H -

H -
ch 11. H-36



Seperti biasa hari minggu sore, geng Rara berkumpul di cafe milik Alin.


Sore itu Nia, Farah dan Naya sudah duduk manis di sudut ruangan cafe.


Alin sengaja mendesign spot khusus untuk dirinya dan sahabat-sahabatnya berkumpul tanpa menganggu pelanggan-pelanggan nya.


"Tumben si Fathur sama Rara belum sampai"


Nia yang suka nyablak melirik ke pintu masuk cafe.


"Macet kali"


Sahut Farah yang sedang asik dengan ponselnya.


"Padahal, si Rara paling tepat waktu loh. tumben banget. Ibarat nya kalau janjian jam tiga, dia sudah sampai jam setengah tiga"


Sambung Naya yang sedang asik dengan laptop nya.


Satu jam kemudian, Fathur dan Rara tiba di cafe Alin. Masih dengan mata yang sembab Rara datang dan duduk di depan teman-temannya.


Melihat Rara datang, Alin yang sejak tadi sibuk mengatur pegawainya yang baru saja berganti shif, langsung bergabung dengan mereka.


"Tumben datang bareng Fathur Ra?"


Tanya Alin yang hendak duduk disamping Rara.


"Gue jemput tadi. Rara gak enak badan, tapi gue paksa nongkrong sama kita-kita"


Sahut Fathur sambil melirik Rara.


"Mata lu kenapa Ra? kok bengkak gitu?"


Ke empat sahabat perempuan Rara serentak bertanya tentang mata Rara yang sembab karena menangis semalaman.


"Oh, gak apa-apa kok, cuma habis nangis, kemarin sakit perut semalaman"


Ucap Rara sambil melirik satu persatu pergelangan tangan teman-teman perempuan nya.


Nia masih menggunakan gelang persahabatan mereka. Lalu Rara melirik ke pergelangan tangan Farah, gadis itu tidak mengenakan gelang yang biasanya selalu ada di tangan nya.


"Gelang lu kemana Far?"


Tanya Rara to the point dengan wajah nya yang dingin.


"Oh, gak tau nih mungkin gue lupa taruh dimana. Kayak nya di rumah, waktu gue mandi gue lepas"


Rara menatap Farah dengan tajam saat mendengar alasan Farah. Ia menjadi curiga dengan gadis itu. Kalau di ingat kembali, Rara pernah bertemu dengan Farah saat di lift apartemen Andreas.


"Apa Farah selingkuhan Andreas?"


Bisik Rara di dalam hatinya.


Napas Rara mulai sesak, membayangkan Farah dan Andreas bersenang-senang di belakang dirinya.


Tetapi Farah terlihat santai saja, seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali.


Hal itu membuat Rara semakin memendam emosi.


Fathur yang duduk di sebelah kanan Rara mengusap lembut punggung Rara. ia tahu betul bila saat ini Rara sangat emosi.


"Naya dan Alin juga gak pakai gelang persahabatan tuh"


Dengan santai Nia menunjuk ke pergelangan tangan dua sahabat nya.


Rara langsung melirik ke pergelangan tangan Naya dan Alin.


Benar saja, di pergelangan tangan kedua sahabat nya itu tidak ada gelang persahabatan yang biasa mereka kenakan.


"Gelang kalian dimana?"


Tanya Rara penasaran.


"Gelang gue ada kok dirumah. Kemarin habis dari acara. Jadi, gue copot dulu. Eh, lupa memakainya tadi"


Ucap Alin sambil menatap mata Rara.


"Kalo lu Nay?"


Tanya Fathur.


"Eh iya, kemana ya... duh.. masa hilang? gue gak sadar loh, kok tiba-tiba gak ada ya? duh dimana ya?"


Naya terlihat sangat panik saat menyadari gelang persahabatan nya hilang.


"Ketinggalan di rumah pacar lu kali"


Ucap Rara dengan sinis, sambil terus mengamati tingkah laku Naya yang panik.


"Pacar? pacar gue kan lagi di Ambon. ngawur saja"


Ucap Naya sambil mencari gelang itu di dalam tas nya.


"Bisa aja lu punya selingkuhan"


Cecar Rara masih dengan nada suaranya yang sinis.


Mendengar ucapan Rara, Naya terdiam dan menatap Rara dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Lu ngomong apa sih Ra? kok lu aneh ya hari ini?"


Naya merasa tidak nyaman dengan ucapan Rara yang begitu sinis terhadap dirinya.


"Becanda kali"


Fathur mencoba menimpali agar suasana tidak menjadi tegang.


Dengan kesal, Naya kembali menaruh tas nya di atas meja dan meraih gelas kopinya lalu menyeruput kopinya sambil menatap Rara.


Sedangkan Alin, Nia dan Farah menjadi salah tingkah dengan ucapan Rara dan menyaksikan reaksi Naya terhadap Rara.


"Ah sudah.. mungkin lu lupa aja kali Nay"


Alin mencoba mencairkan suasana.


"Sudah gak usah baper, Rara becanda kali"


Sambung Nia sambil melirik ke Rara.


"Iya tapi bercandaan nya gak asik"


Ucap Naya kesal, lalu Naya menaruh gelas kopinya dengan kasar ke atas meja.


"Sorry ya kalau tidak asik"


Masih dengan nada suara yang sinis Rara meminta maaf dengan Naya.


"Hai"


"Kamu ngapain kesini?"


Dengan malas Rara bertanya kepada Andreas yang langsung duduk di samping Rara saat Fathur pindah ke sebelah Nia.


"Aku hubungi dari semalam kamu gak angkat-angkat telpon dari ku. Aku mau ketemu, feeling ku kamu pasti disini"


Andreas tersenyum menatap rara tanpa rasa curiga dan berdosa kepada Rara.


Rara langsung mengamati satu persatu reaksi dari ketiga sahabat perempuan nya yang ia curigai.


Alin terlihat santai saja, sedangkan Farah dan Naya terlihat salah tingkah.


"Kamu kemana sih kemarin? kok tiba-tiba pergi dan tidak mau mengangkat telepon dariku? kamu marah?"


Tanya Andreas setengah berbisik di telinga Rara.


Rara terlihat sangat risih kepada Andreas. Dirinya ingin sekali memaki-maki tunangan nya itu, lalu membuka perselingkuhan Andreas dan membuat salah satu dari sahabat nya untuk mengaku.


Rara menghela napas dengan berat lalu melirik ke Fathur.


Lelaki itu hanya menggeleng pelan. Memberi kode kepada Rara "ini bukan lah saat yang tepat untuk membuat Andreas mengakui perselingkuhannya dengan salah satu sahabat mereka".


"A.. aku ada pekerjaan, jadi aku buru-buru ke boutique"


Ucap Rara dengan terbata.


"Oh.. begitu"


Andreas mengangguk anggukan kepalanya.


"Eh lin, aku mau kopi yang kayak biasa ya"


Pinta Andreas kepada Alin.


Alin hanya mengangguk lalu tersenyum dengan hambar.


Entah mengapa, Alin memang tidak begitu suka dengan kehadiran Andreas bila dirinya dan teman-teman nya sedang bersama. Hal itu sudah sejak Rara menjalin hubungan dengan Andreas.


Menurut nya, Andreas cuma membuat suasana menjadi kaku dan suasana menjadi tidak asik dengan kehadiran orang lain di geng mereka.


Semua teman-teman nya pun sangat paham Alasan Alin tidak begitu suka dengan kehadiran Andreas.


"So, ada acara apa kalian?"


Tanya Andreas sambil tersenyum menatap satu persatu teman-teman Rara.


"Gak ada acara, cuma ngumpul-ngumpul aja"


Sahut Nia sambil menerima pesanan French fries cheese favorit nya dari tangan waiters yang baru saja datang mengantarkan pesanan Nia.


Hari ini, suasana tidak seperti biasanya saat mereka semua berkumpul.


Kali ini terlihat Rara yang menjadi banyak diam dan mengamati satu persatu gelagat teman-teman nya yang ia curigai.


Hal itu membuat teman-teman nya menjadi agak risih dan satu persatu pamit pulang dan mengakhiri pertemuan rutin mereka untuk sore itu.


Kini tinggal Alin, Fathur, Andreas dan Rara saja di sana.


"Sebenarnya lu kenapa sih Ra?"


Tanya Alin sambil menyentuh tangan Rara, saat Andreas sedang pergi ke toilet.


"Gak kenapa-kenapa kok"


Sahut Rara dengan wajahnya yang datar.


"Jujur, gue tau pasti ada masalah antara lu dengan Andreas kan? gak biasanya loh seorang Rara seperti ini, lu itu ceria dan gak pernah sesinis itu"


"Sinis?"


Potong Rara sambil menatap Alin dengan tajam.


"Ya sorry kalau gue salah kata, ya sudah lah mungkin lu lagi stress ya Ra menghadapi pernikahan lu?"


Kali ini Rara tidak menjawab pertanyaan dari Alin.


"Sayang, kita jalan-jalan yuk"


Ucap Andreas yang baru saja datang dari toilet.


"Aku mau pulang, aku lagi gak mood"


Ucap Rara, lalu mengambil tas dan beranjak dari duduk nya.


"Ra kamu tuh kenapa sih? kamu menghindari aku?"


Tanya Andreas dengan nada suara yang mulai terdengar panik dengan perubahan Rara yang menurut nya tidak jelas.


"Fathur tolong anterin gue pulang ya"


Fathur mengangguk lalu berdiri dari duduk nya.


"Sebentar, kamu itu kenapa?"


Tanya Andreas lagi.


"Aku? aku capek"


Ucap Rara sambil menarik tangan Fathur untuk mengikutinya keluar dari cafe Alin.


"Ra... ra... tunggu"


Andreas mencoba untuk mencegah Rara.


"Biar gue yang urus Bro"


Dengan gentle Fathur menahan badan Andreas dengan telapak tangan nya, tepat di dada Andreas.


Andreas pun terdiam saat melihat ekspresi Fathur yang sama dingin nya seperti Rara.


"Apa aku membuat kesalahan..!!!!"


Ia berteriak saat mobil Fathur yang membawa Rara berlalu dari hadapannya.


Menurut reader, siapakah sahabat yang telah MENGHIANATI Rara?


Komen-komen ya 😘


Oh iya, jangan lupa dukungan nya 😍🤩


Bagi yang mau membaca karya saya yang lain nya, yuk klik profil saya. Disitu akan muncul karya saya yang lain nya.


Happy reading 😘😍🥰