H -

H -
ch 6. H-38



"Yank, jadi kita pergi ke pengrajin souvenir sore ini"


"Sorry sayang aku sibuk banget hari ini di kantor, mungkin aku lembur, pesan online saja sayang"


"Ah.. takut gak puas aku yank"


"Ya.. kalau begitu di undur aja ya"


"Gak bisa sayang, ini sudah H-38 loh. harus segera"


"Gimana ya yank, ku sendiri bisa kan?"


"Kok aku sendiri? hmmmm tapi ya sudah lah, aku ajak teman ku saja deh"


"Ok, bye sayang"


Klikkkkkk...!


Rara terdiam saat Andreas mematikan sambungan panggilan telepon dari dirinya.


"Ya sudah lah, kalau begitu aku hubungi teman-teman saja. Mana tahu ada yang bisa nganterin"


Lalu Rara menghubungi teman-teman nya. sayang nya, hari ini semua orang sedang punya jadwal yang padat. Sedangkan Alin yang biasa santai di cafe nya mendadak ada urusan.


Rara bingung akan menghubungi siapa, sedangkan Mama nya pun sedang sibuk mengurus catering untuk hari pernikahan nya.


"Rania....! iya Rania"


Rara langsung menghubungi Rania.


"Iya mbak aku bisa"


Jawab Rania saat Rara mengajak nya lewat sambungan telepon.


"Aku jemput saja ya Ran"


"Ok mbak.."


Rara memacu kendaraan nya menuju rumah Mama nya Andreas.


Setelah sampai di sana, Rara disambut oleh Mama nya Andreas sendiri.


"Eh... calon menantu, kamu sudah di tunggu Rania tuh, masuk dulu yuk"


Dengan ramah Mama nya Andreas menyambut Rara.


"Iya Ma, kata Mas Andreas Mama sakit ya"


Rara berbasa-basi lalu memberikan


plastik berisi cake untuk Mama nya Andreas.


"Tidak kok, cuma kurang enak badan sedikit. Terimakasih ya atas perhatian nya, ini apa?"


Mama nya Andreas menerima pelastik berisi cake yang di bawa oleh Rara.


"Ini dari Mama Rara Ma..."


"Wah.. terimakasih"


Mama nya Andreas tersenyum. Lalu menuju dapur untuk menaruh cake itu ke atas piring.


"Andreas tuh tidak salah pilih calon istri ya"


Rara tersenyum malu saat mendengar kata-kata Mama nya Andreas.


"Kok yang menemani cari souvenir Rania? Andreas sibuk ya?"


"Iya Ma, banyak urusan di kantor"


"Oh begitu"


Setelah berbasa-basi, Rara dan Rania pamit untuk berangkat menuju pengrajin souvenir.


Setelah sampai di toko pengrajin, Rara dan Rania asik memilih pernak pernik souvenir pernikahan.


Akhirnya Rara memilih, sepasang handuk dengan kwalitas yang sangat bagus yang akan di bubuhi bordir dengan tulisan inisial nama diri nya dan Andreas di atas handuk tersebut.


Setelah deal dengan harga dan waktu pengiriman, Rara dan Rania meninggalkan toko tersebut.


Lalu mereka berdua menuju ke cafe Alin untuk bersantai dan makan siang.


Saat Rara dan Rania sampai di cafe milik Alin mereka memesan makanan dan minuman lalu makan bersama.


"Ibu Alin mana?"


Tanya Rara kepada salah satu pegawai di sana.


"I... itu.., Ibu Alin baru saja pergi"


Jawab pegawai itu dengan gugup.


"Itu ada mobilnya"


Rara menunjuk mobil Aline yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk cafe.


"I..iya mbak, tadi Ibu Alin di jemput sama teman nya"


"Teman?"


Rara mengernyitkan dahi nya.


"Laki-laki? atau perempuan?"


Tanya Rara penasaran.


"Ku.. kurang tau sih mbak, soalnya teman nya tidak keluar dari mobil"


"Oh ya sudah, terimakasih ya"


Rara tersenyum kepada pegawai Alin.


"Teman? apa Alin punya pacar ya sekarang? pantas saja dia sibuk"


Gumam Rara.


Setelah selesai makan, Rara mengantarkan Rania kembali kerumah calon mertuanya.


Setelah mampir sebentar, Rara pun kembali menuju boutique nya.


Saat Rara berhenti di lampu merah, dirinya melihat mobil Andreas melintas ke arah yang berlawanan dengan nya. Ia melihat dengan jelas Andreas tidak sendirian.


Ada seseorang wanita disamping Andreas. Tetapi ia tidak begitu melihat dengan jelas siapa wanita itu.


Rara melirik ke spion untuk memastikan kembali plat nomor kendaraan mobil itu. Ternyata benar, itu milik Andreas.


Dengan kesal Rara membunyikan klakson nya berkali-kali agar mobil-mobil didepan nya memberikannya jalan.


Tetapi apa daya, lampu merah itu begitu lama. Mobil Andreas pun sudah sangat jauh.


Tangan Rara gemetar hebat, matanya memerah menahan tangis. Ia meraih ponsel dari dalam tas nya, lalu ia menghubungi Andreas.


Andreas tidak mengangkat panggilan dari dirinya. Hati Rara terasa sangat sakit. Dirinya tidak menyangka Andreas kembali berbohong kepadanya. Bahkan saat pernikahan mereka semakin dekat.


"Siapa wanita itu?"


Gumam Rara dengan geram.


Ucapnya dengan suara yang bergetar.


.....


Rara kembali ke boutique nya. Ia duduk termenung di kursi kerjanya.


ia tak habis pikir Andreas mampu seperti itu di belakang dirinya.


Hati Rara sangat risau saat itu,


ia tidak bisa tinggal diam. Bila dirinya tidak bisa mengungkap semua, maka sudah dipastikan dirinya akan menyesali pernikahan nya dengan Andreas.


Ia butuh kejelasan atas apa yang sudah ia lihat, dan kecurigaan nya belakangan ini. Rara menghubungi satu persatu teman-teman wanita nya. Tetapi tidak satupun yang mengangkat panggilan dari dirinya.


Hati Rara semakin risau. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menghubungi Fathur, hanya lelaki itu yang selalu langsung mengangkat telepon dari Rara.


"Ya Ra..."


"Ada waktu?"


Tanya Rara dengan napas nya yang sesak.


"Kenapa?"


"Gue mau ketemu Fat.."


"Ok.. dimana?"


"Lu dimana?"


"Kantor, tapi udah selesai kok. tinggal save gambar. Ketemuan dimana?"


Tanya Fathur lagi.


"Di cafe dekat kantor lu aja, gue otw"


"Ok"


Rara mematikan sambungan telepon nya, lalu pergi meninggalkan boutique.


Empat puluh menit kemudian Rara sampai di cafe tempat dirinya dan Fathur janjian.


Fathur sudah menunggunya, di depan lelaki itu ada segelas kopi yang sudah hampir habis.


"Sorry sorry telat, macet banget"


Rara langsung duduk di depan Fathur,


Fathur pun tersenyum.


"No problem"


Ucap lelaki berkulit putih dan berwajah tampan tersebut.


"Ada apa?" sambung nya.


"Fat... gue gak tau mau cerita sama siapa. Teman-teman lagi sibuk, cuma lu doang yang ada waktu. Thank you ya..!"


Fathur menangkap kegelisahan di wajah Rara.


"Andreas lagi?"


Tanya Fathur sambil meraih gelas kopi nya lalu meneguk habis sisa kopi di gelas nya.


"Iya..."


Rara menunduk kan kepalanya. Air matanya mulai menetes jatuh kepangkuan gadis itu.


"Hei.. kok nangis?"


Fathur yang melihat Rara menangis langsung menggenggam tangan Rara di atas meja.


"Andreas selingkuh Fat.. dia berbohong lagi"


Suara Rara serak dan bergetar.


"Tau dari mana?"


Tanya Fathur dengan tenang.


"Gue lihat sendiri Fat.. dia tadi selisih jalan sama gue. Gue lihat dia sama wanita, tapi gue gak bisa lihat wanita itu. Karena kan kaca mobil Andreas lumayan gelap"


Rara menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Lu yakin? bisa jadi itu teman kantor nya kan?"


Rara menatap Fathur saat mendengar ucapan Fathur.


"Dia bohong Fat... dia bilang dia lagi sibuk, jadi gak bisa nganterin gue ke toko pengrajin souvenir..! ternyata dia jalan sama cewek lain. Gue mau nikah sama dia Fat.. tapi kalau begini gue ragu. Gue takut kecewa..!"


Fathur menghela napas nya.


"Apa yang gue lakukan ya Fat? apa gue batal kan saja pernikahan ini?"


Rara terlihat sangat emosi karena terbakar cemburu.


"Ya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Ra, nanti lu nyesel sendiri.


Lebih baik di selidiki dulu"


"Selidiki?"


"Iya diselidiki. Lu gak usah bereaksi apa-apa dulu kepada Andreas, anggap lu gak tahu apa-apa. Tetapi, pelan-pelan lu selidiki. Bila memang dia berselingkuh akan ketahuan kok.


Sepintar pintar nya orang menyimpan rahasia bila di selidiki juga akan ketahuan. Ya tapi gue berharap, lu cuma agak stress aja menghadapi pernikahan. Jadi lu agak sensi dengan apa-apa yang lu lihat"


Rara terdiam mendengar ucapan Fathur.


cukup lama Rara terdiam.


"Lu minum dulu nih, biar adem"


Fathur menyodorkan segelas orange juice di hadapan Rara.


Rara menatap Fathur dengan seksama.


Hanya Fathur yang selama ini tidak pernah absen saat ia membutuhkan seseorang.


Hanya Fathur yang selalu tenang saat menghadapi apa pun masalah dari teman-teman nya, termasuk Rara sendiri. Fathur memang lelaki sejati, ia memang sahabat yang baik.


Rara memaksakan dirinya untuk tersenyum, lalu meminum orange juice yang di berikan oleh Fathur.


"Lu mau bantu gue menyelidiki Andreas?"


Fathur menatap Rara dengan tak percaya.


"Gue?"


"Iya.. gue gak bisa sendirian.. gue butuh teman untuk menyelidiki ini semua"


Rara menatap Fathur dengan wajah yang sangat memohon.


"Hmmmm.. ya sudah ok"


Fathur mengangguk sambil tersenyum menatap gadis pujaan nya itu.