
flashback on
Nia melangkahkan kakinya menuju kelas Fathur. perlahan, Nia menuju bangku Fathur dan mengambil tas lelaki itu dari kolong meja.
Fathur yang hendak kembali ke kelasnya tidak sengaja melihat Nia sedang membuka tas miliknya.
Akhirnya Fathur menggurungi niatnya untuk masuk ke kelasnya, dan memilih untuk mengawasi Nia dari balik jendela sisi luar sudut kelas .
Ia melihat Gadis itu membaca surat yang ia tulis untuk Rara. saat itu juga, ia melihat Nia menangis saat membaca surat yang belum sempat ia berikan kepada Rara. Hatinya pun mulai bertanya-tanya.
"Mengapa Nia menangis?" Gumamnya
Fathur pun berniat untuk masuk kedalam kelasnya dan bertanya kepada Nia. Tetapi langkah kakinya tertahan saat ia melihat Nia juga memegang sebuah surat di tangannya.
Nia pun menaruh surat untuk Rara kembali kedalam tas Fathur. Lalu ia mengancing tas itu seperti semula, dan menaruhnya kembali.
Nia menghapus air matanya lalu ia pergi meninggalkan kelas Fathur dengan membawa kembali surat yang ia buat untuk Fathur.
Nia berlari ke belakang gedung sekolah mereka, diam-diam Fathur mengikuti Nia dari belakang.
Disitulah Fathur melihat Nia menangis tersedu-sedu. Gadis itu duduk di bangku yang tak terpakai yang sengaja di taruh di belakang gedung sekolah, karena penjaga sekolah belum sempat memindahkannya ke gudang.
"Gue cinta sama lu Fat...! kenapa lu malah cinta sama Rara..!"
Ucap Nia sambil menangis tersedu-sedu. Fathur yang mendengar Nia mencintai dirinya pun merasa terkejut dan terpaku di balik tembok belakang gedung sekolah.
Hatinya merasa tak karuan. Ia pun merasa iba melihat Nia yang menangisi dirinya. Ingin sekali Rasanya ia menghampiri Nia dan memeluk gadis itu. Tetapi ia menggurungi niatnya karena ia tidak ingin gadis itu merasa malu kepada dirinya.
Nia beranjak dari duduknya, dan meremas surat cinta untuk Fathur lalu menginjak-injak surat itu. Setelah itu Nia memungut dan melemparkan surat itu ke semak-semak kebun belakang sekolah. Lalu gadis itu beranjak pergi untuk kembali ke kelasnya.
Rasa penasaran pun mendorong Fathur untuk mencari surat yang Nia buang tadi. Lalu ia mencoba menyibak semak-semak hanya demi mencari surat tersebut. Akhirnya Fathur dapat menemukan surat itu. Dengan perlahan ia membuka dan membaca isi surat tersebut.
Dear Fathur..
Gue tidak tahu mau bilang dari mana atau basa-basi seperti apa. Dan sorry juga gue cuma bisa mengatakannya lewat surat.
Fat, gue suka sama lu.
Sorry gue terlalu berterus-terang. Tetapi sumpah gue gak bisa menahan perasaan ini lagi. gue cuma ingin lu tahu kalau selama ini gue jatuh cinta sama lu.
Fat, kalau lu sudah baca surat ini, bersikaplah seperti biasanya kalau lu tidak membalas cinta gue. Tetapi kalau lu membalas cinta gue, lu bisa kan kerumah gue malam ini?
Jangan lupa bawa martabak kesukaan gue ya..!
Nia.
...
Fathur terdiam saat selesai membaca surat itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, lalu ia memutuskan menyimpan surat dari Nia kedalam saku celana sekolahnya, dan ia pun beranjak kembali ke kelasnya.
Saat di lorong deretan kelas jurusan IPS, ia bertemu dengan Rara, Farah, Alin, Naya dan Nia.
Nia pun tersenyum kepada dirinya seperti biasanya. Hebat...!!!! Walaupun terluka, gadis itu tetap berusaha ceria dan seperti tidak mengalami kejadian apa pun.
Sama seperti selama ini yang di lakukan Nia.
Saat di gerai perhiasan, Nia tetap berusaha bahagia saat mendengar kabar bahagia dari Fathur. Begitu pun saat mereka di Villa, hati Nia sangat hancur saat mengetahui Fathur lah lelaki yang akan menggantikan Andreas di sisi Rara.
Tetapi gadis memang gadis yang luar biasa, Ia tetap mampu mengendalikan perasaannya walaupun hatinya menangis pilu.
Saat pernikahan pun juga sama, Nia tetap hadir dan memberi support kepada Rara dan Fathur. Ia memberikan senyuman terbaiknya, ia juga membantu Rara mempersiapkan resepsi pernikahan mereka.
Nia, gadis baik, riang, kocak, asik atau apalah itu. yang mempunyai hati begitu cantik, begitu tegar dan tulus.
Flashback off.
Fathur menghela napasnya lalu mend'oakan yang terbaik untuk Nia.
....
Pagi itu Farah sedang memindahkan cucian bersihnya yang baru saja selesai ia cuci kedalam keranjang, lalu ia pun membawa keranjang yang lumayan berat itu ke depan beranda apartemenya untuk di jemur.
Byurrrrrrrrr...!!
Tiba-tiba kedua kakinya basah tersiram oleh air yang baru saja keluar dari bagian sensitifnya.
Farah pun tertegun sejenak dan mengecek air tersebut. Dengan susah payah ia jongkok dan menyentuh air yang tercecer di lantai.
Ia pun mulai panik, saat mengetahui air tersebut adalah air ketuban yang keluar dari rahimnya. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju kamarnya dan mengambil tas yang terisi segala macam kebutuhan untuk melahirkan dan kebutuhan bayi. Farah sengaja mempersiapkan tas itu jauh hari sebelum HPL nya, karena ia tidak mau repot dan terburu-buru pada saat keadaan darurat seperti ini.
Farah memang tinggal sendirian di apartemen miliknya yang di belikan oleh Ayah dari bayinya. Hal itu menuntut Farah melakukan apapun sendirian tanpa bantuan siapa pun.
Farah menuju pintu dan menyambar kunci kontak mobilnya. Lalu dengan cepat ia turun dan menuju parkiran.
Perutnya pun sudah mulai terasa sakit, saat ia duduk di balik kemudinya. Sebelum ia menyalakan mobil, ia mencoba menghubungi Ayah dari bayinya. Ia hanya bermaksud untuk memberi kabar, bahwa sebentar lagi bayi mereka akan lahir.
"Halo.. aku mau melahirkan Mas, Mas lagi ada dimana?"
Tanya Farah kepada lelaki yang telah menghamili dirinya.
"Kamu urus sendiri, tugasku hanya membiayai. Dan ingat, jangan pernah sebut namaku..!"
klikkkk..!
lelaki itupun mengakhiri pembicaraan mereka.
Farah terdiam mendengar jawaban dari lelaki itu. Dengan tangan gemetar, ia menaruh ponselnya kembali kedalam tas. Dengan hati yang terluka, ia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Air ketuban terus mengalir hingga membasahi jok mobilnya serta lantai kemudi. Ia hanya berdoa semoga semua baik-baik saja saat ia tiba dirumah sakit.
Rasa mulas semakin menjadi saat Farah terjebak macet di jalanan Ibukota.
Ia pun mulai menangis, menghawatirkan kondisi bayinya.
Ia pun terus menerus membunyikan klakson mobilnya agar kendaraan yang di depannya mau menyingkir dari hadapannya.
Tetapi hal itu percuma, kondisi jalan raya yang padat merayap membuatnya harus bersabar. Farah pun semakin panik dan tak tahu akan berbuat apa.
Lima belas menit kemudian ia sudah tidak mampu menyetir mobilnya lagi. Lalu Farah menepikan mobilnya di bahu jalan.
Rasa mulas sudah di ambang batas kekuatannya. Sang bayi pun sudah turun mendesak hendak keluar dari rahim Farah. Farah merebahkan kursinya lalu dengan sekuat tenaga ia mencoba mengejan dan berjuang sendirian.
Darah pun mulai membanjiri daster yang sedang ia kenakan. Ia terus mengejan, mengatur napasnya dan berjuang demi sang buah hati. Walaupun sakit, walaupun sendirian, Ia bertekad untuk menyelamatkan belahan jiwanya.
"oekkkkk...oekkkkk....oekkkk..!"
Suara tangis bayi mengakhiri perjuangan Farah. Ia mengangkat dan memeluk bayi itu, lalu ia membuka kaca mobilnya dan berteriak minta pertolongan dengan siapa saja yang sedang berada disana.
Orang-orang pun berdatangan, lalu membantu Farah dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
All the forces on this planet, will never beat that of a mother’s love.” – Elle Smith, The Way Back Home (Tak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang mampu mengalahkan cinta seorang ibu).
Author kok nangis sendiri ya saat nulis part ini 😭😭😭😭😭😭😭