
Fathur menatap Rara yang terlihat bahagia di sore hari yang cerah itu.
Ia sengaja mengajak Rara jalan-jalan ke pantai untuk melihat sunset, karena dirinya sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Rara.
Mereka juga membahas tentang teman-teman mereka dan juga Andreas.
Sampai Rara mengatakan rencana-rencananya kepada Fathur.
Fathur terkejut, saat Rara mengatakan semua rencana Rara kepada dirinya.
"Kamu serius?"
Tanya Fathur dengan wajah yang tak percaya.
Rara mengangguk lalu meminum air kelapa muda pesanan nya.
"Ini bukan main-main loh"
Fathur berusaha mengingatkan Rara.
"Aku tidak sedang bermain-main"
Jawab Rara sambil memandang Fathur lekat-lekat.
"Kamu tidak mau?" sambung Rara lagi.
"Bukan begitu Ra, tetapi apa kata orang-orang?"
Tanya Fathur dengan wajah khawatir.
"Kalau kamu tidak yakin ya sudah"
Rara membuang pandangan nya ke matahari yang hampir saja tenggelam.
"Ra.. aku yakin sekali, tetapi aku tidak yakin begini caranya"
Fathur mencoba memberi pengertian kepada Rara.
Gadis itu menatap Fathur dengan datar.
"Ya sudah, kalau kamu tidak yakin ya tidak apa-apa. Cuma satu hal yang aku katakan kepadamu. Aku serius dan tidak main-main Fat..! Aku lelah. Bila pernikahan ini gagal, aku pastikan tidak akan ada lagi rencana pernikahan..!"
Fathur terdiam, ia menatap gadis yang begitu keras kepala itu.
"Aku mau pulang"
Rara beranjak dari duduk nya lalu meninggalkan Fathur yang sedang duduk mematung. Rara berjalan dengan cepat untuk keluar dari tempat wisata itu dan mencoba mencari taxi.
"Ra, dengerin aku dulu..!"
Fathur memanggil Rara dan menyusul gadis itu dari belakang. Dengan setengah berlari, lelaki itu menghampiri Rara yang tidak mempedulikan nya.
Fathur meraih lengan Rara agar gadis itu menghentikan langkahnya.
"Apa lagi sih..!"
Rara menatap Fathur dengan genangan air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.
"Kalau kamu tidak peduli, aku juga tidak peduli dengan semua orang. Aku akan terus di samping kamu. Aku akan lakukan apa pun untuk mu dan untuk kita"
Ucap nya dengan tegas.
Rara menatap lelaki itu dengan seksama. Lalu ia memeluk tubuh Fathur dengan erat, ia menangis haru dan bahagia mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Fathur.
"Terimakasih sudah mencintai ku"
Bisik Rara.
.....
"Hai Lin.."
Sapa Naya yang baru saja datang ke cafe milik Alin. Alin yang sedang asik duduk di taman belakang cafe nya menoleh kearah suara yang menyapa dirinya.
"Haiii.. apa kabar?"
Sahut Alin dengan ramah, lalu mereka berdua saling berpelukan.
"Baik. Oh iya, teman-teman gak pada kesini?"
Tanya Naya sambil menerima segelas kopi pesanan nya dari tangan pelayan yang baru saja datang mengantarkan pesanan milik Naya.
"Gak tau tuh, mungkin lagi pada sibuk saja"
Jawab Alin sambil terus menatap Naya sambil tersenyum manis.
"Kenapa lu liatin gue mulu?"
Tanya Naya sambil mengerutkan keningnya.
"Ah... gak kenapa-kenapa kok, cuma lu tumben dandan menor gini?"
Tanya Alin masih dengan wajah ramah nya.
"Oh.. gue mau pergi, biasalah ada undangan party dari teman"
Sahut Naya sambil meniup pelan kopinya yang panas. Lalu ia menyeruput kopi itu dengan perlahan sebelum ia taruh kembali di atas meja di hadapan nya.
"Teman apa pacar?"
Tanya Alin lagi dengan tatapan yang serius.
Naya hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Teman"
Jawab Naya dengan singkat.
Alin terus memandangi Naya, lalu ia tersenyum tipis. Mereka berdua kembali melanjutkan obrolan fake mereka.
"Lin gue cabut dulu ya, gue buru-buru"
Ucap Naya sambil mencium pipi kiri Alin yang masih duduk di bangkunya.
"Bye...!"
Tanpa jawaban dari Alin, Naya sudah pergi beranjak meninggalkan Alin yang masih terdiam di bangkunya.
"Cringgggg...!"
Tiba-tiba ponsel milik Alin berbunyi. Ia menatap pesan masuk di layar ponselnya.
Andreas.
"Sorry to say, hubungan kita berakhir sampai disini. Anggap saja kita tidak pernah punya hubungan apa-apa. Mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi.
Sikap mu yang posesif membuat aku tak nyaman.
Sorry"
Alin terkejut membaca pesan dari Andreas. Ia mulai histeris, lalu ia mulai meracau dan mencaci maki lelaki itu. Alin mulai membanting apa saja yang berada di dekat nya. Para pegawai Alin berdatangan untuk mengecek apa yang sedang terjadi.
"NGAPAIN...!!!! SANA KERJA...!!! ATAU KU PECAT KALIAN SEMUA...!!!!"
Alin berteriak layak nya orang kesurupan. Yang membuat para pegawainya merasa ketakutan lalu membubarkan diri dengan seketika.
Alin terus menangis, ia merogoh tas nya untuk mencari obat dan lalu meminum nya.
Setengah jam kemudian, Alin tampak mulai tenang. Ia meraih kursi yang sudah tertidur di lantai, karena ia lemparkan saat dirinya mengamuk tadi.
Lalu ia berdiri kan dan duduk di atas kursi itu.
Cringgggg..!
cringgggg..!
cringgggg..!
Beberapa pesan masuk, Alin langsung memungut ponselnya yang tergeletak di atas tanah dekat rerumputan di taman cafe nya.
Alin melihat pesan-pesan yang baru saja masuk. Matanya terbelalak saat melihat foto-foto yang di kirimkan oleh orang suruhannya.
"NAYA...!!!!!!"
Serunya sambil mengepalkan sebelah tangan nya.
Lalu gadis itu mulai tertawa terbahak-bahak sambil menangis.
"Ja... jadi.. elu beneran pacaran juga sama Andreas?"
"Hahahahhahahaha"
"Dasar m*r*h*n... perebut pacar orang..!"
Makinya.
"Jadi elu alasan Andreas mutusin gue? HAH!"
Teriak nya.
"Gue kasih lu pelajaran Naya. Biar lu gak kebiasaan merebut pacar orang lain..!"
Bisik nya.
Lalu Alin memunguti tas nya yang tergeletak di lantai di samping meja yang sudah terbalik.
Alin merapihkan baju dan rambut nya.
Ia mulai melangkah kedalam cafe dengan tenang.
Alin tidak memperdulikan tatapan para pegawainya dan para pelanggan. Ia bergegas menuju pintu keluar dan langsung ke parkiran. Ia membuka pintu mobilnya dan langsung masuk kedalam.
Ia pun meninggalkan cafe dengan tenang.
.....
"Ayankk... nanti kita liburan dong, kayak waktu itu"
Teriak Naya di kuping Andreas, agar suaranya terdengar jelas oleh Andreas yang sedang asik mendengarkan musik yang di mainkan DJ.
"Iya.. mau kemana?"
Tanya Andreas sambil membelai lembut rambut Naya.
"Kemana saja sayang, yang penting kita happy"
Teriak Naya lagi, dengan lidah yang terseret karena mabuk.
"Ya sudah, kapan-kapan kita liburan. sekarang sudah pukul tiga pagi, kita pulang yuk"
Bujuk Andreas, sambil membantu Naya untuk berdiri.
Sedangkan Naya hanya mengangguk-angguk dengan berat.
Andreas merangkul Naya yang terlihat sangat sempoyongan.
Mereka berdua keluar dari club malam tersebut, lalu menuju keparkiran.
Naya terus meracau tidak jelas sedangkan Andreas berusaha memperhatikan jalan nya yang juga sempoyongan.
Andreas meletakkan tubuh Naya di kursi penumpang di samping kemudi, lalu menutup pintu mobilnya.
Ia memutar ke arah kursi kemudi dan masuk kedalam mobilnya. Lalu mengendarai mobil dengan pelan agar tetap bisa berkonsentrasi.
Andreas membawa Naya ke apartemen miliknya. Setelah sampai di apartemen, Andreas menurunkan Naya dari mobil dan membawa Naya naik ke unit nya.
Andreas tidak menyadari bahwa ada sepasang mata penuh dendam yang sedang memperhatikan dirinya dan Naya saat Andreas menuju pintu apartemen.