penjara. Ia sudah membunuh anak kita dan hampir saja merengut nyawamu."
Andreas tertunduk menahan tangisnya. Kini sorot mata amarah Naya mulai padam. Kini ia hanya bisa menatap lelaki itu dengan perasaan yang tak dapat ia mengerti.
"Sekarang kamu tidur ya.., aku tunggu di luar, kalau kamu butuh apa-apa panggil saja aku" Andreas mengecup kening Naya, lalu ia meninggal Naya sendirian.
Perasaan Naya kini tidak karu-karuan. Ingin sekali ia mengusir lelaki itu, tetapi disisi lain ia teringat akan ucapan teman-temannya, bahwa karena Andreas lah maka nyawanya bisa terselamatkan.
...
Rara, Nia dan Farah mengunjungi Raline yang sudah dipindahkan ke Mabes. Mereka dengan gelisah menunggu kehadiran Alin di ruang tunggu penjenguk.
Lima belas menit kemudian, Alin pun muncul dengan menggunakan baju tahanan berwarna orange. Gadis itu menatap dingin teman-temannya lalu duduk di hadapan mereka dengan tenang.
"Ngapain lu pada kesini? mau ngetawain gue..?"
Sejak Alin ditahan, baru kali ini lah ia mau berbicara dengan orang lain.
"Gue cuma mau alasan lu mencelakakan Naya..!"
Jawab Rara dengan wajah yang datar juga.
Alin pun tersenyum sinis melihat satu persatu mantan Sahabatnya itu.
"Naya aja yang g*bl*k.. pake melindungi Andreas. gue mau memb*n*h Andreas. Gue kira dia akan menikah dengan elu, Andreas tidak boleh dimiliki siapapun selain gue..!!!"
Ujar Alin tanpa sesal.
"Emang sakit jiwa elu Lin..!"
Ucap Nia dengan geram.
"Gue sakit jiwa lu bilang Nia..? Gimana patah hati lu? udah sembuh?"
Tanya Alin sambil menyeringai.
"Patah hati?"
Tanya Rara dan Farah sambil menatap Nia.
"Iya patah hati karena Fathur juga memilih Rara kan? Lu kan naksir sama Fathur dari dulu. Cuma lu malu mengatakannya, karena lu tahu Fathur suka sama Rara. Gimana sakit di tinggal nikah? Lu tahu rasanya kan Nia?"
Pipi Nia memerah bagaikan di tampar. Ia hanya bisa menghela napas dengan emosi lalu menundukkan pandangannya.
"Persahabatan kita itu itu isinya munafik semua wahai kalian yang merasa hebat..!!!"
Ucap Raline dengan suara yang parau.
"Gue males ngomong sama orang gila"
Ucap Nia lalu ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan besuk itu.
"Hahahhahahaa.... munafik lu Nia...!!!! Lu Tersenyum tapi hati lu luka..!!! M*mpus....!!!! di tinggal nikah sama Fathur...!!!!"
Alin tertawa terbahak-bahak melihat Nia mulai menitikkan air matanya.
"Sakit jiwa lu... B*tch"
Maki Farah lalu dirinya menyusul Nia yang berlari meninggalkan mereka.
"Maksud lu apa ya Lin?"
Rara menatap Alin sambil menggeretukkan giginya.
"Lu bodoh.. Pacar lu selingkuh lu gak tahu. Nia naksir sama Fathur juga lu gak tau.. stupid idiot..!!!
Maki Alin sambil tersenyum puas.
"Benar-benar gak sehat otak lu Lin...! Untung Naya gak mati, kalo sempat Naya mati gue bikin lu busuk di penjara...!"
Ucap Rara lalu ia beranjak dari duduknya dan menyusul Nia dan Farah.
Alin termenung saat mendengar Naya tidak meninggal dunia. Lalu lambat laun ia mulai tertawa terbahak-bahak.
"Hukuman gue bisa ringan dong.. hahahahahaha"
Alin Tertawa puas.
....
Naya terbangun dari tidurnya yang lelap. Dari arah dapur ia mendengar ada aktivitas disana. Karena penasaran, Naya dengan perlahan beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
Naya menutup pelan pintu kamarnya, lalu dengan langkah kaki nya yang masih lemas ia menuju ke dapur. Ia tertegun saat melihat Andreas yang sedang memasak di dapur.
Dari belakang Naya memandangi lelaki itu. Andreas memakai celemek dan menggulung lengan kemejanya. Lelaki itu tampak sedang asik mengaduk-aduk masakannya yang sedang terjerang.
Wangi masakan Andreas memenuhi ruangan tersebut. Hingga Naya mulai merasa lapar karenanya.
"Kruyukkkk... Kruyukkkk... Kruyukkk"
Terdengar bunyi nyaring dari perut Naya. Sontak saja Andreas menoleh kebelakang. Andreas menatap Naya yang sedang berdiri terpaku di ambang pintu dapur. Lelaki itu langsung tertawa kecil menatap Naya.
"Sudah bangun? Lapar ya..? Wangi kan masakan aku..? Aku pinter masak loh.."
Andreas mengedipkan sebelah matanya kepada Naya.
"Duh, ketahuan kan... hedeeehhh dasar perut gak ada akhlak..!!! gak tau sopan santun, gak bisa di ajak kerja sama..!!!!"
Umpat Naya di dalam hati, Naya hanya tersenyum terpaksa kepada Andreas sambil mengangkat kedua alisnya.