
Pagi-pagi sekali Rara sudah mengendarai mobilnya menuju rumah Fathur. Fathur sengaja mengambil cuti seminggu demi Rara. Selama ia bekerja, ia jarang sekali mengambil cuti. Tetapi, kali ini ia berpikir tidak ada salah nya ia menemani Rara dalam masa-masa sulit gadis itu. Toh, pekerjaan inti sudah ia selesaikan semua saat ia mengambil cuti. Jadi, Fathur sedikit santai meninggalkan pekerjaan dan fokus menemani Rara.
Tok....Tok...Tok.....!!!!
Rara mengetuk pintu rumah Fathur.
Lelaki itu langsung membuka pintu nya saat mendengar ketukan di depan rumah nya.
"Pagi Banget"
Ucap nya saat melihat Rara berdiri di depan nya. Gadis itu sangat cantik hari ini. Rara memakai dress berwarna pink yang panjangnya selutut dan sepatu putih di kakinya yang mungil.
"Belum mandi ya? buruan mandi ah..! Katanya mau jadi detektif"
Rara cemberut melihat Fathur yang masih dengan setelan baju tidur nya.
"Ya sudah, gue mandi dulu ya. Oh iya, mau minum apa?"
Tanyanya kepada Rara.
"Udah buruan mandi, emang nya gue tamu ya? Gue bisa ambil sendiri"
Rara melotot kepada Fathur. Lelaki itu hanya tersenyum canggung.
"Ya sudah gue mandi"
Fathur beranjak menuju kamar mandi.
Sedangkan Rara duduk di sofa ruang tamu dan mulai asik dengan ponsel nya.
Rara membuka media sosial milik nya, dan mengecek media sosial milik teman-teman yang ia curigai.
Ia memulainya dari media sosial milik Naya, wall media sosial milik Naya hanya di penuhi dengan foto-foto mereka yang sedang bersama di cafe milik Alin. Selebihnya, Naya termasuk orang yang jarang sekali mengupdate status.
Lalu Rara beralih ke media sosial milik Farah, gadis yang sangat ia curigai.
Wall media sosial Milik Farah tidak berbeda jauh dari Naya, Berandanya penuh dengan Foto-foto mereka ber enam yang di tandai oleh Naya ke wall milik Farah. Selebihnya Farah hanya memajang foto dirinya sendiri lengkap dengan bahasa-bahasa puitis nya.
Rara tersenyum sinis saat ia melihat gaya Farah di foto yang baru saja Farah bagikan ke media sosial milik nya.
Farah yang selalu bergaya mentereng dan sexy karena ia adalah seorang sekretaris, membuat Rara semakin mencurigai nya. Image sexy yang melekat di diri Farah tak dapat di hindari membuat banyak lelaki di beranda media sosialnya menyukai foto gadis itu. Dan wajah Farah pun memang sangat mampu untuk merebut pasangan milik orang lain.
Rara mulai membuka wall media sosial milik Alin. Media sosial milik Alin hanya berisi tentang kopi dan Cafe nya. Sesekali Alin memamerkan foto dirinya sedang berada di suatu tempat, tetapi entah bersama siapa.
Rara menghela napas nya dengan berat. Lalu kembali menutup media sosialnya.
Tidak lama kemudian Fathur keluar dari kamar nya dan menghampiri Rara yang sedang asik mendengarkan musik dari ponselnya.
"Gue udah siap nih, ayuk jalan"
Rara mengangguk lalu meraih tas nya dan berjalan mendahului Fathur.
"Kita kemana dulu nih?"
Tanya Fathur yang sudah siap di balik kemudinya.
"Hmmm.. apartemen Andreas..!"
Ucap gadis itu dengan bersemangat.
"Ok"
Sahut Fathur. Lalu menyalakan mesin mobilnya dan mereka pun berangkat menuju apartemen Andreas.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di depan gedung apartemen Andreas. Bak seorang detektif, Rara dan Fathur mengenakan kaca mata hitam. Dan terus mengawasi pintu keluar dari apartemen tersebut.
Tidak lama kemudian mobil Andreas keluar dan meluncur dengan santai menuju kantor nya. Dengan sigap Fathur mengikuti tanpa membuat orang yang ia ikuti merasa curiga.
Andreas memarkirkan mobilnya di halaman parkir kantor nya. Dengan wibawa, lelaki itu memasuki kantor milik ayah nya.
"Hmmmm, Dia beneran ke kantor rupanya"
Kata Fathur kepada Rara.
"Ya sudah kita tunggu"
Ucap Rara sambil menyalakan musik di dalam mobil Fathur.
"Jadi, gue gak di ajak makan nih? Gue belum sempat sarapan tau..!"
Fathur menatap Rara dengan cemberut.
"oh iya.."
Ucap Rara sambil menepuk dahinya dengan pelan.
"Ya sudah, mau makan dimana?"
Tanya Rara.
Fathur menunjuk sebuah tempat makan kaki lima yang tidak jauh dari kantor Andreas.
"Kita makan disitu saja ya, sekalian mengawasi Andreas dari sana..!"
"Ok"
Sahut Rara, setuju.
Mereka pun menuju ke warung makan tersebut, lalu memarkirkan kendaraan mereka tepat di depan warung itu.
Cukup lama mereka mengawasi kantor Andreas. Piring dan gelas kotor menumpuk di meja mereka. Sambil mengawasi Andreas di warung itu mau tidak mau mereka harus terus memesan sesuatu dari warung tersebut.
Pemilik warung yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik mereka pun mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan.
"Mbak sama Mas nya polisi ya?"
Tanya pria paruh baya itu kepada Rara dan Fathur.
Rara dan Fathur saling tatap dan akhir nya mereka sama-sama tertawa geli.
"Bukan Bang, kita detektif swasta"
Jawab Fathur berbohong.
Rara hanya mampu menahan tawanya melihat pedagang itu mengangguk angguk dengan ekpresi bingung.
Rara melirik jam tangan nya, sudah pukul dua belas siang. Pada jam makan siang, warung tersebut menjadi ramai. Rara dan Fathur menjadi agak sedikit tidak nyaman. Lalu mereka kembali masuk kedalam mobil milik Fathur.
Baru saja mereka masuk, Fathur melihat mobil Andreas sedang beranjak pergi meninggalkan kantor nya. Dengan sigap Fathur langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil Andreas dari belakang.
Tiba-tiba saja ponsel Rara berdering, Rara pun melihat layar ponselnya, dan ternyata Andreas menghubungi Rara. Rara sempat bertanya-tanya ada apa Andreas menghubunginya. Tetapi Fathur menyuruh Rara untuk segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya?"
Tanya Rara dengan malas.
"Kamu dimana?"
Terdengar suara Andreas yang sedang berada di mobilnya.
"Di boutique"
Jawab Rara dengan suara yang datar.
"Oh.. ya sudah jangan lupa makan ya, miss you"
"Ya"
Lalu Andreas mengakhiri panggilan nya.
"Hanya begitu saja? Aku kira ia akan datang ke boutique, ternyata ia hanya ingin mengingatkan makan. Sebenarnya ia mau kemana sih?"
Gumam Rara.
"Dia ngomong apa?"
Tanya Fathur penasaran sambil terus mengamati mobil Andreas yang hanya beberapa meter di depan nya.
"Cuma mengingatkan makan"
Jawab Rara dengan kesal.
"Berarti dia sedang memastikan posisi mu Ra"
Rara terdiam mendengar ucapan Fathur.
Mobil Andreas terus melaju dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya Fathur dan Rara menyadari, Andreas sedang menuju ke cafe Alin.
"Hah...? cafe Alin?!!!"
Seru Rara saat melihat mobil Andreas memasuki halaman parkir cafe milik sahabat nya itu.
Fathur langsung mencari posisi yang aman untuk menyembunyikan mobil milik nya. Lalu mereka turun dan berdiri tidak jauh dari cafe Alin.
Rara melihat di dalam cafe yang berdinding kaca tersebut, Andreas menghampiri Alin. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu, lalu seorang waiters mengantarkan pesanan milik Andreas.
Setelah itu, tampak Alin meninggalkan Andreas yang sedang melahap pesanan nya. Melihat gelagat mereka berdua, Rara menjadi yakin bahwa Andreas hanya mampir untuk makan siang.
Rara pun menjadi malu karena sudah sempat mencurigai Alin.
Dalam hatinya, ia sangat merasa bersalah kepada Alin.
"Sekarang tinggal dua orang, yaitu Naya dan Farah"
Gumam Rara dengan geram.