H -

H -
ch 15. Fathur



Tok Tok Tok..!


"Raaa.."


Fathur memanggil Rara dari luar pintu kamar.


"Lu baik-baik saja kan?"


Tanya Fathur dengan khawatir.


"I...iya.. baik-baik saja"


Sahut Rara dari dalam kamar.


Fathur terbangun dari tidur nya saat dirinya mendengar sesuatu terjatuh dari kamar nya. Ia pun berpikir sesuatu terjadi kepada Rara. Dengan khawatir lelaki itu langsung memanggil Rara untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


"Lu gak tidur Ra? Itu apa yang jatuh? Lu jatuh Ra? Kenapa?"


Tanyanya lagi.


Fathur terus mengetuk pintu kamar. Karena, ia tidak sabar menunggu Rara membukakan pintu untuk nya.


Dengan perlahan pintu kamar terbuka, Fathur melihat Rara seperti sedang ketakutan.


"Kenapa sih? Tadi apa yang jatuh?"


Tanyanya lagi.


"I.. itu.. buku jatuh. Gue gak bisa tidur, jadi gue coba ambil buku lu buat di baca. Terus ada yang jatuh beberapa"


Rara tidak berani menatap mata Fathur saat berbicara dengan lelaki itu.


"Oh.. gue kira lu kenapa-kenapa. Atau jatuh gitu dari tempat tidur"


Fathur menghela napas dengan lega.


Rara memberikan diri menatap wajah Fathur. ia mencoba menilai apakah Fathur seorang psikopat atau tidak. Karena Rara masih belum mengerti mengapa Fathur mengoleksi banyak sekali foto dirinya.


"Fa.. Fa.. Fathur, gue pulang dulu ya"


ucap Rara dengan terbata-bata.


"Kok pulang? Kenapa Ra? Gak jadi kita ke kantor Andreas lagi?"


Tanya Fathur dengan wajah bingung nya.


"Gu...gue gak enak badan"


Jawab Rara, tubuh gadis itu mulai terlihat gemetar.


"Gak enak badan? Kok tiba-tiba? Mau gue anterin?"


Fathur menempelkan punggung tangan nya di dahi Rara. Dengan cepat Rara menepis tangan Fathur dari dahinya.


"Gue pulang ya!"


Ucap Rara, seperti orang yang sedang ketakutan, lalu berlari keluar dari rumah Fathur dan langsung masuk kedalam mobilnya.


"Ra....! Kenapa sih?"


Fathur menyusul Rara ke halaman rumahnya. Tetapi gadis itu langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah Fathur.


Fathur terdiam kebingungan melihat sikap Rara yang aneh. Fathur pun terduduk lemas di sofa ruang tamu nya.


Ia tak habis pikir dengan sikap Rara barusan.


Ia terus bertanya-tanya mengapa Rara bersikap seperti itu kepadanya. Padahal sejak tadi pagi Rara baik-baik saja. Fathur langsung masuk kedalam kamar nya, dan mengecek foto Rara di lemari pakaian nya. Foto itu tergeletak sama seperti saat ia meninggalkan foto itu di lemari.


Lalu Fathur melihat keatas rak buku nya. Kotak berwarna hitam itu masih di posisinya. Tidak mungkin Rara bisa meraih kotak itu, karena tinggi badan Rara tidak akan bisa meraih kotak tersebut.


Fathur terduduk di atas ranjang dengan pertanyaan-pertanyaan di hatinya.


...


Rara baru saja sampai di rumah nya. ia melihat mobil Andreas terparkir di halaman rumahnya.


"Nah itu Rara pulang"


Ibunya Rara menunjuk anak gadis nya yang baru saja turun dari mobil.


"Tante tinggal ya"


Ibu Rara tersenyum kepada Andreas, calon menantu kesayangan nya.


"Iya tante, terimakasih"


Andreas membalas senyuman Ibunya Rara dengan sopan.


"Ngapain kesini?"


Tanya Rara dengan ketus saat Andreas tersenyum kepadanya.


"Loh, kok gitu ngomong nya sayang? calon suami datang kok malah di tanya begitu?"


Andreas menatap Rara dengan tak percaya.


"Iya ngapain kesini? Bukan nya kerja?"


Rara menurun kan nada bicaranya.


"Aku kangen, makanya aku kesini. Kamu itu kenapa sih sayang? Kok aneh gitu sikap nya sama aku?"


"Aku lagi capek saja."


Jawab Rara, berpura-pura.


"Kita pergi jalan-jalan yuk"


"Kemana?"


Tanya Rara dengan datar.


"Mau nya kemana?"


"Aku paling benci sama cowok yang ngajak jalan-jalan tapi gak tau mau kemana, malah minta ide mau kemana sama cewek nya. Sudah ah aku capek..! Aku mau istirahat dulu..!"


Rara berlalu meninggalkan Andreas sendiri di teras rumah nya.


"Ra...!"


Andreas memanggil Rara, tetapi Rara tidak menghiraukan nya. Lalu naik ke lantai atas dimana kamar nya berada.


Rara masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar nya. Ia pun langsung menuju jendela kamar nya dan melihat mobil Andreas yang terparkir di halaman.


Rara melihat lelaki itu berjalan menuju mobil nya dengan menggerutu dan meninggalkan rumah Rara.


Rara menghela napas nya dengan berat. Ingin sekali ia mengatakan kepada Andreas bahwa pernikahan mereka lebih baik di batalkan saja. Tetapi, bibir nya seperti terkunci saat melihat lelaki itu.


Rara masih sangat mencintai Andreas. Tetapi, satu sisi rasa bencinya kepada Andreas juga sangat besar.


"humfff"


Rara menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Andreas dari pikirannya.


Tiba-tiba Rara teringat tentang surat milik Fathur yang tertulis kan nama nya di atas sampul surat itu. Lalu Rara mengambil surat-surat itu dari tas nya, dan mulai membuka surat tersebut.


***Dear Rara..


Aku tidak tahu mengapa perasaan ini begitu tidak terkendali saat pertama kali berjumpa dirimu waktu kita MOS di sekolah dulu.


Jadi, aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan mu.


Ra.. mungkin kamu cuma menganggap aku sahabat, tetapi aku mempunyai rasa yang lebih dari sekedar sahabat Ra..!


Aku ingin sekali mengatakan kepadamu secara langsung, tetapi aku tidak punya keberanian itu. Melalui surat ini, aku harap kamu mengerti dengan apa yang ada di hati ku.


Ra.. maukah kamu menjadi pacar ku***?"


Rara termenung saat selesai membaca surat yang sudah usang itu.


Ternyata surat itu sudah di buat oleh Fathur sejak beberapa bulan mereka berkenalan di sekolah.


Lalu Rara membuka surat milik Fathur yang kedua.


***Ra, aku harap kamu memaafkan aku setelah membaca surat ini.


Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu, bahwa aku sangat cemburu saat melihat mu dekat dengan Jhonson anak fakultas ekonomi.


Aku tau Ra, kamu hanya menganggap aku sebagai sahabat. Tetapi perlu kamu ketahui Ra, aku suka sama kamu Ra..!


Aku ingin lebih dari sekedar sahabat Ra..! Aku sudah menahan perasaan ini bertahun-tahun sejak kita baru saja berkenalan di kelas satu SMA.


tetapi aku tidak pernah punya keberanian mengatakan nya Ra..!


Aku tersiksa memendam perasaan ini. Aku ingin jujur kepadamu. Seandainya kamu tidak bisa menerima ini semua, aku terima bila kamu menjauhi aku Ra..


Aku cinta sama kamu Ra.. Sangat mencintaimu setulus hati ku***.


Entah mengapa, Rara merasakan kesedihan saat membaca surat-surat yang tidak pernah sampai kepadanya itu.


Masih penasaran, Rara pun membuka surat terakhir yang sempat ia selipkan kedalam tas nya saat ia di kamar Fathur.


***Ra, selamat atas pertunangan nya.


Maaf aku tidak bisa datang. Aku beralasan sedang flu, tetapi sebenarnya tidak Ra. Aku tidak sedang flu, aku cuma tidak kuat melihat kamu bersama Andreas mengikat janji untuk segera menikah.


Hati ku hancur Ra..!


Kamu pernah bertanya kepadaku, mengapa aku tidak pernah pacaran waktu sekolah, dan tidak serius saat mendekati wanita. Itu semua karena aku tidak bisa melupakan cinta pertama ku Ra... yaitu kamu. Kamu adalah cinta pertama ku.


Walaupun kamu menganggap ku hanya sebagai sahabat. Tetapi perasaan-perasaan ini tidak bisa aku kendalikan hanya sebatas sahabat saja.


Setiap kamu menangis di pelukan ku, aku selalu merasa sedih dan bahagia. Aku sedih melihat kamu sedih, dan aku bahagia saat kamu memeluk ku.


Walaupun kamu hanya datang saat menangis ke pelukan ku. Tetapi aku sangat bersyukur, setidaknya aku orang pertama yang kamu ingat saat kamu membutuhkan kekuatan. Rasanya aku sangat tersanjung saat kamu mengingat ku saat kamu sedih.


Ra.. sekarang kamu sudah di pastikan Akan menjadi istri Andreas, dan tujuan ku menulis surat ini, bukan bermaksud mengganggu mu. Aku hanya ingin kamu tahu, bila kamu berubah pikiran atau kamu di kecewakan oleh Andreas, Tetap lah mengingatku. aku akan selalu berada disini menunggu mu, mendukung mu dan terus mencintaimu.


Maaf... atas surat yang tak bermakna ini.


Ah... aku sungguh malu dengan perasaan ku yang tidak tahu diri ini***. "


Rara menutup surat itu dengan derai air mata di pipi nya. Ia tidak menyangka selama ini sikap dan ketulusan Fathur bukan lah sebagai sahabat. Tetapi Fathur diam-diam memberikan itu semua karena Fathur sangat mencintai dirinya dengan tulus.


Ia mengingat betapa baik nya Fathur selama ini, dan betapa buruk nya perlakuan Rara terhadap lelaki itu. Rara hanya datang di saat terluka, lalu pergi di saat bahagia bersama lelaki lain yang ia cintai.


Kini, saat ia menerima kenyataan penghianatan Andreas, Lagi-lagi Fathur lah menjadi labuhan Rara saat badai menerjang nya.


Rara menangis di tepi ranjang nya. Ia menyesali betapa jahat sekali dirinya terhadap Fathur yang tulus kepadanya.


Sebelas tahun memendam rasa cinta? siapa yang akan kuat? tetapi nyatanya lelaki itu mampu melakukan nya.