
"Kalian serius Fat.., Ra?"
Nia dan Farah dan Naya menatap Fathur dan Rara secara bergantian.
"Hai sayang"
Sapa Fathur kepada Rara, Lalu menghampiri gadis itu dan mencium kening Rara.
Ketiga teman-teman mereka hanya bisa melihat Fathur dan Rara dengan pandangan tak percaya.
"Seriusssss...!!!!!"
Tanya Nia lagi.
"Iya lah serius, Lu mau gue jawab apa lagi?" Tanya Fathur lagi.
"Sejak kapan?"
"Ada deh.."
Fathur tersenyum jahil sambil mengacak-acak rambut Nia, lalu ia meninggalkan para wanita di kamar itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di otak mereka.
"Ra...!"
Farah mengangkat kedua tangannya dengan wajah tak percaya. Rara hanya tersenyum geli, lalu Nia, Farah, dan Naya menyerbu Rara sampai Rara terjatuh di atas ranjang. Mereka berempat tertawa dan mencubit Rara dengan gemas.
"Aduhhh... aduhh.. help meeeeeee....!"
Teriak Rara sambil tertawa terbahak-bahak.
...
"Jadi, gimana lu sama Andreas Nay?"
Farah menatap Naya dengan iba. Naya hanya tersenyum kecut sambil menundukkan pandangannya. Naya merasa malu dan sedih.
"Gue gak akan nikah kok sama Andreas, tapi gue pastikan dia harus tanggung jawab dengan anaknya. Anak ini tidak berdosa, gue sama bapaknya yang berdosa. Anak ini harus hidup dan tumbuh dengan baik"
Naya tertunduk sedih.
Nia dan Farah menghela napas mereka dan menatap Naya penuh dengan simpati.
"Gue juga, Nasib kita sama Nay. Bapaknya anak gue gak mungkin mau tanggung jawab menikahi gue. Dia sudah punya istri, nama baiknya pun di pertaruhkan. soalnya dia pejabat, bahaya kalau kasus gue sama dia bocor"
Farah sambil meneteskan air matanya.
"Maafkan kelakuan gue ya, gue memang gak pantes jadi teman kalian"
Naya menangis tersedu-sedu. Rara, Nia dan Farah hanya menatapnya dengan iba.
"Tetapi gue pastikan Andreas bakal menderita sesuai rencana kita..!"
Tekad Naya dengan sorot mata yang berapi-api.
"Kalau Rara mampu memaafkan elu Nay, kita juga akan memaafkan elu"
Ucap Nia di sambut anggukan dari Farah.
Naya menatap Nia, Rara dan Farah dengan malu.
"Terimakasih... terimakasih... Gue gak punya siapa-siapa lagi selain kalian.. terimakasih"
Naya menangis terharu, lalu mereka bertiga serentak memeluk Naya.
..
Malam semakin larut, Satu persatu teman-teman Rara sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Kini tinggal Rara dengan Fathur.
Fathur sedang menikmati segelas kopi panas yang menemaninya melawan dinginnya malam. Rara menghampiri Fathur yang sejak tadi duduk sendirian. Karena semua tamu Rara perempuan, maka Fathur memilih untuk menyendiri di balkon lantai atas.
Fathur tersenyum saat melihat kehadiran Rara. Rara duduk di samping Fathur dengan segelas teh ditangannya.
"Kok kamu nyusul sih?"
Tanya Rara sambil melirik calon suaminya itu.
"Tadi katanya di suruh kesini, giliran di samperin malah nanyain "kenapa kok nyusul"
Fathur membelai lembut rambut Rara. Mereka saling tersenyum canggung.
"Aku gak nyangka, mengapa jadinya sama kamu"
Ucap Rara sambil tersenyum malu.
"Kamu kenapa yakin menikah denganku Ra?"
Tanya Fathur sambil menggosokkan kedua telapak tangannya karena kedinginan.
"Kamu kenapa sanggup menungguku begitu lama?"
Rara tidak menjawab pertanyaan Fathur, melainkan ia kembali melontarkan pertanyaan kepada lelaki itu.
"Hmmm, awalnya aku hanya berharap kamu akan menyadari kalau aku menyukai kamu. Karena setiap kali aku akan mengatakan cinta, ternyata kamu sedang dekat dengan seseorang. Jadi, aku selalu mengurungkan niatku. Dan kenapa aku menunggumu begitu lama? Aku hanya ingin memastikan kalau kamu menikah dengan orang yang tepat dan aku akan mencoba berhenti mencintaimu."
Fathur melirik Rara lalu tersenyum canggung.
"Bagaimana aku mau sadar kamu menyukaiku kalau kamu tidak mengirimkan ku sinyal cintanya?"
Rara tertawa kecil membalas lirikan Fathur.
"Kamu saja yang gak perhatian, aku masuk geng cewek-cewek untuk apa sih Ra? sampai aku di kira b*nc* sama teman-teman sekolah kita"
Rara tertegun mendengar ucapan Fathur.
"Kamu ingat gak, waktu kamu sakit DBD. Setiap hari aku datang hanya untuk melihat kamu, Aku khawatir Ra."
"Kamu ingat juga waktu aku berantem sampai babak belur waktu SMA..? Sebenarnya aku berantem dengan Reza mantan kamu yang masih mengganggu kamu, sampai kamu takut untuk pergi kemana-mana karena Reza meneror kamu terus. Tetapi walaupun babak belur aku menang kok"
Fathur tertawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya karena mengingat betapa konyolnya dia dulu.
Fathur tertawa menatap Rara. Rara meneteskan air matanya.
"Maafkan aku ya, aku gak peka"
Rara menyesali waktu yang telah berlalu.
"Sudahlah, yang penting aku yang menikahi mu"
Fathur tersenyum manis dibalas senyuman manis dari Rara.
..
"Ngomong-ngomong lu pernah ketemu Alin Nay?"
Tanya Farah kepada Naya. Farah, Naya dan Nia, Mereka bertiga sekamar malam ini.
"Gak ada tuh, iya kemana ya si Alin? kok menghilang?"
Naya menatap kedua temannya.
"Gue takutnya si Alin merencanakan sesuatu tau.."
Ucap Nia sambil mengunyah cracker.
"Rencana apaan?"
Tanya Farah penasaran.
"Ya mana gue tau, lu ngerasa gak sih si Alin itu kayak psikopat? dia gayanya aja tenang, tapi kalau lu liat waktu dia ngamuk-ngamuk ngeri tau.. kayak orang gila gitu ya kan Nay..?"
Naya mengangguk mencoba meyakinkan Farah.
"Masa sih?"
Farah mengerutkan keningnya.
"Noh Naya saksinya.. waktu di apartemen si Andreas kampr*t"
Nia mencoba meyakinkan Farah.
"Ih, gue kok merinding ya.., Ngeri aja kalau dia merencanakan sesuatu kepada Rara atau Andreas atauuu... bisa jadi elu berdua Nay, Nia..!"
Farah bergidik ngeri.
"Apaan sih lu nakut-nakutin gue aja..!"
Naya menarik selimutnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Iya nih nakut-nakutin gue aja lu Far..!"
Nia melempar sepotong cracker kearah Farah.
"Ih, kan gue bilang jangan-jangan kan.."
Farah bersungut-sungut menatap kedua sahabatnya.
"Eh, si Rara kemana ya? jangan-jangan tidur sama Fathur lagi.."
Nia menyipitkan kedua matanya, lalu beranjak dari duduknya.
"Mau kemana lu Nia?"
Tanya Farah dan Naya.
"Gue mau jadi SATPOL PP.. mau ikut gak!!"
Farah dan Naya saling pandang, Lalu mengangguk sambil tersenyum.
..
"Aku mau tidur dulu ya"
Rara beranjak dari duduknya di susul oleh Fathur.
"Ra..!"
"Ya..?"
"Terimakasih sudah memilih aku"
Ucap Fathur sambil tersenyum malu. Rara membalas senyuman Fathur dengan senyuman manisnya.
Fathur menghampiri Rara lalu memeluk gadis itu dengan erat.
"Sampai jumpa di hari H"
Bisik Fathur di telinga Rara. Rara semakin tersipu malu.
"Woiiii... mesum lu ya berdua..!!!"
Teriakan Nia membuat Fathur dan Rara terkejut.
"Lepasin gak sahabat gue..!! belom halal Fathur...! lu nafsu amat sih..!!"
Nia menarik lengan Rara dengan kasar agar menjauh dari Fathur.
"Apaan sih lu Nia... ganggu gue aja lu!"
Fathur menatap Nia dengan kesal.
"Gak bisa di bilangin lu ya!!!"
Nia menghampiri Fathur lalu memukul lelaki itu dengan sembarang. Fathur tertawa dan berlari masuk sambil meledek Nia. Mereka tertawa bersama, bridal shower menjadi malam dimana mereka semakin terasa lebih dekat lagi.
Good friends only know about best stories in your life, but best friends have lived them with you.” (Teman baik hanya mengetahui cerita terbaik di hidupmu. Namun, teman terbaik hidup bersama cerita cerita tersebut). -Anonymous-