H -

H -
ch 35. H-20



"Sayang, Apa kabar kamu?"


Sapa Andreas yang saat itu sengaja datang ke boutique milik Rara.


Rara hanya memandang lelaki itu dengan tatapan dingin.


"Ngapain kesini..?"


Tanya Rara ketus. Andreas hanya tertunduk dan menghela napasnya dengan pelan.


"Sudah selesai urusan mu dengan semua wanita-wanita mu.."


Sambung Rara lagi.


"Sudah.."


Andreas tertunduk lesu.


"Sayang, Aku tahu aku salah. Ku mohon, Maafkan aku ya.. Kita buka lembaran baru. Pernikahan kita tinggal dua puluh hari lagi sayang..."


Andreas kembali memohon di hadapan Rara. Sedangkan gadis itu hanya diam tanpa kata.


"Sayang, ini untuk mu.."


Andreas memberikan sebuah kotak kecil untuk Rara. Rara hanya melirik kotak itu dengan malas.


"Buka sayang... ini untuk kamu, Hadiah pernikahan untuk kamu.."


Rara melirik Andreas, Lalu membuka isi kotak kecil tersebut.


"Kunci mobil..?"


Rara menatap Andreas dengan tak percaya.


"Iya sayang, Ini hadiah pernikahan untuk mu"


Andreas tersenyum sumringah.


"Ikut aku yuk.., Mobilnya ada di depan.."


Andreas merangkul Rara dan mengajaknya kedepan boutique Rara. Lalu ia menunjukkan sebuah mobil mewah yang terparkir dengan gagah di parkiran boutique.


Rara Tersenyum kecil, Lalu menatap Andreas yang sedang merentangkan kedua tangan nya di depan mobil yang ia belikan untuk Rara.


"Ini untuk ku..? Hadiah pernikahan..?"


Tanya Rara lagi, Untuk memastikan ucapan Andreas.


" Iya sayang, Kamu senang kan..?"


Andreas merangkul Rara yang berdiri mematung di depan mobil barunya.


"Maafkan aku ya, kita buka lembaran baru. Aku sangat mencintaimu, Sungguh.."


Bisik Andreas sambil mencium lembut kening Rara.


Para pegawai Rara menatap iri kepada gadis itu.


"Betapa beruntungnya menjadi Rara"


gumam mereka.


"Setidaknya aku tidak rugi membuang waktuku selama tiga tahun bersama lelaki b*j*ng*n ini"


Gumam Rara sambil tersenyum licik.


....


Siang itu Nia mengantarkan Farah jalan-jalan ke mall untuk makan siang sekaligus berbelanja kebutuhan Farah.


Farah mengidam salah satu menu makanan di salah satu restoran yang berada di mall tersebut.


Farah tampak girang karena Nia bersedia mengantarkan dirinya. Entah mengapa Farah ingin sekali Nia yang mengantarkan nya.


"Ayo lah.. ini bawaan bayi.."


Farah memohon kepada Nia yang sedang sibuk di kantornya.


"Gue lagi ngantor Faraaaahhhh"


Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gue nangis nih..!"


Ancam Farah, Gadis itu mulai terdengar menangis.


"Lah...lah.. lah... iya iya.. ya sudah.. gue Otw sekarang..!"


Ucap Nia dengan gusar. Sedangkan Farah yang mendengar Nia akan menjemputnya tertawa penuh kemenangan.


"Gitu dong..!"


Ucap Farah lalu mengakhiri panggilan telponnya.


Dengan bersemangat, ia bersiap-siap mandi dan berdandan untuk pergi ke mall dengan Nia.


"Arghhhh..., Kok jadi gue yang repot.."


Nia memijat kepalanya yang tidak pusing. Lalu ia pergi meninggalkan kantornya dan menjemput Farah.


Sesampainya Nia di apartemen Farah,


Farah tersenyum jahil saat melihat wajah Nia yang terlihat tidak ikhlas.


"Buruan naik..!"


Perintah Nia saat ia baru saja tiba di rumah Farah. Dengan girang, Farah naik ke dalam mobil Nia. Lalu mereka pergi ke Mall yang di tuju oleh Farah.


"Jangan ngambek dong.."


Goda Farah saat melihat Nia yang cemberut karena meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk di kantor.


"Gimana gue gak cemberut, Gue banyak kerjaan Faraaaaahhhh.."


Ucap gadis itu dengan sebal.


"Ih..., Kan bayi nya langsung sedih kan...., Lihat aunty nya galak. Aunty nya gak ikhlas.."


Farah tertunduk sedih, Sambil pura-pura menghapus air matanya dengan ujung baju.


"Alasan lu bayiiiii mulu.. Padahal emak nya yang pecicilan..!"


Ucap Nia dengan sewot. Lalu Farah tertawa terbahak-bahak melihat wajah Nia yang kesal karena tidak bisa di tipu oleh dirinya.


Melihat Farah tertawa, Nia pun ikut tersenyum masam.


Di mall Farah seperti tak terkendali. Ia mengambil apa saja yang ia inginkan, Terutama beberapa baju bayi yang menarik perhatiannya.


Nia berusaha mengingatkan Farah.


"Lu itu orang jaman Now, Atau orang jaman Old sih..?"


Ucap Farah sambil menatap Nia dengan kesal.


"Ah... terserah lu deh.., Buruan.. katanya mau makan..?! Gue juga laper nih..!"


Ucap Nia dengan gusar sambil melihat kesekeliling mall yang terlihat lengang.


Tiba-tiba tatapan Nia tertuju kepada seseorang lelaki yang ia kenal, Sedang berjalan sendirian di dalam mall tersebut.


"Eh...eh...Far.."


Nia mencolek Farah tanpa melepaskan pandangannya dari lelaki yang ia kenali itu.


"Hmmmmm.. Apa..?"


Tanya Farah yang masih asik memilih baju-baju bayi yang tergantung di depannya.


"Lihat itu....Fathur itu Farrr...."


Mendengar nama Fathur disebut oleh Nia, mau tidak mau Farah langsung melihat kearah yang di tunjuk oleh Nia.


"Mana..?"


Tanya Farah dengan malas.


"Itu...Tuhh.. Tumben amat itu bocah ke mall sendirian..!"


Nia menunjuk-nunjuk Fathur yang akan berbelok di lorong ujung mall tersebut.


"Eh iya.., Ngapain itu anak ke mall sendirian..?"


Ucap Farah sambil menatap punggung lelaki itu penuh tanda tanya.


Nia dan Farah langsung saling tatap. Mereka cukup tahu apa yang akan mereka lakukan.


..


Fathur masuk ke salah satu gerai diamond jewellery didalam mall tersebut. Fathur disambut ramah oleh pegawai gerai tersebut.


"Selamat siang mas, Ada yang bisa saya bantu..?"


Sapa seorang gadis dibalik meja etalase perhiasan mewah tersebut.


"Hmmm, Bisa bantu saya mencari cincin pernikahan mbak..?"


"Baik mas, Sebelah sini.."


Gadis pegawai itu menunjukkan jejeran koleksi gerai mereka. Fathur melihat-lihat pasangan-pasangan cincin yang berjejer rapi di dalam etalase kaca tersebut.


Ia menggigit sudut bibirnya sambil berpikir model yang mana yang akan ia pilih.


"Coba lihat yang ini mbak.."


Fathur menunjuk sepasang cincin pernikahan yang terlihat mewah dan cantik yang terpajang di antara sepasang cincin-cincin yang lainnya.


"Baik mas.."


Gadis itu mengeluarkan sepasang cincin yang Fathur pilih. Lalu ia mencoba cincin pria di jari manis sedangkan cincin wanita di jari kelingking.


"Calonnya tidak di ajak sekalian mas..?"


Tanya gadis pegawai itu berbasa-basi.


Fathur hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Gotchaaaaa....!"


Seru Nia dan Farah dari belakang Fathur. Hampir saja cincin itu terlepas dari pegangan Fathur, Karena ia terkejut melihat kedua sahabatnya sudah berdiri di belakang dirinya.


"Fa...Farah.. Nia..!!"


Ucap nya sambil menatap serba salah.


Nia langsung menyipitkan matanya dan memandang Fathur dengan seksama.


"Lu punya cewek..? Lu mau Nikah..? Apa lu mau ngelamar..? Eh, Tapi lu beli cincin nikah.., Lu mau nikah..? Jawab dengan jujur Fathur Ali Rakhasiwi...!!!!!"


Bibir Fathur bergetar ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Nia dan Farah.


"Ng.....Anu....Itu...Gue...Gue.."


"Ngomong yang jelas Fathurrrr...!"


Ucap Nia tidak sabaran.


"Gue beliin buat sepupu yang mau menikah..!"


Jawab Fathur dengan panik.


Farah menatap Fathur dengan Sesama.


"Gue belajar nih tentang gestur seseorang saat berbicara. Kalau kayak lu gini, Tandanya lu sedang berbohong..!"


Farah tersenyum menatap Fathur penuh Arti.


"Ya sudah itu saja mbak..!"


Ucap Fathur kepada gadis pegawai itu, Lalu di sambut anggukan dan senyuman ramah dari gadis pegawai gerai tersebut.


"Fathur... jawab.. itu buat siapa..!"


Desak Nia dan Farah.


"IYA.. BUAT GUE.. ARGHHHHH.. LU BERDUA BAWELLLL..!!!!"


Fathur menggaruk kepalanya dengan gusar. Lalu menatap kedua sahabatnya yang sedang tersenyum-senyum penuh kemenangan.


"Siapakah gadis itu Fathur Ali...?"


Taya Nia dengan gayanya yang hampir mirip dengan pembawa acara gosip di televisi.


"Nanti juga lu tau.."


Sahut Fathur dengan cuek sambil memberikan kartu debit nya kepada pegawai tersebut.


"Cerita dong, Gue kira selama ini lu gak suka sama cewek, Eh ternyata suka.., Maaf ya Fathur.. Sekarang lu harus cerita ya.."


Bujuk Farah sambil bergelayutan manja di lengan Fathur.


"Apaan sih.. Hedehhhh.. Nasib ketemu dua orang ini. Tukang gosipppp..!"


Ucap Fathur, kesal.