H -

H -
ch 12. mengapa harus dia?



Rara menyeka air mata yang menetes di pipinya. Fathur hanya bisa melirik gadis yang ia cintai itu dengan raut wajah yang sedih.


"Kita mau kemana Ra?"


Tanya Fathur saat ia menepikan mobilnya di bahu jalan.


"Kemana saja"


Jawab Rara yang masih menangis sesenggukan. Fathur hanya terdiam mendengar jawaban dari Rara.


"Kenapa sih harus menunggu Fat? Padahal kita bisa saja mengungkap semuanya tadi. Aku udah gak tahan lagi Fat. Gak jadi nikah tidak apa-apa!"


Fathur menghela napas nya dengan berat. Lalu menatap Rara dengan matanya yang sayu.


"Ra, apa lu pikir mereka akan mengaku semudah itu? walaupun ada bukti, lu gak sadar tadi ada tiga orang yang tidak memakai gelang nya. Lu mau menuduh semua nya? pikir-pikir lagi Ra. Bisa rusak nanti pertemanan kita gara-gara lu curiga dengan semuanya.


Mendingan kita dapati dulu penghianat nya, baru kita buka semua. Untuk sementara kita pura-pura tidak tahu dulu. Tenang, kalau lu bersikap seperti tadi. mereka semakin waspada. Semakin susah mencari siapa di antara tiga orang itu yang tega berbuat seperti ini Ra..!"


Fathur mencoba memberi pengertian kepada Rara. Sedangkan Rara masih terus menangis.


"Lu percaya deh sama gue"


Sambung Fathur lagi.


"Fat, pernikahan gue sudah semakin dekat..! gak ada waktu lagi Fat..!"


Rara menatap Fathur dengan kesal.


"Gue tau lu mau melampiaskan rasa kesal lu kan Ra? Ok, anggap gue Andreas. Sekarang lu boleh pukulin gue sesuka hati lu"


Fathur meraih tangan Rara dan menempelkan di pipinya.


"Pukul Ra.. pukul..! "


Rara menatap Fathur tak percaya. Apa yang di lakukan Fathur membuat tangisan Rara semakin kencang.


Ia memukul-mukul dada Fathur yang bidang sampai puas. Lalu ia menyenderkan kepalanya di dada Fathur. Dengan perlahan Fathur memeluk tubuh Rara yang gemetar menahan emosinya.


"Percaya sama gue, gue juga ikut menyelidiki ini semua. Gue ada di belakang lu Ra, apa pun kondisinya. Gue gak akan pernah meninggalkan elu"


Mendengar ucapan Fathur membuat Rara terharu dan memeluk Fathur lebih erat lagi.


"Gue janji Ra, gue akan mengungkap kecurangan mereka"


Gumam Fathur di dalam hati.


.....


"Sepertinya Rara semakin curiga"


Wanita itu menatap Andreas dengan ragu.


"Curiga apa? gak mungkin lah"


Jawab Andreas dengan enteng nya.


"Tetapi aku yakin dia curiga"


Ucap gadis itu lagi.


"Sudah, gak usah dipikirkan"


Andreas memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


Wanita itu mencoba mengingat-ingat dimana ia terakhir kali menggunakan gelang persahabatan nya.


"Di apartemen gak ada tuh..kenapa memang nya?"


Tanya Andreas penasaran.


"Tadi Rara membahas tentang gelang. Dia agak emosi gitu, apa jangan-jangan kemarin Rara menemukan gelang ku di apartemen mu? Makanya dia marah dan pergi meninggalkan apartemen mu?"


Wanita itu mencoba berasumsi dengan pikiran nya sendiri.


"Ah... enggak lah.. sudah gak usah dipikirkan"


"Kamu mau pesan apa? belum makan kan?"


Tanya Andreas sambil memberikan wanita itu buku menu dari restoran tempat mereka duduk membicarakan Rara. Wanita itu tersenyum dengan manis saat menyambut buku menu dari tangan Andreas. Lalu ia memesan menu terbaik di restoran tersebut, dan sebotol anggur untuk ia nikmati bersama Andreas.


.....


Fathur merebahkan dirinya di atas ranjang milik nya.


Ia baru saja sampai di rumah setelah mengantarkan Rara pulang.


Fathur meraih foto Rara yang ia bingkai dan ia letak kan di atas meja di samping ranjang nya.


Fathur meraba dengan lembut foto Rara yang sedang tersenyum manis. Lalu meletakkan foto tersebut di atas dadanya.


"Ra, mengapa harus dia Ra? kenapa bukan aku?"


Mata Fathur menerawang menatap plafon kamar nya. Air mata mulai meleleh di setiap sudut matanya.


"Aku harap kamu malam ini bisa tidur nyenyak ya, tidak apa-apa bila tidak memimpikan aku, biar aku saja yang memimpikan kamu"


Ucap nya sambil kembali memandangi foto Rara. Ia pun memejamkan matanya lalu tertidur dengan foto Rara di pelukannya.


Rara menggigit kukunya sambil berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini semua terjadi. Bagaimana mengungkap kecurangan dan strategi-strategi yang akan ia lakukan untuk membuka kebusukan Andreas sebelum hari pernikahan nya.


Rara menatap foto mereka berenam. Rara,Fathur,Nia,Naya,Alin dan Farah.


Ia melihat Nia yang sedang tertawa konyol di dalam foto itu, ia yakin Nia bukanlah orang yang seperti itu. Lagi pula Nia masih menggunakan gelang persahabatan mereka.


Nia yang kocak bukan lah tipe wanita yang di sukai Andreas. Andreas lebih tertarik kepada wanita yang sangat menjaga sikap dan tidak banyak omong.


Lalu Rara menatap wajah Naya yang sedang tersenyum tipis di dalam foto itu. Naya tipe wanita yang tidak banyak omong, Naya wanita yang sporty dan cantik. Ada kemungkinan Andreas menyukai Naya, pikir Rara.


Lalu Rara melihat wanita yang sedang mengulurkan lidah nya di dalam foto tersebut, dia adalah Alin. Alin Adalah tipe wanita yang sangat feminim. Di dalam geng mereka, Alin bisa di bilang paling irit bicara. Alin lembut dan sering membuat teman-teman nya yang bersitegang kembali menjadi berbaikan.


Alin selalu jadi penengah di antara teman-teman nya. Alin sangat cantik, bulu matanya yang lentik natural membuat mata indah nya semakin mempesona. Alin sangat dewasa dan baik hati. Ada keraguan di hati Rara saat melihat foto Alin, rasanya tidak mungkin Alin akan mengkhianati dirinya. Tetapi Rara tetap harus mencurigai Alin sebelum semuanya terungkap.


Lalu Rara beranjak memandang foto Farah, yang sedang merangkul Alin yang berdiri di sebelah nya. Farah mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera.


Farah memang dari dulu bisa di bilang paling genit di antara teman-teman yang lain nya. Farah nyaris sempurna di antara teman-teman yang lain nya. Wajah Farah campuran antara Indonesia dan Jerman membuat wajah nya sangat cantik.


Saat ini Rara sangat mencurigai gadis itu. Entah mengapa, saat pertemuan nya di lift dengan Farah, dan sikap terburu-buru Farah saat meninggalkan gedung apartemen itu membuat Rara sangat curiga. Di tambah dengan warna lipstik Farah yang sama persis seperti warna yang ada di tissue bekas yang Rara temui.


Kepala Rara terasa berat dan pusing karena ia terlalu memikirkan kasus ini.


Rara meraih spidol merah dari atas meja di kamar nya. Dan mencoret wajah Nia di foto tersebut.


"Tiga orang ini, aku akan ungkap siapa yang tega menusuk ku dari belakang, kalian tunggu saja, ini tidak akan lama."


Gumam Rara, lalu ia menaruh foto tersebut di atas meja.