
Satu minggu telah berlalu, Fathur sengaja menjemput Nia untuk ikut ke rumah Rara. Mereka berniat mengantarkan Rara untuk bertemu dengan Farah pada hari ini.
Nia yang sejak tadi menunggu Fathur, cemberut saat melihat mobil Fathur baru saja tiba memasuki pekarangan rumah nya. Lalu gadis itu menghampiri Fathur yang cengar-cengir menatap Nia.
"Lama amat sih lu Fat...! Nyebelin amat lu emang. Gue nungguin lu sampe laper lagi tau gak..!"
Nia dan Fathur memang selalu bertengkar bila saat bersama. Dari awal persahabatan sampai sekarang Fathur dan Nia selalu tidak pernah cocok. Tetapi walaupun begitu, mereka tetap selalu saling menyayangi.
Karena, ketidak cocokan mereka lebih karena kejahilan Fathur terhadap Nia.
Fathur menatap Nia dengan senyum nya yang di kulum.
"Apa lu liat-liat.. Buruan jalan. Nanti Rara ngambek lagi, karena kelamaan"
Ucap Nia lalu masuk kedalam mobil milik Fathur. Fathur hanya tertawa melihat tingkah Nia. Lalu ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan menuju ke rumah Rara.
"Hmmmm Fat, masa kata Rara dia memaafkan Andreas. Gue gak ngerti deh jalan pikiran Rara. Masa laki-laki seperti itu masih dimaafkan?"
Dengan kesal Nia mengadu kepada Fathur.
"Oh ya? Masa sih? Trus?"
Tanya Fathur sambil membelokkan mobilnya ke sebuah Minimarket, untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan kesukaan Rara.
"Iya, dia bilang tetap melanjutkan pernikahan nya dengan Andreas. Kan gilaaaa..!"
Nia menghela napas nya dengan kesal.
"Ya sudah doakan saja, semoga apa yang di inginkan Rara tercapai dan berjalan dengan baik"
Ucap Fathur sambil keluar dari mobil nya, lalu melangkah ke dalam minimarket.
"Jiahhhhh.. gue doakan Rara dan Andreas? NEVER...!!!!"
Nia berteriak dengan kesal.
*
Siang itu, Rara sedang membungkus sebotol parfume kedalam kotak kado kecil lalu menghiasnya agar terlihat cantik.
Tentu saja, parfume itu hasil dirinya berbelanja dengan Andreas beberapa waktu yang lalu.
Ia membeli tiga parfume. Satu untuk Nia dan satu untuk Farah. Dan yang satu lagi ia berikan kepada Ibunya.
Ia tidak mau memakai barang yang sudah Andreas bayar untuk nya.
Sebenarnya ia cuma mau mengerjai Andreas saja. Karena waktu itu ia sedang sakit hati waktu mengetahui Alin sering berbelanja dengan Andreas.
Dari dalam kamar ia mendengar suara deru mesin mobil jenis Jeep milik Fathur. Rara mengintip dari jendela untuk memastikan kedatangan Fathur. Lalu ia keluar dari kamar nya dan menemui Fathur dan Nia di ruang tamu.
"Hayo berangkat...!"
Ucap Rara dengan bersemangat.
"Lu gak nawarin minum dulu gitu?"
Tanya Nia kepada Rara dengan wajah cemberut nya.
"Enggak"
Sahut Rara sambil tertawa geli.
"Hmmm.. aku bawakan cemilan kesukaan kamu nih"
Fathur berdiri lalu memberikan sekantung besar penuh cemilan kepada Rara.
"Terimakasih ya.."
Ucap Rara lalu tersenyum salah tingkah.
"Lah.. itu semua untuk Rara?"
Tanya Nia kepada Fathur.
"Iya.. emangnya buat lu? Kaga...!"
Ucapan Fathur membuat Nia menjadi kesal. Nia langsung memukul lengan Fathur dengan tinjunya.
Fathur tertawa dan berlari ke arah mobilnya. Sedangkan Rara hanya tersenyum geli melihat tingkah dua orang sahabatnya itu.
..
Fathur, Nia dan Rara melangkah masuk ke dalam cafe tempat Farah janjikan untuk bertemu.
Mereka bertiga menyapukan pandangan nya ke seluruh ruangan cafe tersebut.
Terlihat Farah yang sedang melambai-lambaikan tangan nya ke arah mereka bertiga.
Sambil tersenyum, mereka bertiga menghampiri Farah yang sudah memesan beberapa makanan yang terhidang di depan mereka.
"Apa kabar kalian bertiga..?"
Sapa Farah dengan ramah. Gadis itu selalu ramah kepada siapa saja. Sehingga banyak orang yang salah arti terhadap dirinya.
"Baik"
Ucap Rara, Fathur, dan Nia.
"Hmmm.. Far, gue mau minta maaf atas apa yang sudah gue lakuin ke elu"
Rara tertunduk malu saat Farah menatap dirinya. Farah tidak menjawab ucapan Rara melainkan ia menyerahkan sebuah amplop putih kepada Rara
"Ah.. iya.. ini surat test DNA anak gue, lu bisa baca ini"
Rara menatap amplop putih berlogo sebuah rumah sakit swasta itu. Lalu Rara menolak amplop itu, dengan menggeser kembali kepada Farah
"No need"
Rara langsung mengembalikan surat itu kepada Farah.
"Kenapa?"
Tanya Farah sambil mengernyitkan dahinya.
"Gue percaya, anak itu bukan anak Andreas"
Rara tertunduk malu, Lalu air mata mulai menetes di sudut mata indah nya.
"Ma...maaf, maafkan perlakuan gue disaat lu membutuhkan seorang sahabat. Gue memang tidak pantas disebut seorang sahabat"
Ucap Rara dengan penuh penyesalan.
"Gue paham kenapa lu bersikap seperti itu. Wajar kok, kalau kita tahu tunangan kita tidur dengan orang lain. Terlebih bukti nya menjurus ke sahabat kita sendiri"
Bisik Farah kepada Rara. Air mata Rara semakin deras berjatuhan di pipinya.
ia menatap Farah yang tersenyum kepadanya.
"Maaf... maafkan gue"
Rara memeluk Farah dengan erat. Ia sungguh menyesal dengan sikap nya kepada Farah.
"Gue maafin"
Ucap Farah dengan tulus.
Setelah itu mereka kembali duduk di kursi masing-masing. Lalu memesan menu dan makan siang bersama.
Rara menyodorkan bungkusan kecil untuk Farah, gadis itu menatap bungkusan itu lalu mengambil dan memperhatikan nya.
"Ini apa?"
Tanya Farah sambil membolak-balikan bungkusan kecil itu.
"Buka saja"
Sahut Rara sambil tersenyum kepada Farah.
Farah pun langsung membuka bungkusan kecil itu. Ia menatap tak percaya isi dari bungkusan yang Rara berikan kepadanya.
"Parfume?"
Ucap nya dengan mata yang berbinar-binar.
"Terimakasih...! gue memang lagi kepengen wangi ini. Tapi mahal gak jadi deh gue beli, ternyata dikasih sama elu Ra....!"
Ucap Farah dengan kegirangan.
Farah pun langsung membuka segel parfume tersebut lalu menyemprotkan nya ke bagian-bagian tubuh nya.
"Hmmmm harumm.... terimakasih"
Farah tersenyum puas menatap Rara.
"Lu tumben amat bagi-bagi parfume? lagi banyak duit lu?"
Tanya Nia dengan tatapan menyelidik.
Rara hanya tersenyum tipis penuh misteri bagi Nia.
"Ini anak aneh deh belakangan ini"
gumam Nia.
"Jadi bagaimana kelanjutan nya Far? maaf.. tentang calon bayi lu?"
Fathur memberanikan diri bertanya tentang bayi yang Farah kandung.
Gadis itu menghela napas dengan berat, lalu menatap satu persatu wajah sahabat nya.
"Gue lanjutkan kehamilan ini, walaupun tidak ada pernikahan. Gue sudah berdosa, tidak mungkin gue memilih berdosa lagi dengan menggugurkan kandungan"
Rara langsung menggenggam erat tangan Farah. Disusul oleh Nia dan Fathur.
"Kita siap kok jadi Om dan Tante nya"
Ucap mereka serentak, yang membuat Farah merasa terharu.
"Hmmm.. Ra jadi siapa yang..."
Farah menghentikan ucapan nya.
"Naya sama si Alin lah, siapa lagi?"
Ucap Nia tak bisa terbendung lagi.
"HAH....? DUA-DUANYA?"
Farah langsung shock, dan memegang kening nya yang tidak pusing.
"Lu serius...? Naya? Alin?"
Tanya nya lagi masih tak percaya.
Rara hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Hmmmm terus gimana rencana pernikahan elu Ra?"
Tanya Farah penasaran.
"Gue tetap menikah.. gak mungkin gue batalkan..!"
Jawab Rara dengan datar.
"HAH..? EDAN..!"
Farah semakin shock.
"Apa gue bilang, Rara memang edan kok. Laki-laki kayak gitu di pertahankan. Otak lu gesrek Ra..! masih ada waktu untuk ngebatalin..! batalin sana..!"
Dengan emosi Nia menatap Rara yang hanya terdiam sambil melirik Fathur.
"Lu ngomong dong Fat...! Lu mau si Rara di nikahin sama Andreas? Nih ya, gue bilangin.. gue lebih rela Rara di nikahin elu Fat dari pada sama Andreas si B*st*rd itu..!"
Nia terus mengomel dengan emosi.
"Ya sudah, gue nikahin Rara deh, beneran ya lu pada ridho?"
Tanya Fathur dengan wajah jahilnya.
"Dih.. emang lu mau Ra?"
Tanya Nia sambil melirik Fathur yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Rara hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
Suasana sore itu terasa lebih akrab dari biasanya.
persahabatan mereka terasa semakin erat. Ya, hanya Fathur, Rara,Nia dan Farah. Dari berenam, kini menjadi berempat.