H -

H -
ch 36. H-19



"Hoekkkk...Hoekkkk....Hoekk"


Dengan tangan gemetar Naya meraih tissue disamping closet toilet kantornya. Sudah sejak kemarin Naya merasa tidak enak badan. Setelah ia menyiram bekas muntahnya, Lalu ia keluar dari toilet dengan sempoyongan.


"Duh, Gue kenapa ya..?"


Ia terduduk lesu di belakang mejanya.


Lalu meraih tanggalan yang berdiri di meja kerjanya. Ia terpana beberapa saat, Lalu menyambar tasnya dan pergi meninggalkan kantornya.


....


"Raaaaa..... Ada kabar bahagiaaaa..!"


Rara hanya menatap bingung kepada kedua sahabatnya, Farah dan Nia yang hari ini mampir ke boutique miliknya.


"Pagi-pagi udah kesini aja, Memang ada apa?"


Tanya Rara penasaran.


"Fathur mau nikah Ra....!"


Ucap Farah dan Nia secara bersamaan.


Rara langsung tersedak kopi yang sedang ia minum. Lalu dengan cepat ia meraih kotak tissue di hadapannya.


"Kaget kan lu..? Samaaaa Raa..!"


Naya tertawa girang.


"Sumpah, Gue kira si Fathur gak suka sama cewek. Ternyata udah mau nikah aja..!"


Ucap Nia dengan bersemangat.


"Dia cerita gak siapa calonnya?"


Tanya Rara sambil menyingkirkan tissue


bekas kedalam tempat sampah di samping mejanya.


"Nah, Itu dia yang masih jadi misteri. Jadi begini, Gue ketemu dia di Mall.


Itu anak sendirian aja, Gue ikutin dari belakang, Ternyata dia lagi beli cincin nikah..!"


"Oh...ya?"


Sahut Rara dengan wajah yang tak percaya.


"Iya...! Terus dia kita interogasi, Tapi itu anak gak mau jujur siapa calonnya. Dia cuma bilang, Nanti kita tahu sendiri"


Cerita Nia lagi.


"Sepertinya harus elu nih yang turun tangan Ra.., Fathur kan sangat terbuka kalo sama lu..!"


Farah memberi ide untuk Rara mengintrogasi Fathur.


Rara menghela napas panjang. Lalu ia menatap kedua sahabatnya itu. Lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Ra..? Lu gak mau..? Kita harus tahu Ra, Cewek macam apa selera nya Fathur..! Kalau tidak sesuai mari kita kerjain..!"


Ucap Nia sambil tersenyum jahil.


"Ck... Sudahlah, Nanti juga kalian tahu siapa calon istri Fathur. Nanti kan kita di undang"


Ucap Rara sambil tersenyum terpaksa.


"Ih, Gak asik lu Ra...!"


Nia menatap Rara dengan cemberut.


Rara hanya tersenyum simpul saat melihat kedua sahabatnya yang kesal.


....


"Selamat ibu Naya, Kehamilan anda memasuki usia enam minggu. Tolong di jaga baik-baik kandungannya, Dan jangan lupa minum vitamin yang sudah saya resep kan"


Dokter obgyn itu memberikan Naya selembar kertas yang tertuliskan resep untuk dirinya. Naya hanya tertegun saat menerima resep tersebut.


"Ba..Baik dok..!"


Ucap Naya, Lalu ia beranjak dari kursi pasien dan menuju ke apotik di rumah sakit itu. Ia terduduk lemas di ruang tunggu apotik. Ia tidak tahu akan bagaimana, Lalu ia menangis dalam diam di kursi tunggu tersebut.


Naya ingat betul beberapa kali ia tidak pakai alat kontrasepsi saat bercinta dengan Andreas. Saat dirinya dan Andreas sama-sama mabuk.


Kini Naya bingung harus bagaimana. Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Ia lebih sering melamun. Bahkan beberapakali ia hampir menyerempet kendaraan lain di jalan.


Saat dirinya sampai di kantornya, Ia langsung menghubungi Andreas. Tetapi tampak nya lelaki itu sudah memblokir nomor ponsel Naya. Naya hanya mampu menangis saat menerima kenyataan pahit yang ia terima saat ini.


Dengan putus asa, Naya mencoba menghubungi Rara. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain sahabat-sahabatnya.


Ayah Naya sudah menikah lagi dan tinggal diluar Kota.


Sedangkan Ibunya sudah lama meninggal dunia, Saat dirinya baru saja lulus kuliah.


"Ra..Bisa kita bertemu sekali ini saja"


Ketik Naya pada ponselnya. Lalu ia kembali menghapus pesan tersebut. Ia cukup tahu diri, Rara tidak akan mau membalas pesan darinya.


Naya tidak ada pilihan lain, Selain mendatangi Andreas di apartemen lelaki itu.


..


Andreas yang baru saja sampai di apartemennya melihat Naya sedang menunggu dirinya di depan pintu apartemennya.


Tanya Andreas dengan wajah yang dingin.


"Aku mau bicara..!"


"Bicara apa..? Bukannya kamu membenciku? Bukankah hubungan kita sudah berakhir..?"


Andreas membuka pintu apartemennya, Lalu masuk ke dalam tanpa mempersilahkan Naya untuk masuk. Lelaki itu langsung akan menutup pintu apartemennya.


Dengan sigap Naya langsung menahan daun pintu tersebut dengan kedua tangannya.


"Apa lagi..!!"


Ucap Andreas dengan kesal.


"Izinkan aku masuk dan kita berbicara sebentar saja..!"


Naya memohon kepada Andreas.


"Tidak bisa..! Aku akan menikah, Aku tidak mau kehilangan Rara..!"


Ucap Andreas dari balik pintu. Lalu mendorong pintu dengan kuat, Hingga pintu itu tertutup dan langsung ia langsung mengunci pintunya.


Naya mengetuk pintu itu dengan sekuat tenaganya.


"Andreas...! Aku hanya ingin bicara beberapa menit..!!!"


Teriaknya dari luar pintu apartemen Andreas.


Lelaki itu tidak menghiraukan Naya. Hingga akhirnya Naya menyerah, Ia hanya menyelipkan sebuah amplop di bawah pintu Andreas, Lalu ia pergi meninggalkan apartemen tersebut.


Andreas yang baru saja selesai mandi, Memilih salah satu kemeja yang berjejer di gantungan lemarinya.


Ia memilih kemeja berwarna hijau pupus yang akan ia kenakan untuk menemui Rara.


Saat dirinya sudah rapih, Ia menuju pintu apartemennya. Saat dirinya hendak membuka pintu, Ia melihat sepucuk surat dari Naya.


Lelaki itu memperhatikan amplop surat tersebut beberapa saat, Lalu dengan tidak peduli ia membuang surat itu kedalam tempat sampah di samping pintu, tanpa membacanya terlebih dahulu. Lalu ia pergi meninggalkan apartemennya menuju boutique Rara.


Andreas memarkirkan mobil nya tepat di samping mobil Fathur. Ia turun dari mobilnya sambil memandangi mobil Fathur.


"Ngapain lagi ini orang datang ke boutique calon istri gue..!"


Gumamnya.


Andreas membuka pintu ruangan Rara dengan kesal. Ia melihat Fathur yang sedang duduk di samping Rara.


Dengan kesal Andreas langsung menghampiri Rara dan menarik tangan gadis itu dengan kasar.


"Ngapain lu disini..!"


Andreas menatap tajam kepada Fathur.


Melihat Andreas seperti itu, Fathur hanya tersenyum sinis.


"Gue nanya..! Lu ngapain kesini..! Lu mau deketin Calon istri gue ya..? Lu mau main belakang...!?"


Tuduh nya kepada Fathur.


"Hmmm.. Ra, Aku pulang dulu ya.. Situasi disini gak sehat"


Fathur langsung meraih jaketnya lalu beranjak dari sofa.


"Heh...Gue ngomong sama lu..! Lu ngapain kesini..!"


Dengan rasa cemburu, Andreas langsung menarik leher kaos Fathur.


Fathur langsung menepis tangan Andreas dengan kasar.


"Lu..Jangan macam-macam sama gue..! Laki-laki kayak lu gak pantas untuk Rara. Camkan itu..!!"


Ancam Fathur, Lalu Fathur beranjak dari ruangan tersebut. Dengan emosi, Andreas berusaha mengejar Fathur, Tetapi dirinya di tahan oleh Rara.


"Kamu kenapa sih..!!?"


Rara membentak Andreas hingga lelaki itu menghentikan langkahnya untuk mengejar Fathur.


"Kamu yang apa-apaan..! Kita mau menikah, Tetapi kamu dekat-dekat dengan lelaki lain...! Apa itu pantas..!?"


Andreas menatap Rara dengan tajam.


"Apa tidur dengan wanita lain pantas saat hari pernikahannya sudah dekat..?"


Ucapan Rara sukses membuat Andreas terdiam. Ia menundukkan pandangannya.


"Aku memaafkan kamu. Tetapi jangan bertingkah di hadapanku"


Ucap Rara dengan bibir bergetar menahan emosi. Lalu Rara mengambil kunci mobilnya dan beranjak meninggalkan Andreas.


"Ra.... Rara... Maafkan aku..!"


Andreas berusaha mengejar tunangannya itu. Tetapi Rara tidak mempedulikan dirinya.


Andreas menahan pintu mobil Rara saat gadis itu hendak menutup pintu mobilnya.


"Ra... Dengarkan aku dulu..!"


"B*st*rd..!"


Hardik Rara lalu menutup pintu mobil nya dengan keras. Lalu ia pergi meninggalkan Andreas begitu saja.