
Fathur mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang mengikuti laju mobil Andreas yang beberapa meter di depan nya.
"g*l* ya.. gak nyangka gue si Naya"
Sesal Nia sambil terus mengawasi mobil Andreas beberapa meter di depan nya.
"Ya, belum tentu kali.. bisa jadi mereka cuma ketemuan biasa"
Sahut Fathur dengan kalem.
"Ih... apa coba kepentingan nya?"
Ucap Nia dengan sewot.
"Maybe si Andreas ada kasus yang memerlukan bantuan hukum. Si Naya kan pengacara..."
Fathur menghentikan mobilnya karena lampu merah menyala di depan nya. Masih terlihat mobil Andreas ikut berhenti beberapa meter di depan mereka.
"Hupfff... untung saja mereka juga terjebak lampu merah"
Gumam Fathur.
"Lu di suruh Rara nih jadi mata-mata?"
Tanya Nia dengan polos.
"Awal nya sih iya, tapi gue penasaran juga, kasihan kan si Rara"
Jawab Fathur yang kembali melajukan kendaraannya setelah lampu hijau menyala. Setelah beberapa menit, mereka mengikuti, mobil Andreas berhenti di depan kantor Naya.
Naya turun dari mobil Andreas lalu mencium pipi kanan dan kiri Andreas sebelum dirinya masuk kembali ke dalam kantor nya.
"Wahhhh.. edan...!"
Nia tidak habis pikir dengan pemandangan di depan nya.
"Harus di kasih tau sama Rara nih..!"
Ucap Nia dengan emosi. Lalu meraih ponselnya yang ia taruh di atas dashboard mobil Fathur.
"Sabar.. kalau besok ponsel Rara aktif kita ketemuan sama Rara. Kita bicarakan secara langsung aja"
Fathur mencegah Nia yang sudah siap untuk menghubungi Rara. Gadis itu kembali menaruh ponselnya dengan menggerutu.
"Kelamaan Fat.. kalo ngikutin elu, semua kudu sabar, sabar, sabar..! Biar jelas Fat... Naya gak bisa di biarin. pecalakor namanya..!"
Ucap Nia dengan emosi.
"Pecalakor apaan tuh?"
Fathur menatap Nia dengan wajah bingung nya.
"Perebut calon laki orang..!"
Sahut Nia dengan kesal.
"Hayahhhhh... ada aja sih Niaaa.. Niaa..."
Fathur menempelkan telapak tangan nya di wajah Nia.
"Apaan sih...!"
Nia menepis tangan Fathur dengan kesal. Sedangkan lelaki itu tertawa geli.
Mobil Andreas beranjak dari kantor Naya. Fathur kembali mengikuti mobil lelaki itu. Ternyata Andreas menuju kantor nya.
"Lanjut besok deh"
Ucap Fathur yang sejak tadi sudah mulai capai mengikuti Andreas.
"Yah.... kurang seru lu..!"
Nia mencebik kan bibir nya.
"Gue dari pagi Nia.... kita makan dulu yuk.. laper gue. Gue yang traktir deh..!"
Mata Nia berubah menjadi berbinar-binar.
"Ke cafe Alin aja yuk..!"
"Ok"
Sahut Fathur, lalu mereka pergi menuju cafe Alin.
Tiba di cafe Alin, Fathur memarkirkan mobilnya persis di sebelah mobil Alin.
Fathur dan Nia turun dari mobil dan langsung masuk ke cafe Alin.
"Bu Alin nya ada Mas?'
Tanya Nia kepada barista yang sedang meracik kopi untuk pelanggan.
"Oh ada Bu, di taman belakang"
Jawab barista itu kepada Nia.
"Ngapain? lagi ada tamu?"
Tanya Nia lagi.
"Gak ada kok Bu, biasa kalau lagi sepi begini, Bu Alin di belakang. Biasa lah nyetun..!"
Jawab barista itu lagi.
"Nyetun..? apaan itu?"
Tanya Nia penasaran.
"Ngerokok Bu..."
Jawab barista itu lalu meninggalkan Fathur dan Nia untuk mengantarkan kopi yang ia racik untuk pelanggan nya.
Fathur dan Nia hanya berdiri saling pandang. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh barista tersebut. Dengan terburu-buru Nia langsung melangkahkan kaki nya ke taman belakang cafe milik Alin, dan menghampiri Alin yang sedang duduk membelakangi pintu belakang cafe.
Gadis itu sedang asik menghembuskan asap rokok dari bibir nya yang sexy. Di depan nya terdapat sebuah botol beer yang isi nya tinggal setengah.
"Alin...! g*l* lu ya... sejak kapan lu merokok dan minum beer?"
Nia langsung mendekati Alin yang terlihat sedang gelagapan dan mematikan rokok yang baru saja ia bakar.
Alin semakin grogi saat ia melihat Fathur juga menghampirinya.
"Lu stress?"
tanya Fathur dengan wajah khawatir nya.
"Nggg... Gue.. cuma iseng"
Jawab gadis itu dengan terbata-bata.
"Ah parah lu Lin..!"
Nia menarik kursi di depan Alin.
Alin itu cuma tersenyum kecil sambil melirik ke dua sahabat nya.
"Neng.. kalo ada masalah sholat Neng sholat.."
Ucap Fathur sambil menyingkirkan botol beer tersebut ke meja di belakang nya.
"Ada apaan kalian tumben berdua aja kesini? Biasa nya lu sama Rara Fat.., Rara mana?"
Tanya Alin sambil melihat kebelakang nya mencari sosok Rara.
"Hammm itu dia..., Rara dari kemaren gak bisa di hubungi. Gue juga dari rumah nya tadi pagi, Ibunya nyariin itu"
Jawab Fathur dengan wajah yang khawatir.
"Hahh... kemana dia? Kok gitu? Dia lagi ada masalah apa sih.? Gue kok merasa aneh ya sama sikap Rara kemarin. Dia ada masalah sama Farah?"
Tanya Alin penasaran.
"Hmmm itu...
Fathur langsung mencubit paha Nia dari bawah meja.
"Aaaaaaaa.... !!!!"
Seru Nia menahan sakit, lalu ia diam sambil mengusap-usap pahanya.
"Ada apaan sih? kalian rahasia-rahasiaan ya sama gue..!"
Alin cemberut melihat kedua sahabat nya.
"Bukan gitu, nanti juga lu tau deh. Kita tunggu Rara aja nanti ya, biar dia yang jelasin Ok"
Fathur berusaha menjelaskan nya kepada Alin. Sedangkan Alin cuma bisa menatap kedua sahabat nya dengan penuh arti.
"Eh udah pesen belum?"
Alin berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Udah..."
Jawab sahabat nya dengan serentak.
.....
Malam itu, Fathur pulang kerumahnya. Ia duduk di tepi ranjang milik nya lalu menatap kosong ke ponsel yang sedang ia pegang.
"Ra, where are you?"
Ucap nya putus asa. Ia sangat khawatir sekali dengan Rara. Terlebih ia sangat paham kondisi Rara yang sedang risau saat ini. Sudah dipastikan Rara tidak akan bisa berpikir dengan akal sehat nya.
Ia kembali mencoba menghubungi Rara. Tetapi ponsel gadis itu masih belum bisa di hubungi.
Ia meletakan ponselnya di atas ranjang, lalu ia melepaskan baju nya. Hingga nampak otot-otot perut nya yang kotak-kotak, lalu ia pergi untuk mandi.
.....
Rara menatap kosong ke hamparan lampu-lampu di bawah bukit. Sesekali ia menyeruput teh hangat yang ia buat sendiri.
Tiupan angin kencang di malam hari membuat Rara sedikit kedinginan.
Ia melilitkan selimut dari bahan flannel ke pundak nya. Lalu ia meraih ponsel nya yang sudah dari kemarin tidak ia aktif kan.
Rara memencet tombol on di samping ponselnya. Ia menunggu beberapa detik hingga ponselnya menyala.
Ia membaca banyak pesan masuk ke aplikasi chat nya.
Andreas : Sayang kamu dimana? come on.. ada apa sih?
Andreas : Sayang kita harus bicara..!
Andreas : sayang...! please.
Dan banyak lagi.
Lalu Rara melihat pesan dari Fathur lelaki yang pernah mengecup bibir nya, saat ia mencoba baju pengantin.
Lalu ia membuka pesan dari Fathur.
Fathur : Ra.. kalau sudah tenang, hubungi aku ya.
Lelaki itu selalu begitu, ia tidak pernah memaksa Rara akan sesuatu.
Ia selalu menunggu Rara dalam hal apa pun. Termasuk saat Rara sedang tidak mau di ganggu. Lelaki itu selalu sabar menunggu sampai Rara tenang dan menghubunginya.
Lelaki itu memang berbeda, pengertian dan sangat dewasa. Di samping sikap nya yang konyol dan menyebalkan.
Rara tersenyum membaca pesan dari Fathur.
Lalu membuka galery foto dari ponselnya dan memandangi wajah lelaki itu. Entah mengapa hati Rara berdetak begitu kencang saat melihat foto Fathur.
Ia langsung teringat akan ciuman hangat Fathur di bibir nya.
Lelaki itu memperlakukan nya begitu lembut.
Rara meraba bibir nya yang terasa dingin karena udara dingin di villa milik orang tua nya. Rara mulai mengingat setiap detik ciuman pertamanya dengan Fathur.
"Aneh...! kenapa gue mikirin Fathur sih..!"
Seketika Rara sadar lalu menaruh ponsel nya di atas meja di hadapan nya.
"Ah kacau ini..!"
Gumam nya.