
Andreas menutup pintu dengan perlahan. Dan dengan santai ia berjalan meninggalkan apartemen nya.
Kini perasaan nya begitu lega, karena ia sangat yakin, bila dilihat dari ekspresi Rara, gadis itu benar-benar tidak melihat bukti perselingkuhan nya di dalam tempat sampah.
Setelah Rara yakin Andreas sudah pergi, Rara langsung menuju kamar tidur Andreas. Ia mencoba mencari bukti lain nya. Rara sekali lagi mengecek semua yang ada di kamar Andreas, tetapi tidak satupun hal yang mencurigakan ia temukan disana.
Sempat merasa putus asa, Rara memandangi ranjang yang menjadi saksi bisu Andreas dengan wanita misterius itu. Dengan napas yang tersengal-sengal, Rara meng-amuk tempat tidur itu. Air matanya mulai mengalir deras, ia tidak menyangka bahwa Andreas tega mengkhianati dirinya tepat saat pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
Rara mulai memeriksa setiap sisi ranjang, termasuk meraba sisi bawah ranjang. Tetapi semua usahanya sia-sia.
Dengan emosi Rara mengangkat selimut tebal yang tergeletak di atas ranjang dan menghempaskan nya di lantai.
tringgggg...!
Sesuatu terjatuh di atas lantai bersamaan dengan selimut yang Rara hempaskan.
Rara terdiam, dan mencari sumber suara tersebut. Ia melihat sesuatu yang tak asing baginya tergeletak tepat disamping selimut yang tergeletak di atas lantai.
Perlahan Rara menghampiri benda tersebut. Matanya terbelalak dan bibir nya terbuka lebar saat melihat apa yang sedang ia lihat.
Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Rara memungut benda itu dari atas lantai.
"I... ini.."
Rara menutup mulutnya dengan sebelah tangan. di benak nya langsung muncul wajah sahabat-sahabat nya yang selama ini tertawa dan menangis bersamanya. Bagaimana mungkin gelang persahabatan mereka berada di balik selimut milik tunangan nya. sedangkan gelang milik Rara masih melingkar di pergelangan tangan nya.
sudah dipastikan bahwa itu milik seseorang dari ke empat sahabat wanitanya.
Hati Rara hancur seketika. Ia terduduk lemas di samping ranjang milik Andreas.
"Tega kalian, aku akan mencari tahu siapa penghianat di antara kalian"
Gumam nya. Air mata mengalir deras di kedua pipi Rara. Rara langsung mengambil ponselnya dan memfoto gelang tersebut di atas ranjang Andreas. Lalu ia menaruh selimut itu kembali keatas ranjang dan merapikan nya.
Rara menghapus air matanya, lalu keluar dari kamar Andreas. Ia kembali merogoh ponsel milik nya dari saku celana dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung menghubungi Fathur.
"Ya Ra.."
Terdengar suara serak Fathur yang baru saja bangun dari tidur nya.
"Gue mau ke rumah lu sekarang"
klik..!
Rara langsung mematikan sambungan telepon nya. lalu menyambar tas milik nya dan pergi meninggalkan apartemen Andreas.
Rara memencet tombol lift menuju lantai dasar. Setelah sampai di bawah, ia langsung menuju ke parkiran.
Saat Andreas hendak menuju ke lift, dirinya melihat Rara yang baru saja keluar dari lift sambil berlari menuju ke arah parkiran seperti sedang terburu-buru.
Andreas memanggil Rara berkali-kali, tetapi sepertinya gadis itu tidak mendengar panggilan dari Andreas. Ia pun termenung dengan pelastik belanja berisi pembalut wanita di tangan nya.
"Tega kamu Andreas..!"
"Tega kamu berkhianat..!"
Teriak Rara sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Air mata terus mengalir dari matanya yang bulat.
Rara pun mengabaikan ponselnya yang berdering berkali-kali. Ia tahu betul itu pasti dari tunangan nya , Andreas.
Saat ini ia benar-benar tidak ingin di ganggu lelaki itu, apalagi bertemu dengan lelaki itu.
Sebenarnya bisa saja Rara mengungkap perselingkuhan Andreas saat ini juga. Tetapi Rara tidak ingin terlihat bodoh dan terburu-buru. Rara tetap mengikuti saran dari Fathur dan ia tetap menginginkan fakta siapa yang sudah menjadi penghianat di antara sahabat nya dan bukan hanya sekedar menebak-nebak belaka.
Rara membanting pintu mobilnya dengan kencang. Lalu ia berlari ke pelukan Fathur yang sudah menunggu Rara berdiri di depan teras rumah nya yang asri. Lelaki pun itu merasa Rara sedang tidak baik-baik saja.
Rara memeluk tubuh Fathur dengan sangat erat dan menangis di dadanya yang bidang.
Fathur hanya diam tanpa sepatah kata pun dan mencoba membalas pelukan Rara dengan melingkarkan tangan nya di punggung Rara.
Gadis itu terus menangis terisak-isak, hingga kaos yang sedang Fathur kenakan menjadi basah oleh air mata Rara.
Fathur tinggal sendiri di rumah yang ia beli beberapa tahun yang lalu. Fathur memang pekerja keras, hingga di usia nya yang masih muda, ia mampu membeli satu unit rumah seperti apa yang ia impikan. Rumah Fathur cukup luas untuk di tempatinya sendirian.
Halaman nya yang lumayan luas, ia tanami pohon rindang yang berdiri tegak beberapa meter dari pagar nya. Sedangkan di depan teras, ia menyulap nya menjadi kolam ikan koi peliharaan nya.
Di samping carport, ia letakan pot-pot berisi tabulampot yang berjejer disisi kanan sepanjang carport. Sedangkan sisa tanah di samping kolam ia tanami rumput jepang yang semakin mempercantik rumah nya.
Semua ia lakukan sendirian, tanpa bantuan tukang taman.
Ia memiliki banyak waktu luang karena memang selama ini Fathur tidak pernah keluar saat dirinya libur bekerja. Tidak ada pasangan, tidak ada kegiatan yang lain kecuali sesekali hangout bersama sahabat-sahabat wanitanya.
Sebenarnya, banyak sekali wanita yang ingin mempunyai hubungan dengan Fathur. Tetapi lelaki itu begitu dingin dengan para wanita, karena Fathur tidak bisa membohongi dirinya sendiri. ia masih sangat mencintai Rara, di otak nya hanya Rara, Rara dan selalu Rara.
Wanita itu seperti hantu yang selalu gentayangan di sekitar nya, di otak nya dan di pelupuk matanya. Sehingga, ia tidak bisa tertarik dengan wanita mana pun yang mencoba singgah kedalam kehidupan nya.
"Kita masuk dulu yuk"
Fathur membimbing Rara untuk masuk kedalam rumah nya.
Fathur dan Rara duduk di sofa ruang tamu yang bernuansa monochrome itu.
Tanpa diminta, Fathur memberikan Rara sekotak tissue untuk menghapus air matanya gadis itu.
"Gue ambilkan minum dulu ya"
Fathur melepaskan dengan lembut tangan Rara yang melingkar di lengan nya yang berotot. Lalu beranjak dari sofa untuk mengambilkan Rara segelas air di dapur.
"Fathur.."
"Ya Ra.."
"Selingkuhan Andreas adalah salah satu dari sahabat kita..!"
Fathur terkejut mendengar ucapan Rara, ia pun kembali duduk di samping Rara yang masih menangis sesenggukan.
"Lu gak bercanda kan Ra?"
Tanya Fathur tak percaya.
Rara mengeluarkan gelang persahabatan yang ia temukan di kamar Andreas dari saku celana nya, lalu meletakkan gelang itu di atas meja tamu. Fathur terpana memandangi gelang tersebut.
"Lu serius? ini ketemu dimana?"
Tanya Fathur sambil meraih gelang tersebut dan mengamatinya.
Gelang itu berwarna hitam terbuat dari titanium yang di batang nya tertulis nama geng mereka. Masing-masing dari mereka memiliki gelang tersebut. Walaupun mereka sudah dewasa, gelang tersebut masih saja mereka pakai untuk menghormati persahabatan mereka.
Gelang itu mereka buat saat mereka hendak lulus dari SMA. Saat mereka hangout ke sebuah mall sepulang sekolah. Sayang nya gelang tersebut tidak ada inisial nama di masing-masing gelang yang mereka miliki.
"Ketemu di ranjang Andreas. Dan ini, bukti lain nya"
Rara memberikan ponselnya kepada Fathur.
Fathur mengamati setiap foto yang berada di dalam ponsel Rara.
Fathur mengepalkan tangan nya saat ia melihat foto jejak penghianatan Andreas kepada Rara, gadis yang ia relakan untuk di nikahi lelaki penghianat itu.
"Kurang ajar"
Gumam nya.
Saat itu ia ingin sekali menemui Andreas dan memukul lelaki itu hingga babak belur.