
Naya membuka matanya dengan perlahan, lalu melirik lelaki di samping nya. Ia menatap Andreas yang sedang tertidur lelap lalu mengecup mesra kening lelaki itu dengan lembut.
Merasa ada yang menyentuh nya, Andreas membuka matanya dan menatap Naya yang tersenyum kepadanya.
"Good morning yank, i love you"
Ucap Andreas kepada Naya dan membelai rambut indah wanita itu.
Naya mengecup buku-buku tangan lelaki itu lalu mendekatkan tubuh nya di dada tel*nj*ng Andreas.
"Morning sayang, i love you too"
Bisik nya pelan.
Mereka berpelukan beberapa saat, lalu beranjak dari ranjang dan pergi mandi bersama.
Setelah semalam bersenang-senang di club malam, Naya ikut ke apartemen Andreas. Seperti biasa mereka bercinta atas dasar suka sama suka.
Setelah mandi, mereka memesan makanan dan duduk makan berdua di apartemen Andreas.
"Sayang, gimana rencana pernikahan mu?"
Naya menatap Andreas dengan tatapan sendu. Lelaki itu menyentuh dengan lembut punggung tangan Naya.
"Sudah sembilan puluh persen yank"
Jawab nya sambil menatap gadis itu.
Naya hanya mampu menghela napas nya saat mendengar persiapan pernikahan Andreas sudah hampir mendekati seratus persen.
"Yank..., kamu yakin menikah dengan Rara?"
Tanyanya lagi.
Andreas hanya bisa terdiam dan menundukkan pandangan nya.
"Apa kamu benar-benar mencintai Rara yank? Masih ada kesempatan untuk membatalkan nya yank..!"
Naya mencoba meyakinkan Andreas dengan gigih.
"Yank.., aku janji aku tidak akan meninggalkan kamu bahkan saat aku sudah resmi menjadi suaminya Rara. Kita akan tetap bisa bersenang-senang seperti ini yank"
Andreas menatap Naya dengan tatapan yang mencoba untuk meyakinkan Naya.
"Yank, aku bukan hanya ingin bersenang-senang dengan mu yank, kamu pikir aku menyerahkan semua nya kepada kamu itu hanya untuk bersenang-senang? Aku cinta sama kamu yank! aku sungguh-sungguh..!"
Andreas terdiam saat Naya berkata seperti itu. Dirinya mulai pusing ketika Naya dan Alin mengatakan hal yang sama kepadanya. Ia tidak pernah berpikir akan serumit ini jadinya.
.....
Pagi ini, Rara, Fathur dan Nia kembali ke Jakarta. Nia mengendarai mobilnya bersama Rara. Sedangkan Fathur harus rela sendirian membawa mobilnya sambil terus mengeluh, andai Rara bersamanya.
Nia melirik Rara yang terlihat segar di pagi ini. Ia ikut bersenandung saat mendengarkan lagu yang di putar oleh Nia.
"Lu kok kayak orang gak ada masalah gitu sih Ra?"
Nia menatap sahabatnya yang terlihat santai saja.
"Terus gue mau gimana? nangis?"
Tanya Rara dengan datar.
"Lu cinta gak sih sama Andreas?"
Tanya Nia lagi, dengan wajah yang penasaran.
Rara terdiam, lalu mematikan musik yang sedang melantunkan lagu favorit nya. Lalu menggeser duduknya hingga ia menghadap ke pada Nia.
"Kalo di bilang cinta, gue pernah cinta. Tapi saat gue lihat bukti dia pernah tidur dengan orang lain saat kita lagi mengurus persiapan pernikahan, rasa di hati gue langsung mati"
Rara membuang jauh tatapan nya ke pepohonan di tepi jalan tol.
"Terus rencana lu apa Ra?"
"Lu bisa liat nanti deh"
Sahut Rara sambil tersenyum kecil.
"Lu gak ngelakuin hal yang serius kan sama si Andreas? atau lu gak nekat ngelanjutin pernikahan, setelah dia begitu? dua sahabat lu Ra di embat..! b*st*rd..!"
Ucap Nia dengan emosi.
"Gue mungkin selama ini terlihat bodoh Nia.., tapi gue gak sebodoh itu"
Rara tersenyum menatap Nia. Nia pun mencoba mencari arti dari senyuman Rara yang tak bisa ia tebak.
"Seru nih.. gue percaya sama lu"
Nia tersenyum sinis.
"Beri gue waktu satu minggu setelah ini. dan semua akan selesai. Tetapi, pernikahan akan tetap terjadi. Dan gue bisa pastikan, Andreas, Alin dan Naya tidak akan dapat apa-apa"
Ucap Rara dengan wajah dingin nya.
"Hah...? pernikahan tetap terjadi? lu g*l* kali ya... laki-laki seperti itu? masih lu nikahin? maksud lu apa ini? duh makin gak ngerti gue deh..!"
Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rara mengusap-usap kepala Nia dengan lembut.
"Ih lu aneh banget sih..! sumpah gue gak ngerti"
Nia bersungut-sungut sambil menatap Rara dengan sebal.
Rara hanya tertawa sambil kembali menyalakan musik lalu ikut bernyanyi tanpa beban.
Nia mengantarkan Rara ke rumah Rara. Ibunya Rara menangis menyambut anak gadis nya itu.
"Kamu kemana saja nak?"
Ibunya memeluk Rara dengan erat.
"Ma, aku mau ngomong serius"
Rara menatap Ibunya yang masih menangis karena khawatir terhadap anak satu-satunya itu.
"Ngomong apa nak, hayo kita masuk dulu"
Ibunya menuntun Rara untuk masuk kedalam rumah.
Sedangkan Nia berinisiatif untuk pulang, karena tidak mau menganggu Ibu dan anak yang sedang butuh waktu berdua untuk bicara.
"Kamu mau bicara apa nak? hayo sini duduk dekat Mama"
Rara duduk di samping Ibunya. Ia tertunduk lesu saat akan memilih kata-kata yang tepat untuk berbicara kepada wanita berumur lima puluh tahun itu.
"Bicara apa nak?"
Desak Ibunya sambil menatap Rara dengan khawatir.
"Ma, Andreas selingkuh"
Setelah mengucapkan kata-kata itu mulut Rara kembali terkunci. Ia tak sanggup menerima reaksi Ibunya setelah ia mengatakan hal itu.
"Apa...!!!!! Sama siapa?!!! Katakan sama Mama..!!!!"
Mendengar istrinya berteriak, Ayah Rara keluar dari dalam kamar dan menemui istri dan anak nya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ada apa ini?"
Tanya Ayah Rara penasaran.
"Pa... Mama gak tau mau berkata apa.. Andreas selingkuh pa..!"
Seru Mama Rara dengan penuh emosi.
"Apa..!!!!"
Ayah Rara langsung duduk di depan Rara yang hanya diam mematung.
"Terus? Sama siapa dia selingkuh? Bagaimana hubungan kalian sekarang? Apakah dia membatalkan pernikahan?"
Ayah Rara memberondong pertanyaan-pertanyaan nya kepada Rara.
"Andreas belum tahu Rara mengetahui kelakuan nya Pa"
Jawab Rara sambil menunduk dalam-dalam. Ia mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi nya. Rara menangis bukan karena pernikahan nya dengan Andreas terancam gagal. Tetapi, ia menangis karena ia tahu betul orangtuanya akan malu dan terpukul dengan kenyataan ini.
"Terus..? Bagaimana? b*j*ng*n lelaki itu. baik di depan bobrok di belakang..!"
Ucap Ayah Rara dengan emosinya.
"Jadi bagaimana ini? persiapan sudah sembilan puluh persen.. apa harus di batalkan? Apa kamu punya bukti nak?"
Tanya ibunya Rara, berusaha mencoba mencari sedikit saja celah kesalahan dari informasi yang ia dapat dari Rara.
Rara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia memutar video dan menunjukan foto-foto yang ia dapat selama menyelidiki Andreas.
Ayah dan Ibunya Rara terdiam. Ayah Rara mengusap wajah dengan kedua telapak tangan nya. Sedangkan Ibunya Rara hanya bisa menangis melihat bukti yang masih belum bisa ia terima.
"Bagaimana ini? kita akan malu karena pernikahan ini gagal..!"
Ibunya Rara mengeluh sambil mengusap-usap dadanya pelan, mencoba untuk menenangkan diri.
"papa tidak perduli malu..! pernikahan ini gagalkan saja. Nanti Papa bicara sama keluarga Andreas..! Papa tidak akan rela melepas anak gadis Papa dengan lelaki b*j*t dan tak bermoral seperti itu..!"
Ucap Ayah Rara dengan penuh emosi.
Ayahnya langsung menuju meja telepon untuk menelpon calon besan nya.
"Pa..."
Langkah Ayah Rara tertahan saat anak gadis yang sangat ia sayangi itu memanggilnya.
"Ya..?"
Ia menoleh melihat anak gadis nya yang sedang menghapus air mata.
"Jangan Pa, biarkan saja. Rara tetap mau menikah"
"APAAAA....!!!!!!!"
Ayah Rara mendelik kan matanya tanda ia tak percaya saat Rara mengatakan dirinya akan tetap menikah.