
Andreas membuka pintu toko bunga dengan semangat, ia langsung menghampiri wanita penjual bunga dan meminta wanita itu untuk merangkai bunga yang indah untuk seseorang yang spesial.
Dengan sigap, wanita penjual bunga membuatnya sesuai dengan request Andreas. Setelah selesai, ia membayarnya dan pergi meninggalkan toko tersebut.
Ia bernyanyi mengikuti lagu i think i wanna marry you dari Bruno mars yang ia putar di mobilnya. Sesekali ia melirik ke buket bunga dan kotak cincin yang ia taruh di samping jok kemudinya. Ia tersenyum manis saat membayangkan rencananya. Andreas pun melajukan mobilnya ke arah rumah Naya.
Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, Andreas sudah tiba di rumah Naya. Ia merapihkan kemejanya dan meraih bunga serta cincin yang sudah ia siapkan. Sebelum ia turun, ia mencium bunga lalu tersenyum.
"Will you marry me"
Ia menatap spion tengah mobilnya sambil memperagakan cara melamar seorang gadis. Lalu, dengan mantap ia turun dari mobilnya.
Ia melangkah menuju pintu depan rumah Naya yang terlihat sepi seperti biasanya, karena gadis itu memang tinggal sendirian. Hari ini adalah hari minggu, maka ia sangat yakin Naya sedang berada di rumah. Ia pun tidak mengabarkan Naya sebelum ia menuju rumah Naya. Karena Andreas bertujuan untuk memberi Naya surprise.
Tok...Tok...Tok...!
Berkali-kali ia mengetuk pintu rumah Naya. Tetapi sang pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu rumahnya.
Tok...tokk..tokk..!
Sekali lagi ia mengetuk pintu rumah Naya. Tetapi tetap sama, tidak ada jawab yang ia terima atau mendengar aktivitas dari dalam rumah.
Ia pun mulai menghubungi Naya melalui ponselnya. Tetapi nomor gadis itu tidak aktif. Ia pun mulai mengintip dari luar jendela ke dalam ruang tamu. Semua terlihat gelap dan tidak ada orang di dalamnya.
Andreas mulai khawatir bila terjadi sesuatu kepada Naya, ia mencoba mendobrak pintu depan.
Baru saja ia ingin mencoba mendobrak pintu, ia melihat sebuah amplop yang terselip di bawah pintu. Karena dirinya penasaran, ia meraih amplop surat tersebut. Dan membaca tulisan yang tertera di atas amplop.
To Andreas.
Andreas mengeryitkan dahinya saat namanya lah yang tertulis di atas amplop surat tersebut. Lalu ia mencoba membuka amplop surat itu lalu membacanya.
Andreas...
Jangan pernah mencariku lagi, jangan pernah mengenangku lagi. Aku pergi meninggalkan kota ini dengan mengubur segala kenangan tentang kita.
Apa yang sudah terjadi di antara kita adalah sebuah kesalahan yang telah kita ciptakan, dan aku menyesalinya.
Hiduplah dengan baik setelah ini. Kejadian-kejadian ini mengajarkan aku bahwa cinta tidak harus memiliki, apalagi mencoba merebut milik orang lain.
Sungguh tak termaafkan sikap ku yang telah diam-diam mencintaimu dan menusuk Rara dari belakang.
Aku pun tak menyangka bahwa aku bukanlah satu-satunya wanita yang menemani malam-malam mu. Dan aku baru paham apa yang telah dirasakan oleh Rara saat aku pun kamu duakan dengan Alin sahabat kami juga.
Kita semua salah dan bersalah kepada Rara. Aku tidak akan mau hidup dengan bayang-bayang kesalahan itu dalam hidupku bila aku tetap bersamamu.
Walaupun aku jujur, saat ini aku tetap mencintaimu setulus hatiku.
Tetapi kita tidak akan bisa bersama Andreas..
Mulailah hidupmu yang baru. Tutup semua kesalahan masa lalu. Cintailah seseorang yang akan mendampingi kamu kelak. Jangan pernah sia-siakan ketulusan dari seseorang, sebelum kamu menyesalinya.
Andreas, sampai jumpa di kehidupan yang lain. Mungkin di kehidupan yang lain aku bisa bersamamu tanpa membuat kesalahan karena mencintaimu. Lupakan aku, dan aku pun akan melupakan kamu selamanya.
Aku juga mengucapkan terimakasih atas darah yang mengalir di nadiku.
Tanpamu mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Naya
Tanpa sadar, air mata Andreas mengalir deras di pipinya.
Hari ini ia berencana akan melamar Naya untuk menjadi istrinya. Sejujurnya, Andreas pun sangat mencintai Naya. Terlebih saat ia menyaksikan sendiri pengorbanan Naya untuk dirinya selama ini.
Andreas terduduk lemas di kursi teras rumah Naya. Kini ia tertunduk lesu dan menangisi penyesalan nya.
Kini, orang-orang yang mencintai dirinya dengan tulus pun menjauh.
Keluarga yang malu atas kelakuannya, Rara yang menikah dengan Fathur dan kini Naya, gadis yang rela melakukan apa saja untuk dirinya.
Semua pergi, semua menjauh. Ia tidak berbeda jauh dari apa yang Alin alami. Bedanya, tubuhnya bebas tetapi tidak dengan hatinya yang kosong dan terpenjara karena ulahnya sendiri.
Andreas melangkahkan kakinya dengan gontai, meninggalkan rumah Naya.
Harapannya pupus dan terbang bersama Naya yang telah pergi entah kemana meninggalkan dirinya.
Kini Andreas mulai mengerti, ketulusan itu mahal harganya. Penyesalan itu tidak bertepi dan membekas di dinding hati.
Ia hanya termenung di balik kemudinya, Lalu kembali menangis.
..
Naya melangkahkan kakinya masuk kedalam pesawat tujuan Manado. Sekali lagi ia melihat kebelakang, ia akan meninggalkan kota yang penuh kenangan ini.
Kenangan bersama lima sahabat dan kenangan bersama pria bernama Andreas.
Ia menghela napasnya dengan berat, Lalu dengan mantap ia mengikuti penerbangan itu di pagi itu.
.....
Nia pun meninggalkan kota ini, berbeda dengan Naya yang berpamitan dengan teman-temannya. Nia lebih memilih untuk menghilang pamit dan kabar.
Diam-diam Nia keluar dari kantornya dan pindah ke Negara lain.
Sejak ke jadian Alin membongkar rahasianya di depan Rara, diam-diam Nia merencanakan sesuatu untuk dirinya sendiri dan memilih untuk pergi setelah putusan hukuman untuk Alin di jatuhkan.
Sebenarnya ia ingin sekali pergi setelah rahasianya terbongkar. Tetapi, sebagai saksi atas persidangan Alin, ia tidak bisa pergi kemana-mana dahulu sebelum semua tuntas.
Kini sudah tidak ada kewajiban yang menahannya untuk pergi.
Nia mencari beasiswa untuk kuliah di Inggris, dan ia pun menjual semua yang ia punya untuk pindah ke Negara itu.
Nia meninggalkan semua kenangan manisnya bersama sahabat-sahabatnya, terutama Fathur.
Lelaki yang sudah sebelas tahun mewarnai hari-harinya, harus rela ia ikhlaskan karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Kabar tentang kepergian Nia membuat Farah, Rara dan Fathur merasa sedih. Diam-diam sebenarnya Fathur pun tahu bila Nia mencintai dirinya. Tetapi bagaimanapun ia tidak bisa membalas cinta gadis itu, hatinya hanya untuk Rara.
Ia pun pernah mencoba untuk mengikhlaskan Rara, saat Rara baru saja bertunangan dan mencoba mulai mencintai Nia.
Tetapi seberapa besar pun usahanya untuk mencintai Nia, jawabannya ia tetap tidak bisa berpindah hati. Lalu Fathur tetap berpura-pura tidak tahu atas perasaan Nia. Ia tetap disamping Nia sebagai seorang sahabat yang selalu menemaninya dalam suka dan duka.
Tentu saja tidak ada yang tahu bila Fathur mengetahui bahwa Nia menyukai dirinya. Ia tidak ingin gadis itu merasa malu saat ia pun tahu tentang perasaan Nia. Biarlah, semua berjalan seperti biasanya. Ia pun tak ingin kehilangan Nia hanya karena cinta yang tak terbalas.